Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Berusaha meyakinimu



Tommy selalu berusaha meyakinkan Jen akan perasaannya, memang selalu terhalang oleh sosok Heru sudah telanjur menjadi pria yang Jen sangat cintai. Terkadang Tommy harus menahan rasa cemburu akan hubungan Jen bersama Heru.


“Resto xxx”


“Jen, kamu sudah sehat sekarang?”


Iya aku sudah bang…


Hmmp, bang Tom!


“Hmp, iya ada apa Jen?” sahut Tommy sambil memilih menu makanan yang akan segera dipesan.


Aku minta maaf atas semua perkataanku pada abang malam itu.


Maaf aku suudah salah  mengartikan perlakuan abang…


“Iya Jen, gak apa-apa. Semua sudah berlalu bukan?”


Iya bang, tapi kayaknya aku yang gak pernah bersyukur ada abang yang selalu baik sama aku.


“Jen, abang tulus padamu. Kalau hanya karena sikapmu abang ngambek, berarti abang hanya mencari keuntungan sendiri dong..” Tukas Tommy sembari menepuk pundak Jen.


Terimakasih atas kebaikan dan semua perhatian abang.


“Iya Jen, sama-sama. Sekarang kamu harus makan banyak biar kerjanya semangat yah..”


Tommy selalu berusaha tersenyum dihadapan Jen, walau hatinya terasa pilu dengan semua pilihan Jen saat itu. Jen memang sudah jatuh cinta pada Heru, dan hal itu tidak ia pungkiri. Kehadiran Tommy  pun mulai terhapus karena adanya Heru dalam kehidupan Jen.


“Gimana dengan pekerjaanmu Jen?”


Semuanya lancar bang, walaupun beberapa hari ini aku harus lembur karena clousing.


“Ohh begitu, oke.


Kamu tetap jaga kesehatanmu yah..” Tommy mengusap kepala Jen dengan lembut.


Aku rencananya akhir pekan mau nginap di rumah.


“Oh yah, silakan aja Jen, dan kasih tahu abang mau on the way jam berapa biar sekalian abang jemput.”


Iya bang, aku biar diantar sama supir aja deh.


“Oke, kalau kamu  maunya bareng supir.”


Iya bang, malam ini biar aku yang traktir, hehe..


“Oh yah, okedeh kalau kamu yang traktir.”


Setelah menyelesaikan makan malam berdua, Tommy pun mengantarkan Jen pulang ke rumah oma Carla.


“Abang pulang dulu yah Jen.. bye bye..”


Bye bye abang Tommy.


Drrttt... “Jen, kamu datang cepat yah besok malam, karena kita mau buat acara perpisahan dengan bang Tom, by Steven.”


“Acara perpisahan? kok aku baru tahu sekarang.”


.


.


.


Malam acara kejutan bagi Tom pun tiba…


“Jen, kamu nanti taburin kembang yah..”


Kok kembang kak Stev? ujar Jen  heran saat menerima bunga-bunga yang Stev sodorkan padanya.


“Iya, biar beda aja Jen…” ujar Steven dengan terkekeh.


Kak Stev, aku sama sekali belum tahu ini acara apa?


“Sudahlah kamu ikutin aja Jen…”


Setelah beberapa saat kemudian...


“Hallo…


Steven, Stenly! kalian dimana? kenapa lampu kita mati begini? belum isi token yah??” ujar Tommy yang baru saja tiba.


Taraaa…. bum bum..,


Ramai suara petasan yang dinyalakan oleh Steven, dan Jen yang menaburkan bunga-bunga.


“Ini ada apaan sih, kok hidupin petasan segala?


Steven, kerjaanmu yah..” tukas Tommy dengan ekspresi terkejutnya.


Bang Tomm, jangan tinggalin kami.. ujar Stenly kecil mendekap Tommy dengan manja.


“Stenly, thank you my brother…”


Bang Tom, jangan lupa main-main ke sini yah..


“Iya Steven…” Tommy  tersenyum ke  arah Jen yang sedang terdiam sendu.


“Jen, thank you atas kejutannya.”


Iya bang, tapi ini semua ide kak Steven kok.


Aku hanya membantu sedikit.. ujar Jen sembari berjalan ke dapur untuk mempersiapkan beberapa makanan.


“Pokoknya kita nikmati pestanya yah de.”


Iya kak Steven… ujar Stenly kecil.


Dua jam kemudian…


“Bang Tom, aku pergi tidur duluan yah..”


Steven dan Stenly yang sudah terkapar karena kelelahan akhirnya kembali ke kamar masing-masing, sementara Jen masih duduk bersama Tommy di sebuah ruang keluarga.


Abang kenapa gak pernah bilang kalau mau pindah?


“Iya maaf Jen, abang terlalu sibuk mengurus urusan kantor.”


Jadi, karena sibuk membuat abang lupa kasih tahu hal sepenting ini..


“Penting? tumben Jen kamu peduli dengan urusan abang?” tukas Tommy sembari  mengunyah buah anggur yang sedang ia makan.


Yah, aku merasa abang bakalan melupakan kami.. ujar Jen dengan sedikit salah tingkah.


“Abang cuma pindah ke rumah orang tua abang di xxx. Karena, gak ada yang nempati Jen.”


Tapi itu cukup jauh jaraknya dari kantor abang.


“Iya, abang kan untuk senin sampai jumat tinggal di mes kantor.”


Kenapa dengan rumah ini bang?


“Nggak ada masalah apa pun Jen, abang hanya mau mempersiapkan diri untuk ke depannya aja..”


Ohh gitu… oke bang, tetap jaga kesehatan abang yah.


“Oke Jen, kamu juga yah..”


Malam perpisahan antara Tommy bersama saudaranya di keluarga Aharon pun berakhir. Jen kini harus mulai terbiasa tanpa kehadiran sosok perhatiannya Tommy, dan memulai segala sesuatunya dengan sendiri.


Mrs. Jeanetly, can you help me?


Oh, oke Mr….----


Jen kini menjalani hari-harinya dengan penuh semangat baru dan fokusnya benar-benar hanya pada pekerjaannya.


Drrrtt… satu pesan masuk belum dibaca…


“Jen, sore ini makan bareng yuk, aku jemput kamu dari kantror yah. Reza”


“Reza, tumben banget! setelah sekian lama gak ada kabarnya…” gumam Jen saat membaca isi pesan singkat dari sahabatnya tersebut.


See u guys…---


Suasana ramai disore menjang malam, di bank asing tempat Jen bekerja.


Tit tit tit…


Suara klakson mobil tepat di depan area trotoar bank asing tempat Jen bekerja.


“Hai Jen…”


Reza… ujar Jen yang begitu terkejut dengan tampilan terbaru Reza. Mengendarai sebuah mobil crv berwarna hitam mengkilat dan juga penampilan casualnya.


Wau wau… hebatnya temanku satu ini yah.. ujar Jen memuji.


“Hahahaa.. ini mobil hadiah ulang tahun dari papaku dan sekaligus hasil tabunganku selama ini Jen.” Tukas Reza dengan bangga hati.


Ohh yah.. kamu memang amazing banget Reza..


“Thank you Jen, tapi malam ini kita akan makan di rumahku,”


Hah dirumah kalian? tapi kan..—


“Jen, keluarga aku tuh udah kenal baik dengan keluarga Aharon. Kamu tenang aja,”


Yasudahlah Reza…


Mereka pun tiba di kediaman Reza…


Reza menuntun Jen untuk memasuki rumah kediaman keluarga besar edward, tentu Jen merasa sedikit canggung.


“Selamat malam semuanya..” ujar Reza menyapa keluarga besarnya yang tengah berkumpul dan perhatian mereka terfokus dengan kehadiran Jen.


Wah wah Reza, ternyata setelah sarjana langsung dapat pacar yah… tukas seorang saudara laki-laki Reza.


“Ahh, ini teman kuliahku dan aku langsung aja ajak ke sini..” ujar Reza sembari mempersilakan Jen berbaur bersama keluarganya.


“Hai Jeannet…” ujar Carisya yang datang menghampiri Jen.


Hallo kak Carisya… balas Jen menyapa juga.


“Kamu gak akan salah pilih Jen, adikku itu sangat pekerja keras dan mobilnya itu hasil keringatnya loh Jen..” bisik Carisya menggoda Reza dengan sengaja di hadapan Jen.


“Apa-apaan sih kak Carisya..!!” tukas Reza.


Kenapa Reza, say thank you dong atas pujian untukmu itu… ujar Carisya dengan terkekeh.


“Sudahlah Jen, jangan dengarkan kak Carisya..”


Heehe, iya iya Reza…


“Jen, kamu sudah lama mengenal Reza??”


Emmm, kira-kira kurang lebih hampir enam tahun kak, semenjak awal masuk kuliah sampai kelulusan dua tahun lalu.


“Wah, berarti sudah pas banget masa-masa pengenalan kalian yah..”


Kenapa kak?? ujar Jen sembari menikmati jamuan makan malam keluarga besar Edward.


“Saran aku untuk kalian ke depannya, kenalilah pasanganmu yang akan kamu pilih menjadi pasangan hidup. Jangan karena cinta buta, kamu jadi buta atas semuanya..” ujar Carisya dengan wajah sedikit memurung.


“Kakak Carisya yang cantik nan anggun, tolong jangan komporin Jen.


Kami hanya teman sekaligus sahabat.” Tukas Reza disela perbincangan mereka.


Iya Reza, aku tahu! aku hanya gak mau Jen merasakan seperti yang aku rasakan.


“Sudahlah jangan samakan semua lelaki sama dong!” tukas Reza dengan ketus.


Reza, sudahlah… tukas Jen menengahi pembicaraan antara Reza dab Carisya.


“Jen, Reza mungkin masig kesal dengan Heru!”


Heru?? maksud kakak calon suami kakak waktu itu? ujar Jen dengan keingin tahuannya.


“Aku sudah putus Jen!”


Kenapa kak? bukannya kalian mau menikah?


“Heru tak mencintaiku Jen.


Dia sudah punya perempuan pujaan hatinya, kalau gak salah itu mantan mahasiswanya dulu..”


Ohh ya... Jen terkejut mendengar pernyataan dari Carisya.


“Iya Jen, padahal saat tahu kakek menjodohkan  kami, aku sangat bahagia sampai rela memutuskan pacarku yang di Amrik…


Sangat lucu yah Jen, aku benar-benar dimabuk cinta dengan pesona duda ganteng itu..” tukas Carisya dengan terekeh namun terlihat sorot matanya penuh dengan kesedihan.


“Kak, kalau mau curhat jangan sekarang!


Jen datang untuk makan malam, jadi jangan memperkeruh suasana hatinya..” tukas Reza yang meraih tangan Jen untuk beranjak pergi.


Kak Carisya aku pergi dulu..


“Bye Jen, baik-baik kalian berdua..”


Saat dalam perjalanan…


Reza, kenapa kamu kelihatan gak suka saat kak Carisya bahas pak Heru??


“Gimana aku bisa suka dengan lelaki yang membuat saudariku menangis dengan putus asa begitu Jen..” tukas Reza dengan raut wajah kesalnya.


Memangnya ada sebenarnya Reza? ujar Jen dengan penasaran.


“Pak Heru, dosen kita dulu ternyata sudah punya pacar Jen.


Tapi dengan teganya masih mau merespon perjodohan itu, dan akhirnya dia memutuskan kak Carisya dengan teganya…” ujar Reza dengan nada kesal.


Maaf, kalau aku terlalu ingin tahu..


“Enggak Jen…


Bodohnya kak Carisya langsung mau dan jatuh cinta benaran, tapi kenyataannya pak Heru gak cinta..”


Ohh begitu, aku turut prihatin Reza.. ujar Jen sembari menepuk pundak Reza.


“Iya Jen, cinta gak bisa dipaksa kok. Pak Heru pun juga gak sepenuhnya salah, dia hanya menghormati keluarga Edward..”


Oke Reza, selamat malam. Aku masuk dulu…


“Bye Jen.. see u next time…”


Saat mengetahui kenyataan sebenarnya dari semua permasalahannya, akhirnya Jen bisa bernapas lega. Namun, dilema baginya ialah karena Carisya merupakan saudari dari sahabatnya Reza Edward.