Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Belum menyadarinya



”Beloved Mister”


Author by Natalie Ernison


Terjadi pertengkaran antara Jannet dengan Vestus. Semua berawal dari persoalan pekerjaan tambahan yang secara tiba-tiba Jannet terima dari sang direkturnya, Vestus. Disisi lain Jen bisa saja mencari pembelaan dari Mr. Tyson sebagai pemilik perusahaan. Namun, karena Jen ingin bersikap profesional. Hal itu ia usahakan untuk menyelesaikannya secara mandiri.


~ ~ ~


Akhirnya, Jen bertemu dengan keluarga besar dari Mr. Tyson juga keluarga Juano. Kehadiran Jen sangat disambut baik oleh kedua belah pihak keluarganya. Tak peduli seperti apa latar belakang kelaurga Jen yang bukanlah dari kalangan bangsawan. Terlebih lagi, Jen hanyalah seorang yatim piatu.


Namun, hal itu tidak membuat keluarga Rhepen memandang rendah dirinya. Justru mereka semakin menyayangi Jen, layaknya calon keluarga terbaik bagi keluarga Rhepen.


”Malam ini sangat menyenangkan,” ucap Jen, saat Mr. Tyson memghantarkan kepulangannya ke mansion kediaman keluarga Juano.


Mr. Tyson tersenyum sembari berkata, ”akulah yang seharusnya berterima kasih. Karena, kau sudah bersedia menemaniku dan berkenalan dengan keluargaku,” ucap Mr. Tyson.


”Anda terlalu baik padaku, yang hanyalah sebagai bawahan. Jujur, aku tidak dapat membalas semua budi anda, tuan Tyson." Ucap Jen dengan raut wajah sendunya.


”Bisa membuat kau tersenyum, sudah cukup melegakanku. Aku hanya ingin, tuan muda Rezo merasa bahagia di alam sana.” Ucap Mr. Tyson dan membuat Jen tersadar, jika semua hanyalah demi Rezo.


”Oh.. anda tidak perlu cemas. Tidak perlu melakukan hal banyak padaku, hanya karena pesan dari Rezo. Semua sudah anda laksanakan, bukan?” balas Jen dengan nada terbata.


Kali ini Jen menyadari bahwa, semua kebaikan maupun kepeduliaan Mr. Tyson hanya karena Jen sahabat baik dari Rezo.


”Aku hanya melakukan yang terbaik bagi tuan muda Rezo,” ucap Mr. Tyson.


Jen tersenyum sendu, seakan-akan pernyataan dari Mr. Tyson mengecewakan harapannya. Harapan seperti apa itu, Jen sendiripun belum mengetahui secara jelas.


Yah, harapan akan semua perhatian, kepeduliaan dari Mr. Tyson selama ini. Namum, semua hanyalah karena balas budi pada Rezo. Cukup menyesakkan bagi Jen, Jen sudah sempat salah tanggap akan semua itu.


Namun, keberanan sebenarnya tentang perasan Mr. Tyson, hanya Mr. Tysonlah yang mengetahuinya. Karena Rezo adalah rekan baiknya, bahkan sejak kecil mereka selalu bersama. Hal itulah yang membuat Mr. Tyson belum yakin akan perasaannya.


***


”Mansion kediaman Juano family”


”Ternyata aku terlalu banyak berpikir. Apa yang kuharapkan...” ucap Jen dikala kesendiriannya di dalam kamar pribadinya.


Setelah apa yang ia dengarkan dari Mr. Tyson, Jen mulai menyadari kebenaran yang sebenarnya akan hubungannya bersama Mr. Tyson.


Meraih ponsel miliknya, ”besok aku akan pergi ke kedai. Aku akan mengambil cuti untuk mengurus usahaku..--” Ucap Jen pada salah seorang kepercayaannya yang kini mengurus kedai Juano.


Kedai Kopi Juano, kini bukanlah kedai biasa. Namun, begitu banyak perubahan dari segi dekorasi dan lainnya.


”Selamat siang, tuan Tyson. Siang ini aku akan pergi ke usaha kedai Juano, apakah tuan ingin pergi untuk melihat?” tulis Jen melalui pesan singkatnya.


Drrttt... Satu pesan belum dibaca...


”Maaf, Nona Jen. Aku akan ada kesibukan lain hari ini. Mungkin, dilain waktu saja.” Mr. Tyson.


Hmm.. mengehela napas sejenak. ”Mungkin, sudah tidak seperti dulu lagi,” ucap Jen. Lalu bergegas pergi ke kedai usaha yang kini ia kelola.


”Paman, tolong antarkan aku ke kedai. Mungkin, aku akan menginap selama beberapa hari disana.” Ucap Jen pada sang supir pribadinya.


”Baik, nona muda Jen.” Balas sang supir, lalu bergegas menghantarkan Jen ke kedai tersebut. Jaraknya pun, tidaklah dekat. Karena, kedai tersebut berada di area kota D.


***


Kota D


”Kedai Coffee Juano”


”Selamat datang kembali, Nona Jen” sapa para pegawai, juga manager bagian kedai yang saat ini sudah mulai terlihat begitu maju.


Jen memandangi sekeliling ruangan, dan dekorasi yang begitu memikat.


”Amazing, aku suka.” Puji Jen, sembari tersenyum pada sang manager bagian pengelolaan kedai.


Jen duduk berhadapan dengan manager kepercayaannya untuk membicarakan beberapa hal.


”Nona, bukankah kedai ini sudah cukup besar. Mengapa, tidak ubah saja menjadi Cafe. Mungkin jauh lebih menarik!” Saran sang manager.


Jen tersenyum pada managernya. ”Aku pun sangat ingin menyulap tempat ini menjadi tempat yang lebih menarik. Namun, jika dari segi brand nama... aku tidak bisa melakukan perubahan apapun. Karena, ini adalah peninggalan dari Rezo.” Jelas Jen pada sang managernya.


Sang manager muda tampan tersebut pun mengangguk sebagai tanda, bahwa ia mulai mengerti akan jalan pikiran dari Jen.


”Baiklah, aku mengerti Nona. Apakah, Nona berniat untuk menginap di sini?” tanyanya.


Manager Sammie



>>>


Tempat usaha bisnis tersebut, telah memiliki ruangan istrahat bagi para barista, maupun pegawai lainnya. Sehingga ruangan kamar bagi Jen pun telah tersedia disana.


Jen berjalan ke arah kamar yang akan ia tempati sebagai tempat istrahat dalam beberapa hari ke depan.


Dudul di pinggir kasur, dan meraih sebuah bingkai foto. Membelai pelan permukaan kaca bingai foto tersebut. Tanpa sadar, air mata Jen pun menetes ke atas permukaam kaca bingai foto yang kini berada di pangkuannya.



”Rezo, aku merindukanmu. Coba lihat, bisnis kedai kita sudah kian berkembang. Apakah, kau tidak ingin merayakannya bersamaku?” ucap Jen dengan air mata berlinang.


Tatkala mengingat kembali, bagaimana kerasnya perjuangan Rezo untuk membangun bisnis kedai Coffee Juano.


Setelah beberapa menit kemudian, seseorangpun mengetul pintu kamar tempat Jen kini berada.


”Maaf mengganggu istrahatmu, Nona. Tapi, malam ini, kita akan pergi ke tempat pemesanan kopi.” Ucap sang manager muda, Sammie.


”Baiklah, aku akan bersiap-siap terlebih dahulu.”


Setelah bersiap-siap, Jen pun pergi bersama Sammie ke sebuah tempat pemesanan kopi terbaik di kota D.


***


Kurang lebih lima belas menit, merekapun tiba di tempat pemesanan kopi terbaik kota D.


”Apakah kau selalu memesan kopi di tempat ini?”


Sammie mengangguk, ”benar Nona. Ini adalah tempat pilihan dari tuan Rezo. Jadi, aku hanya melanjutkannya saja.” Ucap Sammie sembari menghirup wanginya aroma kopi terbaik yang kini mereka nikmati.


”Paman, seperti biasanya aku akan memesan dalam jumlah banyak,” ucap Sammie pada salah seorang pemilik kebun kopi terbaik kota D.


”Tentu saja nak, aku akan memberikan bonus kopi produk terbaru kami.” Ucap sang pemilik kopi.


Jen tersenyum puas, dan sangat menikmati kegiatan mereka sejak sore hingga malam ini.


Selama beberapa hari, Jen terus berada di kota D. Tiba saatnya, bagi Jen untuk kembali. Kembalinya ke kota C, tentu tidak sendiri. Sammielah yang menemani Jen dalam perjalanan pulang ke kota C.


***


Kota C


”Tuan Sam, sepertinya kita harus berhenti disalah satu pusat perbelanjaan. Aku ingin membelikan beberapa item barang,” ucap Jen pada Sammie.


”Baiklah, Nona Jen.” Balas Sammie, sembari memutar arah mobil yang kini ia kendarai.


Keduanya pun terlihat sibuk memilah barang-barang yang akan dibawakan bagi Nyonya Juan, dan para pelayan mansion. Jen tak pernah melupakan semua pekerja mansion, dan Jen sangat peduli pada mereka.


”Tuan Sam, ini bukankah sangat cocok bagi nenek Juan?" ucap Jen sembari menunjukkan sebuah piyama yang akan ia beli bagi nenek Juan.


Namum raut wajah Jen seketika berubah, tatkala melihat seorang pria yang sangat ia kenal, sedang bersama seorang wanita.


”Hai Nona Jen!” Seru sang pria tersebut, yang ialah Mr. Tyson.


”Hallo tuan,” balas Jen. Namun, tatapan matanya kini terfokus pada sosok wanita cantik yang kini bersama Mr. Tyson.


"Sampai jumpa, Nona Jen,” ucap Mr. Tyson lalu pergi begitu saja dan terlihat begitu akrab bersama sang wanita yang berjalan bersamanya.


Huhhh... Menghela napas sejenak, lalu tersenyum penuh makna, seakan ada sesuatu yang begitu sulit untuk diungkapkan.


Keduanya sedang terjabak dalam perasaan yang tak menentu. Mr. Tyson sendiri menyadari akan posisinya yang ialah seorang penjaga bagi Jen, sebagai pengganti posisi Rezo.


Mr. Tyson sendiri pun sangat tahu, bagaimana cintanya Jen pada sosok masa lalunya, Heron. Mr. Tyson beranggapan bahwa, Jen belum bisa move on, dan tak ingin jika ia hanya sekedar pelampiasan semata.


Begitu pula dengan Jen, Jen hanya beranggapan bahwa Mr. Tyson hanya menganggapnya sebatas rekan kerja. Terlebih lagi, Jen merasa kurang percaya diri. Mengingat, Mr. Tyson telah mengetahui tentang hubungan masa lalunya bersama Heron. Hal itu pun sangat menjadi cambuk bagi Jen.


Akankah kedua insan ini mampu memyadari akan perasaan mereka yang sesungguhnya?


****