
>>Bab sebelumnya…
Heru masih tak juga menyerah untuk bisa mendapatka hati Jen kembali dengan segala upayanya.
Drttt… “Bang Tomm memanggil…”
Aku mau pulang pak, tolong lepaskan…
“Kenapa? biar biasa menjawab telepon dari Tommy??” ujar Heru yang meraih kedua bahu Jen hingga berhadapan dengan dirinya.
Lepasin… Jen terus meronta.
Jangan macam-macam pak, kita sedang di tempat umum!!
“biarkan saja, toh banyak juga yang berpasangan dna sekalian kita tunjukkan..”
Gila!! jangan gila pak… lepaskan…
“Jen, aku bisa bertindak nekad demi kamu..
Aku sudah membatalkan perjodohan demi kamu, dan aku menerima perjodohan pun karena ingin melihat sejauh mana rasa cintamu..”
Apa?? apa bapak pikir itu mainan??
Bapak sudah menghancurka relasiku, kalau sampai kak Carisya tahu siapa aku dan bapak maupun bang Tom..---
“Bang Tomm?? kenapa? ada hubungan apa dengan Tommy??
Jangan bilang kamu sudah jatuh cinta pada Tommy?”
Lepaskan aku pak Heru… Jen tertunduk, dengan wajah yang sudah dibanjiri air mata pilu.
Kenapa bapak setega ini… apa hanya karena bapak orang terhormat, lalu dengan sesuka hati bisa mempermainkan perempuan… ujar Jen dengan nada lirihnya.
“Jen, aku gak ada maksud untuk menyakitimu, tapi saran perjodohan kemaren karena hubungan kedua keluarga kami sejak dulu sudah sangat dekat..---
Heru mulai menceritakan yang sebenarnya…
Antara kedua keluarga besar Edward dan Daniswara family, terjalin sebuah iktan yang sangat kuat. Hingga diakhir hidup ayah dari Heru memiliki permintaan agar Heru menikah dengan anak perempuan dari Edward family.
Disitulah semua dimulai, Carisya yang sudah hampir putus asa dengan hubungan asmaranya bersama Tommy. Hanya karena jarak yang terpisah jauh, dan Tommy yang terlihat begitu fokus dengan karirnya.
Hal itu membuat Carisya dengan nekad memutuskan Tommy, demi perjodohan bersama Heru.
Namun, ternyata rasa suka pada Heru hanya sebatas pelampiasan semata. Carisya tak sepenuhnya melupakan Tommy, dan setelah mengetahui bahwa Tommy sejak awal ingin segera menikahinya. Carisya begitu hancur dan hampir tak karuan lagi, ditambah lagi saat Heru membatalkan perjodohan tersebut.
Carisya pun hampir patah arah, penyesalan demi penyesalan pun menyelimuti kehidupannya. Namun, batalnya perjodohan dilakukan secara baik-baik oleh Heru dan juga Carisya. Walau pun Carisya sudah mulai merasa nyaman bersama Heru.
Sudahlah pak Her, aku gak mau lagi bahas hubungan yang sudah berlalu.
“Jen, please percaya kalau aku gak akan nyakitin kamu lagi..” Heru menggenggam kedua tangan Jen dengan sangat erat.
Pak Heru, tolong lepasin aku sekarang! pinta Jen sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Heru.
Drrttt… Bang Tomm memanggil…
Hallo bang, iya aku lagi beli sesuatu ke luar.
Oke bang, ahh enggak bang. Aku lagi agak flu…
“Kenapa, Tommy makin perhatian aja yah sekarang…” ujar Heru yang masih enggan melepaskan genggaman tangannya dari Jen.
Aku harus pulang sekarang, tolong lepasin aku pak. Pinta Jen dengan sangat, agar Heru melepaskan tangannya.
“Maaf Jen, kalau aku lepaskan tangan ini, aku takut seterusnya aku gak bisa lagi menggenggamnya.” Tukas Heru dengan nada penuh pilu.
“Janet, aku sudah membatalkan pertunanganku bersama Carisya, lalu harus apa lagi Jen!!” ucap Heru dengan nada yang pelan tepat di samping wajah Jen.
Aku sudah mulai kehilangan rasa cintaku yang seperti dulu pak… tukas Jen dengan nada lirih.
“Kamu kehilangan rasa!!” ucap Heru dengan ekspresi terkejut.
Maaf pak, tapi rasa sakit kemaren itu terlalu dalam banget.
Aku mohon lupakan aku pak…
“Baiklah Jen..” Heru perlahan-lahan melepaskan genggaman tangannya, dan berdiri tepat dihadapan Jen.
“Mulai malam ini aku akan pergi Jen, dan gak akan mengganggu hidupmu lagi..” Heru pun berbalik dan melangkah meninggalkan Jen dengan penuh pilu. Sementara Jen hanya tertunduk sambil terus terisak.
Perlahan-lahan Jen mencoba berdiri dan melangkahkan kakinya walau dengan penuh kepedihan. Jen tetap mencoba menghadapi apa yang telah ia putuskan, walau hatinya terasa sakit.
“Kediaman oma Carla”
“Jen, kamu dari mana saja.” Ujar Tommy yang sedang duduk di ruang tamu dan bergegas berjalan menuju Jen.
“Jen, kamu kenapa sembab begini? hei jawab abang Jen,” Tommy meraih wajah Jen dengan kedua tangannya.
Aku mau istrahat bang, please jangan tanya sekarang. Ucap Jen dengan nada semakin lirih, dan tak kuasa menahan air matanya.
“Janet, siapa yang udah bikin kamu seperti ini??
Jawab abang Jen..” tegas Tommy yang semakin ingin tahu dan terlihat begitu mencemaskan keadaan Jen.
Bang Tomm, please… rintih Jen dengan wajah yang terlihat begitu sembab akibat tangisan yang sedari tadi tak kunjung berhenti.
“Baik Jen, maafkan abang,” Tommy pun melepaskan tangannya dari Jen, dan membiarkan Jen pergi menuju kamar pribadinya.
Di dalam sebuah kamar pribadi Jen, Jen terus terisak tanpa henti dan air mata yang seakan tak henti-hentinya membanjiri wajah cantiknya.
"Pak Heru, aku sangat mencintai bapak tapi aku gak mau bodoh harus kembali dengan laki-laki yang sudah bersikap seolah-olah cinta itu gampang…" gumam Jen dengan lirih hati.
Setelah beberapa bulan kemudian…
“Nona Jeannetly, tolong bantuannya untuk acara penyambutan direktur baru mitra dari perusahaan xxx”
Tapi, bukannya kita bergerak di bidang keuangan Indonesia dan asing kak?
“Iya Jen, tapi kali ini bukan urusan kantor kita.
Papaku kan punya perusahaan family gitulah, jadi besok malam akan mengadakan peresmian.”
So, apa kaitannya denganku kak?? tukas Jen lagi.
Ohh gitu, okay ditunggu saja yah.. Jen pun mulai mengerjakan design grafis dan juga beberapa wish special request dari rekan kerjannya di kantor.
“Wahh hebat banget sih kamu Jen, hanya dalam waku beberapa menit udah berhasil membuat design sekeren ini…” ujar rekan kerja Jen dengan penuh rasa kagum.
Ahh nggak juga sih kak, aku hanya sedikit belajarlah…
“Kediaman oma Carla”
Oma, aku malam ini bakalan pulang agak telat karena ada acara peresmian bisnis baru gitu.
“Ohh yasudah nanti biar supir antar yah Jen.”
Nggak usah oma, aku dijemput sama teman kok.
Beberapa saat kemudian…
“Hai Janet… ayo kita let’s go..”
“Thank you banget Jen, kamu memang the best deh..” puji rekan kerja Jen.
Iya kak, sama-sama…
__________________*__________________
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya mereka pun tiba di sebuah gedung mewah.
“selamat malam pak Alfaro…” sapa para tamu acara, yang merupakan para rekan pengusaha ayah dari Alfaro, rekan kerja Jen.
Kak Alfa, aku agak canggung banget nih.. bisik Jen yang terlihat sudah mulai salah tingkah.
“Santai aja Jen, oh iya aku mau ke keluarga aku dulu. Kamu silakan tunggu disini dulu”
Ahh aku mau ke toilet juga nih kak.
“Ohh yasudah kalau gitu Jen, nanti ketemu di sini lagi yah..”
Jen pun bergegas menuju toilet wanita, dan tanpa sengaja Jen berpapasan dengan Carisya.
“Janet!!” ujar Carisya saat berpapasan dengan Jen di sebuah toilet wanita.
Ahh kak Carisya… kakak juga di sini? ujar Jen sembari membasuhkan tangannya.
“Iya Jen, aku datang bareng pacarku,” tukas Carisya dengan penuh rasa bangga.
Oh yahh, selamat yah kak Carisya.. ujar Jen dengan tersenyum.
“Ayo bareng aja Jen..” keduanya terlihat begitu akrab satu sama lain.
“Jen, itu pacarku kamu pasti kenal..” Carisya pun meraih tangan Jen lalu mengenalkan sosok pria yang ia sebut sebagai pacar.
Sayangku… ujar Carisya sembari menepuk bahu seorang pria berjas hitam.
Kenalin nih Janet, kamu pasti kenalkan?? ujar Carisya dengan penuh rasa bangga memperkenalkan sosok pacar, yang ialah Tommy.
Bang Tomm!! ujar Jen dengan ekspresi terkejut.
Kejutan…
Janet, kamu kagetkan lihat abangmu ini!! tukas Carisya sembari merangkul Tommy dengan begitu manjanya.
Ohh jadi ini kejutan juga dari abang?? ujar Jen pada Tommy yang terlihat cukup tegang.
Karena selama ini Tommy yang terus meyakini Jen akan perasaannya, namun tanpa sepengetahuan Jen mereka pun telah kembali menjalin hubungan.
Aku pergi ke sana dulu yah kak Carisya dan bang Tomm…
“Oke Jen,” ujar Carisya, sementara Tommy hanya terdiam.
“Perasaan seorang laki-laki memang begitu cepat berubah…” gumam Jen sembari meneguk soft drink yang the tersedia di hidangan makan malam tersebut.
“Janet, sini aku kenalin sama keluargaku…---“ ujar Alfaro lalu mengenalkan Jen pada anggota keluarganya.
Setelah satu jam lebih, acara pun berakhir dan semua tamu mulai pergi satu per satu.
Jen, kita pulang bareng yah.
Lagian aku juga mau main ke rumah oma Carla.
Ahh gak usah kak, aku pulang bareng kak Alfa aja.
Jen, janagn begitu..
Kita kan akan menjadi keluarga. Carisya pun merangkul Jen menuju loby utama gedung acara.
**
Sayang, tadi aku ketemu teman-teman kuliah kita dulu loh terus kami..--- suasana canggung bagi Jen, karena berada di antara dua pasangan yang sedang dilanda bunga-bunga cinta.
Beberapa saat kemudian…
“Kediaman oma Carla”
Oma, aku kangen oma.. Carisya berlari menuju oma Carla, sementara Jen terlihat kurang nyaman dengan suasana tersebut.
Semuanya, aku mau istrahat dulu yah karena besok mau lari pagi..
Oke bye Jen.. ujar Carisya.
Sebuah perasaan yang tak menentu didalam pikiran maun perasaan Jen. Saat melihat Tommy terus bermesraan bersama Carisya.
“seharusnya aku sadar, kalau kehadiran para lelaki memang seperti angin lalu saja. Aku gak seharusnya berharap tapi kenapa rasanya sedikit sesak banget..” gumam Jen di dalam kamar pribadinya.
Tommy sejak lama telah mencintai Jen, namun Jen akhirnya bersama Heru. namun, setelah menjalani hubungan selama beberapa tahun, begitu banyak permasalahan yang terjadi didalam hubungan tersebut. Hubungan Jen bersama Heru pun sempat kandas, dan saat hubungan mereka terjalin, semua pun kembali pupus karena perjodohan Heru bersama Carisya.
Setalah kandasnya hubungan bersama Heru, Jen pun sedikit meresponi perhatian Tommy padanya setelah sekian lama, namun akhirnya Tommy kembali bersama Carisya. Kini Jen berada dalam kesendiriannya dan entah siapakah pria yang akan menjadi kekasih sejatinya…
Pict bonus, penambah imajinasi pembaca