Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Tak seperti dulu lagi



”Beloved Mister”


Author by Natalie Ernison


Kenyataan tentang keadaan rumah tangga Heron bersama Zharen memang tidak disangka-sangka. Namun, bukan berarti Jeron bisa bebas mendakati Jen. Karena Zharen sudah mulai semakin mencintai Heron, terlebih lagi saat ini Zharen sedang mengandung calon bayi meskipun bukan anak dari Heron.


~ ~ ~


Perusahaan Cabang S


Riuh suara diluar ruangan terdengar begitu bising hingga ke dalam ruangan kerja milik Jen. ”Mengapa begitu berisik, apa yang terjadi diluar sana,” ucap Jen yang mulai terusik oleh suara-suara diluar ruangannya.


Jen pun keluar dan mencoba melihat apa yang terjadi diluar.


”Kyakk... Tampan sekali saudara lelakinya pak direktur Heron.” Ucap para pegawai wanita sembari memuja pria yang saat itu terlihat tersenyum menghadap ke arah para pegawai.


”Tuan muda Vestus..” ucap Jen pelan.


Pria yang saat itu dipuja-puja para pegawai wanita, ialah Vestus.


”Selamat siang semuanya, mulai hari ini tuan Vestuslah yang akan menggantikan posisi ditektur utama. Karena tuan Heron harus menemani istrinya dalam proses persalinan bayi mereka.” Ucap Mr. Tyson.


Jen terdiam sejenak, dan bingung harus melakukan dan berkata apa lagi. Karena pada akhirnya anak itupun lahir.


”Mohon kerjasamanya, karena tuan Heron sudah kembali ke kota A.” Ucap Vestus, dan memandang ke arah Jen. Jen pun kembali ke ruangan miliknya, perasaannya begitu kacau balau.


Drrrtttt.... Getar ponsel milik Jen, ketika membuka isi pesan, wajah Jen menjadi kian sendu.


”Anakku telah lahir dengan normal. Seorang gadis kecil mungil, dan aku tidak bisa membiarkannya tanpa kasih sayang seorang ayah. Jadi, aku putuskan untuk memperbaiki keadaan rumah tanggaku. Kuharap, kau bisa menjalani hidup dengan lebih baik lagi.” Mr. X


Jen menutup mulut menggunakan telapak tangan miliknya. Napas Jen terasa samgat sesak.


”Apakah semua berakhir... jadi, sampai disini saja kisah ini...” isak Jen. Menatap ke arah jendela ruangannya.


Pesan dari Heron telah menjawab semua pertanyaan yang kini tersimpan rapi dihati dan perasaan Jen.


Dari balik tirai transparan, Vestus melihat keadaan Jen. Vestua tahu, Jen sangat terluka akan keputusan Heron kali ini. Mungkinkah, kali ini Heron bersungguh-sungguh.


.....................


Hari lepas hari Jen lalui tanpa ada lagi kabar berita dari pria tercintanya. Bahkan kabar terakhir yang ia terima ialah, Heron sedang melakukan liburan ke luar negeri bersama keluarga kecilnya.


Setelah beberapa tahun kemudian...


Jen masih saja betah dengan kesendiriannya. Berkali-kali dan bahkan tak terhitung banyaknya pria yang mencoba mendekati Jen. Namun, Jen tidak bergeming dengan pendiriannya.


Hingga suatu saat...


***


Hotel S


Saat itu adalah ulang tahun perusahaan Cabang S yang ke-4 tahun.


Jen sedang asyiknya berbincang bersama para klien perusahaan.


Bugh


Sesuatu menimpa lutut Jen. Saat Jen melihat ke bawah, sebuah bola menggelinding ke arahnya.


Baru saja Jen hendak meraih bola tersebut, seorang anak gadis kecil berlari ke arahnya.


”Bibi, apakah bibi ingin belmain denganku?” ucap si gadis kecil dengan wajah gemasnya.


Kedua mata Jen seketika berbinar-binar, saat melihat senyuman tulus dari wajah anak gadis kecil itu.


”Mercy! Mercy!” Seru seorang priq berjalan setengah berlari ke arah Jen.


”Daddy, aku hanya ingin bellmain bersama bibi cantik ini.” Ucap si anak gadis kecil sembari meraih ujung gaun milik Jen.


Mercya Danish



Putri semata wayang dari Mr. Heron Danish bersama Mrs. Zharen.


Disaat bersamaan Vestus, bersama Mrs. Zharen pun datang menghampiri Jen.


”Maafkan atas perbuatan putri kami, Nona Jen,” sesal Zharen.


Zharen terlihat jauh berbeda, bahkan terlihat sangat santun. Mungkinkah, selama beberapa tahun ini ia berubah menjadi jauh lebih baik bagi keluarganya.



”Tidak, nyonya Zharen. Putri anda sangat menggemaskan,” ucap Jen tulus.


”Mommy, Daddy, aku ingin bellmain dengan bibi cantik ini,” rengek Mercy sembari terus menarik ujung gaun milik Jen.


”Tentu saja, gadis kecil yang manis. Bibi akan bermain bersamamu,” ucap Jen. Mercy pun terlihat begitu bahagia.




Jen pun pergi bersama Mercy kecil, Mercy begitu menyukai Jen sejak pertama kali bertemu.


”Bibi Jen, eh maksudku Nona Jen sangat anggun saat bermain bersama Mercy,” ucap Vestus pada Heron.



Hmm... Heron hanya tersenyum miring, sembari meneguk segelas soda dan terus memandang ke arah Jen.


”Hei, Nona kecil! Apakah bibi Jen membuatmu bahagia?” ucap Mr. Tyson datang menghampiri Jen.


”Tentu saja, paman gondrong,” jawab Mercy kecil, dan membuat Jen terkekeh geli.


”Kau sangat bahagia melihat atasanmu diprmainkan oleh seorang anak kecil?” dengus Mr. Tyson menggembungkan kedua pipinya.


Jen masih tertawa geli melihat ekspresi dari Mr. Tyson.


”Hentikan membuat ekspresi wajah seperti itu, Tuan Tyson. Wibawa anda tidak cocok,” kekeh Jen.


”Sepertinya kau sangat bahagia Jen,” ucap Mr. Tyson sembari meraih pipi milik Jen.


”Tuan hentikan! Lihatlah, penampilan anda! Mengapa anda hanya mengenakan kaos hitam, tuan?" ucap Jen heran melihat tampilan Mr. Tyson.



”Begini saja aku sudah terlihat tampan, apalagi jika berpenampilan sangat rapi. Aku takut, jika kau terpesona padaku.” Kekeh Mr. Tyson.


Mr. Tyson terlihat begitu baik pada Jen. Namun, selama bertahun-tahun berlalu, hubungan keduanya tak lebih dari sebatas rekan kerja.


Mr. Tyson pun sangat menghargai Jen. Begitu pula dengan Jen, Jen hanya peduli dengan keluarga Juano dan pekerjaannya.


Tak bisa dipungkiri, terkadang Jen merasa begitu kesepian. Jen pun membutuhkan sosok yang dapat menjaga, membimbing dan mengasihinya dengan kasih yang tulus.


Namun, hingga saat ini, belum ada sosok pria yang mampu membuatnya bergetar dan keinginan untuk memiliki secara penuh. Tak ingin jatuh ke dalam kesalahan yang sama, Jen tentu ingin bersama pria yang bisa membahagiakannya dengan ketulusan cinta.


Pertemuan singkat itu hanya terjadi secara sekilas. Setelah itu, Jen tidak lagi dipertemukan dengan sosok Heron.


Namun, dari pertemuan itu justru sempat menggetarkan perasaan Jen.


***


”Jen bodoh! Dia telah memiliki keluarga bahagia. Apa yang kuharapkan!” Ucap Jen mengutuki dirinya sendiri.


”Nona Jen, untuk beberapa hari ke depan, aku akan pergi ke kota B. Jadi, semua urusan, tolong tangani dengan baik.” Ucap Vestus pada Jen.


”Baik tuan Vestus.” Jawab Jen.


Bahkan hubungan keduanya pun terasa begitu dingin, tak sehangat dahulu. Terlebih lagi, Vestus pun mulai menyukai seorang wanita sebangsa dengan dirinya. Seorang wanita keturunan darah serigala bangsawan.


Jen pun tidak memiliki perasaan yang pebih padanya. Hubungan keduanya tak lebih sari sekedar soal dunia pekerjaan. Antara direktur dan sekretaris biasa saja.


Jen sendiri, sangat menutup rapat perasaannya akan cinta yang baru. Sepertinya, luka lamanya masih butuh waktu untuk proses pemulihan.


Drrrttt.... Grandma Juan memanggil...


”Jen, malam ini cepatlah pulang. Kita akan malam bersama bersama keluarga dari Tuan Tyson..--” ucap nenek Juan dari balik panggilan suara.


Sepanjang hari, Jen benar-benar fokus dengan segala pekerjaannya, demi undangan makan malam dari keluarga Tyson Rhepen.


***


Malam pun tiba...


Jen pergi dengan mengenakan gaun indah miliknya, menuju ke kediaman keluarga Rhepen.


”Mansion kediaman Rhepen family”



”Nek, apakah ini mansion milik keluarga Tuan Tyson?” tanya Jen, dengan tatapan kagum akan kemewahan kediaman keluarga Tyson Rhepen.


”Selamat datang, Nyona Juano dan Nona Jannet!” Sambut sang kepala keluarga dari mansion mewah tersebut.


Seringai senyuman dari Mr. Tyson terlihat begitu lebar. Jen tak tahan tatkala melihat tingkah konyol dari sang atasannya.


Kehadiran Jen disambut ramah oleh keluarga besar dari Mr. Tyson. Seluruh anggota keluarga dari Mr. Tyson begitu menyukai sosok Jen.


”Apakah, Nona Jannet sudah memiliki seorang kekasih?” Ucap Mrs. Rhepen, membuat suasana seakan terfokus pada Jen dan juga Mr. Tyson.


”Tidak, Nyonya Rhepen,” jawab Jen dengan wajah tersipunya.


”Tyson pun juga masih selalu sendiri. Sepertinya, kalian cocok,” ucap sang ayah dari Mr. Tyson.


”Dadd...” ucap Mr. Tyson dengan pipi merona karena ucapan ayahnya. Sementara nenek Juano hanya tersenyum penuh arti.


****