
”Beloved Mister”
Author by Natalie Ernison
Kedatangan Zharen ke perusahaan cabang C ternyata membawa kisah yang tak dapat Jannet lupakan. Zharen yang adalah istri sah dari Heron terlihat bercumbu mesra dari balik tirai pemisah antara ruangan Jannet bersama Heron.
~ ~ ~
Heron membawa Jen pergi bersamanya, malam seusai Jen menyelesaikan pekerjaannya.
”Bukankah tuan harus pergi ke hotel, untuk menemui Zharen,” ucap Ell memecahkan keheningan selama beberapa saat.
”Aku tidak akan pulang malam ini,” tukas Heron sembari mendekati wajah Jen.
”Istri anda sedang hamil, seharusnya..”
”Seharusnya apa, baby? Dengar, aku Heron, akan tetap menemanimu malam ini.” Ucap Heron dan mulai mencumbu Jen.
”Tuan Heron, bisakah kita akhiri hubungan ini,” ucap Jen. Heron mencengkram rahang milik Jen, namun tidak kasar.
”Sudah sejauh ini, lalu kau ingin mengakhirinya! Tidak semudah itu, baby. Karena bayi yang ada dalam kandungan Zharen bukanlah anakku.”
”Apa maksud anda, tuan?” pekik Jen terkejut.
”Pada saat calon bayi pertama kami dinyatakan tak dapat bertahan hidup, aku pergi melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri. Lalu, saat aku kembali, Zharen memaksaku untuk berhubungan. Namun, belum sampai beberapa minggu setelah itu, Zharen dinyatakan hamil lagi.” Tukas Heron, dan membuat Jen mengerti, bahwa Zharen telah melakukan perselingkuhan sebel Heron bertindak.
”Apakah hubungan ini hanya alat pelampiasanmu saja? Apakah aku hanya pelampiasanmu saja?” Tukas Jen dengan nada membentak.
”Aku memang marah saat kutahu janin itu bukanlah anakku, tapi bukan berarti kau menjadi alat pelampiasanmu.” Ucap Heron seraya membelai puncak kepala Jen dan terus mencumbu Jen.
”Lepaskan aku! Aku lelah malam ini,” ucap Jen yang merasa begitu kesal atas apa yang ia dengar malam ini.
Drrtttt.... Ponsel milik Heron terus bergetar, dan itu adalah panggilan dari Zharen.
Dengan sengaja Heron menjawab panggilan tersebut dengan menyentuh pengeras suara di layar ponselnya.
”Kau kemana saja, aku sudah mempersiapkan diriku. Cepatlah sayang...” ucap Zharen dengan nada manjanya.
”Aku sedang sibuk malam ini, dan akan pergi ke salah satu tempat,” balas Heron seraya mencumbu Jen kembali, sementara panggilan masih berlangsung.
Jen hanya mampu berdiam diri dan mendengarkan percakapan Heron bersaman Zharen.
Heron meletakkan tubuh Jen di atas pangkuannya, dan masih saja berbicara dengan Zharen.
”Apa yang sedang kau lakukan! Cepat kembali!" Bentak Zharen yang sudah mulai kesal.
”Kau pikir, bercinta akan lebih indah jika kau sedang dalam keadaan marah! Kau membuatku tidak berselera!” Tukas Heron. Sementara itu, Jen melakukan kegiatan nakalnya untuk mengganggu Heron.
Ahk... desah Heron terlepas tanpa sengaja, akibat perbuatan nakal Jen.
”Apa! Apa yang sedang kau lakukan Heron?” bentak Zharen.
”Sudah kukatakan aku sangat sibuk, kau masih saja menggangguku.”
”Baji**an! Awas saja jika kau berani macam-macam dibelakangku, maka aku akan menghancurkan wanita yang berani mendekatimu!" Ancam Zharen.
”Termasuk, jika aku sedang bermain dengan pelac*r!” Kekeh Heron.
”Tutup mulutmu Heron! Kau baji**an!” Umpat Zharen dari balik panggilan.
”Kau saja selalu kasar pada suamimu sendiri dan bersikap cuek. Jadi, jangan salahkan pria, jika pria tidak tahan dengan sikapmu dan memilih wanita malam.”
Tut...
Panggilanpun terputus.
”Kau berani menggodaku hah!” Ucap Heron sambil mendekap erat tubuh Jen.
”Jadi, maksud anda, aku wanita malam!” Dengus Jen sebal.
”Bukankah ini malam hari, apa kau merasakan seperti itu, baby,” kekeh Heron dan mulai melanjutkan kegiatan mereka yang sempat terputus.
”Jangan! Aku tidak ingin menyerahkan kehormatanku pada suami wanita lain!” Peringat Jen saat Heron berniat untuk melakukan penyatuan tubuh dengan Jen.
”Tidak! Malam ini cukup sampai disini. Aku ingin beristirahat.” Jen pun beranjak dari atas pangkuan Heron, dan kembali ke kamar tempat ia menginap.
Saat ini, mereka sedang melakukan perjalanan ke suatu daerah, untuk mengecek keadaan perusahaan dari kliem perusahaan. Sehingga, Heron pun benar-benar memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memadu kasih dengan wanita pujaannya.
Disaat bersamaan istri sahnya, Zharen pun sangat membutuhkan kehadiran Heron dimasa kemahilannya. Namun, Heron telah mengetahui semua yang Zharen lakukan selama ia pergi bekerja.
Zharen berselingkuh dengan salah satu supir pribadinya, karena tidak tahan dengan nafsun birahi saat Heron begitu sibuk dengan pekerjaan. Semenjak perselingkuhan itu, Zharen menjadi cukup berubah, dan kerap kali bersikap kasar pada Heron.
Heron pun sudah mengetahui hal itu sejak lama, namun karena Zharen sedang mengandung, maka Heron mencoba untuk tetap diam. Hingga akhirnya Jen pun hadir kembali dalam hari-harinya, hal itu pun telah cukup membuat Heron kembali bersemangat atas hari-hari barunya.
***
”Baik, rapat hari ini cukup sampai disini..--” ucap Jen yang saat itu sedang melakukan presentasi di agenda pertemuan antar klien perusahaan.
Setelah beberapa saat kemudian...
”Jannet! Jannet!” Panggil seseorang, saat Jen sedang mengambil makan siangnya di ruang khusus.
”Tivana!” Ucap Jen lalu menyambut wanita yang memanggilnya kala itu.
”Jannet aku sangat merindukan dirimu...” ucap wanita yang bernama Tivana sembari memeluk tubuh Jen.
Keduanya pun duduk bersama, sembari menyantap makan siang bersama. Tivana adalah teman baik Jen saat di masa kuliah dan keduanya terpisah jarak setelah sekiam tahun lamanya.
”Pak Heron,” ucap Tivana dengan tatapan tak percaya akan apa yang ia lihat dihadapannya.
”Jen, ini sungguh pak Heron, dosen kita saat kuliah?” ucap Tivani.
Heron terseny sembari menyantap daging panggang miliknya. ”Ada apa Tivani, si tukang tidur di kelas.” Kekeh Heron.
”Sungguh Pak, aku tidak menyangka akan dipertemukan kembali dengan anda.”
”Apakah kalian adalah klien?” tanya Tivana penasaran.
”Jannet adalah sekretarisku sekarang,” ucapan Heron kian membuat Tivani tercengang.
”Oo my Goddess! Jen sangat beruntung, Pak Heron adalah dosen idola sepanjang masa.” Ucap Tivani penuh antusias.
Mereka pun saling berbincang-bincang, seakan ini adalah acara reuni mendadak. Tivani ialah anak pemilik dari perusahaan cabang yang menjadi klian perusahaan S.
”Jen, aku sangat ingin menceritakam sesuatu padamu. Apakah aku ada waktu, ataukah kalian harus segera kembali ke kota C?”
”Tidak, silakan. Jangan sungkan, aku tetap dudul di sini untuk mengerjakan pekerjaanku.” Tukas Heron pada Tivani.
Tivani mulai menceritakan keluh kesahnya pada Jen. ”Pernikahanku gagal karena orang ketiga Jen. Wanita itu adalah rekan kerja tunanganku, dan tunanganku lebih memilih wanita jal**g itu dibandingkan aku. Aku sangat membenci wanita yang hadir didalam hubungan orang lain.” Ucap Tivana dengan begitu sedihnya.
”Sabarlah, kau wanita cantik dan cerdas pasti menemukan pria yang jauh lebih baik dibandingkan mantan tunanganmu dulu.” Ucap Jen sembari menepuk bahu milik Tivani.
”Andai kau tahu, aku adalah wanita yang hadir dalam hubungan orang lain, bahkan rumah tangga orang! Apakah, kau masih mau berteman denganku...” batin Jen.
Wajah Jen seketika murung, dan Heron pun menyadari hal itu.
”Jen aku akan sangat merindukanmu. Sering-seringlah menelponku,” rengek Tivana yang terus memeluk Jen, saat Jen akan kembali ke kota C.
”Tentu saja Tivana. Sampai jumpa,” ucap Jen lalu bergegas pergi.
***
Sepanjang perjalanan, Jen terus teringat akan kisah dari Tivani. Sungguh hal yang sangat memilukan memang.
”Apa yang mengganggumu, baby?” tanya Heron sembari mengusap puncak kepala Jen.
”Aku hanya berpikir tentang diriku. Bahkan Tivani pun sangat bersedih atas pengkhiatan tunangannnya, lalu aku teman baiknya justru bersama pria dari suami orang lain.” Ucap Jen.
”Sudahlah, lupakan. Aku mencintai.” Heron mendekap Jen, dan mengecup puncak kepala Jen.
”Kau terlalu indah untuk terluka, dan terlalu baik untuk diabaikan. Kupastikan, kau menjadi yang pertama." Lirih batin Heron.
Heron sangat mencintai Jen, dan tidak sanggup jika harus terpisah untuk kesekian kalinya. Namun, Heron juga tidak bisa meninggalkan Zharen yang sedang mengandung calon bayi bagi mereka.
***