![Broken Angel'S [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/broken-angel-s--completed-.webp)
♡♡♡♡
"DASAR PEMBAWA SIAL" Teriak seorang wanita dewasa yang sedang memarahi anak perempuannya itu karena memecahkan vas bunganya.
"Caca hiks gak sengaja Mah" Jelas Caca menangis sesenggukan.
"Bersihkan sampai bersih, Kalau tidak kamu akan tidur di luar" Perintah Marina membentak.
Dengan menangis, Caca akhirnya membersihkan pecahan Vas bunga Itu, Walaupun jari tanganya berdarah karena terkena pecahan kaca tersebut.
♡♡♡♡
Sasha terbangun dari tidurnya, Dia menetralkan nafasnya, Mimpi buruk lagi. Haruskah ia selalu di bayangi dengan mimpi dan ingatan ini? Dia lelah, Sungguh.
Sasha menoleh ke sampingnya, Reynald. Dia melirik jam dinding, Pukul 15.00. Sasha sampai lupa bahwa teman-temanya masih tertidur di Home Theaternya.
Dengan gontai Sasha berjalan ke Home Theater. Dia membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Yang awalnya Sasha bangunkan adalah Fani.
"Fan, Bangun" Ucap Sasha menghoyang-goyangkan bahu Fani.
"Apasih" Fani membuka matanya, Awalnya menyipit hingga akhirnya dia bisa menyesuaikan cahaya yang ada.
"Udah sore, Bangunin yang lainya" Suruh Sasha singkat.
Fani menatap malas semuanya yang sedang tertidur. Dia menghirup nafas banyak-banyak.
"WOY BANGUN, UDAH SORE!!" Teriak Fani menggelegar, Baru bangun sudah muncul suara tanya. Sasha sampai menutup kedua telinganya rapat-rapat.
Semuanya terbangun karena kaget, Fino yang pertama menyadari langsung melempari Fani dengan menggunakan bantal.
"Lo kalo bangunin yang anggun dikit kek, Jadi cewek gak ada manis-manisnya" Kesal Fino, Tidurnya terganggu sudah.
Fani hanya tersenyum menunjukan deretan giginya, Dan mengangkat dua jarinya tanda Peace.
"Biar Instant" Jawab Fani menyengir. Diksi yang ada disampingnya hanya menggeleng-gelengkan kepadanya saja, Dia meraup wajah Fani dengan menggunakan tangannya.
"Lain kali jangan teriak kalo mau bangunin orang" Tegur Diksi lembut. Fani tersenyum dan mengangguk patuh.
"Gue mau bangunin Reynald dulu" Pamit Sasha melenggang pergi ke kamarnya.
Saat Sasha masuk ke kamarnya, Dia melihat Reynald yang sudah bangun dan terduduk di kasur.
"Udah Bangun?" Tanya Sasha mendekat ke arah Reynald.
"Kelihatannya?" Tanya Reynald balik, Namun jika dilihat lagi, Sepertinya Reynald masih sangat mengantuk.
"Masih ngantuk?" Tanya Sasha. Reynald hanya mengangguk singkat.
"Tidur lagi sana" Suruh Sasha. Tanpa menunggu lama, Reynald kembali tertidur di kasur Sasha.
Sasha yang melihat itu kini tersenyum simpul. Reynald, Sosok yang sangat membingungkan baginya, Kadang baik kadang juga jahat, Kadang manis kadang kasar, Yah seperti itulah, Dia selalu mempunyai kebalikan dari sifat baiknya.
Sasha menyisir pelan rambut Reynald menggunakan jari-jari tanganya. Dia pun berjalan keluar kamar untuk memberitahukan kepada teman-teman Reynald.
"Kalian duluan aja, Reynald masih tidur" Ucap Sasha kepada teman-temanya. Semuanya mengangguk.
"Yaudah, Kita duluan ya Ca, Bye" Pamit Fani melambaikan tanganya.
"Bye Dedek gemes" Pamit Farhan dan Fino bersama. Sasha tersenyum tipis.
"Bye" Balas Sasha. Semua teman-temanya pun akhirnya pulang.
Sasha masuk kembali ke kamarnya, Dia berjalan menuju balkon, Duduk termenung disana. Kalau ditanya apakah Sasha ingin bahagia? Tentu jawabannya adalah Iya.
Tapi, Apa yang akan menjadi alasan kebahagiaannya, Sementara orang tuanya saja tak menganggap keberadaannya.
Setiap hari selalu di hantui mimpi, Mimpi buruk yang selalu mendampingi, Senyum pun jarang ia miliki. Apa yang harus Sasha lakukan. Sasha menghela nafas panjang kala memikirkan itu semua.
"Eh" Kaget Sasha pelan saat ada tangan yang melingkar ke perut dan lehernya. Sasha mendongak menatap orang itu.
"Reynald" Gumam Sasha pelan. Reynald ternyata sudah bangun.
"Udah Bangun?" Tanya Sasha menatap lurus kedepan tanpa menatap Reynald.
Reynald mengangguk, Dia menumpukan dagunya di puncak kepala Sasha.
"Pulang, Udah sore" Suruh Sasha singkat. Reynald hanya diam tak menanggapi.
"Rey" Peringat Sasha pelan.
"Nanti" Jawab Reynald singkat. Sasha menghela nafas pasrah, Tak akan pernah bisa membantah.
Sasha kembali melamun, Dia memegang tangan kanan Reynald yang ada di lehernya. Reynald mengusap lembut kepala Sasha, Sepertinya Sasha sedang kesepian, Oh dia lupa Sasha memang sosok kesepian.
"Jangan merasa sendiri Sya, Lo masih punya teman" Ucap Reynald pelan. Ya, Sasha tau, Tapi dia juga ingin keluarga, Apa itu bisa dianggap bahwa Sasha serakah?.
"Tapi.." Sasha tak bisa melanjutkan ucapanya, Yang dia ingin sekarang itu satu, Kasih Sayang.
"Caca" Gumam Reynald pelan, Menggunakan nama kesayangan Sasha. Sasha menatap Reynald.
Saat Reynald mengucapkan nama itu, Entah kenapa ingatannya tertuju pada Virgo.
"Jangan pake nama itu" Mohon Sasha. Reynald terdiam dan mengangguk. Sasha bernafas lega.
"Pulang sana, udah sore" Suruh Sasha pelan. Reynald menghela nafas kemudian mengangguk.
"Gue pulang" Pamit Reynald sembari mengusap lembut rambut Sasha.
Sasha tersenyum dan mengangguk mengiyakan.
"Hati-hati" Balas Sasha pelan. Reynald mengangguk.
Reynald pun berjalan keluar rumah Sasha, Dia langsung pulang ke rumahnya.
Sementara Sasha kini masih duduk termenung, Harapannya hanya satu, Kebahagiaan, Hanya itu. Kebahagiaan yang mewakilkan segalanya.
Sasha masuk kembali ke kamarnya dan menutup pintu balkon.
~Skip Besok~
Sasha berjalan kaki menuju sekolahnya,Entahlah Dia hanya sedang berjalan kaki. Dia terus melangkah. Tanpa menghiraukan pasang mata yang selalu menatap ke arahnya.
Sasha teringat, Dia belum membunuh. Ingat, Dia memang menahannya, Namun bukan berarti jiwa Psikopatnya hilang begitu saja. Dia masih membutuhkan pelampiasan.
Bip..Bip
Suara klakson motor itu membuat Sasha sedikit terlonjak kaget. Dia berbalik badan, Dan.... Reynald. Sasha menghela nafas lelah. Dia Ingin berteriak kepada Reynald. PERGILAH SEJAUH-JAUHNYA DAN JANGAN PERNAH DATANG LAGI!!.
Tentu saja dia tidak berani, Dia masih sayang nyawa mengingat Reynald bisa sangat kasar padanya.
"Ck, gak ada akhlak Lo" Sungut Sasha kesal. Selalu saja moodnya harus anjlok saat pagi hari. Reynald mengeluarkan smirknya.
"Bareng Gue" Perintah Reynald. Dengan cepat Sasha menggeleng.
"Gak mau" Tolak Sasha menatap, Dia langsung melangkahkan kakinya kembali, Namun dengan cepat di hadang Reynald.
"Bareng Gue atau dapat hukuman?" Ancam Reynald menatap tajam Sasha. Sasha menatap kesal Reynald.
"Rey, Motor Lo tinggi, Rok Gue pendek" Jelas Sasha kesal. Reynald menatap datar Sasha.
Reynald pun turun dari motornya, Seiring dengan gerakan tangannya yang melepaskan jaketnya. Reynald mendekat ke arah Sasha, Dia mengikat jaketnya ke pinggang Sasha. Sasha hanya diam mematung, Dia sampai menahan nafasnya karena gugup.
"Nafas" Suruh Reynald dengan tawa mengejeknya. Sasha tersadar, Dia mendengus kesal dan meninju pelan lengan Reynald.
"Bodo" Ketus Sasha.
Reynald tersenyum tipis, Dia kembali naik ke motornya.
"Naik" Perintah Reynald. Sasha masih diam, Dia mungkin agak kesulitan, Tapi sebenarnya dia susah biasa menaiki motor seperti milik Reynald ini.
Sasha pun naik ke jok belakang Motor Reynald. Reynald menggenggam kedua tangan Sasha dan melingkarkannya di perutnya.
"Eh" Kaget Sasha. Sasha hendak melepaskannya, Namun tiba-tiba Reynald melahujan motornya dengan kecepatan tinggi, Langsung saja Sasha memeluknya erat.
"Rey" Pekik Sasha kaget, Dia memukul punggung Reynald menggunakan tanganya.
Reynald terkekeh pelan di balik helm Fullfacenya. Dia memegang tangan Sasha yang melingkar diperutnya. Reynald pun mengurangi kecepatan motornya. Sasha bisa bernafas lega sekarang.
"Rey" Panggil Sasha pelan. Reynald mendengarnya.
"Hmm?" Reynald hanya menjawab dengan deheman.
"Kenapa Lo gak jadi baik aja? Kenapa harus kasar ke Gue?" Tanya Sasha pelan, Dia menyandarkan pipinya ke punggung tegap milik Reynald.
"Emang kalo Gue gak kasar Lo bakalan nurut?" Tanya Reynald balik.
"Ya gak lah" Jawab Sasha cepat namun pelan.
"Jadi Lo udah tau kan jawabanya?" Tanya Reynald lagi, Dia merasakan anggukan kepala dari Sasha.
Setelah itu, Motor Reynald sudah memasuki Area sekolahnya. Reynald langsung memarkirkan motornya.
"Turun" Suruh Reynald singkat. Sasha langsung turun dari motor Reynald.
Sasha melepaskan jaket Milik Reynald, Ngomong-ngomong itu adalah jaket Ketua ADLER.
"Pake aja" Ucap Reynald sembari turun dari motornya. Sasha menatap Reynald kaget.
"Tap-Tapi kan" Sasha tak melanjutkan ucapanya karena dipotong Reynald.
"Udah gak papa" Potong Reynald cepat.
"Tapi kan itu jaket ketua, Gue gak enak lah" Jawab Sasha pelan. Reynald tersenyum tipis, Dia mengusap rambut Sasha pelan.
"Cuciin jaketnya" Pinta Reynald dengan nada memerintah. Sasha mendengus kesal.
"Iya-iya" Jawab Sasha kesal. Di melipat jaket Reynald dan memasukanya ke dalam tas.
Saat Sasha hendak melangkah ke kelasnya, Tanganya dicekal oleh Reynald. Sasha menatap Reynald mengernyit.
"Ke kantin" Perintah Reynald sembari menarik tangan Sasha.
"Rey Gue ngantuk" Melas Sasha, Dia semalam tidur jam 1 dini hari.
"Semalam tidur jam berapa?" Tanya Reynald serius.
"Jam 1 malam" Jawab Sasha pelan dan menunduk.
Reynald menatap tajam Sasha.
"Ngapain Lo tidur jam segitu?" Tanya Reynald tajam. Sasha menghela nafas.
"Insom" Jawab Sasha pelan. Reynald memperlambat langkah kakinya dan merangkul leher Sasha.
"Jangan tidur Kemaleman" Peringat Reynald serius. Sasha hanya diam, Mau bagaiman lagi, Dia insomnia.
Reynald tidak jadi membawa Sasha kekantin, Dia membawa Sasha ke kelasnya.
"Sana masuk" Suruh Reynald sembari mengusap rambut Sasha pelan.
Sasha mengangguk patuh dan masuk ke dalam kelasnya. Reynald juga langsung ke kelasnya.
~Istitahat~
Reynald sedang dikantin bersama Inti ADLER ditambah Sahabat Sasha, Fani.
"Sasha mana?" Tanya Reynald dingin.
"Dikelas" Jawab Fani singkat.
Reynald langsung berdiri dan melangkah ke kelas Sasha, Mungkin ini untuk pertama kalinya seorang Reynaldi Bagaskara mengunjungi kelas 11 untuk menjemput seorang perempuan.
Reynald langsung masuk ke kelas Sasha, Banyak yang menatap kagum ke arahnya namun hanya ia acuhkan saja, pemandangan seperti ini sudah biasa ia dapati.
Reynald melihat Sasha yang tertidur di atas tiga kursi yang sudah di susun di pojok belakang. Reynald mengangkat kepala Sasha dan duduk di kursi ujung, Kemudian dia meletakan kepala Sasha di pahanya.
Sasha sedikit terusik dengan Itu, Dia membuka matanya dan menyipit.
"Reynald" Panggil Sasha dengan suara seraknya.
"Tidur lagi" Suruh Reynald singkat, Dia mengusap lembut rambut Sasha.
Sasha memeluk pinggang Reynald dan kembali tidur. Sedangkan Reynald, Dia memilih bermain handphone-nya sembari menunggu Sasha bangun.
Beruntungnya setelah ini kelas Sasha jam kosong, Sedangkan Reynald? Dia sudah sering membolos, jadi tidak masalah, Di tambah kelasnya juga JamKos, Memudahkan dia untuk membolos.
15 menit berlalu.
Sasha mengerjakan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya. Dia menatap Reynald.
"Rey" Panggil Sasha pelan. Reynald menunduk menatap Sasha tersenyum tipis.
"Apa?" Tanya Reynald pelan. Sasha menggeleng singkat.
"Lo gak masuk kelas?" Tanya Sasha bingung. Dia mengubah posisinya menjadi duduk disamping Reynald.
"Gak" Jawab Reynald singkat.
"Fani mana?" Tanya Sasha sembari mengedarkan pandangannya untuk mencari sahabatnya itu.
"Sama Diksi dan yang lain" Jawab Reynald singkat.
"Ya dimana?" Tanya Sasha menatap Reynald bertanya.
"Di Markas, Mungkin" Jawab Reynald dengan mengedikan bahunya acuh.
"Mereka bolos dong" Sewot Sasha. Reynald hanya mengangguk singkat.
Sasha menghela nafas dan merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan.
"Gue mau ke toilet dulu" Izin Sasha. Reynald menatap Sasha.
"Ikut" Ucap Reynald singkat. Sasha menatap horor ke arah Reynald.
"Gak" Tolak Sasha singkat. Dia langsung berdiri dan melangkah ke toilet.
Ternyata Reynald bebar-benar mengikutinya. Sasha langsung masuk ke toilet sedangkan Reynald menunggunya di depan.
Sasha ke toilet hanya untuk mencuci muka, Setelah itu dia keluar toilet.
"Ck, Penguntit Lo" Ketus Sasha sembari melangkah pergi.
Reynald mendelik dan langsung mengikuti Sasha, Dia merangkulnya.
"Mau bolos Gak?" Tanya Reynald dengan senyum smirknya. Sasha mengernyit.
"Kemana?" Tanya Sasha bingung.
"Ke Markas" Jawab Reynald singkat.
Sasha masih berpikir, Namun belum sempat ia menjawab tanganya sudah di tarik lebih dulu oleh Reynald.
"Eh, Tasnya kan belum diambil" Ucap Sasha sembari mencoba melepaskan tangan Reynald.
Reynald menghentikan langkahnya dan menatap Sasha datar.
"Ambilin" Perintah Reynald sembari melipat tanganya di depan dada. Sasha menatap Reynald kesal.
"CK, Ambil sendiri" Protes Sasha kesal. Reynald menatap tajam Sasha, Tanda peringatan.
"Iya-iya" Pasrah Sasha.
Kemudian dia melangkah ke Kelas Reynald, 12 IPA 3. Dia agak ragu untuk masuk. Sasha meyakinkan diri sendiri dan menghela nafas panjang. Sasha pun akhirnya masuk kedalam kelas Reynald.
"Permisi" Ucap Sasha sopan. Satu kelas menatap Sasha bingung, Banyak juga laki-laki yang menatap Sasha kagum.
"Ada Apa?" Tanya kakak kelas perempuan itu jutek, Tantri, Disampingnya ada dayangnya juga. Sasha sedikit kikuk membalasnya.
"Saya mau ambil tasnya Reynald, Kak" Izin Sasha sopan. Tantri menatap Sasha sinis.
"Lo siapanya Reynald?" Tanya Tatri sinis. Sasha bingung menjawabnya, Saat dia berpikir,Ck, Teman Gak, Babu iya. Tiba-tiba..
"Dia pacar Gue" Seruan dingin nan datar itu membuat semuanya kaget dan terdiam, Reynald.
Termasuk Sasha yang kini sudah menganga tak percaya. Sasha menatap Reynald kesal. Reynald langsung merangkul Sasha.
"Rey, Lo apa-apaan sih" Bisik Sasha kesal. Reynald menatap datar Sasha kemudian berganti menatap tajam Tantri yang kini menunduk takut.
"Dia pacar Gue, Kenapa?" Tanya Reynald dingin dan tajam.
"Emm, G-gue m-mau ke toilet dulu" Alibi Tantri takut sembari melenggang pergi bersama dayang-dayangnya.
Dengan kesal Sasha melepaskan rangkuman Reynald. Reynald hanya menatap datar Sasha dan dia mengambil tasnya.
Setelah itu Reynald menarik tangan Sasha menuju parkiran.
"Maksudnya apaan pake ngomong gitu segala" Sewot Sasha kesal. Reynald tersenyum tipis.
"Untuk melindungi Lo dari nenek lampir" Jawab Reynald datar. Sasha mendengus.
"Gue jomblo, Maap, Pake bahasa yang bener" Ketus Sasha.
Reynald tersenyum simpul dan mengacak pelan puncak kepala Sasha. Sasha langsung menekuk wajahnya.
"Berantakan Ish" Kesal Sasha, Dia merapihkan kembali rambutnya.
"Oke, Kita putus" Ucap Reynald santai. Sasha langsung mendelik tak percaya, Jadian aja belum, Eh gak berharap.
"Ck, Jadian aja gak" Ketus Sasha. Reynald menatap Sasha dan tersenyum jahil.
"Jadi ceritanya, Berharap" Ejek Reynald dengan senyum menyebalkannya.
Sasha yang sangat kesal pun akhirnya menginjak kaki Reynald keras. Reynald sampai memekik.
"Lo" Geram Reynald menatap tajam Sasha.
Sasha langsung panik, Reynald pasti akan membalasnya.
"Hmm, Sorry" Sasha meringis pelan, entah apa balasan dari Reynald. Reynald hanya diam.
"Rey" Panggil Sasha pelan. Reynald tak menjawabnya, Dia hanya memasang wajah datarnya.
Reynald langsung naik ke motornya dan menyalakannya.
"Naik" Perintah Reynald dingin. Sasha menghela nafas, kemudian naik ke motor Reynald.
Reynald langsung melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sasha kini sedang was- Was
"Rey, Maap" Ucap Sasha pelan, Dia menempelkan pipinya ke punggung tegap milik Reynald.
"Apapun kesalahannya, Ada hukumannya Sha" Peringat Reynald dingin. Ingin rasanya Sasha menceburkan diri ke rawa-rawa.
"Tau" Jawab Sasha pelan, Reynald akan menghukumnya, Itu pasti.
Reynald tersenyum smirk di balik helm-nya, Sasha sudah berani, Tunggu saja akibatnya.
Tiba-tiba ada yang menghadang mereka, Geng LEON. Sekitar 15 belas orang kini ada dihadapan mereka. Reynald menggeram marah.
"Lo tunggu disini" Ucap Reynald dingin.
"Gak, Gue ikut" Pinta Sasha tegas.
Reynald langsung turun diikuti Sasha.
"Well, Kita bertemu lagi, Pecundang" Ucap Faisal menyeringai. Dia turun dari motornya di ikuti anggota yang lain.
Reynald berdecih.
"Cih, Pengecut" Balas Reynald dingin.
Faisal menggeram marah, Dia melihat Sasha yang ada disamping Reynald.
"Oh, Lo sama dia lagi" Ucap Faisal melirik Sasha dengan seringainya.
Reynald langsung membawa Sasha ke belakangnya.
"Masalah Lo sama Gue" Peringat Reynald dingin. Faisal menyeringai.
"SERANG" Faisal langsung memberi aba-aba kepada anggotanya untuk menyerang Reynald.
Reynald mendorong Sasha ke tepi. Dia langsung melawan 15 orang tersebut. Meskipun jumlahnya kalah, Tapi kemampuan Reynald tidak main-main.
Sasha tidak bisa diam saja, Dia juga ikut dalam perkelahiran tersebut.
"Sha, Minggir" Perintah Reynald dingin, Dia masih fokus.
"Gue gak bisa biarin Lo melawan mereka sendirian" Balas Sasha singkat, Dia juga melawan anggota LEON.
Reynald jatuh tersungkur saat tiga orang menendang perut dan punggungnya bergantian. Sasha juga mundur beberapa langkah saat perutnya ditinju, Dia memegang perutnya yang terasa sakit.
Reynald berdiri secara perlahan, Dia menatap Sasha khawatir.
Sasha melihat ke arah Reynald, Dia mendelik saat Faisal ingin memukul Reynald menggunakan tongkat baseball.
"REY AWAS!" Teriak Sasha, Dia berdiri di belakang Reynald. Dan..
Bughh
Tongkat baseball itu terkena punggung Sasha. Sasha memejamkan matanya untuk mengurangi rasa sakit, Matanya sedikit berkunang-kunang.
Reynald mendelik dan berbalik badan, Dia langsung mendekap tubuh Sasha yang lemah.
"Sha" Panggil Reynald pelan. Sasha hanya tersenyum tipis.
"Gue gak papa" Ucap Sasha pelan, Dia kembali memejamkan matanya saat punggungnya terasa sangat sakit.
Faisal kaget, Dia tidak berniat mencelakai Sasha, Namun ternyata Sasha melindungi Reynald, Alhasil Sasha yang terkena tongkat itu.
Reynald menggeram marah, Dia melepaskan Sasha. Ingat janjinya, Dia tidak akan membiarkan Sasha terluka oleh orang lain.
Reynald langsung memukul, Meninju, Menendang Faisal yang telah berani melukai Sasha. Dia terus membabi buta, Walaupun anggota yang lainya membantu Faisal, Namun tetap saja, Reynald yang dikuasai amarah lebih mendominasi.
Reynald terus membalas pukulan semua Anggota Geng LEON itu. Dia tidak segan mematahkan tangan Faisal, Bahkan anggota LEON yang lainya juga.
Sasha yang melihat itu langsung menghampiri Reynald, Dia melingkarkan tanganya ke perut Reynald.
"Udah, cukup" Pinta Sasha lemah, Punggungnya sakit sekali, Tubuhnya terasa remuk. Seketika Reynald berhenti.
Reynald mengatur nafasnya, Dia melihat semua Anggota LEON yang menghadangnya sudah terkapar tak berdaya. Reynald membalikkan badan dan langsung memeluk Sasha.
"Sha, Harusnya Lo tadi gak lindungi Gue, Biar Gue aja yang kena tongkatnya" Ucap Reynald pelan. Dia mengusap lembut rambut Sasha, Sungguh dia tidak bis melihat Sasha terluka, Apalagi karena orang lain.
"G-Gue g-gak papa Rey" Balas Sasha pelan, Dia sudah tidak sanggup lagi. Tubuh Sasha melemah di pelukan Reynald, Pingsan.
"Sha" Panggil Reynald panik. Dia melepaskan pelukanya, Dan ternyata Sasha pingsan.
"Sha" Reynald mencoba membangunkan Sasha, Namun Sasha tak kunjung bangun.
Reynald menyetop taksi yang lewat, Dia pangling menggendong Sasha ke dalam taksi tersebut.
"Rumah Sakit BRAMAWIJAYA, pak" Ucap Reynald dingin kepada supir taksi tersebut.
"Baik den" Supir tersebut langsung melakukan taksinya.
Reynald mengambil handphonenya kemudian menghubungi nomor Diksi.
"Ambil motor Gue di dekat sekolahan, Antar Ke rumah Sakit BRAMAWIJAYA sekarang" Perintah Reynald dingin, Tanpa menunggu jawaban, dia langsung menutup telponya.
Reynald menatap Sasha yang ada dipangkuanya, Dia mengusap lembut pipi Sasha. Sasha berhasil membuat Reynald khawatir, Lagi.
"Bangun Sha" Pinta Reynald lirih, Dia memeluk Tubuh Sasha yang lemah.
Setelah itu taksi yang di tumpangi mereka sudah sampai di rumah Sakit yang dituju. Reynald langsung membayarnya dan menggendong Sasha turun.
"Sus, Tolongin teman saya" Pinta Reynald panik.
Kedua suster tersebut langsung membawa Sasha ke ruang UGD, Seperti biasa Sasha di tangani oleh Dokter Dika.
Reynald menunggu Di depan ruangan UGD tersebut, Dia khawatir sekali.
"Ada apa?" Tanya Diksi dingin, Dia datang bersama Inti ADLER yang lain dan Fani juga.
Reynald menatap Inti ADLER bergantian.
"Gue di kroyok" Jawab Reynald singkat. Semuanya mendelik kaget.
"Ya ampun bos, Lo gak papa kan?" Tanya Farhan histeris. Reynald menggeleng.
"Gue gak papa, Tapi Sasha..." Reynald menghela kalimatnya.
"Sasha kenapa?" Tanya Fani panik.
"Sasha kena pukulan tongkat untuk melindungi Gue" Lankit Reynald, Dia mengusap wajahnya gusar.
Semuanya langsung kaget.
"Ya ampun Sasha" Fani langsung menangis, Dia tidak bisa melihat Sasha kenapa-kenapa. Dia berharap Sasha baik-baik saja.
Diksi langsung menenangkan Fani yang menangis.
"Ck, Geng LEON emang selalu cari gara-gara, Kita gak bisa diam aja" Ucap Zacky menggeram marah.
Farhan dan Fino mengangguk setuju.
"Iya, Kita harus balas ini Rey" Timpal Fino, Dia juga ikut marah.
"Apalagi Dedek gemes yang jadi korban" Imbuh Farhan lesu, Dini mengangguk setuju.
Reynald sedang tidak ingin memikirkan itu, Yang terpenting adalah Sasha baik-baik saja. Untuk membalas, Nanti dia akan memikirkannya.
Dokter Dika keluar ruangan, Semuanya langsung sigap menanyakan.
"Bagaimana keadaan Sasha dok?" Tanya Reynald panik.
"Sasha baik-baik saja, untungnya Dia cepat ditangani" Jawab Dokter Dika tersenyum.
Semuanya bisa bernafas lega sekarang.
"Baiklah, saya tinggal dulu" Pamit Dokter Dika melenggang pergi.
Setelah Sasha dipindahkan keruang rawat, Mereka langsung masuk ke dalam ruang rawat Sasha.
Ternyata Sasha masih belum sadar, Pasti sakit.
"Lo pulang dulu, Baju Lo kena darah" Suruh Diksi singkat.
Reynald menghela nafas kemudian mengangguk. Dia akan pulang dulu, Dan kemudian akan kesini lagi. Reynald pun keluar dari ruangan Sasha, Dia langsung pulang kerumahnya.
♡♡♡♡
"Pasti Sakit ya ca?" Tanya Seorang laki-laki tampan seumuran Sasha, Virgo.
Sasha menatap Virgo can langsung memeluknya.
"Sakit banget" Jawab Sasha menangis, memang sangat sakit.
"Caca tenang aja, Sekarang udah ada yang jagain Caca" Ucap Virgo mengusap lembut kepala Sasha.
"Siapa?" Tanya Sasha pelan. Virgo tersenyum tipis.
"Caca gak nyadar?" Tanya Virgo. Sasha menggeleng.
"Dia orang yang sama dengan orang yang paling peduli pada Caca" Jelas Virgo pelan. *Sasha masih tidak mengerti.
"Virgo, Caca mau ketemu sama Virgo, Tapi Mamah sama Papah gak ngizinin" Ucap Sasha pelan. Virgo tersenyum tipis*.
"Tunggu Virgo sadar ya Ca, Virgo pasti menjemput Caca" Jawab Virgo, Dia juga ingin sekali bertemu dengan Sasha, Di dunia nyata.
"Caca gak tau, Sekarang Virgo dimana" Ucap Sasha pelan. Virgo terdiam.
"Banyak orang yang tau keberadaan Virgo Ca" Jawab Virgo pelan. Sasha menatap Virgo bertanya.
"Siapa?" Tanya Sasha lemah, Kenapa mereka tidak memberitahukanya?.
Virgo menggeleng dan tersenyum tipis, Kasihan sekali Sasha.
"Virgo pamit ya, Caca baik-baik di sana" Pamit Virgo, Kemudian dengan sekejap mata, Virgo lenyap.
Sasha juga ikut lenyap disana.
♡♡♡♡
Sasha terbangun, Dia menetralkan nafasnya yang memburu, Mimpi itu nyata.
"Virgo" Lirih Sasha.
Sasha menoleh ke samping, Reynald. Sasha sedikit menjauhkan wajahnya karena sekarang wajahnya tepat 1 senti di depan Reynald. Reynald tertidur di Brankar Sasha dengan memeluknya.
Sasha tersenyum tipis, Reynald peduli padanya, Dia jadi teringat ucapan Virgo. Apa Reynald orangnya? Sasha dengan cepat menggeleng, Tidak mungkin.
Sasha mengusap pelan pipi Reynald, Wajahnya sangat tenang saat tertidur. Tanpa sadar dia tersenyum manis.
Reynald menggeliat kecil, Dia mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia melihat Sasha yang sedang menatap ke arahnya, Bahkan tangan Sasha berada di pipinya. Reynald langsung menggenggam tangan Sasha yang ada di pipinya, Dia memeluk Sasha.
"Syukurlah, Lo udah sadar" Ucap Reynald pelan, Sasha tersenyum tipis.
"Ssh" Ringis Sasha saat dia mencoba menggerakan badanya.
"Jangan banyak gerak" Peringat Reynald pelan, Sasha mengangguk patuh, Punggungnya masih sakit sekali.
"Lo berhasil bikin Gue khawatir lagi Sha" Gumam Reynald pelan. Sasha sedikit menghangat saat Reynald mengatakan itu.
"Gue baik-baik aja Rey" Jawab Sasha tersenyum lemah. Reynald menggeleng.
"Harusnya Gue yang ada di posisi Lo saat ini" Ucap Reynald pelan, Dia mengusap pipi Sasha lembut.
Sasha hanya Tersenyum menganggapi, Dia juga tidak tau, Dia reflek melakukan itu. Ataukah dia yang takut Reynald terluka?.
"Sekarang jam berapa?" Tanya Sasha lemah.
"Jam 1 malam" Jawab Reynald pelan.
Berarti ini dini hari, Dan seharusnya mereka masih tertidur.
"Tidur lagi aja" Suruh Sasha pelan. Reynald menatap Sasha.
"Lo juga" Suruh Reynald balik. Dia langsung memeluk Sasha dan menyandarkan kepala Sasha ke dada bidangnya.
Reynald mengusap lembut rambut Sasha, Agar Sasha cepat terlelap. Dia juga ikut memejamkan matanya.
Sasha sudah sadar, Saatnya memikirkan cara membalas. Tunggu pembalasanya, Faisal.