
>>Dalam perjalanan cinta Jen yang penuh dengan lika-liku, terkadang cukup membuatnya hampir terpuruk. Orang-orang yang dulunya sangat memperhatikan juga peduli, kini mulai pergi satu per satu. Janji tinggal janji, itulah yang Jen harus hadapi.
Memang cukup sulit bagi Jen menerima kenyataan bahwa Tommy yang dulu selalu berada di sisinya layaknya seorang pria yang akan selalu melindungi. Kini justru telah bersama wanita lain. Semua memang berlalu begitu saja, seperti hembusan angin.
Oma, sepertinya aku harus keluar dari rumah ini.
“Jen, apa maksudmu? kenapa tiba-tiba begitu??” sahut oma Carla yang cukup terkejut mendengar pernyataan dari Jen.
Iya oma, aku sudah cukup banyak merepotkan keluarga Aharon. Sekarang saatnya aku hidup mandiri. Tukas Jen dengan penuh kepiluan hati.
“Janet, oma sudah sangat senang kok kamu berada di rumah ini bersama oma..” ujar oma Carla dengan senyuman lembutnya.
Iya oma, akhir bulan ini aku akan mulai tinggal sendiri.
“Yasudah kalau memang itu kemauan kamu Jen, yang pastinya pintu rumah oma selalu terbuka lebar untukmu..”
Beberapa hari kemudian…
“Jen, sering-sering main ke rumah oma yah sayang…” ujar oma Carla sambil memberikan kecupan pada kening Jen.
Baik oma, aku pamit dan terimakasih atas semua kebaikan oma.
Huhhhh… (menghela napas panjang secara perlahan)
“Akhirnya aku pergi juga dari lingkungan keluarga Aharon, semua terasa begitu cepat berlalu..” gumam Jen saat melangkah dari halaman perumahan keriaman oma Carla, sambil menyeret koper miliknya.
Jen di antar oleh supir pribadi oma Carla menuju sebuah tempat yang lokasinya cukup jauh dari kediaman oma Carla dan juga keluarga besar Aharon.
“Non, setelah ini mau kemana lagi?” tanya seorang supir tersebut.
Sampai sini saja pak, setelah ini biar saya naik taksi saja.
“Oke baik non, saya pamit dulu yah.
Baik-baik jaga diri yah non,” tukas sang supir lalu beranjak pergi.
“Aku rasa tempat ini cukup tenang, dan gak ada gangguan dari oranh-orang masa lalu..” gumamnya sambil beranjak pergi.
Beberapa jam kemudian…
Setelah membereskan barang-barang pribadinya, Jen pun akhirnya menyelesaikan semua pekerjaannya. Membereskan rumah kontrakan, merapikan barang-barang, meletakkan ditempat yang suharusnya.
“Hahhhh…
Cukup melelahkan banget ini kerjaan…” gumam Jen sambil menyenderkan diri di dinding.
“Sepertinya aku harus menelpon ibu dan bapak deh…" Jen meraih ponselnya dan mencoba menelpon orang tuanya yang berada di daerah.
“Hallo pak, bu.. ia aku baik-baik aja kok di Jakarta…
Iya pak, awal bulan aku bakal kirim uang untuk bantu usaha tambak ikan bapak..---“
Hiks hiks…
“Bapak, ibu aku rindu kalian…
Andai kalian tahu betapa sulit hidupku di sini..” keluh Jen seusai menelpon ayah dan ibunya.
Jen sejak kecil terlahir sebagai anak dengan memiliki satu adik laki-laki. Namun, saat Jen menyelesaikan sekolah menengah pertamanya, sang adik semata wayang jatuh sakit dan memerlukan biaya pengobatan yang cukup banyak.
Semua tabungan kedua orang tuanya habis untuk biaya pengobatan sang adik. Hingga akhirnya tabungan Jen yang telah ditabungnya selama beberapa tahun, yaitu untuk biaya kuliahnya pun habis terpakai. Walau akhirnya sanga adik semata wayangnya harus berpulang ke yang maha kuasa.
Saat akan diadakan pendaftaran calon mahasiswa/ mahasiswi baru, Jen harus mengurungkan niatnya untuk melanjutkan kuliah. Rasa sedih pun sudah tak perlu lagi dipertanyakan, namun tanpa diduga saat itu ada beberapa pendatang sedang melaksanakan kegiatan.
Rumah kediaman Jen yang cukup sederhana pun akhirnya menjadi tempat para pendatang untuk menumpang. Keluarga Jen begitu menyambut baik para pendatang tersebut, walau dengan penuh kesederhanaan. Setelah beberapa hari bahkan minggu, hubungan keakraban pun semakin terjalin kuat.
“Maaf, kalau boleh tahu.
Kenapa anak peremuan secantik Jen tidak bersekolah ke jenjang yang lebih tinggi pak.” Tanya Danil Aharon.
“sebenarnya kami sangat ingin menguliahkan Jen, tapi..----“ akhirnya kedua orang tua Jen pun mulai menceritakan keluh kesah mereka mengenai harapan dan cita-cita Jen.
“Ohh kalau begitu, biarkan kami membantu biaya kuliah Jen, sangat disayangkan anak secerdas Jen tidak kuliah lanjut.” Tukas Danil Aharon.
“Tapi kami bukan siapa-siapa bapak dan nyonya..” tukas ayah Jen dengan penuh hormat.
“Tidak masalah pak, bu…
Kami akan bawa Jen ke Jakarta, dan sekalian menemani anak bungsu kami yang masih sekolah dasar.”
“Banyak terimakasih bapak, nyonya sekalian..” ujar sang ayah dengan berlinangan air mata haru bahagia.
Sesaat sebelum kepergian Jen…
“Nak, baik-baik di kota besar yah, jaga dirimu nak.
Bapak dan ibu akan berusaha keras untuk masa depanmu, doakan semoga tambak ikan kita berhasil..”
Maaf Jen belum bisa membahagiakan kalian..
“Tidak nak, kamu sudah sangat membanggakan kami..” isak tangis pun pecah, saat menghantarkan kepergian Jen.
Berikut merupakan kilas balik sejenak, latar belakang kehidupan Jen.
Seorang anak gadis yang begitu berbakti kepada kedua orang tuanya, dan kerasnya hidup di kota Jakarta membuat Jen banyak belajar dan menjadi sosok perempuan yang semakin kuat. Namun, dalam hal percintaan Jen harus mengalami hal yang begitu menyakitkan baginya.
Beberapa tahun kemudian…
“Bank asing xxx”
“Jen, apa kamu betah bekerja di tempat ini??” ujar salah seorang rekan kerja Jen di kantor.
Ohh, iya aku sangat betah kak.
Karena dengan begini aku bisa pelan-pelan membangun usaha bapak dan ibu di kampung. Tukas Jen dengan wajah tersenyum sendu.
“Iya Jen, gak terasa yah kamu sudah bekerja di sini hampir tiga tahun yah..”
Iya kak, dan gak kerasa umurku sebentar lagi udah jalan dua puluh empat tahun.
Di usia yang akan menginjak dua puluh empat tahun, dan hampir tiga tahun bekerja di sebuah bank asing.
________________*_______________
“Kediaman Jen”
Didalam sebuah kontrakan sederhana, yang hanya ada satu kamar, yaitu kamar pribadi Jen.
Hmmppp…
“Gak kerasa udah hampir dua tahun lebih aku hidup sendiri, dan orang-orang masa lalu oun menghilang perlahan..” gumam Jen saat sedang merenung di sebuah ruang bersama rumah kontrakannya.
Drrttt… nomor baru memanggil..
“nomor baru? siapa?”
“Hallo… dengan siapa? iya saya sendiri??
Argh… Abyan, kamu kemana aja sih beberapa tahun ini?? oh yah.. iya iya alamat rumahku di..—
“Oh my God…
Abyan, pasti makin sukses deh tuh anak…”
Keesokan harinya…
Drrrt… Abyan memanggil…
Iya halo, iya aku baru pulang kerja dan lagi jalan ke rumah…
Kamu dimana…--- seketika Jen menoleh ke arah belakang dan...---
“Hai… ujar seorang pria tampan dengan mengenakan hoodie berwarna abu-abu dan celana jeans dongker, kacamata hitam pekat, melambaikan tangan ke arah Jen.
Abyan!!! jerit Jen ke arah sang pria tersebut.
“Hahha…
Jen, aku kira bukan kamu loh tadi..” tukas Abyan yang baru saja tiba.
Astaga, sahabatku.. ujar Jen terharu dan masih tak percaya sosok pria tersebut adalah Abyan, sahabatnya sejak kuliah dan juga pergi tanpa kabar berita sudah hampir dua tahuk lebih.
“Sorry Jen, dua tahun lalu aku lanjutin kuliah strata duaku ke Inggris.
Sekarang I’m come back for you…” seringai senyuman Abyan, wajahnya yang semakin tampan saja dan juga penampilan semakin menarik.
"Abyan Laksaguna Franklyn"
Seorang pemuda yang juga terlahir dari keluarga sederhana. Sejak kuliah pun hanya mampu memiliki sebuah motor sport yang juga hasil dari tabungannya bertahun-tahun. Sedari sekolah menengah atas, Abyan telah bekerja paruh waktu di sebuah kedai kopi, ia bekerja sebagai seorang barista.
Sepulang sekolah Abyan selalu terburu-buru menuju kedai kopi yang dimiliki oleh kerabatnya sendiri. Setelah tiga tahun menjadi seorang barista, akhirnya Abyan pun mulai menjalani kuliah eksekutif malam. sepanjang hari ia bekerja di kedai kopi, lalu malamnya harus peri ke kampus.
Tak hanya sebagai barista, Abyan juga memulai bisnis website atau jasa pembuatan website. Terkadang juga Abyan menjajakan barang milik kerabatnya di toko-toko online yang cukup ternama. Hal tersebut ia jalani selama kurang lebih tujuh tahun.
Selama kuliah, Abyan selalu bersama Jen, dalam menyelesaikan tugas akhir pun mereka selalu bersama-sama. Abyan cukup hangat dan lembut, juga seorang pemuda pekerja keras. Profesinya sebagai seorang barista di kedai kopi pun kini masih tak lepas bahkan selalu melekat dalam dirinya.
Si barista tampan yang murah senyum, membuat para pelanggan begitu menyukainya. Selama menjalani strata dua di Inggris, Abyan mendapatkan beasiswa penuh karena nilainya pun yang cukup tinggi. Kini Abyan telah berhasil membuka sebh kedai kopi, dan menyajikan kopi-kopi yang cukup sangat diminati oleh semua kalangan.
Lulus kuliah strata satu dan juga duanya dengan nilai Cumlaude. Abyan mulai menjalani usaha kedai kopi miliknya sendiri, dengan modal hasil dari tabungannya selama berada di luar negeri. Selain menjadi seorang barista, Abyan juga bekerja di sebuah perusahaan gas negara. Sungguh prestasi yang membanggakan bagi keluarga sederhananya.