Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Hanya butuh kesadaran hatimu



Pertemuan Jen bersama Heru disebuah pesta jamuan  makan malam itu, telah membawa cerita baru bagi kedua insane yang sedang dilanda dilema cinta.


Kak Carisya, akan segera menikah dengan mas Heru itu yah??


“Hmmp, itulah Jen.


Sebenarnya kak Carisya sudah punya pacar di Amerika, tapi perjodohan keluarga demi sebuah posisi aman bisnis pun menjadikan kakak Carisya korban.”


Maksudmu, kak Carisya gak cinta sama mas Heru?


“gak juga Jen, buktinya kak Carisya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.  Kamu lihat saja, betapa bahagianya mereka sekarang, walau hasil perjodohan.” Tukas Reza tanpa mengetahui apa yang telah terjadi antara Jen dan Heru.


Ohh begitu, baguslah kalau mereka bahagia Reza… ujar Jen dengan sendu, dan menarik napas panjangnya.


Kenyataan yang beru terungkap cukup mengejutkan Jen, namun pernyataan bahwa Heru dan Carisya telah saling jatuh cinta cukup membuat Jen merasa pilu.


“Ternyata begitu pak Heru..


Hmpp.. sangat lucu, aku harus jatuh cinta pada lelaki yang sama sekali tak pas untukku yang hanya karyawan bank baisa,” gumam Jen dengan penuh kepiluan.


Di sebuah pesta jamuan makan malam, Jen bertemu dengan pria pujaan hatinya yang kini telah bersama wanita lain.


“Jen, aku dan kak Carisya harus pulang duluan yah..”


Kenapa Reza??


 “Iya, biasalah ada urusan mendadak. Bye bye Jen..” Reza pun beranjak bersama Carisya.


Jen membalikkan dirinya hendak hendak menuju meja keluarga Aharon, namun Heru kini mengahalangi jalannya.


Ahh maaf.. Jen merunduk dan bersikap seolah tak peduli.


“Heru, cucu oma.. tolong antarkan Jen pulang yah, oma sepertinya akan menginap di hotel bersama keluarga.”


Baik oma… sahut Heru dengan penuh rasa hormat.


Oma, aku bisa pulang sendiri… ujar Jen yang berusaha menghindari Heru.


“Oma sudah memberikan ku tanggung jawab, jadi jangan coba menolak.” Tukas Heru yang berjalan menuju perkiran.


“Tunggu di sini aku ambil mobil,” ujar Heru dengan suara datarnya.


Beberapa saat kemudian, Heru tiba di depan loby utama hotel tersebut.


Sepanjang perjalanan Jen hanya diam, begitu pun Heru.


“Jeannet… aku minta maaf atas segalanya…” ujar Heru yang baru saja berbicara.


Atas apa? sahut Jen dengan singkat dengan menatap lurus ke depan tanpa melihat ke  arah Heru.


“Semuanya Jen, aku memang gak pantas untukmu.”


Yah.. tidak apa-apa… ujar jen dengan lirih.


“Jen, aku gak tahu apa yang harus aku lakukan lagi.. orang tuaku ingin aku menikahi Carisya.”


Kalau begitu, tinggal nikahi saja dia…


“apa kamu benar-benar sudah tak peduli lagi Jen??”


Semuakan keputusan ada ditangan bapak… tukas Jen.


“Sejak kapan kamu merubah panggilannmu lagi Jen,” tukas Heru yang tiba-tiba memutar arah mobilnya dan menuju alamat rumahnya.


Apa-apaan ini pak Heru…!!! ujar Jen dengan penuh kekesalan.


“Kita bicara didalam aja Jen.”


Nggak, aku mau pulang sekarang…


“Jen tolong..”


Aku mau puu---


Heru menarik tangan Jen menuju pintu rumah dan kemudian Heru mengunci pintu.


Lepaskan aku  Heru terhormat… Jen menghemaskan tangan Heru dari tangannya.


“Jen, aku hanya mencintaimu, bukan Carisya..”


Omong kosong!!!Kemana aja beberapa bulan ini, sudah puas honey mood dengan nona Carisya, lalu mau denganku lagi!!!


“Jen, stop.


Jangan marah begini sayang..”


Bangsatt!!!


Kemaren-kemaren kemana aja, kenapa tiba-tiba sok perhatian begini?? apa nona Carisya kurang memuaskan!!!


“Jeannet, aku gak nyangka kamu bisa bicara begini yah.. Carisya sangat baik, tak seperti yang ada dipikiranmu..”


Yasudah tinggal nikahi aja, aku gak peduli..


“Jeanet, aku sangat mencintaimu, dan Carisya pun mengalami hal yang sama seperti kita..”


Halah…. memangnya aku tolol apa!!


Aku tahu kalian sudah saling jatuh cinta..


“jadi apa maumu sekarang Jen,”


Mauku.. jangan ganggu kehidupanku lagi!! jerit Jen dengan berlinangan air mata pilu.


“Baik, kalau itu maumu Jen, akan segera aku lakukan..”


“memang beginilah akhir dari cerita ini..” gumam Jen dengan terisak-isak pilu.


“Jen,  untuk terakhir kalinya tolong jawab jujur!


 Apa kamu benar-benar mencintaiku,”


Kenapa pertanyaan bodoh ini harus bapak ucapkan dengan begitu santainya…


Apa kurang selama ini usahaku pak, kenapa masih bertanya begini setelah apa yang kita lalui… sahut Jen dengan nada lirihnya.


“Lalu apa yang akan kamu ingin lakukan atas perjodohan ini??”


Bapak punya hal untuk memilih, jangan jadikan perjodohan ini sebagai alasan!! aku akan rela melepaskan bapak jika semua demi kebaikan bapak dan keluarga.


“Maaf Jen, hubungan kita harus berakhir sampai disini…”


Iya pak Heru, terimakasih atas segalanya.. Jen hanya bisa terisak pilu dan menyapuh air matanya yang kini tak


henti mengalir.


“Aku ingin kamu tetap mejadi Jen yang baik dan anggun, tolong jangan membenciku Jen.


Kamu pantas bahagia..” ujar Heru sembari menuntun Jen ke mobil untuk mengantarkan Jen pulang.


Selama dalam perjalanan, yang terdengar hanyalah suara isak tangisan Jen yang tak henti-hentinya.


“masuk dan istrahatlah Jen…”


Jen pun masuk ke kamarnya dengan keadaan yang tak berhenti menangis sedu, air mata yang terus mengalir membuat wajahnya terlihat sembab. Jen terus terisak tanpa henti, dan membuatnya hanya terbaring lemas di kasur pribadinya.


Hingga keesokan harinya, Jen terlihat tidak sehat. Suhu tubuhnya hangat, dan pertanda dirinya sedang demam. Akibat menangis hampir semalaman suntuk, akhirnya Jen pun jatuh sakit dan hanya terbaring lemas tak berdaya. Terkadang Jen meneteskan air matanya, dikala mengingat sosok pria pujaan hatinya kini bersama wanita lain.


“Non Jeannet, panas sekali badannya!


Pak e, gimana ini ndak mungkin kita biarkan..” ujar bi Ija asisten rumah kediaman Jen.


Bu e, kita coba hubungi nak Tommy saja, bukankah nak Tommy yang sangat dekat dengan non Jeannet…


“Yowess pak e, ayo tunggu apa lagi…”


 Sementara bi Ija sedang mengompreskan kain dengan air dingin di kening hingga ubun-ubun  Jen.


“Gimana pak e??” ujar bi Ija yang sedang duduk di kursi di samping kasur Jen.


Sudah bu, nak Tommy akan segera datang.


Beberapa saat kemudian…


“Permisi pak sarif, bi Ija… ujar Tommy yang baru saja tiba dengan tergopoh-gopoh.


Sejak kapan Jen demam??”


Sepertinya sejak pagi nak Tomm, kalau begitu kami mau melanjutkan pekerjaan kami nak…


“Oke, silakan pakde bu e.. terimakasih sudah menelponku.”


“Jen, kamu kenapa sampai demam begini? wajahmu juga sembab banget..” ujar Tommy sembari terus mengompreskan kain dingin di kening hingga area ubun-ubun Jen.


“Kita ke rumah sakit yah Jen..”


“kalau begitu abang gendong kamu aja yah..” Tommy pun perlahan membangunkan Jen dari kasurnya, dan mencoba untuk mengangkat Jen di tubuhnya.


“Pakde,, tolong siapkan mobil..” ujar Tommy yang sudah dalam posisi menggendong Jen.


Baik nak Tommy…


“Kamu harus sehat Jen…” gumam Tommy terus menerus dengan penuh rasa cemas pada Jen.


“Pakde, tolong menyetir yah..”


Baik nak Tomm…


Merekan  pun segera bergegas menuju klinik 24jam terdekat,sementara itu Tommy terus mendekap Jen yang sedang leh tak berdaya.


“Setibanya di klinik X 24jam”


“Permisi dok, tolong periksa dia…” ujar Tommy sembari membawa Jen masuk ke sebuah ruangan khusus dokter yang sedang praktek di klinik tersebut.


Baik pak, silakan masuk.


Sementara dalam pemeriksaan, Tommy terlihat begitu mengkhawatirkan Jen.


“Pak, nona Jeannetly hanya kelelahan dan juga cukup banyak berpikir hal-hal yang membuat daya tahan tubuhnya semakin berkurang,” tukas seorang dokter pada Tommy.


“Ohh oke dok, jadi apa saja resep-resep obatnya??”


Ini ada obat menurun  panas dan …--- tolong perbanyak istrahat dulu dalam beberapa hari ini. Tukas sang dokter sembari menuliskan resep yang akan diberikan pada saat di kasir.


Setelah melakukan pemeriksaan dan pengambilan obat-obatan, mereka pun bergegas pergi.


“Pakde, tolong belikan bubur ayam dan juga beberapa makanan lainnya yang  bapak juga mau, ohh iya jangan lupa buah-buahan segar pak.” Ujar Tommy yang saat itu masih terus menjaga Jen di kursi bagian tengah mobil fortuner hitam miliknya.


“Sepertinya nak Tommy sangat memperhatikan keadaan nona Jen.


Karen, sejak awal kenal nona Jen, nak Tommy menjadi lebh lembut lagi..” tukas seorang supir pribadi oma Carla tersebut.


Iya  pak e, ibu sih setuju dan sangat senang kalau nak Jen bersama nak Tommy.. ujar sang istri (bi Ija)


“Iya bu e, tapi bukannya nak Jen sering bersama nak Heru…”


Tapi sepertinya hubungan mereka sudah berakhir pak e…---


“Hubungan siapa yang  berakhir..” tukas Tommy yang ternyata mendengar sebagian percakapan sang supir bersama sang istri (asisten rumah oma Carla).


“Nak Tommy, maaf pakde dan ibu ndak bermaksud menyembunyikan dari nak Tommy.” Ujar pak Sarif dengan menundukkan kepalanya.


“Pak de, bude.. jangan sungkan begitu, kalian sudah menajdi bagian keluarga ini. Jadi, gak perlu begitu sungkan, bilang aja, aku gak masalah..”


“Begini nak Tommy… ibu aja yang bicara..” ujar pak Sarif pada istrinya dengan nada gugup.


Wes wes…


Nak Tommy sebenarnya begini..----


Sang asisten rumah, mulai menceritakan apa yang telah terjadi antara Jen dan Heru. Namun, menurut versi mereka Jen sudah tak lagi bertemu dengan Heru.


Iya nak Tomm, dan malam kemarena nak Jen diantar pulang oleh nak Heru. Tapi saat keluar dari mobil, nak Jen sudah terlihat sembab dan nak Heru juga terlihat dingin..—


“Oke oke bi Ija, cukup.


Aku sudah mulai mengerti sekarang, terimakasih banyak…”


Tommy terlihat begitu geram menahan dirinya untuk marah.


Keesokkan harinya…


“Ughhh… badanku sakit semua.


Jen  yang baru saja bangun dari kasurnya dan mulai terlihat sehat setelah menerima perawatan dari Tommy.


Matanya terfokus dengan secarik kertas yang bertuliskan…


 “Jen, kalau sudah bangun tolong minum obatnya, dan makan roti juga buah-buahan lainnya. Abang ada meeting sampai malam, nanti kalau sempat abang datang menginap di rumah oma,” by: Tommy A


“Bang Tommy…” Jen menggenggam secarik kertas itu dan mulai melahap buah-buahan yang telah tersedia di meja samping tempat tidurnya.


Setelah  menyantap sarapan dan juga meneguk obat-obatan, Jen mulai beranjak dari kamarnya dan berjalan menuruni anak-anak tangga dengan hati-hati dan keadaan yang masih sangat lemh.


“Nak Jen, sudah sehat..”


Iya bi Ija…


“Nak, di depan ada nak Tommy sidah datang..”


Oke bi Ija, aku tunggu disini aja..


“Jen, kamu sudah sehat..?” ujar Tommy yang baru saja tiba dengan membawakan beberapa makanan sehat.


“Kamu makan dulu gih..” Tommy menyosorkan beberapa makanan segar yang sudah dipesannya.


Thank you bang Tomm..


“Jen, tolong jujur apa Heru yang sudah membuat kamu begini??” sontak pertanyaan Tommy membuat Jen menghentikan kunyahannya.


Apa maksud abang??


“Iya, abang jujur gak suka kamu masih berhubungan dengan Heru.


Dia akan segera menikah dan gak pantas untuk kamu.”


Sudahlah bang, sudah berakhir semua.. tukas Jen, kembali menyantap pitzza yang dibawakan oleh Tommy.


“Jen, maafkan abang.


Tapi abang kemarin malam sudah memberi peringatan keras pada Heru, supaya gak ganggu kamu lagi..”


Abang datangi pak Heru gitu, maksudnya!!


“Iya Jen, abang gak mau kamu menderita gara-gara dia..” ujar Tommy dengan tatapan sendunya


 Seharusnya abang gak perlu lakuin hal itu!


Ini masalah aku, abang gak usah ikut campur!


Abang terlalu ikut campur… bentak Jen dengan nada tingginya.


“Jen, semua abang lakuin demi kamu..” ujar Tomm sambil meraih tangan Jen.


Demi aku, atau keegoisan abang sendiri!


Aku tahu sejak dulu abang gak suka kan kalau akau bersama pak Heru!!


“Jen, memang betul.


Tapi bukan berarti abang senang melihat kamu begini gara-gara berakhir dengan Heru..”


Apa maksud abang, sudahlah aku cape.. Jen pun beranjak berjalan ke  arah tangga dan mengunci kamarnya dengan rapat.


“Apa sudah keterlaluan pada Jen, apa aku sudah terlalu ikut campur..” gumam Tommy sembari merunduk sendu.


“Tidak sama sekali nak Tomm, mungkin nak Jen belum memahami nak Tommy saja.” ujar bi ija dan pak sarif yang berusaha menghiburnya.


“Sudahlah, aku mau pulang dulu pakde bu e..” ujar Tommy sembari mengenakan jaket denim miliknya.


Tok tok tok…


Nak Jen, juice buahnya sudah siap.


“Siapa yang meminta bibi bikin juice ini?” ujar Jen sembari membukakan pintu kamarnya.


Ini permintaan khusus dari nak Tommy, non.


“Bang Tomm lagi, apa sih mauya..” gumam Jen dengan raut wajah kesalnya.


“Nak Jen, bibi ndak bermaksud ikut campur masalah non dangan nak Tommy.


Tapi, sejak non Jen sakit pagi kemaren, nak Tommy pagi-pagi buta sudah datang. Padahal nak Tommy ada meeting penting, tapi semua di cancel demi bisa membawa non ke klinik dan merawat selama non sakit.” Ujar bi Ija sembari membelai lembut punggung Jen.


Aku sama sekali gak tahu kalau bang Tommy stay terus di samping kasurku! tukas Jen dengan wajah sesalnya.


“Iya non, selama non tertidur. Nak Tommy terus duduk disamping tempat tidur non, dan sesekali berbaring di bawah hanya dengan matras saja..” ujar bi Ija menjelaskan.


Berrati aku sudah keterlaluan banget sama bang Tomm..


“Ndak non, mungkin karena emosi non Jen sedang ndak stabil. Tapi, percayalah semua yang nak Tommy lakukan demi kebaikan non Jen, nak Tommy sangat peduli pada non Jen.”


Bibi, aku sudah salah menilai bang Tommy selama ini, kenapa aku bodoh banget bi.. ujar Jen sembari menyenderkan kepala pada bahu sang asisten rumah.


“Wes wes non Jen, sekarang minta maaf saja dan ajak nak Tommy bicara. Pasti nak Tommy bahagia..” ujar sang asisten dengan tersenyum.


Hmmpp.. Jen menganggukkan kepalanya dengan wajah yang berkaca-kaca, dan merasa menyesal atas perlakuannya terhadap Tommy.