Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Menjadi pria masa depanmu



”Beloved Mister”


Author by Natalie Ernison


Jannet mendapati Mr. Tyson bersama seorang wanita cantik, tepatnya di area Pusat perbelanjaan. Saat Jannet sedang mencari beberapa item barang bersama manager mudanya, Sammie.


~ ~ ~


”Perusahaan Cabang S”


”Semua pegawai sekalian, mohon perhatiannya! Hari ini, owner perusahaan Cabang S akan datang berkunjung.” Ucap salah seorang asisten Mr. Tyson.


Mendengar hal itu, Jen hanya terdiam seakan tidak peduli akan semua yang menyangkut Mr. Tyson.


Vestus memperhatikan Jen yang terlihat tak peduli dengan pengumuman yang baru saja diumumkan.


Setelah menjelang sore hari, barulah Mr. Tyson tiba di perusahaan cabang S.


Suasana secara tiba-tiba sunyi, seakan-akan tak ada penghuni. ”Apa yang terjadi diluar sana?” ucap Jen penuh rasa penasaran.


”Nona Jen! Nona Jen!” Seru salah seorang pegawai dengan tergopoh menghadap ke arah Jen.


”Bicaralah perlahan, ada apa denganmu?” tukas Jen heran.


”Nona mohon untul segera ikut bersamaku!” Ajaknya sembari manarik tangan Jen.


”Ada apa denganmu, hei!” Pekik Jen heran.


>>>


Baru saja Jen tiba di sebuah aula utama, yang biasa digunakan sebagai tempat pertemuan berlangsung.


Semua pegawai berada di aula tersebut, berdiri menghadap Jen.


Ahkk... pekik Jen, saat seseorang meraih pergelangan tangannya dan meninggalkannya ditengah keramaian aula tersebut.


”Hei, apa yang kalian..---” ucapan Jen tertahan, tatkala melihat seorang pria melangkah ke arahnya.


”Will you marry me?” ucap Mr. Tyson yang melangkah ke arah Jen dengan posisi berlutut.


Berlutut dengan membawa kotak berwarna coklat, dengan cincin berlian sudah terlihat berlilau di sana.



”Tuan Tyson, anda...” ucap Jen dengan nada terbata.


”Jika kau menerima lamaranku, kenakaan cincin ini pada jari manismu, jika tidak... ambil dan lempar kotak ini ke lantai.” Tukas Mr. Tyson, dan masih berlutut, menunduk ke bawah. Menungguh respon terbaik dari Jen sore ini.


Seorang wanita berdiri di seberang tempat Mr. Tyson kini berlutut, wanita itu ialah wanita yang saat itu pergi bersama Mr. Tyson. Namun, nyatanya, wanita itu ialah saudara perempuan Mr. Tyson, anak dari sang pamannya.


Jen menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Hal ini sungguh diluar dugaan.


Apakah Mr. Tyson telah menyiapkannya sejak lama, tapi Jen sempat merasa hopeless akan kisah cintanya.


Perlahan-lahan, Jen meraih kotak tersebut.


Bug


Suara bantingan kotak cincin tersebut. Mr. Tyson sudah pasrah akan semua pilihan Jen. Dengan tersenyum, Mr. Tyson mendongak ke atas.


Saat melihat ke arah Jen, Mr. Tyson sungguh tak menyangka.


Jen tersenyum ke arahnya, sembari memperlihatkan cincin berbentuk lambang cinta berhiaskan berlian sudah melingkar di jari manisnya.


”Yes, I want to be your wife” ucap Jen dengan air mata haru bahagianya.


Riuh tepuk tangan dan teriakan bahagia dari bahagianya mereka pun memenuhi aula utama tersebut.


Mr. Tyson berdiri, lalu meraih tengkuk leher milik Jen.


Keduanya saling bertatapan, dengan mata yang berkaca-kaca.


”Aku mencintaimu,” ucap Mr. Tyson.


Hampir saja ia kelepasan lalu mendaratkan kecupannya di bibir milik Jen. Namun, kecupan itupun mendarat di kening Jen.


”Aku tidak ingin mengambil hal manis dan berharga wanita ini sebelum kami dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri...” batin Mr. Tyson.


***


”Mansion kediaman keluarga Juano”


”Tuan Tyson akan membawaku kemana?” ucap Jen dengan raut wajah bahagianya.


”Ke suatu tempat yang rahasia,” balas Mr. Tyson sembari merangkul Jen menuju mobil sport mewah miliknya.


”Ingat pesan nenek, jangan pulang saat larut malam!” Peringat Jen dengan nada manjanya.


”Tentu saja, Nona muda Juano,” ucap Mr. Tyson sembari mengacak gemas rambut milik Jen.


”Tuan Tyson, anda membuat riasanku berantakan,” dengus Jen sebal. Mr. Tyson hanya terkekeh melihat respon menggemaskan wanita pujaannya.


***


Keduanya pun tiba di sebuah jembatan cinta. Disebut jembatan cinta, karena banyakan pasangan muda-mudi yang mengikat janji di jembatan tersebut. Semua mempercayakan bahwa pasangan yang berkunjung ke tempat tersebut ialah pasangan terakhir mereka. Karena sudah banyak pembuktian yang terjadi.


”Woahhh... indah sekali...” ucap Jen sembari merentangkan kedua tangannya dan menikmati udara malam nan sejuk malam itu.



”Kau suka?” ucap Mr. Tyson, sembari mendekap pinggul milik Jen dan menghirup aroma wangi dari Jen.


Membalikkan Jen menghadap dirinya. ”Terima kasih atas segalanya,” ucap Mr. Tyson sembari menatap dalam kedua mata milik Jen.


Ahk... Pekik Mr. Tyson sembari melepaskan pelukannya pada Jen.


”Ada apa tuan, apakah aku membuat anda tidak senang?" tanya Jen heran.


”Aku hanya berusaha mengendalikan naluri priaku. Aku tidak ingin melakukan hal lebih padamu, sebelum kau sah menjadi istriku.” Tukas Mr. Tyson


Jen hanya tersenyum dan tidak menyangka akan apa yang ia dengarkan malam ini.


”Terima kasih, tuan Tyson...” ucap Jen dengan tersenyum sendu. Sungguh pria yang terlalu baik, pikir Jen kala itu.


”Mari, cari tempat yang aman dan terhindar dari suasana pendukung!” Ucap Mr. Tyson lalu meraih tangan Jen untuk berjalan menyusuri area tersebut.



Jen sangat nyaman, dan tidak ada pemaksaan dari pria yang kini menggenggam tangannya.


”Sejak kecil, kedua orang tuaku tak pernah mengekangku untuk mengenal siapapun. Namun, karena mereka terlalu baik terhadapku, aku menjadi cukup takut untuk mengenal wanita. Aku takut, aku akan mengecewakan kedua orang tuaku yang sangat baik padaku.” Ucap Mr. Tyson dengan mata berkaca-kaca.


”Maaf aku belum menjadi terbaik bagi anda, tuan,” sesal Jen.


Karena, Jen ialah wanita pertama dan akan menjadi yang terakhir bagi Mr. Tyson. Mr. Tyson yang dikenal sangat pemilih dalam urusan pasangan. Ia sangat hati-hati, dan memiliki prinsip kuat. Ia tidak ingin membuat wanita menunggu lama, dan akan segera membawa ke jenjang pernikahan. Di saat ia sudah menemukan wanita yang tepat.


”Selama ini, aku terlalu fokus dengan karirku, dan tak pernah terpikirkan olehku, jika kita akan bersama.” Ucap Mr. Tyson dengan wajah sendunya.


”Aku merasa aku tidak pantas bagi..--”


Sehhhttt....


Mr. Tyson menahan ucapan Jen menggunakan jari telunjuknya. ”Kau lebih tidak pantas berucap seperti itu. Kau adalah wanita yang berharga dan tidak pantas untuk disakiti. Pria bodohlah yang telah menyia-nyiakanmu.” Ucap Mr. Tyson sembari menepuk bahu Jen.


”Aku hanya ingin menjadi pria yang pantas bagimu. Akhir pekan, kita akan memilih gaun pengantin untukmu.” Ucap Mr. Tyson dengan penuh tulus.


Hal itu justru semakin membuat air mata Jen tak hentinya menetes haru.


”Menangislah untuk sesuatu yang pantas,” ucap Mr. Tyson sembari menepuk punggung Jen, yang kini bersandar di bahunya.


”Terlalu banyak yang telah terjadi, aku tidak dapat kembali lagi...” isak Jen.


”Kau adalah kau. Masa lalumu adalah sejarah yang sudah terlewatkan. Aku adalah pria yang akan menjadi masa depanmu. Jadi, jangan pernah sesali masa lalumu yang telah membuat luka dihidupmu.” Ucap Mr. Tyson menenangkan Jen.


------



Yah mungkin, tidak hanya Jen yang memiliki kisah cinta pedih dimasa lalu. Mungkin, masa lalu itu tidaklah mudah untuk dilupakan atau diterima oleh sosok baru dimasa depan.


Namun, semua orang tidak akan ada hingga saat ini jika tanpa adanya masa lalu.


Masa lalulah yang membuat seseorang lebih kuat, lebih banyak belajar, lebih banyak memperbaiki ahklak diri.


Tidak perlu menyesal akan apa yang telah terjadi dimasa lalu, tapi belajar lah untuk terus memantaskan diri dan membenahi hidup ke arah yang jauh lebih baik lagi.


🤗🤗🤗🤗💋