Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Takdirmu bukanlah aku



”Beloved Mister”


Author by Natalie Ernison



Sungguh kisah perjalanan hidup yang tidak mudah bagi Jannet, hingga akhirnya menemukan titik kebahagiaannya sendiri. Bahagia bersama pria yang tidak pernah terpikirkan olehnya, dan semua hadir bagai hembusan angin.


~ ~ ~


”Perusahaan cabang C”


”Tanpa terasa, waktu begitu cepat berlalu,” batin Jen.Kala teringat semua hal yang terjadi.


Tiba saatnya bagi Jen untuk menyelesaikan kontrak kerjanya, sebagai seorang sekretaris direktur utama.


Drrttt...


”Selamat siang Nonaku! Aku sudah berada di loby utama, jika kau sudah selesai, segeralah kemari.” My Beloved Mister.


Seketika itu pula, Jen tak mampu menahan rasa bahagianya. Karena, dihari terakhirnya menjadi seorang sekretaris direktur, ia juga akan segera menjadi Nyonya Tyson.


”Selamat siang semuanya! Terima kasih atas kerjasamanya selama beberapa tahun ini. Sudah saatnya bagiku untuk mengakhiri tugas tanggung jawabku disini..--” ucap Jen dihari perpisahan bersama para rekan kerjanya.


”Semoga bahagia selalu, Nona Jen...” ucap para pegawai yang menjadi rekan kerja Jen. Semua terlihat bersedih, tatkala melepas hari terakhir Jen menjadi seorang sekretaris.


”Terima kasih atas segalanya, Nona Jannet. Semoga berbahagia,” ucap Vestus dengan wajah sendunya.


Jen membalas senyuman sendu dari Vestus, ”terima kasih pak direktur.” Balas Jen, lalu segera menemui Mr. Tyson yang sedari tadi menantikan dirinya.


”Tempat ini akan selalu menjadi kenangan bagiku...” batin Jen.


-----


Loby utama


”Sudah beres?” tanya Mr. Tyson sembari merangkul Jen. Jen pun membalasnya dengan anggukan.


Dari balik tirai kaca jendela ruangan utama direktur, ada sosok yang sedang dirundung kesedihan.


Vestus tak kuasa menahan air matanya, tatkala melihat Jen pergi dari sisinya. Selama ini, Vestus berusaha untuk menjaga jarak dari Jen. Ia takut, takut jika perasaannya pada Jen datang kembali. Sekalipun hal itu cukup menyakitkan baginya.


Wanita yang telah pernah hadir sebagai sosok yang sangat berarti. Semua kenangan saat bersama Jen tidak akan mudah untuk Vestus lupakan.


”Selamat tinggal bibi Jen...” ucapnya lirih. Vestus menangis hingga terperosot ke bawah. Kini, tak ada lagi yang akan membuatkan roti panggang baginya. Namun, bekahagiaan Jen pun terpenting dari segalanya.


***


”Tempat pemakaman keluarga kaum serigala”


Jen pergi ke sebuah pemakaman keluarga kaum serigala, yaitu tempat terakhir Rezo disemayamkan.


”Rezo, sekarang aku akan segera menikah dengan tuan Tyson. Kau tahu, tuan Tyson sangat baik padaku. Tuan Tyson...” ucapan Jen pun terhenti, karena isak tangisnya tepat di atas pemakaman milik Rezo.


”Tuan muda Rezo, bukankah Nona Jen kesayanganmu sudah terlihat bahagia bersamaku. Tentu saja, aku tidak akan pernah ingkar janji padamu.” Ucap Mr. Tyson sembari membelai lembut punggung Jen, sebagai penenangan bagi Jen.


Setelah berkunjung ke pemakaman Rezo, mereka pun bergegas pergi ke tempat tujuam utama.


***


Boutique kota C


Mr. Tyson membawa Jen ke sebuah butik terkenal di area kota C.


”Selamat datang Tuan Tyson dan Nyonya Tyson.” Sapa para desainer ternama, yang menjadi perancang buasana sekaligus penatas rias di acara sakral Mr. Tyson bersama Jen.


”Aku ingin gaun putih bersinar, dan membuat Nonaku terlihat menawan bercahaya.” Pinta Mr. Tyson.


”Baiklah tuan Tyson. Nyonya Jannet akam segeta kami persiapkan untuk pemotretan selanjutnya.” Ucap salah seorang desainer kepercayaan keluaga Rhepen.


“Anda sangat cantik menawan, Nyonya,” puji sang penata rias.


”Terima kasih, semua karena jasa kalian semua.“ Ucap Jen lembut.


”Pantas saja Tuan Tyson bahagia, memililo wanita secantik dan sebail wanita ini.“ Batin sang penatas rias.


Setelah beberapa saat kemudian...


”Tuan Tyson, Nyonya Jannet sudah siap,” ucap sang perancang busana, dan setelahnya Jen pun melangkah perlaham dengan mengenakan gaun pengantin mewah miliknya.


Mr. Tyson tersenyum bahagia, saat melihat betapa anggunnya Jen hari ini.



”So beautiful” puji Mr. Tyson lalu merangkul Jen, seakan tak rela jika Nona manisnya akan jauh darinya walau semenitpun.


Kali ini, adalah pemotretan perisapan hari pernikahan mereka.


Sesi pemotretan/ pre-wedding



Berkali-kali berganti pakaian, maupun gaun pengantin yang super mewah. Sebagai pemotretan yang hanya sekali seumur hidup, sudah sewajarnya, jika dilakukan sebaik mungkin.


”Tuan dan Nyonya bisa duduk terlebih dahulu.” Ucap sang photographer, sambil menunjukkan beberapa hasip pemotretan.


”Bagus, dan kami suka,” ucap Mr. Tyson sambip tersenyum pada Jen.


”Nonaku suka dengan foto-foto ini?”


”Hmm.. yah, aku suka tuanku.” Balas Jen sembari bermanja pada Mr. Tyson.


>>>


”Apakah ingin bekerja lagi, atau fokus mempersiapkan diri hingga acara pernikahan kita nanti?”


”Aku ingin membuat bisnis toko roti dan cafe. Atau, cafe saja. Karena, aku akan sangat bosan jika terlalu banyak berdiam diri.”


”Anything for you, Nona manisku.” Ucap Mr. Tyson sambil mengacak gemas puncak kepala milik Jen.


”Sebelum hari penting kita, aku ingin kembali ke Indonesia, dan berkunjung ke makam ayab dan ibuku. Apakah, tuan memiliki waktu luang?”


”Tentu saja, aku akan segera mengurus kepergian ke Indo,” ucap Mr. Tyson lembut.


--------------


Setelah beberapa bulan kemudian...


Jen sudah tak lagi bekerja, dan ia hanya fokus untuk persiapan pernikahannya bersama Mr. Tyson.


”Hai bibi cantik!” ucap seorang gadis kecil yang berlari ke arah Jen secara tiba-tiba.


”Hei gadis kecil,” ucap Jen sembari menunduk ke arah gadis kecil itu. Jen berusaha mengingat sosok gadis kecil tersebut.


”Nona Mercya!” seru salah seorang pelayan, memanggil gadis kecil tersebut.


Jen mulai teringat, bahwa gadis kecil tersebut adalah putri dari Heron dan Zharen.


”Maaf Nona, jika Nona kecil kami mengganggumu,” ucap sang pelayan.


”Tidak masalah bi," ucap Jen dan terus menatap gadis kecil yang tak ingim pergi dari Jen.


”Bibi cantik, bibi ingin bellmain denganku?” ucap Mercya kecil mohon.


”Duduklah disini bersama bibi,” ucap Jen lembut. Mercya kecil pum duduk di samping Jen dan seakan tak ingin jauh dari Jen.


”Semenjak Nyonya Zharen meninggal, Nona muda sangat kesepian dan sangat membutuhkan kasih sayang dari seorang ibu.” Ucap sang pelayan dengan nada lirih.


”Meninggal!” Tukas Jen terkejut.


”Iya Nona Jen. Tuan besar dan Nyonya besar pun kurang mempedulikan Nona kecil. Bahkan, Tuan Heron kerap kali pergi ke luar kota.”


”Apakah Mercya hanya bersamamu, bi?”


”Benar Nona. Tak lama setelah pertemuan kita diacara perusahaan, Nyonya Zharen meninggal dalam keadaan sakit parah. Penyakit Nyonya Zharen sudah sekian lama terjadi, hingga akhirnya Nona Mercya lahir dan hampir merenggut nyawa Nyonya Zharen.”


----Kilas sejenak----


”Mansion kediaman Heron Danish”


”Aku tahu, kau tidak pernah mencintaiku, dan anak ini pun adalah hasil perselingkuhanku. Tapi, kumohon terima dan rawatlah anak ini, karena usiaku tidal lama lagi.”


”Kau berselingkuh dariku, hingga mengandung! Apa kau tidak punya rasa malu, Zharen!” Bentak Heron penuh amarah.


”Aku memang bersalah, tapi tidak dengan calon bayi ini..” isak Zharen.


”Aku mencintai wanita lain, dan..--”


”Nona Jannet, bukan! Yah, aku sudah mengetahuinya sejak lama,” lirih Zharen, dan Heron hanya bisa terdiam mendengar ucapan dari Zharen.


”Jika kau sungguh mencintainya, aku tidak akan melarangmu. Tapi, tunggulah hingga anak ini lahir dan setelah aku mati, kau boleh kembali bersamanya..--”


Mendengar hal itu, Heron pun memutuskan untuk mengakhiri hubungan gelapnya dengan Jen. Heron masih sangat berharap akan bisa kembali bersama Jen beberapa tahu ke depannya.


Hingga akhirnya, Zharen pun pergi untuk selamanya.


”Terima kasih telah menyayangi Mercy, aku akan pergi dengan tenang. Semoga Nona Jannet bisa membahagiakanmu..” itulah kalimat terakhir dari Zharen.


-------kilas selesai------


Pelayan pengasuh Mercy kecil pun menceritakan secara keseluruhan kebenaran yang sesungguhnya pada Jen. Mengingat, Jen adalah wanita kesayangan sang tuannya. Karena, pelayan tersebut merupakan pekerja setia mansion milik Heron.


”Kalian ternyata disini!” ucap Heron yang baru saja tiba.


Jen mendongak terkejut, dan sangat terkejut akan kehadiran Heron kali ini.


”Daddy, aku suka dengan bibi cantik ini” ucap Mercy kecil.


”Maaf, sepertinya aku harus segera kembali, bibi, tuan Heron , dan gadis manis.” Ucap Jen pada Mercy kecil.


Merogoh isi tasnya, dan mengeluarkan sebuah kartu undangan.


”Akhir bulan depan aku akan menikah, kuharap kalian bisa hadir diacara pernikahanku.” Ucap Jen sembari menyodorkam undangan pernikahannya pada Heron, lalu bergegas pergi bersama sang pelayannya.


”Bye byee bibi cantikk” seru Mercy kecil, dan Jen hanya tersenyum sendu.


Heron pun duduk sejenak, lalu membuka isi undangan tersebut. Seluruh tubuhnya terasa begitu ringan dan hanya mampu terdiam. Kenyataan yang begitu pilu, Jen akan segera menikah bersama pria lain, dan itu bukan dirinya.



”Maaf tuan, aku sudah sempat menceritakan kisah sesungguhnya pada Nona Jen. Namun, spertinya Nona Jen sudah menjadi milik pria lain.” Ucap sang pelayannya dengan wajah prihatin.


Heron tersenyum dalam kepiluan hatinya. Yah, ini sangat menyakitkan baginya. Sebuah takdir yang tidak mungkin ia kendalikan.


”Ternyata takdir berkata lain, kuharap Jen bahagia bersama pria pilihannya.” Ucap Heron, tanpa sadar, air matanya pun menetes pilu.


”Tuan, aku yakin tuan akan sama bahagianya suatu saat nanti,” ucap sang pelayan prihatin, bahkan turut merasakan kesedihan Heron hari ini.


Semuanya sudah terjadi, dan tak mungkin kembali.