
>>>Bab sebelumnya…
Jen terlihat gelisah memandangi sekelilingnya dan fokusnya pun terhenti, saat melihat seorang pria yang sedang berdiri disamping mobil berwarna hitam. Mobil honda brio berwarna hitam pekat dengan plat nomor polisi yang masih begitu Jen kenali.
Seringai senyuman tampan si duda kesayangan Jen begitu cerah saat melihat Jen yang sedang berdiri di area trotoar depan gedung tempat Jen bekerja.
“Jen, terimakasih sudah mau datang menemuiku,” ujar Heru yang berjalan menghampiri Jen.
Ada kepentingan apa pak Herruon terhormat? tukas Jen dengan nada ketus.
“Tumben kamu panggil nama lengkapku Jen?” ujar Heru sambil menyeringai.
Cepat bilang, ada kepentingan apa? ujar Jen dengan sikap cueknya.
“Jen, kalau boleh sepulang kerja aku mau ngajak kamu ketemu yah..” pinta Heru penuh harap.
Maaf, aku ada janji hari ini.. ujar Jen yang mencoba menghindai Heru.
“Jen, kapan kamu ada waktu??”
“Jeannet, dipanggil sama atasan…---“ ujar seorang rekan kerjannya dari depan loby gedung.
Ohh sorry, aku sibuk hari ini. Silakan pergi pak Herruon..
“Jeannet…--“ Jen pun membalikkan diri lalu melanjutkan langkahnya menuju gedung tempat ia bekerja. Heru hanya terdiam tanpa kata dengan raut wajah yang sendu, dan bingung harus berbuat apa lagi agar Jen mau menemuinya.
Heru menyalakan mesin mobilnya dan beranjak pergi menuju kantor tempat ia bekerja.
“Jen, aku harus gimana sekarang! aku gak bisa lepasin kamu gitu aja..” gumam Heru dengan penuh kegundahan hati, Heru masih berharap ada titik terang bagi hubungan mereka.
“Bang asing xxx”
Drrttt…
“Jen, aku tahu aku sudah banyak salah denganmu, tapi tolong jangan bersikap keras begini Jen. Ayo kita bicara secara dewasa, aku tahu aku salah dan sangat salah Jen dan memang pantas untuk menerima makianmu. Tapi, kalau kita sama-sama bersikap diam, lalu sampai kapan kita menjadi dewasa.. Oke, kalau kamu memang sudah gak bisa menerimaku lagi, tapi paling tidak beri aku kesempatan untuk bicara dan memberi penjelasan..” Herruon Daniswara”
Jen hanya berusaha menahan lirih hatinya, saat menerima dan membaca isi pesan dari Heru melalui emailnya.
“Aku gak bermaksud bersikap egois. Tapi aku sudah terlalu sakit pak..” isi lirih hati Jen yang sedang berbicara dengan dirinya sendiri. Tanpa sadar air matanya sudah mulai berlinang membasahi pipi, namun karena dalam posisi bekerja, Jen berusaha menyapuh dan menahannya.
“Oke guys, kita akan dinner bersama ya..---“
Yes, asyik asoy deh kalau gini..—
Riuh suasana kantor, saat mendengar pernyataan dari sang atasan yang akan mengadakan makan malam bersama.
Setelah sibuk menyelesaikan pekerjaan masing-masing, para pegawai maupun karyawan pun berkumpul di loby utama untuk bersiap-siap pergi menuju sebuah resto. Semua terlihat begitu antusias selama dalam perjalanan tak henti-hentinya riuh suara candaan masing-masing.
“Mall xxx”
“jadi big boss kita penggemar makanan begini yah..—“ tukas seorang rekan kerja Jen.
Sehhtt… hargai dan nikmati ajalah, bersyukur aja.. tukas seorang rekan dengan terkekeh.
“Halahh, bilang aja lu juga doyan kan makanan ginian..”
Gua udah bilang nikmati aja keles…
“Kalian kenapa sih, ribut terus..” ujar Jen disela perbincangan rekan kerjanya.
“jadi gini nona Jeannetly, rekan kita satu ini kerjaan ngeluh aja..”
Aishh apaan sih luh..---
Hahha.. udah udah mungkin si big boss doyan kali makan KFC.. tukas Jen dengan terkekeh juga.
Drrttt…
“Jen, kamu lagi makan bareng teman-teman kantormu yah? nanti pulang bareng aku aja yah..” Herruon.
“apaan sih, kok dia bisa tahu! jangan-jangan pak Heru buntutin aku lagi…” gumam Jen saat membaca email kiriman dari Heru.
“Guys, malam ini pulang masing-masing saja yah…---“ tukas sang atasan.
Okee boss… thank you atas traktirannya…---
Setelah menyelesaikan makan malam bersama, semua rekan-rekan kerja Jen pun pulang masing-masing.
Drrttt..
“Jen, aku dibelakangmu.. by Herruon..”
Seketika itu juga Jen langsung membalikkan diri, dan betapa terkejutnya Jen saat melihat Heru yang sudah berdiri dibelakangnya dengan senyuman tampannya.
Langkahnya terhenti seketika, terdiam tanpa sepatah katapun, memandang dengan tatapan sendunya.
“Jen, kamu terlihat sangat lelah..” ujar Heru yang sedang berjalan melangkah ke arah Jen dengan tatapan penuh rasa cemas.
Ahh iya, aku memang sangat kelelahan hari ini. Tukas Jen yang memundurkan langkahnya dan menjaga jarak dengan Heru.
“Aku antar pulang yah…”
Nggak usah pak, aku pulang naik taksi aja.
“ini sudah agak malam, jadi biar aku antar aja kamu Jen! oke..”
Nggak usah pak, sekali aja aku kasih tahu dan gak perlu berkali-kali.. Tukas Jen dengan nada yang lebih ketus.
Tolong hargai permintaanku!! tukas Jen dengan tatapan yang terlihat tidak menerima kehadiran Heru.
Aku bisa jalan sendiri!!!
Tukas Jen dengan nada yang sedikit membentak dan mata yang membelalak ke arah Heru.
“Jeannetly Mercya… please…!!!” Heru kembali memohon pada Jen, namun Jen sama sekali tak bergemik pada permintaan Heru.
Drttt…Bang Tommy memanggil…
Hallo bang Tommy!
Iya, aku lagi di depan loby mall xxx, ohh oke bang Tommy aku tunggu di loby utara.
“Itu Tommy Jen?? apa kalian sudah jadian??” ujar Heru yang terlihat cemburu.
Bukan urusan bapak, itu masalah pribadiku!
“Jen, percuma kamu cari pelampiasan pada Tommy yah!!” tukas Heru sambil terus mengikuti langkah Jen.
Apaan sih gak jelas banget!!
Pergi sana jauh-jauh brengsek!!
“Jen, sejak kapan kamu jadi kasar begini?” ujar Heru terheran saat mendengar kalimat kasar dari Jen, dan tak biasanya Jen bicara seperti itu pada Heru.
Aku Jeannetly Mercya, bukanlah Jen yang bapak kenal dulu lagi! jadi jangan sok deh!! Jen terlihat semakin emosi.
Tit tit tit… suara klakson mobil fortuner berwarna hitam dan tak lain, itu adalah Tommy yang baru saja tiba.
Sudah yah.. bye!!
Jen pergi begitu saja tanpa melihat kea rah Heru. Sementara Heru hanya terdiam tanpa kata dan hanya bisa menahan kegeramannya.
“Jen, kamu bicara dengan siapa??” ujar Tommy.
Oh itu orang tanya lokasi resto bang. Tukas Jen yang sedang berbohong.
“Ohh begitu.. okay Jen.
Kamu sudah makan banyak yah di kfc itu.”
Iya bang, atasanku yang ngajak kami makan bareng d kfc.
“Iya sudah kalau begitu kita langsung pulang yah, abang mau nginap di rumah oma juga..”
“Jen, abang ada berita bagus untukmu dan oma nanti pas sudah sampai rumah.”
Ohh yah.. apa itu bang Tomm!! ujar Jen yang terlihat sudah tak sabaran lagi ingin tahu.
“ada deh, sabar yah...”
Aishh abang…---
“Kediaman oma Carla”
“Kita sampai Jen, ayo masuk..” Tommy memarkirkan mobilnya ke dalam bagasi mobil.
“Selamat malam oma..” sapa Tommy dengan senyuman hangatnya dan langsung mendekap sang oma terkasih.
Tommy, kamu mau kasih oma kejutan apa malam ini?? ujar sang oma penasaran.
Iya oma, bang Tomm udah mulai rahasia-rahasiaan sekarang. Tukas Jen disela perbincangan mereka.
“Oma, Jen.
Sebenarnya aku hanya mau bilang, kalau aku naik jabatan menjadi manager xxx di kantor xx itu..”
Ohh my God…
Bang Tommy, hebat… tukas Jen dengan terkagum-kagum.
Bersyukurlah Tommy, kerja kerasmu sejak kuliah membuahkan hasil.
“Iya oma, aku juga gak nyangka bakal secepat itu..”
Apa yang cepat Tommy, kamu itu sudah lama disitu, bahkan semasa SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) kamu kan magang juga bilang udah mantap banget.. tukas oma Carla sembari merangkul sang cucu tercintanya.
“Jadi, weekend nanti kita senang-senang ke luar kota..”
Yeahhhh, thank you bang Tomm…
Tommy, sejak masa sekolah menengah atas/ kejuruan, telah magang di sebuah kantor perpajakan. Lalu setelah lulus sekolah dengan nilai yang bisa dikatakan terbaik akhirnya kuliah di jurusan manajemen xxx. Semasa kuliah, Tommy bekerja paruh waktu di kantor perpajakan dan akhirnya mengambil bagian eksekutif karena harus bekerja sesuai jam kerja karyawan pada umumnya.
Setelah semester empat, dan akan naik ke semester lima, Tommy mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan di luar kota xx. Setelah sarjana strata satu, Tommy mendapat beasiswa pendidikan ke Amerika. Namun, suatu keberuntungan baginya masih mendapatkan uang bulanan dari kantor tempatnya bekerja. Dalam kurun waktu kurang lebih dua tahun, Tommy mendapatkan gelar Magister xx, lalu akhirnya kembali lagi ke Indonesia.
Tommy kembali bekerja di bagian perpajakan negara xx. Selama bekerja,Tommy merupakan pegawai yang sangat ulet dan cerdas. Tak jarang para wanita begitu mengaguminya, ditambah lagi Tommy seorang pria multi talent/ bakat. Suaranya pun begitu merdu, dan agak serak-serak seksi saat sedang melantunkan sebuah lagu.
Sejak sekolah menengah pertama, Tommy sudah membentuk sebuah band. Tommy sendiri sebagai gitaris sekaligus vocalis. Sejak itulah begitu banyak penghargaan yang ia dapatkan dan juga prestasinya juga tak pernah turun.
Selama sekolah dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, Tommy berkali-kali mengalami percepatan kelas dan selalu berada di kelas/ ruangan unggulan. Namun, walau demikian Tommy merupakan sosok yang sangat ramah dan juga penuh sopan santun dengan siapa pun.
Seorang pria yang sangat berbakat, berprestasi, cerdas, jenjang karir bagus dan menjanjikan, juga postur tubuh ideal dengan wajah yang tampan. Tinggi mencapai seratus delapan puluhan lebih, jago basket juga. Siapa pun wanita pasti sangat mendambakan sosok pria seperti Tommy Bagaskara Aharon.
Namun, dibalik semua itu Tommy memiliki kisah hidup maupun percintaan yang….
***