Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Tak ingin lepas lagi



>>Bab sebelumnya…


Dalam sebuah jamuan makan malam bersama, Carisya dengan penuh antusias menyempatkan diri untuk terut serta dalam jamuan makan tersebut. Meskipun hubungannya bersama Tommy telah kandas beberapa tahun yang lalu.


Saat Tommy menyatakan bahwa ia akan segera menikah, Carisya pun begitu tidak menerima hal tersebut.


Tommy, kamu serius!! tukas Carisya dengan mata membelalak.


“tentu saja tidak Carisya, karena sepertinya calon istriku belum siap.” Tukas Tommy sembari melirikkan matanya ke  arah Jen lagi. Jen hanya bisa terus berusaha bersikap biasa, seolah tidak tahu apa-apa.


“Kamu selalu suka bercanda yah nak Tommy!” tukas papa Edward, ayah dari Carisya.


Setelah makan malam bersama, keluarga Edward pun kembali pulang ke kediaman mereka.


“Om, tante. Aku mau antar Jen pulang dulu..” ujar Tommy yang sudah bersiap-siap bergegas bersama Jen.


“Oke Tommy, Jen sering-sering main ke sini.


Rumah ini terbuka lebar untukmu.” Tukas papa Aharon selaku kepala keluarga.


Oke om, kami pamit dulu yah…


Sementara dalam perjalanan menghantarkan Jen ke rumah kediaman oma Carla.


“Jen, kamu kenapa sih dari tad diam aja..” ujar Tommy memecahkan keheningan antara dirinya dan Jen.


Nggak apa-apa bang Tomm, hanya aja aku ngerasa Carisya itu suka sama abang?? tukas Jen dengan sengaja menguji kejujuran Tommy.


“Ohh, hahaha nggaklah Jen.


Carisya hanya pensaran aja.” Tukas Tommy yang masih belum mengatakan kebenaran akan hubungannya bersama Carisya.


Ohh begitu… sahut Jen dengan jawaban singkat.


“Iya Jen, ada apa? tumben banget kamu.”


Nggak apa-apa bang, aku masuk dulu yah…


“Kenapa Jen begitu? sepertinya lagi menyimpan sesuatu..” gumam Tommy saat menerima sikap Jen yang terkesan cuek.


_________________*________________


“Bang asing xx”


Drrtttt… satu pesan baru belum dibaca…


“Jeannet, aku sudah didepan loby gedung kantormu, Herruon”.


“Pak Heru!! mau apa lagi sih orang ini..” gumam Jen saat membaca pesan singkat dari Heru.


“Mrs. Jen, please..--- ujar salah seorang rekan kerja Jen yang merupakan keturunan belanda.


Setelah beberapa saat kemudian, Jen pun menyelesaikan permintaan tolong dari salah seorang rekan kerjanya.


Tit tit tit…


Suara klakson dari depan loby utama gedung tempan Jen bekerja.


Senyuman Heru saat menurunkan kaca jendela mobilnya, seketika membuat Jen begitu terpesona seperti biasanya. Namun, Jen tetap kekeh menolak untuk meresponi tindakkan Heru.


“Jen, ayo naik..” ujar Heru sembari membukakan pintu mobilnya untuk mempersilakan Jen masuk ke dalam mobil Honda brio berwarna hitam miliknya.


Lebih baik anda cepat majukan mobil anda, kareana mobil lainnya akan segera maju. Tukas Jen dengan ketus pada Heru, tanpa mempedulikan apa yang Heru katakan.


“Oke sorry Jen, aku majukan dulu tapi kamu langsung naik yah..” ujar Heru sembari memajukan mobilnya.


Pak Heru terhormat, lebih baik bapak pulang saja.


Saya tidak berniat ikut bapak, lagi pula Abyan sudah menjemput. Tukas Jen dengan nada lebih ketus.


“Jennn.. ayo..” ujar seorang pria pengendara motor sport berwarna hitam mengkilat.


Abyan…


Tunggu.. ujar Jen, lalu meninggalkan Heru begitu saja.


“Jen, please..--- Jen enggannmenghiraukan Heru.


 Abyan, Reza mana??


“Reza sudah ditempat tongkrongan kita..”


Oke, ayo kita berangkat…


Mereka pun bergegas pergi dengan mengendarai motor sport milik Abyan. Sementara Heru belum juga menyerah, bahkan masih mengikuti Jen dab Abyan dari belakang.


Tit tit tit…


Suara klakson mobil dari belakang tak kunjung reda sedari awal mereka mulai berangkat.


“Café xxx”


Mereka pun tiba di sebuah café, lokasi tempat tongkrongan sejak masa kuliah.


 “Yooo… Abyan, Jen pasangan serasi…” riuh suara para rekan-rekan kuliah Jen dari kampus lama dan kampus barunya.


 “Iya dong, doain aja kali siapa tahu jodoh.


Iya kan Jen..” tukas Abyan sembari menepuk bahu Jen.


Haahh, Aby.. apaan sih!!


“Hahah, just kidding Jen, atau mau aku serius nih..” ujar Abyan dengan terkekeh.


Semua begitu menikmati acara reunian tersebut, namun berbeda dengan Jen yang masih merasa hatinya tidak cukup bahagia. Terlebih lagi setelah dipertemukan dengan Heru, hal tersebut pun berhasil merusak moodnya.


“Guys, thank you banget yah udah mau pada datang.


Gua pikir lu pada, kaga bakalan datang..” tukas Abyan yang sedang berdiri di tengah suasana ramai reuni


tersebut.


“Hari ini gua mau ngumumin sesuatu buat kita semua..” secara tiba-tiba Abyan meraih tangan Jen yang sedang duduk di sampingnya. Semua mata tertuju kepada Abyan dan Jen pada saat itu.


“Jeannet, kamu mau gak jadi pacarku??” ujar Abyan sembari berlutut dihadapan Jen.


Huuuuu… trima trima trima…---


Riuh suasana, disaat Abyan dengan begitu percaya menyatakan perasaannya pada Jen. Hal tersebut pun diluar dugaan Jen pada saat itu.


Aby… kamu apa-apaan sih!! tukas Jen yang sedang kebingungan.


“Jen, aku serius…


Sejak kita kuliah, aku sudah memendam rasa suka denganmu.” Tukas Abyan  sembari menggenggam kedua tangan Jen.


“Sudah punya ke-- ka-sih…” tukas Abyan dengan terbata-bata dan tak tahu harus berbuat apa lagi.


Suasana pun cukup menegang saat Jen menolak pernyataan Abyan tersebut.


Aby, maaf kita hanya sahabat selalu dan seterusnya.


Maaf, aku gak bermaksud membuatmu malu tapi inilah jawabanku… Jen hanya tertunduk sendu, sementara itu Heru ternyata telah duduk di seberang meja Jen bersama teman-temannya. Mata Jen terfokus pada sosok Heru, dan hanya terdiam kaku.


“Jen, nanti aku bakalan bicara sama kamu..” bisik Abyan.


“Guys ini hanya prank…” ujar Abyan sambil tertawa terbahak-bahak.


Halahhh…


Elu playboy cap kadal merayap by…--- ujar teman-temannya dan suasana pun kembali mencair.


Drrtt….


“Jen, maaf aku udah bikin kamu malu didepan teman-teman. Tapi lain kali aku gak akan ungkapin perasaanku dengan cara gini lagi. Abyan”


 Jen hanya terdiam tanpa kata, saat membaca isi pesan whatsapp dari Abyan. Abyan pun tersenyum tulus pada Jen sembari meneguk ice coffee nya.


“Yes, lupakan saja..” balas Jen dengan singkat dan menyimpan kembali handphonenya ke dalam tas.


“Oke guys, kita cabut duluan yah..”


Ohh oke bro, jagain nih cewek baik-baik yoo… tukas Reza pada Abyan sembari menepuk bahu Abyan.


“Lu tenang aja bro, Jen bakalan aman ama gua..”


Mereka pun bergegas pergi, sementara Heru masih saja mengikuti Jen dari belakang. Hal itu membuat Jen cukup kurang nyaman dan salah tingkah.


“Kamu kenapa Jen?” tanya Aby heran melihat Jen yang terlihat cukup gelisah.


Ahh gak apa-apa kok by, ayo kita pulang..


Drrttt…


“Jen, aku akan terus mengikutimu sampai rumah oma, dan aku gak akan pulang sebelum kamu bersedia bicarakan semuanya..” Herruon.


Aby, nanti kamu gak usah antar aku sampai depan gerbang. Soalnya, aku mau beli bandrek dulu…


“Yaudah, aku tunggu Jen..” tukas Aby yang enggan melepaskan Jen untuk pulang seorang diri, walau masih di area perumahan rumah kediaman oma Carla.


Aby, nggak apa-apa. Aku mau ke indomart juga sih.. ujar Jen yang masih terus berusaha meyakinkan Abyan.


“Okedeh Jen, aku turuti maumu.”


Sepanjang jalan menuju kediaman oma Carla, Jen terus gelisah karena melihat mobil brio berwarna hitam milik Heru terus mengikuti dari belakang dan sorot lampu jarak jauhnya terus menyala sedari tadi.


“Yakin gak mau aku tunggu Jen??” ujar Aby yang terlihat khawatir.


Iya by, inikan tinggal lurus perumahan rumah oma.


“yasudah, aku pulang dulu Jen, bye bye..” Abyan pun bergegas pergi dari area perumahan kediaman oma Carla. Sementara Jen masih duduk di kursi area trotoar yang cukup luas, sembari menantikan kedatangan Heru.


_________________**________________


Seorang pria berjalan dari arah kanan Jen. Pria tinggi tegap, mengenakan jaket kulit berwarna coklat dengan balutan gaya yang sangat casual.


“Jeannet..” pria tersebut memanggil Jen dengan raut wajah yang tak sedikit pun menunjukkan senyuman.


Pak Heru.. ujar Jen sembari beranjak dari kursi tempat ia duduk.


“ini minum teh hangat dulu,” Heru menyodorkan segelas teh hangat yang terturup dalam gelas kertas.


Thank you, cuaca memang cukup dingin. Sahut Jen lalu duduk kembali di kursi besi area perluasan trotoar tersebut.


“Aku duduk di sampingmu boleh?” tanya Heru sambil duduk di samping Jen.


Silakan.. dan coba jelaskan apa maksud kedatangan bapak, sampai seolah-olah mengancamku?? tukas Jen tanpa basa-basi.


“Jen, sepertinya Abyan ngfans banget denganmu,” ujar Heru dengan raut wajah yang terlihat penuh rasa cemburu.


Setidaknya Aby bukan laki-laki pecundang…


“Ohh jadi selama ini Abyan sudah sangat mengerti kamu dan begitu pun juga kamu, sampai-sampai kamu juga punya panggilan khusus buat Abyan.” Tukas Heru sambil memiringkan diri ke  arah Jen.


 Iya, Aby laki-laki yang baik…


“Oh yah… makanya dia berani nembak kamu ditengah keramaian kan..”


Jelas. Lagi pula kami sama-sama single, gak salah dong kalau kami dekat satu sama lain.


“Memang benar Jen, tapi kamu pikir aku diam saja Jen..”


Apa hal bapak bicara seperti itu!! ingat bapak bukan siapa-siapaku lagi! tegs Jen dengan anda ketus.


“Jen, aku tahu kamu masih marah dan dendam.


Tapi, percuma kamu mencari pelampiasan, karena hati kamu hanya buat aku..”


Percaya diri banget sih… gak malu sama status!! tukas Jen dengan lebih ketus lagi.


“Jen, kenapa nada bicaramu jadi seperti ini??”


Kenapa? tanya sama diri sendiri, aku begini karena siapa??


“Jen, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan..” Heru meraih tangan Jen perlahan.


Lepaskan!! Jen meronta namun Heru tak berniat melepaskan genggamannya.


“Jen, aku sangat mencintaimu… aku minta ampun Jen, tolong jangan siksa aku lagi..” tukas Heru dengan wajah berkaca-kaca.


Bapak mikir gak sih apa yang udah bapak lakukan??


Dengan teganya menerima saran perjodohan yang gak pasti lalu meninggalkan aku, berbohong.


Sekarang, dengan tampang tak berdosa malah mencari aku lagi…


“Jen, tolong dengarkan aku!! Tentu kamu pasti sudah tahukan apa yang sebenarnya terjadi??”


Aku gak mau tahu, cepat lepaskan tanganku pak Herruon Daniswara terhormat.


“Baiklah nona Jeannetly Mercya Daniswara..” tukas Heru dengan wajah tersenyum dan berusaha menggoda Jen.


Apaan sih, gak jelas banget… Jen hanya bisa menahan hatinya.


Jen sangat mencintai Heru lebih dari segalanya, namun rasa kecewanya tak mampu ia bendung. Walau rasa cintanya lebih besar, namun rasa gengsi pun tak bisa dipungkiri.


                            ***