
“Kediaman Jen”
Drrttt… (suara gentaran ponsel Jen)
Iya hallo by, malam ini??
Hmpp, iyaa aku siap-siap dulu..
Segera setelah menerima telepon dari Abyan, Jen pun bergegas bersiap-siap untuk pergi bersama Abyan.
Beberapa saat kemudian…
Tibalah sebuah mobil ayla berwarna hitam di depan gang rumahnya.
“Hai Jen..” sapa Abyan dari balik kaca mobil miliknya.
Kenapa gak bawa motor by?
“Iya, kan ini sudah malam Jen..”
Kita mau kemana by?
“Mau tahu, atau mau tahu banget??”
Ishh, aby, kamu tuh yah… ujar Jen dengan senyum tersipunya.
_______________*_______________
“Kita sampai Jen.. ayo turun my lady…”
Hus, kamu tuh yah..”
“Resto ala Jepang”
“Jen, pesanannya sebentar lagi datang yah..”
Oke by…
Sedang asyik berbincang-bincang, secara tiba-tiba raut wajah Jen pun berubah. Senyumannya yang sedari tadi tak kunjung redup, kini mulai berkurang secara perlahan.
Dari seberang meja makanya bersama Abyan, terlihat seorang pria bersama seorang wanita yang mengenakan dress berwarna merah. Posisi duduk Jen berhadapan tepat searah dengan si pria tersebut. Sedangkan Abyan, posisi membelakangi dua pasangan tersebut. Si pria itu pun terus menatap Jen tanpa berpaling sedikit pun.
By, kamu tahu banget kalau aku suka menu makanan disini..
“Iya jelas aku tahu Jen, ohh iya itu makanan tambahannya silakan ambil.”
Saat Jen beranjak pergi dari kursinya, tanpa sengaja Abyan menoleh ke belakang hendak mengambil botol saus. Saat hendak meraih botol saus tersebut, tatapan Abyan pun seketika terfokus pada kedua pasangan yang berada di belakangnya.
“Pak Herruon…” ujar Abyan menyapa si pria tersebut, yang merupakan Herruon/ Heru, si dosen undangan yang sering kali memberikan mata kuliah tambahan.
“Hallo Laska..” balas Heru menyapa, dengan menggunakan nama tengah milik Abyan.
Iya pak.. ujar Abyan tersenyum, lalu menyalami sang dosen beserta si wanita yang tengah bersamanya.
By, aku udah ambil nih…-- saat sedang bertegur sapa, Jen pun kembali dari kasir dengan membawakan nampan.
“Ohh, Laksa datang bersama pacar kah??" ujar Heru dengan memberikan pertanyaan yang cukup menyebalkan bagi Jen.
Ohh, kami masih belum pacaran pak, mungkin masih tahap proses. Tukas Abyan dengan terkekeh, dan sengaja membuat pernyataan seperti itu.
“Kenapa nggak gabung saja meja makannya..” ujar Heru mencoba memberikan sebuah ide.
Ahh, apakah nggak mengganggu kencan bapak?? ujar Abyan dengan nada menggoda Heru.
“Tidak masalah, anggap saja kencan buta..” tukas Heru dengan tatapan tajamnya mengarah ke arah Jen.
Mereka pun mulai saling berbincang-bincang satu sama lain, Jen pun bersikap seolah tak pernah terjadi hal apa pun. Namun, sorot mata Heru tak kunjung beranjak dari Jen, dan cukup membuat Jen merasa sedikit canggung.
“Laksa, kapan rencana melamar nona Janet??”
Ahaha, mungin belum pak, karena calonnya saja masih enggan sepertinya. Balas Abyan dengan sedikit gugup, takut menyinggung perasaan Jen.
Sudah malam, kami harus segera pulang.
Silakan lanjutkan kencannya pak. Ujar Jen dengan wajah tersenyum, lalu memberi salam pada Heru dan si wanita yang tengah bersama Heru.
“Oke, tolong jaga baik-baik si nona Jenet yah Laksa..”
Oke siap pak… jawab Abyan singkat.
Setelah makan malam selesai, Jen pun bergegas meminta Abyan untuk segera beranjak dari resto tersebut.
“Jen kamu kenapa?”
Nggak apa-apa by, hanya aja aku cape banget…
“aku jadi ngerasa bersalah Jen, sorry yah aku ngajak jalan saat yang nggak tepat banget.”
Nggak by, aku senang kok malam ini.. tukas Jen dengan wajah tersenyum sendu.
Usai pertemuan pada makan malam yang tanpa disengaja tersebut, sikap Jen menjadi cukup dingin pada Abyan.
“Kenapa Jen berubah? apakah gara-gara makan malam itu.. apa aku sudah salah ngomomg.." gumam Abyan yang terlihat cukup kebingungan menghadapi sikap Jen yang mulai tak seperti dulu lagi.
>>”Bang asing xxx”
“Jeannet, kenapa sekarang kamu jadi lebih telat pulang??” tanya salah seorang rekan kerja Jen.
Iya aku lebih menikmati pekerjaanku disini. Tukas Jen sembari menyantap mangga segarnya.
“Ohh syukurlah Jen kalau kamu betah bekerja, karena gak semua orang lohh bisa betah kayak kamu..” ujar rekan kerja Jen, yang sudah bersamanya selama hampir tiga tahun terakhir.
“Kediaman Jen”
Hmpppp…
“Nggak kerasa, besok umurku sudah dua puluh lima (25) tahun…” gumam Jen dalam sebuah kamar pribadinya, sembari memeluk boneka beruang pemberian rekan kerjanya beberapa tahun lalu.
“Sekarang sudah pukul. 00.20, tanggal 20 Oktober 20xx dan umurku sudah dua puluh lima tahun.
Setiap tahun sama aja begini, ucapan special dari bapak dan ibu pun selalu telat..” keluh Jen sambil bersandar di dinding kamar pribadinya.
Rasa sedih mulai muncul kembali, dimalam pergantian usianya yang ke dua puluh lima tahun. Setiap waktu pergantian tersebut, hanya menerima ucapan dari kedua orang tuanya. Ucapan tersebut pun selalu melewati tanggal kelahirannya. Selama menjalin hubungan bersama Heru, selalu melewati tanggal ulang tahunnya, dan sempat menjalin hubungan pun hal itu terjadi lagi.
Bagi Jen, hari ulang tahunnya tidaklah terlalu penting, seperti kebanyakan orang-orang pada umumnya yang sangat menantikan hari ulang tahun. Semua berlalu begitu saja, tanpa ada momen terindah yang pernah terjadi dihari ulang tahunnya.
Keesokkan harinya…
Setelah menyelesaikan segala pekerjaan yang cukup menumpuk, Jen pun pulang kembali ke rumah seperti biasanya.
Drrtttt… “Jen, sore ini tolong datang ke kedai kopi Franklyn yah. Aku tunggu, Abyan.”
“Abyan, tumben banget… ohh iya sih, kami juga udah lama ga k pernah ketemu..” gumam Jen sembari memesan taksi online, dan bergegas menuju kedai kopi milik Abyan.
Tak lama setelah memesan taksi online, taksi yang ia pesan pun tiba.
Selama dalam perjalanan, Jen hanya menyandarkan diri di kursi taksi. Memenjamkan matanya sejenak, melepaskan seala keletihannya.
“Non, sudah sampai.” ujar sang supir taksi online.
Ohh iya pak, maaf saya ketiduran. Ini pak ongkosnya.
Karena kelelahan, Jen pun terlelap sejenak di dalam sebuah taksi online, dan kini Jen sudah tiba di kedai milik Abyan.
______________**______________
“Kedai kopi Franklyn”
Permisi, mas Laksanya ada? ujar Jen menyapa para barista dan beberapa pelayan kedai kopi tersebut.
“Silakan masuk nona Jeannet..” ujar salah seorang barista.
“Tadhaaa…. plok plok… suara kejutan dan beberapa taburan rumbaian kertas-kertas warna warni.
“Happy birthday for you Jeannetly Marcya… and this is your day..” sebuah ucapan selamat ulang tahun dari Abyan bersama para rekan baristanya.
Ahhh, ini..—Jen begitu tersanjung atas kejutan yang telah Abyan selama berhari-hari, dibalik segala kesibukkannya.
“Sorry aku kasih ucapannya telat Jen..” ujar Abyan dengan senyuman manisnya, sembari mendekap seikat bunga mawar merah segar.
Ini kan masih tanggal 20 Oktober by. Balas Jen, dengan wajah yang tersipu.
“Seakarng sudah dua puluh lima tahun yah Jen, ini buat kamu.” Abyan menyodorkan seikan bunga mawar merah pada Jen.
Thank you so much by…
“You’re welcome Jen..” balas Abyan sembari memberikan rangkulan persahabatan, walau sebenarnya itu rangkulan kasih sayangnya yang belum mampu terungkap.
“Oke guys, silakan nikmati makanannya dan hari ini free coffee…”
Yeahh… coffee gratis..--- riuh suasana kedai kopi milik Abyan.
Kamu kok repot-repot begini by, kamu rugi tahu jadinya… ujar Jen dengan tersipu.
“Jen, ini bukan apa-apa kok, kamu bahagia kan malam ini??”
Iya, aku bahagia banget by.. tukas Sunny dengan senyumannya yang bak bunga sedang mekar merekah.
“Jen, aku…--“ Abyan yang mencoba ingin mengutarakan sesuatu
Mana pacarmu by, kenapa gak bawa ke sini… tukas Jen, yang sontak membuat Abyan terhenti berkata-kata. Sebuah kalimat yang hampir saja keluar dari mulutnya pun tersentak, saat menerima pertanyaan dari Jen.
Niat hati ingin mengutarakan perasaannya di hari ulang tahun Jen, namun justru menerima pertanyaan yang membuatnya kehilangan selera makan. Semoga bisa mengutarakan dengan lebih mantap lagi yah babang barista ganteng.
Malam special bagi Jen, namun malam pilu bagi Abyan, karena kegagalan mengutarakan perasaannya.
Bersambung...