Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Sebatas drama pernikahan



“Beloved Mister”


Author by Natalie Ernison


Perusahaan tempat Jen kini bekerja, membuat sebuah pertemuan antar perusahaan-perusahaan ternama dari kota A. Mereka mengadakan acara rapat pertemuan di sebuah hotel berbintang. Untuk hal kemewahan, sudah tak perlu lagi dipertanyakan.


Dalam kesempatan kali ini, Jen dipercayakan sebagai pemimpin rapat besar tersebut, tentu saja semua mata pria-pria tertuju padanya.


Termasuk satu orang pria begitu memuji penampilan memukau dari Jen. Bukan hanya cantik anggun, elegant, tetapi juga cerdas. Tak ada yang mengira jika Jen harus dipertemukan dengan pria masa lalunya.


~ ~ ~


Heron menatap Jen dengan begitu lekat, sedangkan Jen masih berjuang untuk tetap bersikap biasa. Meskipun, kenyataannya Jen sangat terkejut juga ada rasa canggung. Mengingat semua yang telah mereka lalui bersama, sungguh bukan hal yang mudah bagi Jen untuk menghadapi kenyataan ini.


“Mr. Tyson, kau memang tidak pernah salah memilih rekan kerja yang sangat mempuni seperti Nona Jannet ini.” Puji Heron sembari mengarahkan gelas minuman miliknya pada Mr. Tyson dan juga Jen.


Mr. Tyson terkekeh saat mendengar pernyataan dari Heron. “Tentu saja tuan Heron. Bukankah anda juga seperti itu, bukan hanya rekan kerja tetapi juga rekan seumur hidup anda sangat luar biasa.” Puji Mr. Tyson


“Selamat malam semuanya, apakah aku telah melewatkan acara malam ini?” ujar seorang wanita yang baru saja ditengah-tengah mereka. Jen langsung melayangkan pandangannya pada sosok wanita yang baru saja tiba.


Wanita itu ialah Zharen. “Hai Nona Jannet Mercya, penampilanmu malam ini sungguh sangat luar biasa,” ucapnya sembari menepuk lengan milik Jen. Jen membalasnya hanya dengan senyuman.


Jen hanya tersenyum saat menerima segala pujian orang-orang sekitar. “Luar biasa, Zharen sungguh semakin luar biasa semenjak menjadi istri dari tuan Heron.” Tukas Mr. Tyson


Jen terkejut, dan langsung menatap ke arah Heron dengan tatapan penuh pilu. Sebisa mungkin Jen tetap memilih untuk tersenyum, karena memang semua hanyalah kisah masa lalu antara dirinya juga Heron.


“Terima kasih atas pujian anda, tuan Tyson,” balas Heron sembari membalas tatapan Jen. Bahkan sedari tadi, tatapan lekat Heron tak berpaling daripada Jen.


“Sayang, sepertinya malam ini kita harus segera pulang. Kasian bayi kita,” rengek Zharen tepat dihadapan Jen juga Mr. Tyson.


Wow… “Apakah Zharen telah mengandung?” tukas Mr. Tyson antusias.


Zharen membelai perut rata miliknya sembari berkata, “Yah tuan Tyson. Ini adalah kehamilan keduaku, karena yang pertama gagal,” ucapnya dengan wajah sendu.


Masih dalam suasana canggung, Jen terus menatap ke arah Zharen dan menatap perut milik Zharen. “Apakah aku harus bersyukur, jika wanita ini akhirnya bisa memiliki calon bayi.” Batin Jen. Jen teringat akan tradisi mengerikan keluarga Danish.


“Aku akan pergi ke sana, kalian silakan lanjutkan untuk berbincang-bincang.” Ucap Zharen, lalu meninggalkan mereka bertiga.


“Tuan. Tyson, Nona Jannet, aku juga harus segera kembali bersama istriku. Sampai jumpa,” ucap Heron pada Jen juga Mr. Tyson.


“Baiklah tuan Heron,” balas Mr. Tyson sembari berbicara dengan rekan lainnya.


“Sepertinya hidupmu sangat bahagia selama beberapa tahun ini, selamat atas semua pencapaianmu.” Ucap Heron disela langkahnya saat melewati Jen.


Jen terdiam mematung saat mendengar ucapan dari Heron. Darah dalam tubuhnya seakan mengalir deras dan sedikit memanas. Jen menoleh ke arah belakang dan melihat betapa mesranya Heron bersama sang istrinya.


Jen sangat sesak akan apa yang telah Heron katakan padanya. Pernyataan Heron seolah-olah menyatakan bahwa, Jen sangat bahagia selama beberapa tahun terakhir. Namun, Heron tidak pernah tahu betapa mengerikannya perjalanan hidup yang telah Jen lalui beberapa tahun terakhir ini.


Jika Jen bisa memilih, maka Jen akan memilih tetap bersama Heron. Namun, kehadiran Rezo telah mengubah segalanya. Bahkan saat Jen kembali ke kota A, smeuanya telah berubah dan Heron yang telah bertunangan dengan wanita lain. Jen tidak mungkin merusak hubungan Heron hanya karena rasa cintanya.


“Apakah ini yang dinamakan cinta tak mampu untuk meraih dan memiliki…” Batin Jen. Rasa sesak itupun kembali muncul.


***


“Perusahaan S”


“Permisi tuan Tyson, ada tamu yang ingin bertemu dengan anda juga Nona Jannet.” Ucap salah seorang pegawai. Mr. Tyson bersama Jen pun pergi untuk menemui seseorang tersebut.


“Mr. Tyson,” ucap seorang pria yang telah menanti kedatangan mereka.


“Terima kasih banyak atas kesedian dari tuan Heron, “ ucap Mr. Tyson menyambut kedatangan tamu pentingnya yang ialah Heron.


Heron datang ke perusahaan milik keluarga Tyson untuk melakukan kontrak kerjasama. Mr. Tyson sedikit heran dengan sikap Heron kali ini, karena Heron dikenal sebagai sosok yang sulit diajak kerjasama. Berbeda dengan dirinya kali ini, sungguh hal yang mengejutkan tentunya.


“Tuan Heron silakan nikmati hidangan yang ada, aku akan keluar.” Ucap Mr. Tyson sembari membawa beberapa berkas penting, dan meninggalkan Heron bersama Jen seorang.


Dalam beberapa detik, suasana hening tanpa ada sepatah katapun terucap. Terdengar hanyalah suara degup jantung Jen yang kian memburu.


“Apakah aku sudah sangat terlambat, jika aku baru datang kembali?” ucap Heron memecahkan keheningan diantara mereka. Jen terdiam membisu, tak tahu harus berkata apa pada Heron.


“Nona Jannet Mercya, apakah aku sudah sangat terlambat sekarang. Apakah semua menjadi kesalahanku sepenuhnya?” Heron menatap ke arah Jen, memandangi Jen dari ujung kaki hingga ujung rambut.


“Aku sungguh tidak mengerti apa yang anda katakan, tuan Heron,” balas Jen gugup. Sungguh suasana yang sangat canggung.


“Andai kau tahu, betapa menderitanya hidupku saat kepergianmu dari kastil. Aku bahkan tak berhenti untuk terus mencari keberadaanmu, hingga akhirnya aku mulai kelelahan. Namun tidak dengan rasa cintaku, Jannet.” Tukas Heron.


“Semua sudah berlalu, dan tidak mungkin kembali seperti dulu. Lebih baik anda urus kehidupan rumah tangga anda saat ini.” Balas Jen acuh tanpa ingin membalas tatapan Heron.


“Tentu saja aku mengurus rumah tanggaku. Yah, rumah tangga yang tidak bahagia dan penuh drama bisnis.” Tukas Heron dengan suara penuh penekanan.


Jen memilin ujung blazer miliknya. “Anda telah memilih untuk menikah, maka pertanggungjawabkan pernikahan itu hingga akhir.”


“Sekalipun aku tahu bahwa pernikahanku hanyalah karena bisnis dan generasi. Lalu, seandainya semua sudah tercapai, lalu aku sendiri. Apakah kau akan tetap mengabaikanku?” Tukas Heron lagi.


“Ah-aku… tentu saja kita tidak mung-kin. Maksudku, kau..” balas Jen dengan terbata. Bahkan Jen sempat bingung akan apa yang telah ia ucapkan.


“Mengapa kau tidak datang menemuiku Jannet?”


“Aku tidak bisa, dan anda sudah bersama wanita lain.”


“Bukankah kau tahu seberapa besar rasa cintaku padamu Jannet. Apakah kau sangat suka membuat seorang pria gila karenamu. Bahkan hingga saat ini, aku masih tidak akan rela jika kau menjadi milik orang lain.” Tukas Heron, lalu meraih tengkuk leher milik Jen secara tiba-tiba.


“Apakah anda gila tuan! Anda sudah memiliki istri, jangan sembarangan!” Pekik Jen sembari mendorong tubuh Heron darinya.


“Tidak akan lama lagi, aku dan Zharen akan saling melupakan. Apakah kau bisa menungguku menjadi seorang duda?”


“Anda sudah gila! Gila!” Pekik Jen lirih. Ucapan Heron sukup menyesakkan bagi Jen. Sungguh tak dapat dipercaya.


“Apakah pernikahan hanyalah permaianan bagi anda!” ucap Jen lirih dan tetap berada dalam lingkaran tangan milik Heron.


“Tidak bagi kita. Aku sangat ingin hidup bersamamu. Tapi, apakah kau pernah memikirkan hal itu… ataukah aku hanya seorang pria baji**an bagimu..”


“Aku…”


****