Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Hanya permainan cintamu



“Beloved Mister”


Author by Natalie Ernison


~ ~ ~


Seusai pertemuan antara Jannet dan Heron, Jannet menjadi sosok yang lebih banyak diam. Sudah cukup lama ia tak lagi bertemu dengan tuan mesumnya, bahkan seakan tak ada lagi kepeduliaan.


“Perusahaan X”


“Nona Jannet, apa yang mengganggumu?” tanya salah seorang rekannya, sembari menyantap makan siang bersama.


Hmm… Jen hanya menghela napasnya dan berkata,” mengapa kau bertanya seperti itu?” jawab Jen dingin.


“Apakah kau memiliki masalah?” tanya rekannya lagi, sembari duduk mendekati Jen.


Jen hanya menggelengkan kepalanya, tanda tidak akan pertanyaan dari rekannya tersebut. “Aku baik-baik saja, aku akan melanjutkan pekerjaanku.” Jen pun pergi dari hadapan rekan kerjanya.


Drrrttt… Kak Bill memanggil… melihat nama tersebut, Jen segera menjawab panggilan tersebut.


Jen: “Hallo kak Bill!”


Bill:“Siang ini aku akan menjemputmu, tunggu aku!” tukas Bill dari balik telepon, dan seketika mengakhiri panggilan.


“Hallo! hallo!” Jen mendengus kasar, namun terdapat senyuman di sana.


Memukul wajahnya sendiri. “Dasar Jannet bodoh! kak Bill akan segera menikah, apa yang kuharapkan!” gumamnya dan bersandar di kursi kerjanya.


>>


“Selamat siang  tuan muda Bill” sapa para pegawai lama dan terlihat sumbringah, tatkala kedatangan atasan yang super ramah nan baik hati mereka.


Bill tersenyum pada seluruh pegawai, sama seperti dirinya yang biasa. “Apa yang membuat tuan muda datang berkunjung kemari?” tukas salah seorang pegawai wanitanya.


“Aku ingin bertemu dengan adikku” jawabnya, dengan tersenyum ramah, lalu berjalan menuju ruang kerja Jen.


“Ohh my God! tuan muda Bill memang luar biasa..” ujar para pegawai saat melihat betapa tampan juga ramahnya, mantan atasan mereka.


Hah.. “Siapa!” tukas Jen saat ada dua tangan menutup kedua matanya. “Hei, jangan begini!” tukasnya yang sudah mulai kesal.


Saat kedua tangan itu lepas, dan Jen pun ingin sekali rasanya memaki perbuat jahil tersebut. “Kak Bill!” ujar Jen dengan ekspresi terkejut.


“Kau tidak berubah sejak dulu,” kekeh Bill dan menarik kursi dari samping Jen.


“Mengapa kakak tidak mengabariku terlebih dahulu?” ujar Jen dengan mengembungkan kedua pipinya.


“Bukankah aku sudah menelponmu sebelumnya!” Bill menatapnya lekat.


“Yah, memang..—“ Jen seketika terdiam malu, saat Bill benar-benar menatapnya dengan begitu lekat.


“Ayo!” Bill langsung meraih tangan Jen. Namun ketika melalui para pegawai, keduanya terlihat biasa.


“Nona Jannet benar-benar beruntung memiliki saudara yang sangat pengertian juga tampan bergelimang harta” bisik para pegawai saat melihat betapa karibnya Jen bersama Bill. Walau sesungguhnya Bill bukanlah saudaranya.


***


“Wau… sangat sejuk..” ujar Jen saat menikmati danau indah yang kini tempat dirinya bersama Bill.


“Kau suka?” ujar Bill sembari mendekati Jen dan merangkul Jen. Wajah Jen seketika merona dan terasa panas.



“Ia kak Bill, indah..—“ ucap Jen dengan rasa yang campur aduk tak karuan.


“Aku akan mengajak calon istriku pre-wedding di sini!” tukas Bill dengan senyuman bahagianya.



Ternyata, Bill membawa Jen ke tepi danau, hanya untuk menunjukkan tempat pre-weddingnya bersama sang calon istri.


“Ohh.. yah.. sangat indah kak, calon istri kakak pasti sangat bahagia” ucap Jen dengan tersenyum sendu. Namun kali ini perasaan Jen tak sesedih dulu, kini ia lebih bisa menerima kenyataan.


“Aku sangat beruntung memilikinya Jen, kau tahu! aku sangat memperjuangkan hubungan kami” ujar Bill dengan wajah yang bahagia.


“Pria ini sangat pantas menerima kebahagiaan..” batin Jen. Sedih namun ia harus turut bahagia akan kebahagiaan Bill.


***


“Kediaman Aharon”


“Mengapa Jen, mengapa ingin pergi?” tukas Mr. Jim bersama sang istrinya.


“Aku hanya ingin lebih mandiri,” jawab Jen sendu.


“Jannet! ini adalah rumahmu, dan tinggallah bersama kami!” pinta Mrs. Noela


“Aku sangat senang tinggal bersama keluarga Aharon, namun sudah saatnya aku memulai kehidupan baruku!” tukas Jen.


Hmm.. menghela napas perlahan. “Baiklah Jen, tapi ingat! jika kau membutuhkan bantuan, kau dapat datang pada kami” tukas Mr. Jim dan Mrs. Noela.


Setelah beberapa hari kemudian, Jen pun mengemasi barang-barangnya, dan memilih untuk tinggal di rumah kontrakan bersama.


Menyeret koper miliknya, dan melangkah jauh dari hadapan kediaman keluarga Aharon.


“Sudah saatnya aku hidup mandiri” gumam Jen sembari memberhentikan taksi.


***


“Kediaman Jannet Mercya”


Jen pun tiba di depan gedung yang merupakan tempat tinggal barunya. Beruntung, kali ini kediamannya ialah pemberian dari keluarga Aharon. Sehingga Jen tidak perlu memikirkan mengenai biaya tempat tinggal.


Berbaring dan memandangi foto dirinya bersama kedua orang tuanya. Tetesan air mata pun menjadi wakil rindunya pada kedua orang tua yang kini sudah berbeda alam dengannya.


Jen kini hidup sendiri di sebuah kamar sederhana, memulai kehidupan barunya.


>>


Karena merasa cukup bosan, Jen pun berkeliling menyusuri area kediamannya dan begitu banyak hal-hal yang cukup menarik di sana.


Mulai dari kuliner, pernak-pernik dan juga barang-barang lainnya.


“Nona Jannet!” panggil seseorang sembari menepuk bahunya.


“Tuan Vestus!” tukas Jen.


Hmm.. “Ia, aku mengira kau sudah melupakanku,” kekeh Mr. Vestus padanya.


“Tentu saja aku tidak lupa..” kekeh Jen dan terlihat tidak ada rasa kesal, walau sang pamannya telah membuat Jen bersedih.


“Kau tinggal di sini?”


Jen mengangguk sembari menikmati camilan yang ia beli di area tepi trotoar jalan. “Ia, aku sudah tinggal sendiri” jawabnya.


“Bolehkah aku berkunjung?” pinta Vestus.


Jen seketika tertawa lepas. “Apakah tuan Vestus sangat ingin melihat kediaman kumuhku!”


“Hei, mengapa berkata demikian! apakah pernyataan itu bermaksud menolak!”


“Tidak tidak, tentu saja boleh..—“


Keduanya pun berjalan menuju gedung kediaman Jen.


***


“Maaf tuan, kediamanku hanya begini saja” ujar Jen sembari menyuguhkan air mineral.


“Bukan soal besar kecilnya sebuah gedung, namun bagaimana rasa nyaman itu membuatmu damai..” tukas Vestus dengan tersenyum lembut.


Jen hanya tersenyum sendu, seakan ada kesedihan mendalam di sana. “Ia tuan, aku merasa sangat nyaman—“ jawabnya.


“Apakah nona masih kesal dengan pamanku!” tiba-tiba saja raut wajah Jen berubah tak senang dengan pertanyaan dari Vestus.


“Tuan Heron hanya mempermainkanku, dia tidak pernah bersungguh-sungguh—“


“Siapa yang mengatakannya nona! paman sangat serius pada wanita!” sanggah Vestus meyakinkan Jen.


“Tapi, dia dengan mudah mengusirku!” sanggah Jen lagi, seakan tak terima dengan sanggahan Vestus padanya.


 “Kemarilah!” Vestus mengarahkan kamera ponselnya pada dirinya dan Jen. Sembari merangkul dan mengambil gambar.


 Cekreak…


 “Kita lihat apa yang akan terjadi, jika paman melihat ini nanti” kekeh Vestus.


“Tuan, hapus itu! apa maksud tuan..—“ Jen mengernyitkan dahinya.


“Apakah nona takut jika pamanku melihat ini!” goda Vestus.


“Tentu saja tidak” kilah Jen dengan wajah merona.


“aku pergi!” ujar Vestus sembari berubah wujud menjadi seekor serigala mungil.


Hah… Jen mendesah kaget. “Bagaimana bisa begini?” tukas Jen haran, dan seketika Vestus menghilang bersama hembusan angin.


***


“Kediaman Heruon Danish”


Vestus terlihat begitu riang sembari bermian ponsel di hadapan sang pamannya, Mr. Heron


“Apa yang kau lakukan! sungguh memalukan!” cela Mr. Heron.


“Aku hanya bahagia bisa bertemu denganmalaikat kecil!” kekeh Vestus


Tsk… “Bahkan malaikat pun malu mendengar pengakuan seorang bad boy sepertimu!” cela Mr. Heron.


“Terima kasih paman atas pujiannya. Namun korbanku kali ini seoran gadis cantik, nan lembut!” kekehnya. Dengan sengaja menyodorkan ponselnya pada Heron. Namun hanya sekilas, bahkan Heron belum sempat memperhatikan secara seksama gambar yang ada di sana.


“Kau pasti hanya akan mendapatkan gadis ******, bukan!” kekeh Mr. Heron


“Kita lihat bagaimana respon pria angkuh ini!” batin Vestus.


Vestus tertawa geli. “Lihat paman, ****** kecilku sangat menarik, bukan!” Vestus menyodorkan ponselnya, dan gambar dirinya saat sedang merangkul Jen terlihat jelas.



Seketika sorot mata Heron menggelap.


Bugh…


Harggg argg… gertakan diri Heron, dan wajahnya mulai dipenuhi bulu-bulu yang akan merubah dirinya menjadi seekor serigala buas.


“Berani menyentuh wanitaku, maka tidak peduli kau keluargaku, aku akan memberimu pelajaran berharga!” peringat Heron, ia tidak senang dengan ejekan Vestus.



Vestus terlihat sangat ketakutan, namun ia harus tetap menjalankan rencananya untuk membuat sang paman tidak bersikap egois pada Jen.


“Jika paman bersungguh-sungguh padanya, maka kunjungi dia dan buat pengakuan! jika tidak..—“


“Jika tidak apa hahh!” tukas Mr. Heron sembari menind*h tubuh Vestus. Ia terlihat geram tatkala melihat Jen berada dalam rangkulan Vestus.


“Jangan bermain-main Vestus!” Mr. Heron pun melepaskan cengkramannya dan kembali menyantap daging segar miliknya. Sementara Vestus menghela napas  lega, karena Mr. Heron sekedar memperingatinya.


 ****