Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Tidak seperti dirimu dahulu



“Beloved Mister”


Author by Natalie Ernison


Semenjak Jannet berada di dalam kastil milik Rezo, dirinya dihantui rasa takut. Takut… jika saja Rezo akan berbuat hal yang lebih kejam terhadap dirinya. Namun sang nenek dari Rezo justru menginginkan, agar Jannet mampu membuat Rezo berubah dari perangai kejamnya saat ini.


~ ~ ~


Rezo yang dulu dikenal sangat lembut, kini berubah menjadi sosok yang sangat kejam. Jen sendiri pun merasa Rezo sangat jauh berbeda.


Jen terlihat begitu gelisah. Berjalan-jalan diantara anak-anak tangga kastil. Karena dirinya bahkan tidak diperbolehkan keluar dari dalam kastil tersebut. Tentunya saja, hal itu sangat membosankan bagi Jen.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang. Bagaimana bisa aku membuat Rezo berubah?” batin Jen.


Sungguh hal yang cukup sulit baginya. Jen benar-benar bingung akan apa yang harus ia lakukan kedepannya.


“Nona Jannet!” panggil sang nenek Rezo. Jen menoleh ke arah samping, tepatnya diluar kastil.


“Nenek,” balas Jen dengan wajah tersenyum.


“Kemarilah,” ajar sang nenek sembari meraih tangan Jen menuju halaman samping kastil.


Setiba di halaman samping, semua peralatan masak sudah tersedia di sana. Jen tercengang akan apa yang ia lihat kini.


“Nek, apa yang akan kita lakukan?” tanya Jen, sembari mendekati sebuah meja yang terdapat beberapa peralatan masak.


“Rezo sangat suka daging panggang. Tidak ada yang tahu hal ini, bahkan Carisya sendiripun tidak akan mengerti.” Tukas sang nenek, sembari memberikan beberapa daging potong yang sudah tersedia di dalam wadah.


“Bukankah seharusnya Rezo menyantap daging mentah, nek?” ucap Jen, lalu mulai membersihkan beberapa potongan daging tersebut.


“Apakah kau tidak pernah mengenal apa yang yang Rezo sukai sejak masa-masa kalian selagi kuliah dahulu?”


Jen mulai berpikir dan berusaha untuk mengingat semua momennya saat bersama Rezo.


“Kami memang pernah makan bersama nek, dan itu sudah lama sekali…” ucap Jen sembari berusaha untuk terus mengingat.


“Apakah kau tidak ingat makanan apa yang Rezo sukai?” sang nenek membantu Jen untuk menyiapkan beberapa bumbu penyedap.


Karena sudah biasa dengan urusan memasak, sehingga untuk hal ini bukanlah sesuatu yang cukup sulit baginya. Mempersipkan semua bumbu daging yang akan ia panggang. Sedang sang nenek duduk santai memperhatikan apa yang Jen kini kerjakan. Tidak lupa, sang nenek mengabadikan secara diam-diam melalui ponsel miliknya.


“Rezo, kita lihat… apakah kau masih mampu bersikap keras dan kejam pada wanita sebaik Jannet.” Batin sang nenek, sembari terus mengabadikan momen indah kali ini.


Jen mulai memanggang beberapa potongan daging, dan begitu fokus akan apa yang ia kerjakan kala itu.


Seusai memasak, semuanya dihidangkan di atas meja makan bersama. Tak lupa, beberapa roti panggang buatan Jen pun sudah tersedia dengan sangat rapi.


>>>


Ketika malam tiba...


“Apa yang nenek lakukan, mengapa begitu mendesakku untuk pulang?” ujar Rezo, melepaskan mantel miliknya.


“Cepatlah, dan duduklah!” tukas sang nenek.


Rezo pun begitu menurut pada sang nenek.


Baru saja Rezo tiba di ruang makan, fokusnya pun teralihkan oleh aroma daging panggang juga roti panggang buatan Jen.


Secara perlahan, Rezo menarik kursi lalu duduk manis. Matanya terlihat begitu berbinar-binar saat melihat semua hidangan yang kini tersedia dihadapan dirinya. Dengan tangan sedikit gemetar, Rezo mulai meraih piring yang terdapat beberapa potong daging panggang.


Rezo menyantap semua hidangan tersebut, tanpa tersisa sedikitpun. Kecuali, roti panggang buatan Jen. Rezo menatapnya, lalu menghirup aroma roti panggang buatan Jen tersebut. Tak ingin menyia-nyiakannya, Rezo juga menyantapnya hingga tak tersisa. Semua benar-benar habis tak tersisa.


“Apakah semuanya terasa enak?” tanya sang nenek mendekati Rezo.


Rezo mengangguk sembari tersenyum sendu. Entah hal apa yang telah mengingatkannya kala itu.


“Apa yang nenek lakukan?”tukas Rezo heran.


Setibanya di lantai dua kastil, sang nenek menyodorkan sebuah ponsel. Dalam ponsel tersebut memperlihatkan sebuah video Jen yang sedang terlihat fokus memasak. Dengan peluh bercucuran dari atas permukaan kepala Jen. Jen masih terlihat fokus memasak.


Kedua mata Rezo bahkan tidak berkedip, saat melihat isi dari rekaman video yang sang nenek abadikan secara diam-diam.


“Apakah ini suruhan nenek?” Rezo menatap sang nenek dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.


Hmmm.. sang nenek menggeleng, tanda tidak sepaham dengan ucapan dari Rezo.


“Bagaimana mungkin nenek peduli akan hal seperti ini. Nenek hanya mengatakan, bahwa kau sudah lama tidak menyantap daging panggang juga roti panggang buatan rumah. Dan… dengan sigap, Jen memohon pada nenek agar membelikan beberapa potongan daging.”


“Bagaimana mungkin!” Tukas Rezo hampir tak percaya akan apa yang ia dengar kini.


“Mengapa tidak! Bukankah, kalian sudah kenal lama satu sama lain. Sudah sangat wajar bukan, jika Jen ingin memberikan terbaik bagi sahabat baiknya.”


Mendengar pernyataan tersebut Rezo pun berbalik, dan berjalan menuju kamar Jen yang berada di ruang teratas kastil.


“Apakah Jannet telah membuatnya seorang diri…” ucap Rezo sembari terus melangkah menuju kamar kediaman Jen.


>>>


Setiba di ruang teratas kastil, langkah Rezo pun terhenti seketika. Jen terlihat sedang asyik merangkai beberapa hiasan bunga plastic. Jen terlihat begitu fokus dengan kegiatannya.


“Apakah sudah memasak semuanya seorang diri?” ujar Rezo secara tiba-tiba. Hal itu, membuat Jen sedikit terkejut.


“Apakah rasanya buruk?” balas Jen gugup.


Rezo menatapnya dengan tatapan berbeda. Tidak seperti beberapa hari yang telah lalu.


“Terima kasih Ja-net,” ucap Rezo dengan nada terbata.


Rasanya, ia sangat malu untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya pada wanita yang kini hanya menjadi alat balas dendamnya. Rezo pun berbalik, hendak pergi dari hadapan Jen. Kedatangannya seakan hanya untuk mengucapkan kata terima kasih semata.


“Aku akan membuatkannya lagi, jika kau menyukainya?” tukas Jen, dan membuat langkah Rezo terhenti sejenak.


“Mulai sekarang kau akan bekerja di bagian dapur kastil, dan juga menghias ruangan kastil lainnya.” Titah Rezo, lalu pergi dari hadapan Rezo.


Jen secara spontan tersenyum, cukup tidak menyangka jika Rezo akan mengatakan hal itu. Langkah awal tindakannya telah berhasil meluluhkan perasaan Rezo.


>>>


Rezo kini berada di bagian teratas kastil, tepatnya di area terbuka. Duduk tersungkur, wajahnya terlihat sedang tidak baik.


Arghk… erangnya secara tiba-tiba. Tubuhnya mulai berubah wujud menjadi seekor manusia serigala. Namun, malam ini adalah suatu hal berbeda.



Rezo terlihat bersedih. Bahkan dari suara aumannya pun terdengar begitu pilu. Rezo sedang menangis dalam wujud serigalanya. Sesuatu hal telah menyentil hati kecilnya.


----Kilas sejenak----


“Ibu, apa yang sedang ibu lakukan?” tanya seorang anak lelaki kecil datang menghampiri sang ibu yang sedang terlihat sibuk memotong daging.


“Ibu akan membuat daging panggang kesukaanmu, Rezo,” balas sang ibu sembari terus fokus dengan panggangan daging.


“Aku sangat suka bu, sangat suka.” Ujar Rezo kecil yang sedang kegirangan. Saat sang ibu memasak daging panggang kesukaannya.


Hingga suatu saat terjadilah hal yang tidak pernah terduga sebelumnya…


****