Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Jika ingin pergi, pergilah!



“Beloved Mister”


Author by Natalie Ernison


Jannet datang ke mansion mewah milik keluarga Danish. Di sana ia bertemu dengan Heron, si dosen mesumnya.


~ ~ ~


“Tuan!” jerit Jen tak percaya dengan apa yang ia lihat kini. Ia menutup mulutnya menggunakan telapak tangan.


“Apa yang terjadi padamu tuan?” lirih Jen yang kini sedang panic.


Heron terbaring di atas kasur king size miliknya. Dalam keadaan telajang dada, hanya mengenakan kolor lapisan luar. Bagian dadanya terbalut perban yang cukup besar dan mengeluarkan darah.


Ahkk.. pekik Heron, saat Jen menyentuh perbannya. “Ma-af tuan..” ucap Jen dengan menunduk.


“Aku sangat tidak menyangka jika akhirnya akan datang kemari” ujar Heron dengan tersenyum lega.


“Mengapa memintaku untuk datang?” ujar Jen dengan mendengus sebal.


“Kau akan menjadi istriku, sudah sewajarnya mengurus suami” kekeh Heron.


Ahkk hkk… pekiknya lagi, karena sedikit gerakan saja dapat membuat lukanya terasa nyeri.


“Apa yang terjadi padamu tuan?”


“Aku berkelahi dengan manusia serigala lainnya dan karena itu adalah keluargaku sendiri, aku memilih untuk mengalah.” Jen hanya memandangi keadaan Heron yang kini terbaring lemah menurutnya.


“Apa yang tuan inginkan, apakah sebuah sup!” ujar Jen sembari beranjak.


“Aku hanya ingin kau berada di sisiku, itu sudah cukup,” tukas Heron, dan meraih tangan Jen.


Jen menepis genggaman tangan Heron. “Aku akan membuatkan sup” ujar Jen dan segera pergi menuju dapur.


>>


Jen mulai mencari bahan makanan yang dapat dimasak segera. Mulai memotong beberapa wortel juga kentang, dan membuat kuah kaldu sehingga beraroma wangi.


Setelah beberapa saat kemudian…


Ia membawa semangkuk sup dengan nasi semangkuk kecil, bersama dengan air hangat. Meletakkan di atas meja, di samping tempat Heron kini terbaring.


“Wanita ini sungguh membuatku gila” batin Heron, tatkala melihat tidakan inisiatif dari Jen padanya. Jen terlihat begitu peduli sekai pun Heron selalu membuatnya kesal, karena tingah mesum Heron.


“Kemarilah” perintah Jen pada Heron. Heron hanya tersenyum dan mencoba menurut pada Jen.


Suapan demi suapan telah membuat Heron terlihat semakin membaik. Selain karena kehadiran Jen, tapi juga karena sikap perhatian Jen yang begitu tulus. Sekali pun Jen tidak senang dengan tindakan seseka hati Heron, ia tetap bisa memberikan perhatian yang tulus.


Ahh.. desah Jen, saat Heron meraih pinggangnya. Ketika Jen hendak membersihkan bekas makanan dari Heron.


“Biarkan pelayan yang membersihkannya” ujar Heron.


Jen pun duduk di samping Heron. “Bersikaplah seperti anak baik, jangan gegabah” tukas Jen.


“Siap laksanakan, istriku” ujar Heron dengan tersenyum mesum.


“Beristirahatlah. Tuan masih sakit, jangan terlalu banyak keinginan!” peringat Jen pada Heron. Heron pun semakin gemas saja pada ekspresi Jen kala itu.


Setelah Jen selesai membersihkan tempat makanan bagi Heron, ia pun kembali pada Heron. Menatap ke arah Heron sedang terbaring lemah kala itu.


“Mengapa mansion sebesar ini hanya ditempati oleh pria ini” batin Jen. Duduk di atas sofa tepat di samping kasur Heron.


Heron kini sudah terlelap, setelah menikmati sup yang Jen siapkan baginya. “Lebih baik aku pergi saja” batin Jen. Ia pun keluar dari kamar pribadi milik Heron.


“Nona Jannet!” panggil seseorang dari sisi kanan Jen.


Hah.. pekik Jen saat seseorang tiba-tiba memanggil dirinya. “Tuan Vestus!” ujar Jen menghela napas lega.


“Hendak kemana nona?” ujar Vestus mendekatinya.


“Aku hanya ingin beristirahat, aku sangat lelah,” keluh Jen sembari menyentuh batang lehernya.


“Baiklah, nona silakan ikut bersamaku” tukas Vestus, menuntun Jen untuk pergi bersamanya ke sebuah kamar yang berada di samping kamar pribadi milik Heron.


>>


Karena sudah sangat kelelahan, akhirnya Jen pun terlelap seketika.


Uuuu… aaauuuu… terdengar jelas suara auman anji*g membuat tidur Jen tak lelap lagi. Rasa kantuk yang luar biasa, cukup membuatnya kembali tertidur. Namun…


Suara auman tersebut kian dekat dan terdengar sangat dekat lagi. Jen terbangun dari tempat tidurnya. Menggosok-gosok kedua matanya, agar dapat melihat secara jelas.


Rasa penasaran membuat Jen bergegas keluar. Suara auman tersebut semakin nyata, dan…



Arghkk… Jen menjerit, ia ingin berlari sekencang mungkin. Namun karena panic, ia pun terjatuh dari atas tangga dan menggelinding ke bawah.


Dhuggk.. kepala Jen mengenai ujung tangga, hingga mengeluarkan darah.


“Nona Jannet!” teriak Vestus. Beruntung Vestus bergerak cepat, sehingga Jen hanya terjatuh dari beberapa anak tangga.


“Paman!” tukas Vestus ke arah sosok serigala yang begitu mengerikan itu.


Vestus dengan sigap membawa tubuh Jen ke kamar yang berada di lantai satu, mansion.


“Kuharap kau baik-baik saja” batin Vestus. Ia memandangi Jen yang sedang tak sadarkan diri. Perlahan-lahan membalut luka pada kepala Jen.


Keesokan harinya…


“Di mana aku” gumam Jen sembari menyentuh kepalanya yang masih terasa sangat nyeri.


“Sudah bangun?” ujar Vestus yang baru saja tiba dengan membawa semangkuk bubur wangi aroma kaldu ayam.


“Tuan Vestus, aku harus pulang—“ tukas Jen yang hendak beranjak. Namun Vestus menahannya, “kau harus istrahat! aku akan mengurus semuanya pada keluarga Aharon.”


“Apakah tuan Heron akan menerkamku..” gumam Jen, sembari memilin ujung baju miliknya.


Vestus menatap Jen, dan ia tahu bahwa Jen sedang cemas. “Paman tidak akan menyakiti wanita yang sangat berharga baginya” tukas Vestus meyakinkan Jen.


Hh.. “Bagaimana tuan bisa seyakin itu! bahkan aku hampir mati terguling di tangga! itu semua gara-gara-“


Sehhtt…. “Pelankan suaramu nona. Paman tidak akan melakukan sesuatu yang buruk, terbukti kau masih baik-baik saja, bukan!” Vestus berusaha meyakinkan Jen dengan perkataannya.


“Aku tidak ingin berurusan dengan keluarga ini!” bentak Jen kesal. “Semenjak aku mengenal keluargamu, hidupku menjadi tidak tenang!” teriak Jen sembari melemparkan bantal ke arah Vestus.


“Paman pernah kehilangan seseorang yang sangat dicintainya. Sehingga setiap kali paman mengingat kejadian itu, paman pasti menyakiti dirinya sendiri.”


“Apa maksudmu tuan?” Jen mengernyitkan dahinya, tatkala mendengar ucapan Vestus.


“Kau terlalu banyak bicara, Vestus!” tukas Heron dari balik pintu. Ia berdiri menatap ke arah Jen juga Vestus.


“Paman—“ Vestus seketika terdiam, dan pergi dari hadapan Jen.


“Jika kau ingin pergi, pergilah! tidak perlu lagi kembali.” Tukas Heron dengan bertumpu di sisi pintu.


Jen terkejut mendengar pernyataan Heron, karena tidak biasanya Heron bersikap dingin padanya.


“Kukatakan, pergilah!” bentak Heron secara tiba-tiba, dan pergi dari hadapan Jen.



Jen mencengkram selimut yang kini ia kenakan, melangkah dengan tertatih, karena kakinya masih terasa nyeri. Pasca terjatuh di anak-anak tangga, dan kepalanya yang masih berbalut perban.


“Dasar pria bajing*n! setelah puas mempermainkanku, lalu seenaknya mengusirku” batin Jen. Kali ini Jen merasa bersedih. Sedih karena Heron tiba-tiba membentaknya, namun Jen masih saja bertahan dengan sikap kereas hatinya.



>>


Perlahan-lahan Jen melangkah dalam keadaan yang tidak stabil. “Nona Jannet!” pekik Vestus, saat Jen hampir saja terjatuh.


“Tidak tuan, aku bisa sendiri” ujar Jen dengan percaya diri.


“Aku akan mengantarmu nona”


“Tidak perlu tuan, aku akan pulang sendiri” sanggah Jen, sembari bersusah payah berjalan.


Vestus terlihat tidak puas, “nona, aku akan mengantarmu!”


“Biarkan saja dia pulang sendiri!” tukas Heron yang sedang duduk di sofa. Vestus sangat menurut pada sang pamannya, sehingga Jen pulang bersama seorang supir.


***


“Kediaman Aharon family”


Jen pun kembali, namun pada saat keadaan rumah sedang sepi. Seperti biasanya, semua orang sibuk dengan kegiatan mau pun urusannya masing-masing.


Jen membersihkan dirinya, dan duduk termenung menghadap jendela. Kedua orang tuanya sudah tiada, bahkan keluarga pun menolak kehadirannya. Kini Jen hanya bersama keluarga asuhnya, yaitu keluarga Arahon.


Ada rasa sesak di dadanya, tatkala mengingat semua perlakuan Heron padanya. Namun, bukankah bagus jika Heron bersikap cuek padanya. Jen pun akan kembali aman dan hidup normal. Bukankah begitu lebih baik, pikir Jen kala itu.


****