
“Kampus X”
Riuh suara para mahasiswi pada saat itu sedang berkumpul di sebuah loby utama kampus, tempat Jen berkuliah.
“Jen jen… kamu tahu gak ada dosen undangan yang super tampan banget deh…” ujar rekan sekelas Jen.
Dosen tampan?? siapa sih, semua kali kamu bilang tampan!! tukas Jen dengan ekspresi tak pedulinya.
“yakin Jen gak peduli!! coba lihat deh..” sambil menunjukk ke arah loby utama, dan terlihat seorang pria tampan baru saja keluar dari mobil Honda brio berwarna hitam tersebut.
“Aduhh ganteng banget sih tuh dosen…” gumam rekan sekelas Jen dengan ekspresi penuh kekaguman.
Seketika Jen tertegun saat melihat si dosen mulai melangkah menuju kelas dan akan segera memulai kelas kuliah. Pria tersebut ialah si pria pujaannya, Herruon Daniswara.
Pak Heru… gumam Jen dengan ekspresi terkejutnya, seakan tak percaya bahwa pria pujaannya kini sedang berdiri di depan sembari memberikan materi kuliah.
Tanpa terasa, waktu perkuliahan pun segera berakhir. Jen mulai merapikan tasnya lalu melangkah ke luar kelas, sementara itu Heru masih menutup laptopnya dan memandang ke arah Jen. Para mahasiswi sibuk meminta Heru untuk berfoto bersama mereka, sedangkan Jen terus melangkah dengan raut wajah kesalnya.
“Huhh...
Dimana-mana pak Heru memang selalu menjadi rebutan perempuan…” gumam Jen sembari melangkah menuju halte bus yang berada tepat di depan kampusnya.
Drrttt… Satu pesan masuk belum dibaca “Bawelku sayang”
“Sayang, tunggu aku di depan halte dan jangan kemana-mana” ujar Heru melalui whatsapp. Jen pun terdiam, seketika ingin membalas pesan tersebut, muncullah sebuah mobil berwarna hitam terhenti tepat di depan halte tunggunya saat itu.
Perlahan-lahan kaca berwarna hitam mulai terbuka, dan terlihatlah senyuman menawan Heru tak kunjung pudar ke arah Jen.
“Masuk sayang,” ujar Heru sembari membukakan pintu mobil miliknya.
Hmmp…
Kenapa aku pulang bersama bapak?? ujar Jen masih dengan ekspresi kesalnya.
“Kamu kenapa cemberut sayang??” tanya Heru sembari mencubit pipi chubby milik Jen.
Siapa yang cemberut! biasa aja… tukas Jen masih dengan ekspresi cemberutnya.
“Kamu kenapa sayang? ayo jujur sama aku!” ujar Heru dengan nada lembut dan sesekali membelai pipi Jen.
Enggak… enggak ada apa-apa! sahut Jen sembari melipatkan tangannya, lalu memandang ke samping kiri kaca mobil.
“Kalau gak mau jujur juga, aku bawa keliling dan gak pulang-pulang yah,” ujar Heru sambil tersenyum.
Aku gak suka aja lihat bapak terlalu dekat dengan perempuan-perempuan genit itu… ujar Jen dengan wajah cemberutnya.
“Ohh maaf sayangku, tadi mereka yang memintaku berfoto dan aku gak mungkin menolak mereka.”
Baguslah, mereka juga cantik-cantik dan lumayan kaya… tukas Jen yang masih tak ingin menghadapkan dirinya ke arah Heru.
“Hmmp, kamu masih gak percaya sama aku ya?”
Loh kita kemana pak?? tukas Jen yang heran saat Heru memutar arah mobil mereka dan menuju ke arah lain.
Beberapa saat kemudian, mereka pun terhenti di depan rumah minimalis bertingkat dua dengan dekorasi cat berwarna abu-abu bercampur merah marun.
“Kediaman Herruon Daniswara”
“Kita ngobrol didalam aja yah..” Heru memarkirkan mobil ke bagasi samping rumah kediamannya.
Kenapa kita pulang ke sini? mana Dion? ujar Jen sembari duduk di sebuah sofa empuk milik Heru.
“Kamu cemburu sayang?” ujar Heru sembari menggenggam wajah Jen dengan kedua tangan besar kepunyaannya.
Cemburu? biasa aja sih.. Jen menepis tangan Heru yang pada saat itu menggenggam wajahnya.
“Lalu kenapa cemberut begitu, dan bilang gak suka aku dekat dengan teman-temanmu??”
Kalau bapak tahu aku cemburu, untuk apa masih bertanya? tukas Jen dengan ekspresi kesalnya.
Aku minta maaf sayang,” Heru duduk di samping Jen lalu merangkul dan memeluk sang gadis pujaannya.
Kenapa minta maaf? bapak gak salah kok, akunya aja yang terlalu sensitive.
“Iya sayang, kan gara-gara berfoto tadi jadinya kamu marah sama aku kan?” tanya Heru sembari menggenggam kedua bahu Jen.
Apakah rasa cemburuku terlalu kekanakan pak?
“Hmpp… Heru menggelengkan kepalanya sembari tersenyum kecil.
“Justru aku suka kalau kamu cemburu, karena kamu terlihat semakin imut sayang..” ujar Heru sembari membelai lembut wajah Jen.
Maaf, aku terlalu sayang sama bapak. Jen tertunduk sendu sambil mengenggam tangan Heru yang pada saat itu sedang berada di wajahnya.
“Iya sayang, aku juga sangat sayang padamu,” Heru menarik wajah Jen hingga mendekati wajahnya. Keduanya saling berpandangan sendu, seketika Heru terfokus pada bibir merah milik kepunyaan Jen.
Perlahan-lahan Heru mulai mendekati bibir Jen, dan menyentuhkan bibir miliknya pada pinggir bibir milik Jen. Jen pun mendorong Heru, lalu hanya terdiam kaku.
Tubuh Jen terasa begitu panas, aliran darahnya mengalir dengan begitu cepat. Tubuhnya menjadi lemas seketika itu juga, dan matanya pun mulai terpejam seakan sedang menikmati kecupan dari sang pujaan hati.
“Jantungmu berdetak kencang sekali sayang,” tukas Heru dengan tatapan tajamnya sembari menyeringai.
Iii itu.. ciuman pertamaku pak, jadi aku gak mau begitu saja menyerahkannya… sahut Jen sembari tertunduk malu dengan keadaan suhu tubuhnya yang masih terasa panas.
“Iya aku tahu sayang, itu ciuman pertamamu.
Bolehkan aku menciumnya ?” ujar Heru sembari membelai rambut Jen.
Jen tak mampu lagi berakata-kata, mulutnya ingin berucap namun bibir tak mengeluarkan suara dan hanya terlihat gumaman dari bibir mungilnya.
“Sayang aku sayang kamu,” ujar Heru, dengan kembali mengecup punggung tangan Jen.
Kecupan lembut yang belum pernah Jen rasakan sebelumnya, cukup membuat suhu tubuh Jen seketika menjadi panas dingin dan deg deg ser. Ciuman pertamanya hampir saja direnggut oleh si duda tampan tersebut.
Heru mengecup kening dan ubun-ubun Jen dengan sangat lembut dan hati-hati. Walau pun ia adalah seorang duda, juga cukup lama tak merasakan sentuhan seorang wanita, namun Heru tetap selalu berusaha menahan dirinya untuk menyentuh Jen.
“Sudahlah, ini sudah malam sayang. Aku akan akan antar kamu pulang.” Heru pun beranjak dari sebuah sofa tersebut, lalu membangun Jen yang saat itu sedang duduk terdiam lemas dan kaku.
“Aku sayang kamu,” Heru kembali mengecup kening Jen dengan sangat lembut.
“Sayang, sisir dulu rambutmu,” ujar Heru dengan tersenyum puas.
Ahh ia pak.. Jen membuka resleting tasnya, dan mengambil sebuah sisir berwarna biru tosca. Ia mulai menyisir rambutnya yang terlihat cukup berantakan, akibat ulah si duda kesayangannya.
Heru terus tersenyum dan mulai mendekap kembali tubuh mungil Jen dengan pelukkan yang begitu erat.
Pak Her, tadi katanya mau mengantarkanku pulang, kenapa malah begini.
“Aku masih kangen sayang, emmmpp..” ujar Heru dengan begitu manjanya.
Pak, sebenarnya aku sedang lemas gara-gara bapak…
“Hmmp, coba ulangi lagi sayang,” Heru membalikkan tubuh Jen menghadap ke arahnya sehingga keduanya terlihat berhadapan.
Aku malu pak… Jen tertunduk.
“Kenapa malu sayang, aku sayang kamu dan berdoalah agar mentalmu siap menjadi ibu dari Dion dan anak-anak kita kelak.
Ahh bapak… ujar Jen dengan nada merengek menja.
“Iya sayang, kamu gak lama lagi akan wisuda.
Jadi, selesaikan tugas-tugas akhirmu dengan baik.”
Heru mengecup bibir Jen beberapa dekit dan melepaskannya perlahan, sembari mencubit pipi chubby milik Jen.
Malam yang membuat tubuh Jen terasa meriang, panas dingin akibat dari ciuman pada pipinya dan hampir mengenai bibirnya.