Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Masa laluku, kekasih gelapku



“Beloved Mister”


Author by Natalie Ernison


Dari peremuan tak terencana antara Jannet dan Heron telah membawa kisah baru. Jannet yang mengira bahwa Heron telah melupakannya, ternyata Jannet salah. Heron selalu menunggu dan mencintai Jannet. Pernikahannya bersama Zharen pun bukanlah penghalang baginya untuk memiliki Jannet kembali. Walaupun sejujurnya, Jannet tidak pernah menginginkan hubungan gelap antara dirinya bersama Heron.


~ ~ ~


Argh… Heron mengerang penuh amarah. Ia sangat marah atas semua tindakan semena-mena dari Zharen. Sebagai seorang suami, Heron sungguh tak lagi berharga bagi Zharen.


Meraih ponsel miliknya, dan mencoba melakukan panggilan. “Baby, kau berani mematikan ponsel. Ingin bermain-main ternyata,” ucap Heron yang kala itu sedang melakukan panggilan pada Jen.


Jen: “Ini sudah malam, apa maumu tuan Heron!” Ucap Jen dari balik panggilan suara. Mendengar suara wanita pujaannya, Heron pun kembali tersenyum ceria.


Heron: “Aku merindukan dirimu. Tolong jangan tutup panggilan ini! Jika kau ingin beristirahat, silakan saja, tapi jangan tutup panggilan ini,” pinta Heron dengan wajah sendunya.


Sungguh hal yang sangat menyesakkan bagi mereka. Dikala harus bertemu kembali, namun dikeadaan yang berbeda tak seperti dulu. Sepanjang malam, Heron tetap terjaga bahkan ia mendengar semua aktivitas Jen sepanjang malam itu.


“Beberapa hari kedepan aku akan pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Kemungkinan aku..—“


“Kemungkinan tidak pulang dalam kurun waktu beberapa hari! Yah, pergilah, jika perlu tidak perlu kembali lagi!” Tukas Zharen dengan tatapan sinis pada Heron.


“Baiklah, aku akan segera pergi.” Heron pun bergegas pergi dari mansion kediamannya. Sedangkan Zharen hanya duduk di sofa, tanpa berniat untuk menghantarkan kepergiannya sang suami.


***


Heron pergi ke luar kota, tepatnya ke kota C. Kepergiannya ialah untuk urusan pekerjaan, terlebih lagi Jen yang berada di kota C.


Kota C


Setelah sekian lama, akhirnya proses pembangunan gedung untuk perusahaan cabang yang akan Heron tangani pun sudah terselesaikan dengan cukup baik.


“Tuan Heron, semua sudah siap untuk digunakan.” Ucap Mr. Tyson menyambut kedatangan Heron.


Heron menatap kagum semua dekorasi sempurna ruangan miliknya. “Aku memutuskan untuk lebih fokus dengan perusahaan cabang ini. Kau tentu tahu, selera rekan kerjaku seperti apa,” ucap Heron dengan senyuman penuh makna.


“Tuan Heron sungguh berniat untuk menjadikan Nona Jannet sekretaris pribadi?” tukas Mr. Tyson dengan tatapan penuh selidik.


Heron pun menyeringai. “Apakah aku pikir aku bermain-main dengan ucapanku, Tuan Tyson?”


“Tentu saja anda selalu serius, Tuan Heron. Mengingat Nona Jannet adalah kepala bagian diperusahaan, maka sebaiknya aku akan bicarakan terlebih dahulu.”


“Silakan. Tapi besok, aku sudah harus melihat Nona Jannet berada satu ruangan denganku.” Tukas Heron, seakan semua ucapannya tak dapat terbantahkan.


“Baiklah Tuan Heron. Silakan nikmati ruangan baru anda, aku akan kembali ke kantor.” Mr. Tyson pun bergegas kembali ke perusahaan, sedangkan Heron masih menunggu berita terbaik dari mr. Tyson.


“Dengan begini, kau akan selalu bersamaku. Kupastikan tidak aka nada yang berani menganggumu lagi, termasuk keluargaku.” Ucap Heron, sembari duduk dikursi barunya.


***


“Perusahaan S”


“Apa! Akan menjadi sekretaris Tuan Heron!” Ucap Jen terkejut dan terlihat tidak setuju dengan hal itu.


“Nona Jen, tolong pikirkan baik-baik. Tuan Heron akan sangat senang memiliki rekan sepertimu. Terlebih lagi, Tuan Heron sudah tak akur dengan istrinya...” ucap Mr. Tyson dengan anda sedikit berbisik.


“ Tuan Tyson jangan asal bicara! dan aku tidak bisa, maaf.” Tukas Jen, yang kekeh menolah permintaan dari Mr. Tyson.


“Nona Jannet, kumohon… hanya kau yang memenuhi criteria terbaik. Tuan Heron hanya menginginkanmu.”


“Tuan Tyson, tuan tidak tahu jika..—“ ucapan Jen seketika terhenti dan hampir saja Jen mengatakan hal yang tidak seharusnya orang lain ketahui.


“Ada Nona Jen?” tanya Mr. Tyson heran.


“Sungguh! Ahhkk… luar biasa! Thank you so much, Nona Jannet Mercya.” Ucap Mr. Tyson yang begitu kegirangan.


“Jika aku tidak mengiayakan permohonan Tuan Tyson, hal itu hanya akan membuat curiganya saja.” Batin Jen.


***


“Perusahaan C”


Jen kini berada di perusahaan terbaru dari perusahaan utama tempatnya bekerja. Sekarang Jen menjadi sekretaris pribadi Heron. Heron sangat bahagia akan kehadiran Jen disisinya.


“Nona Jen, ini ruangan Nona. Untuk hari ini, Tuan Heron sedang pergi. Jadi, kemungkinan besok Tuan akan mulai bekerja.” Ujar salah seorang pegawai.


Jen bekerja satu ruangan dengan Heron, dan hanya dibatasai dinding kaca, juga pintu kaca. Namun, terdapat tirai penutup antara dinding penyekat. Sehingga Jen bisa saja menutup dan membuka sesuka hati tirai tersebut.


Saat Jen mulai membereskan barang-barangnya, terselip secarik kertas di dalam laci meja miliknya. “Hari ini kau boleh pulang lebih awal. Namun besok, kau harus memulai kegiatan yang sangat panjang bersamaku.” I love you baby.


“Ini pasti ulahnya,” ucap Jen pelan. Ia tahu, Heronlah yang menuliskan surat tersebut.


>>


Keesokan harinya, Jen sudah dipenuhi dengan segala tugas-tugas dari Heron. Tentu saja hal itu membuatnya sangat sibuk hingga lembur.


Begitu fokus dengan semua salinan berkas-berkasnya, membuat Jen tak memperhatikan sekelilingnya.


“Begitu fokus, hingga melupakanku,” bisik Heron tepat di telinga Jen. Jen bergidik saat aroma mint menyapu kulit leher bagian belakang hingga wajahnya.


“Aku akan segera menyelesaikan pekerjaanku, mohon untuk tidak..—“


Ahkk.. Jen memekik, saat tangan jahil Heron mulai menyentuh kulitnya.


“Hentikan, Tuan Heron. Kumohon, jangan begi6nih..” ucap Jen, dan masih berusaha menyelesaikan pekerjaannya lalu dengan segera mematikan layar computer miliknya.


“Apakah Nyonya Zharen tidak sanggup memuaskan anda?” Tukas Jen sembari menghentikan pekerjaannya.


“Mengapa kau sangat tahu, dan aku memang tidak berselera dengannya,” kekeh Heron, lalu memutar kursi kerja milik Jen.


“Tuan, kita sedang berada di kantor.”


“Tapi tidak akan ada yang tahu, semua hal yang terjadi di sini. Karena aku telah mematikan cctv diruangan ini.”


“Kau yang memulai semuanya, jadi kau harus bertanggung jawab, jika aku menjadi sedikit agresif.” Peringat Jen sembari menatap kedua bola mata milik Heron. “


Heron kembali terkekeh tatkala melihat ekspresi wajah Jen yang terlihat sangat serius. “Itulah yang kuninginkan. Kau tidak perlu sungkan untuk menyentuhku, karena semua ini akan menjadi milikmu seutuhnya.”


Keduanya pun mulai melakukan kegiatan yang mengundang hawa panas******🤪😝. Setelah sekian menit hampir satu jam berlalu, Heron melepaskan Jen dari kungkungannya.


“Lihat, betapa manisnya wanita kecilku ini. Kau sudah sangat lincah. Apakah kau sudah mempelajari banyak hal, baby?”


“Diamlah! Jadilah seorang direktur yang disegani. Tidak perlu mempedulikanku dihadapan semua orang. Jadilah Tuan Heron yang dingin, jika masih ingin terus menjalani hubungan ini.” Ucap Jen sembari merapikan penampilannya.


“Pulanglah dan istrahatlah. Besok malam aku akan datang ke mansionmu, dan akan membuat sedikit perhitungan padamu.” Ucap Heron sembari mengecup kening Jen dengan sentuhan lembutnya.


Jen benar-benar telah berubah, tak lagi menjadi wanita yang lemah seperti dirinya dahulu. Terlebih lagi setelah Jen mengetahui hubungan Heron bersama Zharen yang sesungguhnya.


“Aku hanya ingin bahagia dengan caraku. Tidak ada yang bisa menghentikanku. Meskipun aku hanya kekasih gelapmu...” gumam Jen dan keluar dari ruangannya seolah tidak terjadi satu hal pun.


Hubungan gelap antara dirinya bersama Heron pun semakin hari, semakin mesra. Namun tak dapat dipungkiri, Jen terkadang merasa perbuatannya tidaklah tepat. Karena Jen hadir di dalam kisah rumah tangga Heron. Sekalipun rumah tangga itu hanyalah sebatas drama pernikahan.


***