Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Pribadi yang berbeda



”Beloved Mister”


Author by Natalie Ernison


Jannet sangat ingin keluar dari kastil yang kini ia tempati. Namun ia juga tahu, jika ia keluar, maka tidak akan ada yang bisa menjamin keselamatannya. Tentu saja keluarga Heron tidak akan tinggal diam melihat keberadaan Jannet.


Terlebih lagi, selepas dari semua itu, Jannet juga tahu jika Heron pasti akan berbuat hal yang berlebihan lagi terhadapnya.


~ ~ ~


Suatu saat, kastil sedang sepi. Semua pekerja kastil sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Inilah kesempatan bagi Jen untuk keluar secara diam-diam.


Jen akhirnya berhasil menyelinap keluar. Menengenakan pakaian kasual, tak lupa menggunakan masker juga jaket dan topi.


Penampilannya tetap terlihat trendi, walaupun ia harus mengenakan masker sehingga wajahnya tidak dikenali.


***


Hahh...


"Akhirnya" ucap Jen sembari duduk di depan sebuah kedai makanan.


Jen sangat suntuk, sepanjang hari hanya berada di dalam sebuah kastil. Ia juga ingin keluar, hanya untuk menghibur dirinya yang sedang bosan.


Karena jarak area kastil ke kota harus menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit. Jen dengan terpaksa berhenti di di area pusat perbelanjaan daerah tersebut.


Jen mulai berpikir apa yang harus ia perbuat. Ia sangat ingin keluar dan pergi ke arah kota.


"Apa aku harus menghubungi Zeon!" pikir Jen kala itu. Zeon yang ialah anak dari Mr. Aharon, tempat Jen menumpang selama ia menempuh pendidikan strata satunya beberapa tahun silam.


Meraih ponsel miliknya lalu mencoba untuk melakukan panggilan suara. Mencoba beberapa kali, akhirnya Zeon pun menerima panggilan tersebut.


Setelah beberapa saat kemudian...


Jen kala itu sedang duduk menikmati es kelapa muda, juga sepotong cake.


"Jannet!" seru seseorang dari balik kaca mobil berwarna merah marun.


Jen spontan berdiri. "Zeon!" seru Jen dan bergegas melangkah menuju arah Zeon.


Keduanya hampir saling berpelukan karena rasa rindu di antara mereka kala itu. Setelahnya mereka pun pergi bersama.


"Apakah kau sudah menikah dengan tuan Heron?" tanya Zeon sembari duduk berhadapan dengan Jen.


"Tidak, aku belum menikah."


"Lalu, mengapa kau tidak berkunjung ke rumah lagi?" tukas Zeon. Jen sangat bingung akan jawaban apa yang harus ia katakan.


Terlalu banyak yang telah Jen lalui selama ini. Sekalipun ia menceritakan pada Zeon, bel tentu kisahnya akan dipercaya.


"Lalu aku tiba-tiba pindah bekerja. Apa maksudmu, apakah kebaikan ayah kurang padamu?"


"Bukan seperti itu Zeon, aku..--" wajah Jen seketika terlihat sendu. Ia tidak mungkin mengatakan tentang ketakutan dan ancaman di dalam hidupnya selama ini. Zeon tidak akan mengerti, bahkan mungkin kisahnya akan terdengar seperti dongeng.


"Jannet, jika ada hal yang ingin kau bicarakan. Lebih baik katakanlah sekarang!" Zeon menepuk bahu Jen pelan.


"Aku hanya ingin lebih mandiri, Zeon. Semenjak aku menjadi seoranh yatim piatu, aku sudah berpikir tentang kehidupanku selanjutnya."


"Aku mengerti Jen. Tidak mudah menjadi dirimu. Namun, rumah kami keluarga Aharon, akan selalu terbuka untukmu."


"Terima kasih atas kebaikanmu Zeon. Kalian sudah banyak berjasa bagiku." Jen pun akhirnya menangis. Ia merasa sesak, karena ketidak mampuannya untuk mengatakan yang sebenarnya.


"Sudah saatnya aku untuk kembali. Terima kasih untuk hari ini."


"Apa aku perlu mengantarmu!"


Hmm... Jen menggelengkan kepalanya, tanda tidak. "Aku masih ada projek yang harus kuselesaikan. Kau pulanglah!" tukas Jen meyakinkan Zeon.


"Baiklah. Jaga dirimu Jen. Ingat untuk mengirimkan undangan pernikahanmu."


Zeon pun pergi dari hadapan Jen. Sudah saatnya bagi Jen untuk pulang, karena waktu sudah hampir menjelang malam.


Jen pun kembali dengan menumpangi sebuah bus antar daerah, ia pun harus berhenti di area pedesaan. Lalu melanjutkan perjalanan dengan mengendarai kuda/ delman.


***


Jarak dari sisi jalan menuju desa tempat kastil kediaman keluarga Danish tidaklah terlalu jauh, namun Jen harus mengendarai delman, dan hanya sebagian orang tahu keberadaan desa tersebut. Karena desa itu merupakan area tempat para manusia serigala.


Di pertengahan jalan, kuda pun terhenti.


"Ada apa tuan. Apakah ada masalah?" seru Jen dari balik tenda menuju si pembawa kuda.


Tak ada jawaban dari pertanyaannya, namun justru sosok wanita berjubahlah yang ia dapati tepat di depan delman yang kini ia tumpangi.


"Maaf, apa yang bisa dibantu nyonya?" tanya Jen pada si wanita.


Akhhh.... Pekik Jen, lalu tubuhnya pun melayang dan menghilang bersama hembusan angin malam itu.


***


"Akhirnya wanita tidak tahu diri ini kembali kemari!" ujar seseorang yang waktu itu berbicara dengan seorang lainnya.


Jen merasa kepalanya sedikit pusing dan penglihatannya pun kabur.


Ahhkk.. Pekik Jen sembari membuka matanya perlahan.


"Hai wanita tidak tahu diri!" Ujar seorang wanita hang sedang berdiri di hadapan Jen.


"Carisya!" tukas Jen lalu membelalak terkejut.


"Akhirnya kita berjumpa kembali, tidak tahu diri!" Tukas Carisya sembari mencengkram rahang milik Jen.


"Apa maumu!" tukas Jen dengan nada sedikit membentak. Mengingat betapa kejamnya perbuatan Carisya padanya waktu itu.


"Malam itu aku gagal membuatmu menjadi ******. Mungkin malam ini," cela Carisya lalu tertawa.


Plak...


Carisya menampar wajah cantik Jen. Menerima perlakuan kurang ajar dari Carisya, Jen pun membalas pukulan tangan Carisya dengan mendorong tubuh Carisya.


"Kau berani!" bentak Carisya.


"Kenapa aku harus takut. Bahkan jika malam ini waktu terakhirku, aku sangat najis jika harus mati ditangan kotormu!" cela Jen membalas perlakuak Carisya.


"Wanita tidak tahu diri! Sangat murahan! Kau sudah mulai berani!" teriak Carisya meraih sebuah pisau ditangannya, hendak menusuk ke arah Jen.


Jen mundur perlahan, ia tahu Carisya tidak main-main dengan perbuatannya.


"Hentikan Carisya! Kau gila!" teriak Jen. Carisya terlihat kalap, lalu berlari ke arah Jen dan benar-benar berniat membunuh Jen.


"Kau tidak tahu diri, dan yang seharusnya mati!" teriak Carisya sembari mengarahkan pisau ke arah leher Jen.


Susah payah Jen menahan tangan Carisya dari hadapannya, namun tenaga Carisya jauh lebih besar darinya.


Argkk.... Jerit Jen tatkala Carisya sudah hampir menancapkan pisau pada bagian lehernya.


Ahkk hhhh... Carisya tiba-tiba melenguh, lalu terjatuh ke samping.


Hhh hhh... Deru napas Jen. Ia terkejut atas apa yang terjadi pada Carisya. Sesuatu telah menembus punggung hingga jantung milik Carisya, hal itu itu seketika membunuhnya. Tubuhnya mendadak terbakar api besar.


Ahhkk... Jerit Jen terkejut bukan main. Terlebih lagi api itu berasal dari petikan seseorang.


Seorang pria berdiri dihadapan Jen dengan tatapan yang begitu lekat.


Berjalan ke arah Jen, Jen hanya terdiam kaku.


"Rezo!" ucap Jen dengan tubuh melemah.


Yah, pria yang telah membunuh Carisya adalah Rezo. Namun Rezo terlihat berbeda dari sebelumnya, bahkan sangat jauh berbeda.


"Rezo. Kau--"



Ahkk... Jen memekik, saat tangan besar milik Rezo mencekik lehernya. Hal yang sangat diluar dugaan Jen kala itu.


"Wanita tidak tahu diri itu tak ada artinya, dan sangat mudah membuatnya menurutiku." Tukas Rezo, lalu melepaskan cengkraman tangannya pada leher Jen.


"Apa yang terjadi padamu Rezo!" jerit Jen.


"Dulu aku sangat mencintai Carisya. Sangat mencintainya, bahkan aku rela berkorban nyawa demi dirinya. Namun, dia lebih memilih pria yang tidak mencintainya lagi, yaitu Heron baji**an. Aku sangat marah, bahkan  anak dalam kandungan Carisya adalah hasil buah cinta kami. Dia korbankan demi Heron."


"Apa maksudmu Rezo!" tukas Jen terkejut.


"Semua berpikir, Heronlah yanh menghamili Carisya dan mengorbankan bayi itu. Namun Heron bukan pria pertama baginya, melainkan aku. Aku!" teriak Rezo.


>>>


---Kilas balik---


"Aku hamil."


"Kau hamil. Aku akan menjadi seorang ayah! Bagus, sangat bagus,"ujar Rezo dengan begitu girang.


"Aku muak denganmu, kau bukanlah apa-apa dibandingkan keluarga keturunan bangsawan, Danish. Aku ingin kita putus."


"Carisya, kau gila! Lalu anak kita!" Rezo meraih tangan Carisya.


"Lepaskan! Kau pria miskin bagiku, aku akan menderita setelah menikah denganmu." Cela Carisya lalu pergi dari hadapan Rezo.


Tak lama setelah itu, Carisya pun menghilang dan dikabarkan telah bersama keluarga bangsawan, yaitu keluarga Danish.


Tak ada yang tahu permasalahan tersebut. Rezo menyimpannya rapat-rapat, karena rasa cinta mendalamnya pada Carisya. Namun ia tetap memilih untuk membalaskan dendamnya pada Heron. Bahkan dengam berbagai cara akan ia lakukan.


Hingga akhirnya beberapa hari yang telah lalu, Carisya sudah tak memiliki tempat bernaung setelah dicampakan oleh keluarga Danish.


Rezo pun menjebaknya untuk mencari tahu keadaan Jen, karena Rezo sangat tahu bahwa Heron begitu mencintai Jen.


•••••


"Bagiku, wanita hanyalah benda tidak berguna. Semua wanita sama saja, hanya cinta kedudukan dan harta!" teriak Rezo dan meninju dinding tepat di samping kepala Jen.



Jen sungguh tidak menyangka akan kenyataan ini. Mengapa Rezo bisa berlaku seperti ini terhadap dirinya. Rezo sangat jauh berbeda dan penuh dendam.


Terlebih lagi, kenyataan akan anak yang dikandung Carisya bukanlah anak Heron, si pria yang sangat Jen cintai.


Isak tangis Jen semakin pecah, karena Heron ialah pria yang tepat untuknya. Selepas dari semua perangai mesum Heron terhadap dirinya.


Jen sangat bersedih dia tidak menyangka akan hal ini.


Rezo sangat berbeda begitu kejam tidak ada lagi belas kasihan dan perhatian seperti Rezo yang dulu.


Jen menangis tersedu-sedu dan tidak menyangka akan apa yang ia saksikan saat ini mengapa seperti ini mengapa Jen harus mengalaminya. Mengapa harus menjadi korban padahal tidak tahu letak kesalahannya.


***


*Holla readers🙋


Sorry, baru bisa update kembali🤭


Sorry jika ada satu bab yang rancu, karena novel ini masih tahap revisi juga makanya saya baru bisa update sekarang.


Thank you bagi kalian yang masih setia dengan karya-karya saya.


Saya usahakan akan selalu update, jika tidak ada halangan.🤭


Love u so much🤗*💐