Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
BM S2 - Terjebak dalam belenggumu



”Beloved Mister – Season 2”


Author by Natalie Ernison



Semenjak awal kehamilan Jen, ia terus saja terbayang-bayang wajah Heron. Bahkan saat menjelang malam pun, Jen kerap kali memikirkan bagaimana ia bercinta dengan Heron. Ia sendiri pun tidak mengerti akan apa yang ia pikirkan. Mengapa harus sosok dari masa lalunya yang muncul dipikiran Jen.


~ ~ ~


"Mansion kediaman Mr. Tyson Mrs. Jen family"


Jen menatap ke arah Mr. Tyson yang kini terlihat sibuk membereskan barang-barang miliknya.


"Tuanku akan pergi lagi?" tanya Jen, sejenak Mr. Tyson menghentikan kegiatannya kala itu.


Menghela napas sejenak dan berbalik ke arah Jen. "Aku akan pergi selama beberapa pekan. Kuharap, Nonaku menjaga kesehatan dan pola makan dengan baik," ucap Mr. Tyson sembari menyentuh wajah Jen.


"Mengapa tuanku selalu sibuk dan jarang bersamaku juga calon bayi kita?" ucap Jen lirih.


"Aku bekerja demi masa depan kita, sayang. Demi calon bayi kita, sehingga dia mendapatkan pendidikan terbaik," ucap Mr. Tyson mencoba meyakinkan Jen.


"Apakah aku tidak semenarik dulu lagi?" ucap Jen sembari membelai perutnya yang mulai terlihat membuncit.


Mr. Tyson menatap ke arah Jen, "mengapa Nonaku mengatakan hal itu?"


"Aku hanya heran dengan caramu, tuanku. Sejak aku dinyatakan mengandung anak pertama kita, tuanku seakan enggan untuk menyentuhku lagi." Tukas Jen dengan napas terengah, menahan rasa amarahnya yang selama ini ia pendam sendiri.


"Ini kehamilan pertamu, aku hanya ingin calon bayi kita sehat,--"


"Itu bukanlah alasan yang tepat. Aku sudah kerap kali berkonsultasi dengan beberapa dokter spesialis. Tapi, tidak ada yang sependapat dengamu, tuanku!" Bentak Jen kesal.


Mr. Tyson bingung akan jawaban yang harus ia perkatakan pada Jen. "Sayang, tolong mengertilah. Aku hanya ingin terbaik bagi kita." Bujuk Mr. Tyson, meraih kedua tangan Jen.


"Aku sangat mencintaimu dan calon bayi kita. Karena bagiku, kau dan calon bayi kita adalah hal yang sangat terpenting." Ucap Mr. Tyson yang berusaha untuk meyakinkan perasaan Jen.


Jen tersenyum dalam kepiluan, dan mengangguk sebagai tanda persetujuannya atas apa yang Mr. Tyson katakan. Walaupun sebenarnya, Jen tidak percaya akan apa yang Mr. Tyson katakan.


Setelah seminggu kemudian...


"Sudah lebih dari satu minggu, kenapa belum juga kembali," ucap Jen cemas. Tatkala memikirkan Mr. Tyson yang tak kunjung kembali dari luar kota, dengan alasan mengurus bisnis juga perusahaan cabang.


***


Karena merasa bosan, Jen akhirnya pergi keluar mansion. Namun tanpa para pelayan yang menemaninya, Jen bahkan menyetir mobil seorang diri.


Berhenti disalah satu taman hiburan, tepatnya di pinggiran kota C.


"Taman hiburan kota C"


Jen duduk termenung, melihat anak-anak yang sedang asyik bermain bersama orang tuanya. Tatapan mata yang terlihat begitu sendu, senyuman yang terasa begitu kelu kini menghiasai wajah Jen.


Membelai perut buncinya, dan berkata dalam hati. "Nak, kelak kita akan bermain bersama seperti mereka."


Karena kesibukan Mr. Tyson, Jen selalu merasa dirinya begitu kesepian. Sekalipun, ada banyak pelayan di mansion tersebut, namun akan beda rasanya jika Mr. Tysonlah yang berada disisinya.


Setelah terasa bosan, Jen pun kembali pulang ke mansion.


***


"Mansion kediaman Mr. Tyson Mrs. Jen family"


Seketika, suasana mansion terlihat begitu sepi. Jen pergi ke bagian atas mansion. Tempat pertama, dimana Jen melepaskan keperawanannya pada Heron.


Jen membuka jendela kamar tersebut, juga pintu utama yang akan mempertemukannya langsung dengan suasana luar mansion.


Mengenakan sebuah gaun tidur transparan miliknya. Menyentuh dirinya sendiri dan mulai berfantasy liar dengan dunia khayalannya.


Hah hah... desah kaget Jen, saat bayangan Heron mulai muncul dipikirannya.


Setelah beberapa menit kemudian, Jen pun mulai terlelap. Sapuan angin menyapu kulitnya, dan angin itu seakan sedang membelai kulit tubuhnya.


Ahk... pekik Jen dan perlahan membuka kedua matanya. "Tuan Heron," ucap Jen disela rasa kantuk yang semakin membuatnya sulit untuk membuka mata kembali.


Sesuatu yang dingin mulai menyentuh area kulitnya, dan membuat Jen menggeliat geli.


"Tuan Heron, apa yang kau lakukan..." ucap Jen dan masih berusaha membuka kedua matanya.


Namun sesuatu yang membuatnya melayang-layang jauh lebih kuat. Hal itu membuatnya tak mampu untuk terbangun, dan juga ada aroma yang lain kini mulai tercium.


Aroma tersebut semakin membuat tubuh Jen terasa melemah, dan bahkan tak mampu untuk membuka kedua matanya dengan jelas. Namun, sosok yang berada di atas tubuhnya kini ialah sosok Heron, walaupun masih terlihat samar-samar.


Hingga akhirnya seluruh tubuh Jen seakan bukan lagi dirinya yang mengendalikan. "Mengapa rasanya senikmat ini, aku ingin lebih, lebih lagi..." racau Jen tatkala tubuhnya seakan sedang melakukan penyatuan tubuh dengan sosok tersebut.


Jen merasakan penyatuan tubuh yang terasa sangat nyata. Sepertinya, Jen begitu menikmati indahnya bercinta dengan fantasy liarnya.


Sesuatu yang tak dapat Mr. Tyson lakukan, justru malam ini kembali membuai Jen.


Sungguh malam yang begitu panjang bagi Jen dan sosok yang telah memenuhi kebutuhan jasmaninya sebagai seorang istri. Saat menjelang pagi hari, Jen terlihat terlelap kembali, namun dalam keadaan tak berbusana, dan hanya terbungkus selimut tebal.


"Aku mencintaimu, baby." Ucapan samar-samar suara yang berbisik ke telinga Jen. Namun Jen masih tetap tak terbangun dari tidurnya pagi ini.


>>>


Ahk... Jen memekik nyaring, saat baru saja terbangun dari tidurnya yang hanya berlangsung beberapa jam saja. Namun ada hal yang cukup aneh.


Seluruh tubuh Jen terlihat merah, bahkan ada beberapa bagian tubuhnya yang terlihat seperti bekas cakaran, namun tidak sampai terluka. Sedangkan bagian pinggul Jen terasa begitu pegal, juga bagian inti miliknya terasa nyeri.


"Apakah ini hanya fantasyku ataukah... ini nyata," ucap Jen dan segera berlari ke arah kamar mandi kamar tersebut.


Disana, Jen membiarkan shower mengguyur seluruh tubuhnya. Bayang-bayang dirinya sedang melakukan penyatuan tubuhpun tergambar dengan begitu jelasnya.


"Mengapa kau yang harus muncul dalam bayang-bayangku. Mengapa kau menyiksaku dengan perasaan yang selamanya terjebak dalam kisah perih ini. Mengapa!" Pekik Jen dan duduk di dalam sebuah buthub.


>>>


Jen kembali ke dalam kamar pribadinya, dan kembali berbaring di atas kasur.


Drrrttt... My Beloved Mister memanggil...


Mr. Tyson: "Malam ini aku tidak dapat pulang. Mungkin satu minggu lagi," ucapnya.


Jen: "Iya, Tuanku. Jaga kesehatan dan segera hubungi aku jika ada rencana untuk kembali."


Mr. Tyson: "Terima kasih, Nonaku. Aku mencintaimu."


Jen: "Aku mencintaimu juga, Tuanku sayang."


Setelah menerima panggilan dari Mr. Tyson, Jen melemparkan ponsel miliknya secara sembarangan.


"Apakah cinta yang kau maksud adalah hidup yang penuh dengan kemewahan seperti ini." Ucap Jen, sembari memandangi foto pernikahannya bersama Mr. Tyson.


Jen mulai nyaman dengan fantasy yang selama ini selalu ia bayangkan. Sekalipun itu bukanlah sosok dari Mr. Tyson.


Kehidupan Jen kini dipenuhi harta kekayaan yang melimpah, terlebih lagi, Mr. Tyson merupakan seorang pimpinan perusahaan ternama. Namun, nyatanya bukan harta kekayaan yang dapat memberikan kebahagiaan.


----


Harta tahta, kekayaan melimpah bukanlah sumber utama kebahagiaan. Namun, sekedar cinta saja manusia juga tidak dapat bertahan hidup.


Sehingga cinta dan juga materi merupakan hal yang tak dapat dipisahkan. Sekalipun secara materi tidak berlimpah, namun cinta kasih tercukupi, diiringi dengan rasa syukur. Tentu saja, akan membawa kebahagiaan bagi setia orang.


Begitu pula halnya dengan Jen, Jen tidak hanya membutuhkan materi berlimpah. Ia juga membutuhkan perhatian, kasih sayang dari mr. Tyson.


Walaupun nyatanya, Mr. Tyson selalu saja sibuk dengan segala urusan pekerjaannya.


***