
”Beloved Mister”
Author by Natalie Ernison
Jannet akhirnya dipertemukan kembali dengan Heron. Namun, dalam keadaan yang sungguh sangat memilukan hati. Kebenaran akan kisah sesungguhnya, memang sulit bagi mereka untuk menghadapi kenyataan pahit ini.
Heron tidak pernah mengatakan kebenaran yang sesungguhnya pada Jen, tentang keputusannya untuk meninggalkan Jannet saat sedang sayang-sayangnya.
~ ~ ~
”Mansion Kediaman Heron Danish”
Ah.. ”Takdir yang sangat tidak berpihak padaku,” ucap Heron, dengan menggenggam gelas berisikan wine.
Duduk dilantai, tepatnya di dalam ruangan kerja miliknya. Kacau, sungguh kacau semua harapan besar Heron kali ini.
Sudah berhari-hari lamanya, Heron tidak ingin menyentuh makanan miliknya, dan hanya duduk di dalam ruangan kerja miliknya.
Terkadang Heron tidur dilantai dan hanya beralaskan karpet yang terdapat di dalam ruangan tersebut.
”Sudah berapa lama Heron seperti ini?” tanya Mr. Wornerd, ayah dari Heron.
”Kurang lebih lima hari, tuan besar,” ucap para pelayan.
Mr. Wornerd pun datang ke depan pintu ruang kerja pribadi milik Heron.
”Apakah kita terlalu keras selama ini?” ucap Mrs. Claw dengan wajah penuh penyesalan.
Setelah apa yang mereka perbuat pada Heron, semua benar-benar telah menghancurkan kehidupan masa depan Heron.
Karena penyesalan memang selalu datang diakhir segala perbuatan. Kini penyesalan saja pun tidak cukup membuat Heron kembali seperti dulu lagi.
Heron kini berada diambang kehancurannya. Ingin rasanya ia merebut kembali wanitanya, namun sudah terlalu banyak air mata duka yang telah Jen alami. Hal itu pun mengurungkan niatnya untuk kembali melangkah mengejar Jen.
”Heron! Bukalah nak, ayah dan ibu ingin bicara padamu!” Seru Mr. Wornerd berupaya membujuk Heron.
Namun tak ada lagi jawaban dari sana, dan Heron tidak menjawab sepatah katapun.
”Heron!” ucap Mr. Wornerd dengan nada yang meninggi, dan akhirnya mendobrak paksa pintu ruangan pribadi milik Heron.
”Heron! Apa yang terjadi padamu!” Pekik Mr. Wornerd dan langsung bergegas menuju tempat Heron kini terbaring tak berdaya.
”Apakah selama berhari-hari, anak ini mengonsumsi wine!” Ucap Mrs. Claw tak percaya akan keadaan Heron kini.
”Panggil dokter khusus kemari!” Titah Mr. Wornerd pada para pekerja mansion.
>>>
Akhirnya Heron dirawat secara intensive oleh dokter specialis khusus keluarga bangsawan kaum serigala.
”Glanpaa, glanmaa, apa yang terjadi pada daddy?” ucap Mercy kecil sembari mengoyangkan lengan milik Heron yang kini terbaring tak berdaya.
”Ini bukan permasalahan biasa, dan semua tidak bisa terselesaikan hanya dengan perawatan seperti ini.” Ucap sang dokter.
”Lalu apa yang harus kami lakukan, untuk membuatnya kembali normal?" ucap Mr. Wornerd.
”Berhentilah untuk memaksakan hatinya, karena sudah cukup tekanan yang tuan Heron alami.” Tukas sang dokter.
Mrs. Claw duduk di samping Heron kini terbaring, memandangi betapa malangnya nasib Heron hanya karena keegoisan mereka.
”Glanma, kapan daddy menemukan mommy balu untukku?” ucap Mercy kecil dengan tatapan mata yang menggemaskan.
”Bersabarlah sayang, daddy akan mendapatkan mommy baru untukmu,” ucap Mrs. Claw lembut pada sang cucu kecilnya.
Seteleh beberapa saat kemudian...
Vestus pun tiba, berniat untuk menjenguk Heron yang kini terbaring lemah.
”Paman, apa yang terjadi padamu paman?” ucap Vestus lirih. Sedih rasanya melihat kondisi Heron saat ini yang terlihat buruk.
Vestus duduk di sofa yang ada di kamar pribadi Heron, dengan ditemani salah seorang pelayan.
”Sebenarnya, tuan Heron seperti ini berawal dari pertemuannya bersama Nona Jannet.” Ucap sang pelayan dengan nada pelan.
”Apa! Paman telah bertemu dengan Nona Jannet!” Ucap Vestus terkejut. Sang pelayan mengangguk mengiayakan pernyataannya pada Vestus.
”Aku baik-baik saja Vestus. Kau pikir aku aka berakhir hanya karena hal ini!” Ucap Heron secara tiba-tiba.
”Paman, apakah paman sudah baik-baik saja?” Vestus pun bergegas menuju tempat Heron kini sedang berbaring.
”Hari ini kita akan ke toko pakaian,” tukas Heron dengan menyeringai.
”Apa maksudmu paman?” Vestus terlihat heran akan apa yang Heron maksudkan.
”Paman, kau..--” Vestus masih tak percaya akan apa yang ia dengarkan.
Ahk.. ”Jen akan melangsungkan hari bahagianya. Tentu saja aku harus memastikan itu adalah pria yang mampu membahagiakannya.“ Ucap Heron dengan wajah terseny sendu.
Vestus pun turut tersenyum, tatkala melihat respon terbaik dari sang paman.
***
Heron pergi bersama Vestus untuk memilih pakaian terbaik yang akan mereka kenakan saat acara pernikahan Jen.
Memandangi beberapa item pakaian pengantin sepasang. Heron terdiam sejenak, dan bayang-bayang akan dirinya bersama Jen pun kembali terlintas dibenaknya.
”Paman, indah bukan?” ucap Vestus sembari menunjukkan sebuah gaun mewah pada Heron.
”Apakah kau akan memberikannya pada Jen?” Heron pun meraih gaun mewah tersebut dan terkesima akan keindahannya.
”Yah paman,” keduanya pun kembali melanjutkan apa yang akan mereka cari hari ini. Vestus dan Heron memang selalu terlihat akrab, karena hanya Heron lah yang begitu peduli padanya.
***
Kota C
Semua dekorasi pernikahan terlihat mewah nan menawan.
Tibalah hari yang sangat ditunggu-tunggu Mr. Tyson dan juga Jen.
”Apakah kau sudah siap paman?” bisik Vestus pada Heron yang sedang menunggu mempelai tiba.
”Hal itu tidak perlu kau pertanyakan lagi, Vestus. Aku bahkan harus memastikan Jen benar-benar merasa bahagia.”
”Kuharap, paman tidak berlari ke arah pengantin dan mencoba untuk merebut mempelai wanita.” Kekeh Vestus, mengejek sang paman tampannya.
”Aku pasti akan melakukannya, jika saja aku jasi dirimu.” Balas Heron dan membuat Vestus terkekeh karenanya.
Setelah beberapa saat kemudian...
Sang mempelai wanita pun tiba bersama para dayang juga pihak wali keluarganya. Sementar Mr. Tyson sudah berdiri menanti kedatangan Jen.
”Mempelai pria dipersilakan untuk mengenakan cincin pada mempelai wanita,” ucap sang pemimpin acara sakral mereka.
Dengan tangan yang cukup berkeringat, karena begitu gugupnya. Mr. Tyson meraih tangan kanan milik Jen dan mulai bertukar cincin pernikahan.
”I love my lady,” ucap Mr. Tyson dengan mata yang berkaca-kaca. Begitupun Jen, tak kuasa menahan air mata haru bahagianya.
Seperti keinginan awal dari Mr. Tyson ialah, tak ingin menyentuh wanitanya secara berlebihan sebelum keduanya dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri.
“Terima kasih, telah menjadi wanita terbaikku.” Ucap Mr. Tyson dengan suara bergetar dan air mata haru bahagianya.
Perlahan, Mr. Tyson mengecup bibir merona milik Jen. Untuk pertama kalinya, dan tepat saat keduanya mengucapkan janji sakral.
Dari kerumunan para tamu undangan, terdapat hati yang pilu disaat hari bahagia Mr. Tyson bersama Jen.
Heron, yah Heron lah yang merasa pilu. Melihat wanita yang sangat ia cintai telah bersama pria lain dan menjadi istri bagi pria lain.
Tertoreh sebuah senyumannya pilu diwajah Heron. Karena walau bagaimanapun juga, Jen hanyalah bagian dari masa lalunya.
***
”Mansion kediaman Mr. Tyson & Mrs. Jen family”
Setelah melangsungkan acara pernikahan, keduanya pun pergi menuju mansion baru yang akan mereka tempati dan memulai kehidupan bahtera rumah tangga yang baru.
”Nonaku sudah siap?” ucap Mr. Tyson sembari melepaskan pakaiannya secara perlahan.
Dari balik selimut tebal serba putih, Jen berbaring sembari menutup seluruh tubuhnya dibalik selimut.
”Belum tuan, aku belum siap,” ucap Jen dari balik selimut tebal miliknya. Mr. Tyson tersenyum penuh arti dan langsung melompat ke arah Jen yang kini tengah berbaring.
”Sekarang kau sah menjadi istriku, jadi aku bisa membuatmu bergadang hingga larut malam, bukan?” kekeh Mr. Tyson sembari terus menjahili Jen sedari tadi.
***