Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Secangkir kopi cinta



>> Jeannet sejak awal hanya pernah


menyukai satu pria didalam hidupnya, yaitu si duda tampan Herruon Daniswara. Namun, karena perjodohan Heru bersama Carisya tersebutlah yang cukup membuat Jen sangat terluka dan kecewa.


Kini Carisya telah kembali bersama Tommy, namun perasaan Jen tetap saja masih sulit menerima kehadiran Heru kembali. Kini rasa trauma akan cinta, cukup menakutkan bagi Jen. Tak ingin terulang kembali, Jen pun menutup rapat hatinya selama beberapa tahun belakangan.


Huhhh…


“ternyata aku lupa kalau stok makanan di


kulkasku sudah hampir habis..” gumam Jen di sebuah super market, yang lokasinya tak terlalu jauh dari kontrakan kediamannya.


Setelah memilih beberapa stok makanan,


Jen pun mendorong troli belanjaannya menuju kasir untuk melakukan pembayaran.


“Mas, saya pakai trolinya sampai bawah


loby yah, soalnya agak berat ini..”


Baik mbak, silakan kalau perlu saya


bantu dorong saja. Tukas salah seorang security super market.


Setibanya di loby utama, Jen pun berniat


untuk memesan taksi onlie dengan menggunakan aplikasi ponselnya.


Tit tit tit…


Suara klakson yang sedari tadi terus berbunyi, dan nampaklah seorang pria dengan kemeja biru tosca keluar dari dalam sebuah mobil fortuner berwarna hitam.


“Jen, ini apa kabar?” sapa si pria yang baru saja keluar dari mobil fortuner, dengan menggunakan baju kemeja biru tosca


tersebut.


Aku baik-baik aja bang Tomm.. Tukas Jen


pada si pria, yang adalah Tommy.


“kamu bawa banyak belanjaan yah? borong


Jen?” tanya Tommy dengan tersenyum seperti biasanya.


Iya bang, ini buat stok bulananku…


“Ohh gitu, terus sekarang kamu lagi


nungguin apa?”


Aku lagi nungguin taksi onlineku bang..


“yaudah, abang antarin aja yah Jen,”


Nggak usah bang, itu udah sampai kok.


“Eh Jen… Nomor handphonemu masih yang


dulukan,” tukas Tommy sembari menahan Jen.


Ahh iya bang, masih yang dulu kok. Jawab


Jen singkat, lalu bergegas memasukkan barangnya ke dalam mobil taksi online.


“Jen, biar abang bantu,” Tommy dengan


sigap membantu Jen memasukkan barang-barangnya.


Thank you bang, aku pulang dulu…


“Byee Jen..” Tommy pun tak melepaskan


pandangannya pada Jen, terlihat dari kaca spion mobil taksi online tersebut.


“Ada apa denganku, bang Tommy itu


hanyalah kakak lelakiku, bukan siapa-siapa..” gumam Jen dengan menghela


napasnya saat meninggalkan Tommy di loby.


__________________*_________________


“Hmmpp..


Akhirnya selesai semua!!


Bulan ini aku harus kirim uang untuk bapak dan ibu..” Sejenak Jen terhenti dari kegiatannya, dan mulai merebahkan diri di kasurnya.


“Sepertinya bulan depan aku harus pulang


sebentar dan minta cutiku dulu..” gumam Jen sambil memperhatikan jadwal cutinya.


Semenjak kuliah strata satu, Jen hanya


pernah pulang beberapa kali, itupun disela kesibukannya antara kuliah dan bekerja. Kuliah dan juga bekerja, merupakan sesuatu hal yang cukup sulit bagi Jen. Namun, semua harus ia lakukan demi membantu biaya hidup kedua orang tuanya di kampung.


Memilih untuk tinggal sendiri, merupakan


pilihan yang telah sejak lama Jen


rencanakan. Karena, sekalipun secara materi


Jen cukup terpenuhi, namun tak bisa dipungkiri bahwa bagaimana pun Jen harus


tahu diri. Jen harus turut serta mengerjakan pekerjaan rumah tangga, sekalipun adanya seorang pembantu.


Hal tersebut terkadang cukup melelahkan


bagi Jen, karena selain bekerja, kuliah, dan setibanya di rumah harus mengerjakan pekerjaan rumah. Setelah lima tahun lebih, akhirnya Jen memilih untuk tinggal sendiri di sebuah kontrakan sederhana.


“Di kampung halaman”


Jen terlihat begitu menikmati kebersamaannya bersama kedua orang tua terkasihnya.


“Jen, bapak dan ibu sangat bersyukur.


Karena, uang yang kamu kirim setiap bulannya kini menambah tambak ikan bapak.”


Tukas sang ayah.


Iya pak, maaf Jen nggak bisa kirim uang


banyak, dan hanya itu aja yang Jen mampu. Tukas Jen dengan wajah sendunya.


“Iya nak, bapak dan ibu sangat bangga


padamu.


Ohh iya, kira-kira siapa calon menantu bapak dan ibumu Jen??” goda sang ayah dengan terkekeh.


Ahh, belum pak.


Aku mau fokus bekerja, dan ingin


membahagiakan bapak dan ibu dulu…


“Iya Jen, tapi kami berharap kelak kamu


akan menikah dengan laki-laki yang bertanggung jawab dan juga mau menerima


keadaan keluarga kita..” ujar sang ibu sambil mendekap Jen dengan penuh kasih.


Baik bu, pak..


Doakan semoga Jen bisa menemukan


laki-laki yang bertanggung jawab dan bisa menerima keadaan keluarga kita.


Selama kurang lebih tiga hari, akhirnya


“jen, hati-hati nak.


Ini ada oleh-oleh untuk keluarga pak Danil..” sang ayah menyodorkan sekotak titipan untuk keluarga Danil Aharon.


Dengan penuh kesedihan dihatinya, Jen pun terpaksa meninggalkan kedua orang tuanya dan melanjutkan perjuangannya di


rantau. Walau dengan berat hati, namun semua harus Jen jalani demi membantu


biaya hidup kedua orang tuanya yang sudah mulai memasuki usia senja.


“Kediaman Jen”


Drtttt… Abyan memanggil…


Hallo by, iya sorry aku baru pulang


kampung..


Iya aku punya oleh-oleh ini..---


“Hmmp, Aby emang selalu begitu..


Ohh iya aku harus ke rumah om Danil nih


ngantar titipan bapak..”


Setelah menerima telepon dari Abyan, Jen


pun bergegas ingin pergi ke rumah kediaman Danil Aharon untuk mengantarkan titipan ayahnya.


Tit tit tit…


“Jen, kamu mau kemana??” ujar seorang


pria yang sedang mengendarai motor sport berwarna biru.


Aby, kamu kok bisa datang, aku padahal mau pergi nih… ujar Jen sembari mendekap


sebuah kotak yang akan ia bawakan ke


rumah kediaman Aharon family.


“yaudah aku antar sekalian yah..”


Ya ampun by, thank you yah..


“Kita ke rumah om Danil Jen?”


Iya by, ini ada titipan dari bapak.


“Ohh gitu setelah itu kita langsung


balik yah Jen, aku mau ngajak kamu makan.”


Okedeh by, yang penting gak ngerepotin


kamu yah..


“Kediaman Aharon family”


Permisi bi… ujar Sunny menyapa sang asisten rumah tangga, setibanya di kediaman Aharon family.


“Ohh non Jen, masuk non..” sang asisten


dengan ramahnya menyambut kedatangan Jen.


Bi, maaf yah..


Aku langsung pulang, ini ada titipan dari bapak.. Jen pun menyodorkan sebuah kotak.


“Ohh baiklah non, hati-hati yah..”


>>>


“Udah Jen..?” Abyan yang sedang menunggu


di kendaraannya.


Iya by, ayo kita pergi langsung…


By, kita mau kemana sih sebenarnya?


“Kita nongkrong di kedai aku aja, mau?”


Okedeh by, kebetulan besok kan weekend…


Setelah menghantarkan paket kiriman dari


sang ayah, Jen pun pergi bersama Abyan menuju sebuah kedai kopi.


“Kedai kopi Franklyn”


“selamat malam mas Abyan…---“ sapa para


pelanggan wanita, yang sudah menjadi pelanggan setia kedai kopi milik Abyan.


“Ohh, selamat malam, silakan pesan yang


lainnya yah..” balas Abyan dengan senyuman menawannya.


“Tadhaaaa….


Ini coffee favorite aku Jen…” Abyan memberikan secangkir coffee pada Jen yang sedang duduk menanti.


Wahh.. emmppp


Enak banget by..---


Keduanya begitu larut dalam perbincangan


panjang, hingga tak sadar waktu sudah menunjukkan pukul. 22.00, dan sudah saatnya tutup.


Yah, sudah mau tutup by??


“Nggak masalah nona Jeannet, inikan pemiliknya ada, dan kami juga bakalan nginap sih mala mini..—“ tukas salah seorang barista, yang merupakan rekan kerja Abyan.


“Iya Jen, lain kali kalau kamu mau ngerjain sesuatu, kamu boleh nongkrong lama-lama kok disini…” ujar Abyan sembari tersenyum manis pada Jen.


Thank you by, tapi aku gak mau kalau gratis terus setiap kesini…


“Iya Jen, tapi aku kan maunya ngsih gratis buat kamu,” tukas Abyan dengan senyuman manisnya.


Kamu tuh yah by… Ujar Jen terkekeh


manja, lalu mencubiti pinggang Abyan.


“eh eh kok main cubit Jen..


Emangnya aku gak bisa…---“


Keduanya terlihat begitu asyik bercanda


dan Jen pun kini telah mulai kembali tersenyum tulus, dan hal itu kembali saat


Jen bersama si barista tampannya, Abyan.


Akankah Jen akan mulai membuka hatinya


kembali?


Apakah Abyan akhirnya berhasil menakhlukkan hati Jen?


Pict bonus, tokoh Abyan Laksaguna Franklyn