![Broken Angel'S [COMPLETED]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/broken-angel-s--completed-.webp)
Jangan Di Skip ya bacanya, Pahami maknanya, Maka kalian akan mendapatkan pelajaran yang berharga😊
*******
Beberapa hari setelah kejadian dimana Sasha diusir, Sasha benar-benar menghilang dan hanya berdiam diri di Apartemennya, Hanya Reynald yang tau keberadaannya, Namun yang Sasha harapkan adalah Reynald tidak mengetahui, sehingga Sasha bisa sendirian.
"Gue tau Lo udah bangun" Ucap Reynald yang sedang duduk di sofa menghadap ke Sasha yang sedang berbaring dan menutupi dirinya dengan selimut.
Sasha menghela nafas lelah, Sepagi ini Reynald sudah ada di Apartemennya. Sasha membuka selimutnya dan menatap kesal Reynald.
"Ngapain sih Lo kesini pagi-pagi?" Tanya Sasha kesal dengan suara seraknya.
"Ck, Mandi sana, Gue udah beliin sarapan" Bukanya menjawab pertanyaan Sasha, Reynald malah menyuruhnya.
Lagi-lagi Sasha menghela nafasnya, Dengan gontai dia berjalan ke kamar mandi, Sasha menghabiskan waktu 15 menit untuk mandi.
Andai Reynald bisa menghiburnya, Dia ingin sekali melihat senyum Sasha bahkan tawanya. Tapi sekarang, Sasha malah menghindar dari semuanya.
Sasha keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah, Dia sudah memakai bajunya di kamar mandi.
"Sini" Suruh Reynald menepuk-nepuk sampingnya, Sasha hanya menurut.
Setelah Sasha duduk, Reynald mengeringkan rambut Sasha menggunakan handuk.
"Eh" Sasha hendak merebut handuknya, Namun ditahan oleh Reynald. Sasha menghela nafas.
"Betah banget di Apartement sendirian, Gak ngapa-ngapain lagi" Cibir Reynald. Sasha mendengus kesal.
"Berisik" Ketus Sasha. Reynald menatap kesal Sasha, Dia pun menjitak kepala Sasha.
"Aww, Sakit Rey" Melas Sasha. Reynald terkekeh kecil.
"Gue Besok mau Bakti Sosial ke panti Asuhan" Ucap Reynald, Dia meletakan handuk Sasha sembarang.
Sasha menatap Reynald bingung.
"Ikut" Pinta Sasha. Reynald mengernyit, dia mendorong pelan dahi Sasha.
"Katanya Gak mau kemana-mana" Cibir Reynald. Sasha mencebikan bibirnya kesal.
"Bosen tau" Jawab Sasha pelan. Reynald menghela nafas, Dia sadar sosok didepanya adalah tipe labil.
"Yakin mau Ikut?" Tanya Reynald memastikan. Sasha mengangguk pelan, Seharusnya dia tidak bersikap seperti ini, Pengecut yang melarikan diri dari masalahnya sendiri.
Memang biasanya Geng ADLER mengadakan baksos, Karena mereka berbeda dengan geng motor lainya, Ingat berbeda.
Sasha menyandarkan dirinya ke dada bidang Reynald.
"Lo kok tau Kode Sandi Apart Gue?" Tanya Sasha pelan.
"Gak ada yang sulit bagi Reynald" Jawab Reynald sombong. Sasha memutar bola matanya malas.
"Ck, Sombong Lo" Ketus Sasha. Reynald terkekeh pelan, Melihat wajah Kesal Sasha yang menurutnya menggemaskan.
"Cepetan jawab yang tadi" Ucap Sasha kesal. Reynald menatap Sasha serius, Sasha jadi ikut serius.
"Apa ih cepet" Ucap Sasha tak sabaran.
"Gue ngasal aja" Jawab Reynald santai. Sasha menatap Reynald dengan wajah cengonya, Dia kira Reynald memang tahu.
"Lo mah, Untung aja bisa, Itu udah di Setting tau kalo udah salah 3 kali gak bisa buka" Kesal Sasha.
"Gue salah dua kali, Kesempatan terakhir bener" Jawab Reynald santai. Sasha menatap kesal Reynald, Dengan sangat kesal dia menjitak kepala Reynald.
"Ck, Kan yang penting bisa" Ketus Reynald, Sasha menghela nafas.
"Semakin kesini semakin ngeselin, Heran" Gerutu Sasha pelan. Reynald terkekeh pelan.
"Keluar yuk" Ajak Reynald. Sasha menggeleng tegas.
"Gak mau" Tolak Sasha. Manusia mudah merasakan nyaman, Itu yang Sasha rasakan, Sasha sudah terlalu nyaman dengan kehidupannya yang sendiri meskipun terkadang rasa sepi menyelimuti.
Reynald menghela nafas, Selalu saja menolak saat di ajak keluar, Apakah Sasha tak merasakan jenuh sekalipun.
"Gak mau ngapa-ngapain" Jawab Sasha pelan. Reynald menghela nafasnya.
"Sarapan sana" Suruh Reynald. Sasha menolaknya.
"Gak mau" Jawab Sasha, Nafsu makannya sudah hilang beberapa hari ini.
Reynald menghela nafas, Memang beberapa hari ini susah untuk membujuk Sasha makan.
"Makan atau besok gak Ikut?" Ancam Reynald. Sasha langsung mengangguk lesu.
"Iya-iya Gue sarapan" Jawab Sasha pasrah. Reynald tersenyum tipis.
"Rey, Lo gak ngasih tau keberadaan Gue kan?" Tanya Sasha masih dengan mulut penuhnya.
"Telan dulu" Ucap Reynald menasihati. Sasha menekan makanannya lalu menatap Reynald menyelidik.
"Iya, Gak gue kasih tau" Jawab Reynald.
Sasha menghela nafas lega, Dia masih belum bisa mempercayai orang lain, Jangan salahkan dia, Itu semua akibat dari dunia yang kejam padanya.
Kenangan itu sangat pahit, Bahkan untuk menyembuhkan lukanya sangat sulit, Apalagi untuk melupakan segala hal yang sudah tejadi padanya.
"Lo gak percaya sama sahabat Lo?" Tanya Reynald bingung. Sasha terdiam sejenak, Untuk pertanyaan ini mungkin Sasha tidak bisa menjawabnya.
"Kenapa?" Tanya Reynald pelan. Sasha menghentikan kegiatanya, Dia meletakan piringnya di atas meja, Menatap lurus kedepan.
"Manusia memiliki kelemahan Rey. Di saat semua orang yang berarti dalam hidup Gue ninggalin Gue gitu aja, Disaat Semua orang menganggap Gue hanyalah sebatas debu kecil yang harus dibersihkan, Itu kelemahan Gue. Namun ketika mereka datang lagi, Bukan hal yang mudah memberikan kepercayaan kedua kali" Jelas Sasha panjang lebar.
Mempertahankan kepercayaan dari orang lain adalah hal yang sangat diperlukan. Jika kepercayaan itu telah diruntuhkan, Akan sangat sulit untuk di berikan kembali. Itu semacam kesempatan kedua kali, Namun jika itu kembali rasanya tak sama lagi.
"Tak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini, Kita sama-sama mempunyai kesalahan, Gue egois, Mereka juga egois. Mereka ingin mendapatkannya kembali tapi Gue juga belum bisa memberikan itu lagi. Yang dibutuhkan adalah intropeksi diri" Lanjut Sasha.
Reynald terdiam, Benar memang apa yang dikatakan oleh Sasha. Semuanya benar, Tapi jika Sasha lebih dewasa maka akan...
"Hati Gue selalu menolak untuk bersikap dewasa Rey, Karena... Orang yang tak pernah di hargai, Orang yang tak pernah mendapatkan kasih sayang, Bahkan orang yang dianggap sebagai pembawa sial oleh keluarganya sendiri, Masih belum bisa mengambil sikap yang lebih dewasa untuk menyikapinya, Karena semasa kecil dia tidak pernah mendapatkan bimbingan, Melawan orang tua yang sifatnya juga masih belum dewasa adalah hal yang sulit" Jelas Sasha lagi, Mungkin kali ini dia bisa menyampaikan semuanya.
Reynald termenung, Sasha sebenarnya bisa menyikapi dewasa, Namun dia memang bisa dikatakan egois, Dengan kata lain, Sasha ingin orang tuanya lebih dewasa dari pada dia, Itu maksud tersembunyi dari Sasha.
Jika Sasha yang bersikap dewasa terlebih dahulu, Orang tuanya tidak akan belajar dari kesalahannya, Disini Sasha sudah mengambil keputusan yang tepat. Reynald tak tau, Jika Sasha ternyata mempunyai pemikiran yang berbeda dengan orang lain, Bahkan dirinya.
"Memaafkan kesalahan orang lain memang penting, Tapi jika orang itu tidak bisa belajar dari kesalahannya itu sama saja. Gue gak mau cuma memaafkan tapi Gue mau mereka sadar dan belajar. Baik belum tentu bijak, Tapi Bijak sudah tentu baik. Orang bijak memiliki niat tersendiri dalam menghadapi masalahnya" Sasha lega bisa menceritakan semuanya.
Jagalah kepercayaan orang lain, Belajarlah dari kesalahan. Kesempatan Kedua pasti berbeda dari yang pertama. Bagaimana pun juga, Kita tidak bisa menampik, Setiap orang mempunyai kesalahan, Meskipun Setiap orang juga berhak mendapat kesempatan kedua.
"Disini, Gue juga salah, Kalo Gue bisa memaafkan mereka itu mudah, Sedalam apapun lukanya Gue akan mudah memaafkan mereka karena mereka orang yang Gue sayang, Tapi... Gue menolak menjadi dewasa dan membiarkan mereka menyadarinya, Sehingga mereka bisa memperbaiki diri saat sudah sadar akan kesalahannya" Entahlah, Kali ini Sasha hanya ingin meluapkan semuanya, Setidaknya ada satu orang yang tau kebenarannya.
"Fani?" Tanya Reynald bingung, Sasha menghela nafas.
"Fani juga pernah ninggalin Gue Rey, Satu-satunya orang yang Gue percaya saat itu adalah Nenek Gue. Gue menyesal, Andai Virgo gak nyelametin Gue, Andai Gue gak ceroboh yang menyebabkan keguguran Mama. Penyesalan dalam hati seseorang bisa menjadi kebencian saat mereka kehilangan keyakinan, Karena Hati manusia itu lemah" Jawab Sasha panjang lebar.
"Saat Fani, Diksi, Keluarga Gue, Semuanya ninggalin Gue, Penyesalan itu berubah menjadi kebencian. Bahkan membenci diri sendiri adalah hal yang dibenarkan saat Itu, Gue terjebak dalam kegelapan, Secercah harapan yang tertinggal hanyalah sebuah angan" Lanjut Sasha, Jika air matanya masih ada, Mungkin Sasha akan menangis kali ini, Tapi air matanya telah habis.
"Itu yang melahirkan sosok Sasha berhati beku dan kejam, Bahkan tak segan membunuh orang?" Itu bahkan lebih ke pernyataan bukan pertanyaan.
Sasha mengangguk, membenarkan apa yang diucapkan oleh Reynald.
"Caca, Sebenarnya adalah nama yang Gue benci, Tapi Itu juga nama yang di berikan oleh seseorang yang sangat berarti. Sosok Sasha yang sekarang berbeda dengan Caca. Caca yang lemah, Ceroboh, Sasha yang kejam dan dingin."
"Tapi Kenapa Lo gak mau dipanggil Caca sama Gue?" Tanya Reynald bingung.
Sasha tersenyum tipis, Jika ada seseorang yang Sasha percaya sekarang adalah, Reynaldi Bagaskara.
"Lo bisa manggil Gue dengan nama itu sekarang" Jawab Sasha tenang dengan senyum tipisnya. Reynald mendelik kaget, Namun sedetik kemudian dia tersenyum tipis.
"Berbagilah kesedihan, Angel" Ucap Reynald pelan, Sasha tersenyum tipis menanggapinya.
Kepercayaan, Kebencian, Penyesalan, Bahkan keikhlasan ada pada hati manusia. Keraguan membuat segalanya menjadi kebencian, Namun jika kita yakin, Maka keyakinan itu yang akan membunuh kebencian tersebut.
Jika didunia ini ada kutukan, Maka kutukan itu adalah hati. Hati yang tak bisa menerima kenyataan, Dan Hati yang tak bisa memaafkan, Hati yang sangat jauh dari keikhlasan. Semuanya tak bermanfaat saat ada 'Kebencian'.