Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Debaran rasa



“Beloved Mister”


Author by Natalie Ernison


Vestus kecil pulang dengan penuh kebahagiaan, dan tentu berharap mendapatkan pujian dari ayah dan ibunya. Pulang membawa buah-buahan pemberian para pemilik toko-toko roti, tempat ia menitipkan roti olahan kedua orang tuanya. Namun sesuatu yang tak terduga pun terjadilah.


~ ~ ~


“Ayah!! ibu!!” jeritnya histeris, dan tersungkur.


Kedua orang tuanya duduk di atas kursi kayu, dengan keadaan bersimbah darah. Sekujur tubuh sang ayahnya terdapat beberapa luka, seperti luka cakaran binatang buas. Sedang sang ibunya, tersandar di kursi dalam keadaan menganga dan sekujur lehernya terdapat bekas gigitan.


“Tidak!! ayah, ibu… kumohon…”


Arghhhkk….. jeritnya, di sela isak tangis kehilangan dan rasa tak percaya akan apa yang ia lihat kini.


Vestus terlihat hampir putus asa, diusianya yang baru saja akan beranjak remaja, namun harus mengalami semua ini. Vestus belum siap menerima kenyataan ini.


Meraih gagang telepon rumah, dan mencoba melakukan panggilan. “Hallo paman, paman Heronn…” lirihnya, dan tak mampu mengucapkan sepatah kata pun lagi.


Selang beberapa menit setelahnya, muncullah seorang pria yang separuh dari tubuhnya memiliki bulu-bulu halus.


“Paman!!” jerit Vestus.


“Kakak..” ujar pria tersebut, yang ialah Heron. Heron masih remaja, kisaran usianya pun tak jauh dari Vestus. Ayah dari Vestus adalah saudara sepupu laki-lakinya, yang merupakan anak pertama dalam keluarga Danish.


Ibu Vestus adalah seorang keturunan manusia serigala. Karena hal itulah yang mengharuskan calon anak pertama mereka menjadi korban santapan sebagai penerus leluhur. Namun Ayah dari Vestus tak sanggup melakukannya. Ia membawa lari istrinya yang sedang mengandung.


Dengan segala upaya, akhirnya mereka pun menjauh dari keluarga Danish. Kemudian memulai kehidupan baru, walaupun sederhana, mereka cukup bahagia. Mereka menyembunyikan identitas asli dari orang-orang sekitar, dan bertekat untuk hidup layaknya manusia biasa.


Namun saat kelahiran Vestus, Mr. Worned, ayah dari Heron membawa mereka kembali dan tinggal di kastil keluarga. Akan tetapi, keberadaan mereka di sana dianggap rendah, karena tidak menuruti kebiasaan turun temurun para leluhur.


Vestus pun harus menerima perlakuan tidak menyenangkan dari keluarga besar leluhur mereka. Lagi dan lagi, ayah Vestus membawa anak istrinya keluar dari mansion milik keluarga besar tersebut.


“Setiba ku di rumah, ayah dan ibu sudah seperti ini..” isak Vestus.


“Kita akan memakamkan, kakak dan kakak ipar ke pemakaman keluarga Danish.” Tukas Heron, sepertinya Heron pun telah mengetahui siapa pelaku dari pembunuhan keji tersebut.


***


Di sebuah kastil megah milik keluarga Danish.


“Paman, mengapa kita ke kastil seperti ini lagi?” ujar Vestus meringuk di balik tubuh Heron.


“Ini adalah kastil milik ayahmu, namun ayahmu lebih memilih untuk hidup di luar. Keluarga kita adalah keluarga bangsawan, kastil ini akan menjadi milikmu.”


Vestus mulai memandangi betapa megahnya kastil tersebut. Ia cukup canggung dan merasa tak pantas berada di sana.


“Jika kau merasa kesepian, datanglah ke mansionku dan nenek..”


----------


Vestus menangis dalam kesendiriannya, sembari menyantap roti panggang buatan Jen. Ia menghabiskan seluruh roti panggang itu dengan berderaian air mata. Karena hingga saat ini Vestus belum mengetahui siapa yang telah membunuh kedua orang tuanya dengan cara yang sangat keji.


Hari-hari berikutnya, Jen masih disibukkan dengan adonan roti. Ia bahkan mulai membuka bisnis kecil-kecilan, dan juga terkadang mulai bekerja secara online. Keamanan Jen sangat terjaga dengan baik untuk sejauh ini.


“Ini terasa jauh lebih menyenangkan, dibandingkan dengan pekerjaanku di kantor” batin Jen. Sembari mengolah adonan roti, ia terlihat cukup bersemangat melakukan semuanya.


Ahkk… pekik Jen, saat ada seseorang yang mendekap pinggulnya dengan begitu erat.


“Baby, aroma adonanmu begitu wangi..” ujar sosok yang sedang mendekap dirinya, pria itu ialah Heron yang muncul secara tiba-tiba.


“Tuan Heron” pekik Jen, dengan spontan melemparkan adonan roti ke wajah Heron.


“Hei baby.. ingin bermain..” ujar Heron. Keduanya saling mengoles tepung adonan, hingga wajah bahkan pakaian mereka terliaht putih, akibat tepung adonan yang dimainkan.


Vestus pun tiba di dalam kastil kediamannya, ia begitu bersemangat untuk segera menemui Jen. Baru saja hendak memberikan kejutan kecil, ia seketika bak membatu.


Jen terlihat bahagia bersama Heron yang sedang mengolah adonan roti. Raut wajah Vestus berubah drastic, ia terdiam membisu. Hal yang cukup menyesakkan terjadi lagi. Hal yang hampir sama ia lakukan pada kedua orang tuanya belasan tahun telah lalu. Kini terjadi dalam situasi dan kisah yang berbeda.


Vestus sudah menganggap Jen sebagai sosok yang sangat istimewa. Semua berawal dari roti panggang buatan Jen, hal itu seketika mengingatkan pada ayah dan ibunya.


>>>


Tersenyum sendu, dan duduk sendiri menikmati suara aliran air sungai. Tempat biasa Jen duduk sambil merangkai bunga, kini Vestus berada di sana.


“Mengapa dadaku terasa begitu sesak hanya dengan melihat bibi dan paman berdua” batin Vestus.


Ia merendam kedua kakinya ke dalam aliran air sungai jernih nan segar tersebut. Tak cukup kaki, ia pun akhirnya menenggelamkan seluruh tubuhnya. Kepalanya terasa begitu panas dan dadanya sedikit berdebar nan sesak. Apakah ini pertanda bahwa Vestus merasa cemburu akan kedatangan pamannya, Heron.


Vestus berusaha untuk menepis perasaannya, namun semakin lama perasaan itu justru semakin kuat. Heron pun selalu berada di kastil dan juga menemani Jen mengolah adonan roti, yang akan ia jual ke toko-toko roti, karena kini pelanggan Jen cukup meningkat.


Setiap melihat kebersamaan antara sang paman Heron juga Jen, dadanya mulai terasa sedikit sesak dan ada rasa yang tak biasa di sana.


“Vestus, malam ini aku akan membawa bibi muda ke sebuah tempat indah” ujar Heron sembari mengenakan pakaian gantinya.


“Yah, semoga kancan paman dan bibi muda menyenangkan,” balas Vestus dengan menyeringai seperti biasanya.


“Kau bergabunglah dengan kami.”


“Tidak paman, aku akan menjadi pengganggu..—“


“Vestus, kau sudah adiku sendiri. Oke” tukas Heron, Vestus pun memutuskan untuk turut serta dalam pesta sang pamannya.


***


Di sebuah pesta dansa.


Jen mengenakan dress berwarna hitam, dengan model dada terbuka. Jen terlihat sangat memukau dengan balutan make up yang sangat anggun baginya. Vestus dan Heron cukup terperangah melihat penampilan Jen malam ini.



“Baby, kau sangat cantik malam ini” bisik Heron di telinga Jen saat keduanya sedang berdansa. Jen tersipu dan tak kuasa menahan rasa ingin tertawa bahagia.


“Dasar tuan mesum” dengus manja Jen pada Heron kala itu. Keduanya berdansa di bawah sinar rembulan, karena mereka sedang berada di area terbuka.


Melihat hal tersebut, dada Vestus kembali sesak. Berbagai cara sudah ia lakukan, dan berharap perasaannya akan kembali normal. Semakin ia berusaha, maka semakin kuat pula debaran dadanya saat menatap Jen.


“Ada apa denganku, tidak seharusnya aku memikirkan wanita pamanku sendiri” batin Vestus.



>>


Heron



“Kau suka dengan suasana kastil itu” tanya Heron sembari mengecup bahu polos Jen.


“Yah, aku suka.. walau aku harus kesepian, karena kau selalu pergi” ujar Jen, sambil mendongak ke atas, tepatnya ke arah wajah Heron berada.


Heron tersenyum bahagia dan langsung saja menyambar bibir merah merekah milik Jen. Keduanya bercumbu di bawah sinar rembulan dan dinginnya sapuan angin malam.


Heron mulai melakukan kegiatan mesumnya, membelai puncak kepala milik Jen. Sentuhan itu kian membuat merasa aneh dan nikmat.


Sedang asyik menikmati malam nan indah, ada sosok yang sedang mengintai mereka kala itu.


****