
“Beloved Mister”
Author by Natalie Ernison
Jannet masih bimbang dengan pilihan hatinya, karena tidak mudah baginya untuk kembali membuka hati setelah apa yang ia alami. Sungguh menyakitkan dan mengecewakan memang jika dikecewakan oleh seseorang yang sangat dicintai.
~ ~ ~
“Perusahaan xx”
“Jannet, mengapa kau tiba-tiba ingin mengundurkan diri! apakah gajimu kurang?’' tukas seorang atasannya kala itu.
“Tidak tuan, aku hanya ingin fokus dengan usahaku,” jawab Jen dengan menundukkan kepalanya.
Berat memang melepakan pekerjaannya saat ini, karena perjuangannya untuk dapat bekerja dengan posisi yang bagus pun tidaklah mudah.
“Jika kau memiliki permasalahan pribadi, jangan bawa ke urusan pekerjaan! itu hanya akan merugikan dirimu sendiri!” tukas sang atasannya sambil menyoyakkan surat pengunduran diri Jen kala itu.
“Tuan, mengapa tuan melakukan ini!” tukas Jen dengan wajah muramnya.
“Pengunduran dirimu tidak dapat kuterima, jika kau bersikeras maka kau harus membayar ganti rugi dua milyar” tegs sang atasannya, lalu bangkit dari kursi kerjanya.
“Jannet, tidak mudah perusahaan merekrut pegawai tekun dan jujur sepertimu. Jadi, jangan kecewakan aku dengan pengunduran dirimu,” tukas sang atasannya.
Jannet pun ke ruang kerjanya dengan wajah penuh keletihan. Jannet sangat lelah dengan kenyataan yang harus ia hadapi. Cukup sulit memang, namun harus tetap dijalani dengan penuh tanggung jawab.
“Ayah, ibu. Aku sangat merindukan kalian..” lirih batin Jen. Tanpa sadar air matanya pun menetes membasahi meja kerjanya. Jen menelungkupkan kepalanya ke atas meja, menangis di sana.
Drrttt… "Tuan mesum" memanggil…
Melihat nama panggilan di layar ponselnya, Jen pun meraih ponselnya dan mengabaikannya kembali. Namun ponselnya terus saja bergetar, hingga akhirnya Jen mematikan data selular juga dayanya.
>>>
Setelah menjelang malam…
Hari ini Jen bekerja hingga malam, dan sangat sibuk dengan segala laporan perusahaan. Satu lagi, Jen masih mematikan ponsel miliknya dan tak menghiraukannya.
“Apakah kau sudah sangat menginginkan kepergianku, Jannet!” tukas seseorang dari arah depan Jen, saat Jen baru saja hendak memanggil taksi yanga akan ia tumpangi pulang.
“Tuan Heron!” ucap Jen dengan ekspresi sangat terkejut.
“Mengapa ka uterus mengabaikanku, baby! aku ingin kita bicara” pinta Heron dengan penuh harap.
“Aku sangat lelah seharian ini, aku bahkan baru saja menyelesaikan pekerjaan, jadi jangan buat aku kehilangan kesabaranku!” bentak Jen sambil mendorong Heron dari hadapannya.
“Baby, please..” pinta Heron dengan penuh permohonan lagi.
“Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, aku tidak ingin tua berada di sini” tukas Jen tanpa menoleh ke arah Heron. Tangannya bergerat sembari mencengkram tali tas selempang miliknya.
“Aku akan pergi ke luar negeri untuk waktu yang lama, dan tidak tahu kapan aku akan kembali. Thank you for everthing baby, I love you baby..” tukas Heron dengan nada lirih dan masih berdiri berharap jawaban dari Jen.
“Yes, and see you next time..” jawab Jen dengan nada pelan, lalu masuk ke dalam taksi yang baru saja ia pesan.
Kaki Jen bergetar, tulang-tulang sendinya terasa begitu lemas. Napasnya pun terasa begitu sesak, dan air mata seketika mengalir deras membasahi pipi mulusnya.
***
“Nona, kita sudah tiba” tukas sang supir taksi, Jen pun tersadar dari lamunannya.
“Kediaman Jannet”
Jen menaiki anak-anak tangga kediamannya dengan tertatih, dan berkali-kali ia hampir terjatuh. Ini sangat menyakitkan bagi Jen, ini sangat menyesakkan.
Setiba di depan pintu kamar, Jen jatuh tersungkur dengan isak tangisnya. “Tuhan, ini sangat menyakitkan..” ucap Jen dengan suara lirih.
Kenyataan akan kisah masa lalu Heron bersama Carisya sungguh menyayat hatinya. Jen tak tahu harus berbuat apa lagi, semua orang-orang terdekatnya telah pergi satu per satu. Sehingga yang tertinggal hanya luka dan kenangan air mata.
Butuh waktu bagi Jen untuk dapat memulihkan kembali hatinya yang sudah penuh dengan luka kekecewaan.
***
Sementara di sisi lain…
“Mansion Kediaman Heron Danish family”
“Kau sudah siap anakku?” ujar ayahnya yang kini berdiri menghadap Heron. Heron duduk di sebuah kursi kayu, dengan keadaan hanya mengenakan kolor lapisan luar saja.
“Lakukan sesuka hatimu, ayah” tukas Heron dengan tatapan kosong, bak tak berpengharapan lagi.
“Baiklah, kita mulai ritual ini” tukas ayahnya sembari mengarahkan cambukkan rantai panas yang baru saja diambil dari perapian menyala.
Srasshhh srashhhh…
Cambukan demi cambukan mengenai permukaan kulit Heron hingga memar, terluka bahkan membuat kulitnya terkelupas dengan sangat mengerikan.
Arghh… arghhkk… hahh hahh… ahkk….
Lenguhan Heron menggema memenuhi area mansion, hingga luar mansion kediaman keluarganya.
“Itulah akibatnya, jika kau melanggar sumpah kaum manusia serigala” tukas sang ayahnya, dengan sorot mata semerah darah.
Cambukan itu terus melukai permukaan kulit Heron, hingga membuat Heron memuntahkan darah berwarna kehitaman dari dalam mulutnya.
Uhkk uhukkhh… darah kehitaman menyucur dari mulut, hidung bahkan matanya.
Sementara Vestus terus mengepal kedua tangannya menahan rasa amarah di hatinya.
“Paman Heron, mengapa paman harus mengalami hal ini” gumam Vestus tak kuasa melihat penderitaan Heron kala itu.
“Sudah ayah katakan, jangan berani melanggar sumpah leluhur! kau tidak ingin menyantap janin Carisya, berarti sama saja kau mempermalukan nama keluarga Danish! bodoh sekali! cinta manusia membuatmu bodoh, Heron!!” teriak sang ayahnya, seisi mansion kian mencekam dengan raungan para kaum serigala kala itu.
“Carisya adalah putri keturunan serigala bangsawan. Dengan menyantap janin hasil persetubuhan kalian, maka kau akan membawa kemakmuran keluarga Danish! kau mengerti!”
Srashh srasshhh… cambukan terus menggema, dan semakin membuat tubuh Heron hancur terluka.
“Aku tidak mungkin menyantap anakku sendiri! kalian telah menjebakku, ayah.. kalian sangatt kejjiiihhh…” lirih Heron dengan keputusasaan.
“Kau adalah pengharapan leluhur, Heron! mengapa kau lebih memilih naluri bodohmu! kau harus menyantapnya! sekarang tak ada lagi harapan! kau sangat bodoh! bodoh!” teriak sang ayahnya, lalu menghentikan cambukannya.
Heron jatuh terkapar dengan segala luka pada kulitnya. Ia menggigil, gemetar, dan sangat kesakitan tak terucap lagi.
“Carisya datang kembali untukmu, namun kau lebih memilih gadis manusia itu. Lihat saja, apa yang akan ibu perbuat untuk gadis bodoh itu!” peringat ibunya yang kala itu duduk mslihat adegan sadis itu, dan menghilang bersama hembusan angin.
“Jangan.. janggaann sakitihh Jannet… hhh hhh..” lirih Heron. Heron merangkak dan berusaha menjangkau pintu ruangan penyiksaannya.
“Paman Heron!” tukas Vestus dan langsung memapah tubuh Heron.
“Vestus, lakukan segala upaya untuk melindungi Jannet! aku tidak sanggup lagi, ini sangat menyakitkan..” lirih Heron.
Suaranya bergetar dan ia terus saja memuntahkan darah kehitaman dari dalam mulutnya.
“Paman! bertahanlah paman! kumohon paman…” isak Vestus. Namun Henokh telah menutup matanya dan nadinya pun sudah tak lagi berdenyut.
“Paman!!!” jerit Vestus kala itu.
****