Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Korban perasaan



Seorang pria pekerja keras, tampan, cerdas, mapan secara materi dan yang terpenting masih single. Siapa wanita yang mau melewatkan pria seperti ini, tentu saja menjadi kekasih idamannya. Dialah si tampan Abyan Laksaguna Franklyn.


Sejak masa-masa sekolah menengah pertama, Abyan sudah mulai bekerja paruh waktu, hingga sekolah menengah atas menjadi seorang barista yang cukup diidamkan oleh para wanita-wanita muda


maupun ibu-ibu yang sering kali bersantai di tempat Abyan bekerja.


Namun, semenjak mengenal Jeannetly


Mercya, hidupnya pun cukup berubah. Abyan yang dulunya dikenal playboy, karena begitu banyak wanita yang mengaguminya dan juga Abyan yang suka mempermainkan hati wanita. Abyan suka memberikan harapan semua kepada para wanita yang tergila-gila


padanya. Setelah para wanita tersebut mulai dimabuk oeh pesona tampannya, Abyan pun mengabaikan begitu saja.


“Bagi gua semua cewek itu sama, terlalu


gampang jatuh cinta. Waktu gua terlalu berharga buat disia-siain sama cewek-cewek kayak gitu. Yaudah, karena mereka yang pada ngejar-ngejar gua, kenapa gua gak mainin aja sementara. Setelah baper (bawa perasaan), ya tinggal gua campakkan aja semua..”


Demikan, yang sering kali Abyan ucapkan


pada teman-temannya. Tak jarang para wanita-wanita yang mengejarnya, ia buat


menangis karena hilang harapan. Secara fisik, Abyan tergolong pria sempurna. Tinggi mencapai seratus delapan puluh ke atas, kulih putih bersih, lalat pun terpeleset saking licinnya tuh kulit.


Jago basket, setiap tanding atau ekskul


Abyan selalu menjadi idola dilapangan. Dalam akademik pun tergolong cerdas, lulus


starata satu dan dua dengan predikat cumlaude. Pekerjaan paruh waktunya sebagai


seorang barista, semakin membuat dirinya dikenal oleh begitu banyak orang, terutama dikalangan wanita.


Hingga suatu saat, Abyan benar-benar


jatuh cinta secara berbeda dari biasanya. Pesona seorang gadis sederhana, yang


baru saja kenal dunia kota, dan yang hanya fokus dengan pendidikan. Perlahan tapi pasti membuat Abyan penasaran, dan akhirnya mereka berhasil menjadi teman baik, lalu berujung menjadi sahabat karib.


“Nih cewek kok berda banget dari cewek


yang gua kenal selama ini?  nih cewek


punya sihir apaan sih, kok gua sampai gak bisa lupain dia..” gumam Abyan di dalam ruangan kerjanya, ketika mengingat Jen.


Setiap mengingat saat-saat bersama Jen,


tak jarang membuat Abyan tersenyum sendiri. Sepertinya sosok Jen sudah berhasil meluluhkan kekerasan hati Abyan.


Sejak kecil, Abyan hanya tinggal bersama


ibunya. Ayahnya yang suka bermain wanita, pergi meninggalkan Abyan bersama sang


ibu, semenjak Abyan memasuki usia lima tahun. Ibunya, yang hanya seorang jahit dan juga penjual kue dengan menitipkan di kedai-kedai mau pun warung-warung


terdekat.


Sejak kepergiannya ayahnya bersama wanita idaman lain, cukup membuat Abyan lebih banyak menghabiskan waktu untuk membantu sang ibu mencari nafkah. Semenjak kejadian tersebut, Abyan sangat


tidak suka pada wanita-wanita yang selalu mengejarnya. Ia teringat akan sosok wanita penggoda yang telah berhasil merusak rumah tangga keluarganya, hal tersebut membuat Abyan tak menyukai sosok wanita pengejar.


Baginya wanita yang suka mengejar lelaki, adalah sosok wanita penggoda. Namun, berbeda dengan Jen, yang ialah seorang gadis lugu, masih perlu diperhatikan dengan baik.


Akan tetapi, Jen pada saat itu telah mencintai pria lain, yang ialah dosen mereka yang sering kali diundang untuk memberikan mata kuliah tambahan.


________________*_______________


Tommy, kenapa sudah hampir tiga tahun,


kok kamu belum mau menikahiku? tukas Carisya dengan manja.


“Carisya, sabarlah…


Kamu tahukan sekarang aku sudah naik


jabatan, jadi aku harus lebih memperhatikan pekerjaanku.”


Iya aku tahu Tomm…


Tapi aku udah gak sabar jadi istri sah kamu.. ujar Carisya, sembari bermanja-manja.


Iya sabar yah…


Drrttt….


“Tommy, nanti tolong jemput Jen, bawa ke


rumah oma..” oma Carla.


“Jemput Jen…” seketika Tommy menyeringai


saat membaca isi pesan dari oma Carla. Entah mengapa, Tommy sepertinya masih


belum mampu melupakan si gadis lugunya.


“Carisya, nanti aku mau pergi ke rumah oma, jadi kamu aku antar duluan yah..”


Tapi, aku mau ikut kamu sayang… rengek


Carisya dengan nada manjanya.


“Iya aku tahu, tapi aku ada urusan penting..”


Hmm okedeh sayang…


Beberapa jam kemudian…


Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Tommy pun seperti biasanya mengantarkan Carisya pulang, lalu segera bergegas menjemput Jen.


“Bang asing xxx”


“Jen, abang udah di depan loby..” ujar Tommy menelpon Jen, lalu menunggu di depan loby utama, gedung kantor Jen bekerja.


Setelah beberapa saat kemudian…


Tok tok tok…


Bang Tomm… Jen yang baru tiba di loby utama.


“Masuk Jen..” ujar Tommy, sambil mempersilakan Jen untuk masuk dengan senyuman tipisnya.


Ada bang, kok mendesak sih?


“Iya Jen, ini permintaan special dari


oma..”


Ohh begitu…


“Jen, ini ice coffee starbuck kesukaanmu..” Tommy menyodorkan ice coffe starbuck yang ia belikan sebelum tiba di kantor tempat Jen bekerja.


Thank you bang Tomm.. Jen mulai meneguk


ice coffee miliknya.


“Jen, kamu kok gak pernah datang ke rumah om Danil dan oma??”


Iya aku emang agak sibuk bang..


“ohh begitu, yasudah.. yang penting jaga


kesehatan yah Jen..”


“Kediaman  oma Carla”


“Kita sampai Jen..”


Setiba di kediaman oma Carla, Jen pun disambut dengan hangat.


“Oma, kangen banget sama kamu Jen…


Kenapa lama banget gak datang..---“


Mereka pun mulai berbincang-bincang, hingga Tommy pun tak mempedulikan pesan maupun telepon dari Carisya untuknya.


Oma, Jen pulang dulu yah..


“Iya Jen, akhir bulan nginap yah sayang..” ujar oma Carla sembari memberikan pelukan hangatnya.


>>>


“Jen thank you sudah luangkan waktu buat oma..”


Iya bang, kalian udah seperti keluarga aku sendriri.


“Iya Jen, kamu serig-sering dong main yah…--“


Drttt… my love memanggil…


Kenapa gak diangkat bang??


“ohh oke..


Iya hallo, aku lagi dijalan.. iya enggak


kok…--“


kak Carisya bang?


“Iya Jen…--“


Iya bang, aku jalan dikit kok ke depan kontrakan…


“Jen..” Tommy meraih tangan Jen.


Kenapa bang?? Jen pun berbalik meresponi.


“Kamu jaga kesehatan yah…” ujar Tommy


dengan sedikit canggung.


Oke bang Tomm…


“Jen, kenapa aku gak bisa lupain kamu..”


lirih hati Tommy yang sedang dilema. Disisi lain ia sudah bersama Carisya, namun tak bisa dipungkiri bahwa Jen tetap yang utama.


________________**______________


“Kediaman Edward family”


Pa… aku bingung kenapa sih Tommy tunda


terus pernikahan kami?? rengek Carisya pada ayahnya.


“Kan kamu tahu sendiri bagaimana


sibuknya Tommy..” tukas sang ayah yang mencoba menenangkan.


Hmmpp… iya pa…


Drrttt…


“Carisya, lu masih pacarankan sama Tommy??” tanya seorang teman keranya.


Iya, gua masih pacaran sama Tommy! balas


Carisya pada pesan tersebut.


“beberapa malam yang lalu, gua liat Tommy bareng cewek..---“


Brengsekk!!


Carisya mengumpat, lalu melemparkan ponselnya ke atas kasur.


Siapa yang berani??? argghhh… jerit Carisya dengan penuh kegeraman.


>>>


“Bank asing xxx”


Drttt…


“Jen, abang jemput kamu yah, oma yang minta. Tommy.”


“Hmmpp…


Kenapa jadi bang Tommy yang jemput..”


Beberapa saat kemudian…


“Hai Jen…” Tommy menyapa Jen saat baru


keluar dari gedung kantor.


Iya bang Tomm..


Seharusnya abang gak perlu jemput aku.


“yah dari pada kamu habis-habisin ongkos


Jen..”


Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun tiba di kediaman oma Carla.


Selamat malam oma... sapa Jen pada oma Carla, namun kali ini oma Carla tidak sendiri.


“Jen, kamu sama siapa?” tanya oma Carla.


Aku sama bang Tommy..


“Jen, ini makananmu sekalian abang beliin..---“ Tommy yang baru saja tiba sembari membawakan beberapa kantong makanan.


Tommy!! tukas Carisya yang saat itu sudah tiba terlebih dahulu.


“Carisya, kamu kok bisa datang ke sini.”


Oma, tolong jelasin ke aku!!!


Ada hubungan apa Janet dengan keluarga


Aharon??


Janet, bukan anggota keluarga ini kan??


“Carisya, ada denganmu? kenapa bertanya


seperti itu?” tukas oma Carla yang mencoba menenangkan.


Janet!! ada hubungan apa kamu sama


Tommy??


Kalau aku gak datang ke sini, mungkin aku gak bakalan tahu apa yang kalian lakukan dibelakang aku!! ujar Carisya dengan nada membentak.


“Carisya, kamu gak perlu sampai membentak Jen..” tukas Tommy di sela kemarahan Carisya.


Iya benar, aku memang bukan anggota


keluarga ini, dan aku hanya orang lain yang dibantu oleh keluarga ini.


“Janet!! aku pikir kamu perempuan baik-baik, ternyata kamu pelakor gak tahu diri..” Carisya mendorong Jen hingga terjatuh di lantai.


“Carisya!! kamu apa-apaan!! bentak Tommy.


Kamu lebih membela Jen dibandingkan aku


Tomm!!


“Aku gak suka kamu kasar begini??” please, jaga sopan santunmu.


Ini di rumah keluargaku, kamu sama sekali gak ada menghargai..” tukas Tommy yang terlihat marah.


“Carisya, Tommy.  Cukup!!” tukas oma Carla.


Kalian sudah sama-sama dewasa, tolong jangan begini!!


Kamu Carisya, gak seharusnya kamu kasar


pada Jen, Jen itu cucu oma!”


Oma aku..---


“Sudahlah Tommy, antarkan Carisya pulang, oma gak mau melihat kelian berdua!!”


Oma, maafin Carisya.. rengek Carisya penuh permohonan.


“Jen, maaf yah..


Gara-gara oma minta tolong Tommy jemput,


kamu jadi sasaran kecemburuan Carisya.”


Nggak apa-apa oma, malam  ini aku mau pulang aja..


“Jen, menginap disini oke..”


Baiklah oma..


Beberapa saat kemudian…


“Oma, mana Jen??” Tommy yang baru saja


tiba.


Tommy, kamu jangan ganggu Jen lagi!


Kamu sudah bersama Carisya, seharusnya


kamu lebih jujur sejak awal.


“Maafkan Tommy oma, Tommy yang salah,


mana Jen.”


Tommy, kamu gak dengar oma bilang apa?


gara-gara kamu gak bisa jujur dengan Carisya, Jen jadi korban! dan kamu tahu sendiri bagaimana ambisiusnya Carisya…


Jen, yang hanya menuruti permintaan oma


Carla untuk datang bersama Tommy, kini telah memupuk kecurigaan Carisya. Terlebih lagi, Tommy yang  tak pernah jujur akan perasaannya yang sebenarnya pada Carisya.


\*\*\*