
“Beloved Mister”
Author by Natalie Ernison
Langkah awal Jannet bersama sang nenek Rezo pun berhasil. Berkat akan dari sang nenek, Rezo pun mulai luluh. Namun, momen tersebut justru membuat Rezo teringat akan sosok sang ibunya yang telah tiada.
~ ~ ~
Di bagian teratas kastil, Rezo menangis dan terus mengaung dalam wujud serigalanya. Apa yang Jen lakukan hari itu, justru mengingatkan Rezo akan kenangan masa kecilnya bersama sang ibu. Tentu saja kenangan yang sangat berharga juga bercampur duka baginya.
Ibu Rezo meninggal, semenjak sang ayah daei Rezo pergi dari kediaman mereka. Sang ibu kerap kali sakit, hingga akhirnga pergi untuk selamanya.
Hal ini mungkin sudah cukup lama ia pendam sendiri. Hingga akhirnya hayati mulai lelah dan rasa sedih yang tak terbendung lagi.
Jen yang berada di ruangan, tepatnya dibagian bawah bagian teratas tempat Rezo kini berada.
“Apa yang terjadi, mengapa begitu berisik sekali,” ucap Jen sembari menutup kedua telinganya, dan menyelimuti seluruh tubuhnya di balik selimut tebal tersebut.
Suara auman serigala itu terdengar semakin lirih. “Mengapa suara auman ini terdengar berbeda,” ucap Jen sembari terus memperhatikan secara seksama.
Setelah beberapa saat kemudian, suara tersebut pun mulai mereda hingga benar-benar tak ada lagi suara yang terdengar.
Malam itu berlalu begitu saja, dan seolah tak pernah terjadi hal apapun.
>>
Jen memulai aktivitasnya, merangkai bunga-bunga hiasan yang telah Rezo perintahkan padanya.
“Sampai kapan hidupku seperti ini, sunguh sangat melelahkan,” keluh batin Jen.
“Selamat siang Nona Jen,” panggil sang nenek yang baru saja tiba. Jen pun membalasnya dengan senyuman pada sang nenek.
“Apakah nenek ingin menyantap sesuatu?” tanya Jen sembari terus merangkai bunga-bunga hiasan.
Hmm… sang nenek menggeleng, mendekati Jen yang kini duduk di lantai dengan dipenuhi bunga-bunga hiasan.
“Nenek berharap, Rezo bisa kembali seperti dulu lagi,” ucap sang nenek dengan senyuman sendu.
Jen hanya terdiam, dan masih melakukan kegiatannya. “Aku pun berharap, Rezo dapat kembali pada dirinya yang dulu,” batin Jen.
“Nona Jen, apakah kau bersedia bersama nenek dan cucu keras kepala nenek itu?” ujar sang nenek serius.
“Walau bagaimanapun juga, Rezo adalah pria yang baik sebelumnya. Kami sudah saling mengenal cukup lama, tentu saja aku sangat berharap yang terbaik baginya.” Tukas Jen sembari memeluk sang nenek.
>>
“Jannet adalah wanita yang baik dan sopan. Nenek sangat menyukainya,” ucap sang nenek, saat duduk bersama dengan Rezo.
Rezo duduk sambil menyandarkan dirinya di sofa. “Heron dan keluarganya belum terlihat. Sehingga aku harus menunggu,” ucap Rezo seraya menutup kedua matanya.
“Andaikan saja, nenek terlebih dulu berjumpa dengan Jen,” ucap sang nenek lagi.
Rezo menatap ke arah sang nenek dengan tatapan heran atas apa yang neneknya ucapkan.
“Apa maksud perkataan nenek?” tukas Rezo.
“Bukankah sudah sangat jelas, Rezo! Nenek sangat menyukai Jen, dan nenek berharap Jen terus ada.”
Mendengar pernyataan neneknya, Rezo hanya terdiam tak tahu harus berkata apa lagi. Sedangkan sang nenek tahu bahwa, Jen hanya sebagai alat balas dendam bagi Rezo. Namun, yang terjadi kini justru berbanding terbalik.
“Nenek tidak perlu berharap banyak padanya, dia hanya alat bagiku.”
“Nenek tidak peduli dengan urusanmu. Karena, nenek hanya ingin Jen terus menamani nenek. Tidak seperti cucu nenek, yang hanya bisa pergi mengabaikan, dan sibuk dengan urusan masing-masing.” Tukas sang nenek, lalu pergi dari hadapan Rezo.
Rezo berdiri menghadap jendela kastil. Pikirannya kini begitu kacau, memikirkan apa yang harus ia perbuat kedepannya. Sepertinya hati Rezo sudah mulai sedikit tergoyahkan, walaupun niat balas dendamnya juga jauh lebih besar.
Sementara disisi lainnya…
***
“Sekarang kau sudah mulai tahu, jika gadis manusia itu tidaklah tulus mencintaimu.” Ujar Mrs. Claw, ibu dari Heron.
Heron hanya diam, duduk di kursi tepatnya di ruangan keluarganya. Pikiran Heron sangat kacau setelah ia baru mengetahui, bahwa Jen sudah tidak ada lagi di kastil keluarga Vestus. Hal tersebut pun menjadi kesempatan bagi Mrs. Claw untuk memprovokasinya.
“Heron! Apakah kau masih saja berharap pada gadis itu?” ujar ibunya yang masih saja mempengaruhi pikiran Heron.
“Apakah ini ulah ibu lagi!” Tukas Heron dengan napas terengah, yang sedari tadi menahan amarahnya.
Mrs. Claw tersenyum miring dan berjalan ke arah Heron. “Heron anakku, gadis manusia itu tidak benar-benar mencintaimu. Dia hanya mencoba mempermainkan seorang pangeran penerus keluarga Danish.” Tukas ibunya, sembari merangkul Heron yang sedang menahan rasa amarahnya.
Heron yang ialah seorang pangeran penerus keluarga Danish. Tentu saja, keluarganya sangat menginginkan peran Heron sebagai penerus keluarga.
“Heron, ibu sudah mendapatkan seorang gadis campuran darah bangsawan serigala. Ibu yakin, itu akan membuat keluarga Danish semakin hebat.”
“Mengapa harus aku? tidakkah masih ada Vestus!” Tukas Heron, menatap ibunya.
“Vestus…” ucap ibunya dengan nada terkekeh. Seolah-olah, Vestus bukanlah bagian dari keluarga yang pantas.
“Apa yang ibu tertawakan?”
“Vestus itu hanyalah produk gagal. Coba lihat! Gara-gara Vestus, kedua orang tuanya pergi untuk selamanya.”
“Bukankah itu adalah perbuatan ibu.” Heron menatap mata ibunya.
“Kau tidak perlu menatap ibu dengan cara seperti itu. Karena seharusnya, kau senang. Berkat kematian kedua orang tua Vestus, kaulah yang akan meneruskan generasi keluarga bangsawan kita.”
Heron sebagai anak dari Mr. Wornerd, tentu saja harus menuruti apa yang keluarganya katakan. Namun, sebagai seorang pria, Heron tentu memiliki pemikiran dan pilihannya sendiri.
“Heron, cepat atau lambat kau harus bersama anak gadis dari keluarga Yeremi.” Ujar Mr.
Wornerd penuh penegasan.
Heron hanya mampu menghela napas sejenak. Karena hal itu hanya akan membuat Jen bersedih lagi. Sangat tidak mungkin bagibHeron untuk berbuat kesalahan untuk kesekian kalinya.
“Aku memiliki pilihan sendiri, dan itu bukanlah anak gadis dari keluarga Yeremi.” Tukas Heron pada ayahnya, Mr. Wornerd.
“Apa kelebihan gadis manusia itu Heron. Dia bahkan, tidak berasal dari keluarga bangsawan!” Tukas ibunya lagi.
“Apakah dulunya ibu adalah keturunan bangsawan! Sehingga ayah bisa menikahi ibu?”
Plakk…
Mr. Claw mendaratkan pukulannya pada wajah tampan milik Heron, setelah Heron melontarkan pernyataan yang cukup menohok bagi ibunya.
“Tapi ibu adalah keturunan darah serigala. Tidak seperti gadis manusia itu, lemah!” Tukas ibunya penuh emosi.
“Jika begitu, biarkan aku menikahi Jannet dan keluarga bersamanya.”
“Coba saja Heron, jika kau ingin seluruh keturunanmu menerima kutukan keji dari leluhur kita.” Timpal ayahnya, disela pertengkaran Heron bersama ibunya.
“Setelah dewasa, kau sudah pandai mengajari kedua orang tuamu. Kau bahkan tidak tahu, bagaimana kerasanya ibu dan ayah berjuang mempertahankan kekuasaan keluarga Danish.”
“Tidak bisakah kalian aku bahagia dengan pilihanku sendiri?” ucap Heron dengan nada lirih.
“Percuma Heron, karena aku ibumu tidak akan pernah merestui kalian. Sekarang kau lihat sendiri, gadis bodoh itu sudah pergi meninggalkanmu.”
Heron benar-benar kacau balau. Heron sangat bingung, kemana harus mencari Jen. Bahkan, kedua orang tuanya saja sangat bahagia atas kepergian Jen saat ini. Calon pendamping yang berasal dari keturunan manusia serigala pun sudah dipersiapkan bagi Heron.
Takdir Heron adalah menjadi seorang penerus keluarga Danish, dan ia harus menikah dengan seorang wanita keturunan manusia serigala. Jika tidak, maka keluarganya akan menerima kutukan keluarga yang sangat mengerikan. Itulah yang kedua orang tuanya katakan.
Ia sudah mengetahui hal itu sejak lama. Namun, Heron masih berharap aka nada titik terang baginya dimasa mendatang. Walaupun, semua itu hanyalah kemungkinan sangat kecil baginya.
Akankah Heron memilih untuk tetap mencari Jen, ataukah ia harus menyerah dan memilih untuk bersama anak gadis dari keluarga Yeremi.
****