
”Beloved Mister”
Author by Natalie Ernison
Jannet akhirnya melihat sifat asli dari Zharen, sungguh hal yang cukup mengejutkan. Tak bisa dipungkiri, Jannet benar-benar terbakar api cemburu, saat melihat kemesraan antara Zharen dan Heron.
Namun tetap saja, Heron lebih menyukai waktu untuk menyentuh Jannet, dibandingkan Zharen.
~ ~ ~
Dibalik tembok sisi gedung tempat diselenggarakannya acara pembukaan perusahaan S. Jen disibukkan dengan kegiatannya bersama Heron.
”Mengapa kau selalu membuatku candu?” ucap Heron sembari menyentuh lembut wajah Jen.
Jen hanya tersenyum sendu, meraih tangan besar milik Heron dan merasakan hangatnya tangan ini. ”Sampai kapan kita harus seperti ini, andai takdir tidak berpihak...” ucap Jen.
”Jika takdir tidak berpihak, maka aku sudah sangat bersyukur telah memiliki wanita sepertimu.” Balas Heron, lalu mengecup lembut kening, pipi, mata, hidung milik Jen.
Heron mendekap erat tubuh Jen, seakan begitu takut. Kalau saja wanita yang kini berada didalam pelukannya tak dapat lagi ia sentuh.
Takdir mereka begitu memilukan hati. Perjuangan cinta mereka pun tidaklah mudah. Begitu banyak derai air mata, luka, derita yang selama ini mengiringi kisah perih mereka.
***
”Perusahaan Cabang S”
Jen hari ini sangat sibuk, mengurua data-data perusahaan yang baru juga berkas lainnya. Begitupun Heron, yang terlihat fokus dengan kesibukkannya.
Sesekali, Heron mencuri pandang ke dalam ruangan sekretaris tercintanya. Dari balik tirai yang setengah terbuka, Jen terlihat sangt fokus dengan pekerjaannya.
Ingin rasanya Heron menganggu sekretaris tercintanya, namun apa daya, hari ini Jen harus menyelesaikan pekerjaannya hingga malam.
Heron meraih ponsel miliknya dan mulai mengutak atik layar ponsel miliknya.
Drrttt.... Satu pesan baru.
Jen meraih ponselnya, lalu melihat layar ppnselnya. ”Baby, sepulang bekerja, pergilah bersamaku. Aku rindu dengan aroma tubuhmu.” Mr. X
Jen melirik ke arah ruangan sang direktur, dengan menggelengkan kepalanya. Sebagai kode, bahwa ia tidak akan membalas pesan tersebut. Sungguh pesan yang mengganggu, fikir Jen.
Tsk... Heron terkekeh saat melihat ekspresi Jen. Masih kekeh untuk mengirim pesan.
Drrttt.... Sepuluh pesan baru.
Jen kembali menyentuh layar ponselnya. Saat Jen membaca isi pesan tersebut, tanpa sadar Jen tersenyum geli.
Mulai mengutak atik layar ponsel miliknya. ”Dasar direktur mesum,” tulis Jen lalu mengirimkan pesan tersebut pada Mr. X
Dari balik tirai pemisah ruangan kerja mereka, Heron terkekeh geli dan mulai kembali bekerja. Walaupun, keduanya masih saja saling tersenyum, tatkala mengingat kisah konyol hari ini.
Hari lepas hari, Jen begitu menikmati waktu-waktunya saat bekerja.
>>>
Hingga suatu saat...
”Aku ingin menemui suamiku, tuan Heron. Apakah beliau ada?” ujar seorang wanita dengan gaya yang cukup nyentrik.
”Tuan Heron sedang menghadiri rapat, silakan menitip pesan pada sekretaris dari tuan Heron, nyonya.” Jawab salah seorang pegawai.
”Aku akan menunggu disini,” tukas Zharen dengan gaya super angkuh.
Duduk dengan kaki menyilang, dan sesekali ia menaikan kedua kakinya, seakan ia sedang duduk di rumah.
”Sungguh nyonya yang tidak tahu sopan santun," batin Jen saat melihat perbuatan Zharen.
Zharen mulai melirik ke arah ruangan milik Jen dan mulai melangkah kesana.
”Kau, sudah berapa lama bekerja di sini?” tanya Zharen dengan gaya angkuhnya. Tanpa permisi, ia langsung duduk di kursi yang berada tepat dihadapan Jen, sembari memutar-mutar kursi tersebut.
”Belum lama nyonya.” Jawab Jen singkat dan melepaskan pekerjaannya sejenak, hanya untuk menemani Zharen.
”Seharusnya, suamiku bisa mendapatkan sekretaris yang jauh lebih baik lagi, dan tentunya berpengalaman. Tidak seperti ini..” cela Zharen dengan memandang rendah ke arah Jen.
Mendengar pernyataan dari Zharen, Jen kembali melanjutkan pekerjaannya. Awalnya, Jen berniat untuk menemani Zharen berbincang. Namun, kedatangan Zharen ternyata, untuk mencela dirinya.
Tak lama setelahnya, seorang office boy pun tiba, dengan membawa nampan dengan secangkir teh hangat.
“Permisi, Nona Jannet. Ini yeh hangat yang Nona minta.” Ucap sang office boy.
”Heh! Kau pikir, teh hangat pantas untuk menjamuku!” Bentak Zharen secara tiba-tiba.
”Maaf Nyonya Zharen, ini..” jawab sang office boy dengan nada terbata.
”Mohon maaf Nyonya Zharen, jika tidak suka boleh letakkan saja, tidak perlu membentak pekerja kami.” Tukas Jen.
”Kau hanya sekretaris tidak berpendidikan, berani menceramahiku hah!” Bentak Zharen, lalu menepis cangkir yang berisikan teh hangat tadi, hingga membuat cangkir tersebut jatuh dan pecah.
”Nyonya, tidak bisakah anda..” ucap Jen dengan napas terengah-engah, menahan emosinya.
Tiba-tiba saja Heron muncul. ”Apa yang terjadi di sini, Zharen!” Ucap Heron dengan mata membelelak.
”Ada apa suamiku, bukankah... aku tidak perlu berpura-pura dihadapan orang-orangmu, sehingga mereka pun tahu posisi mereka.” Tukas Zharen sembari membelai dada kekar milik Heron, tepat dihadapan Jen.
Jen beranjak dari kursi kerjanya, dan hendak membersihkan pecahan cangkir teh.
”Nona Jen, jangan! Biar aku saja,” ucap sang office boy , kemudian membersihkan pecahan cangkir.
Zharen menatap ke arah Jen dengan tatapan merendahkan, dan Jen hanya bisa menahan rasa kesalnya saat ini.
”Mengapa tidak mengabariku!” Tukas Heron, lalu menarik paksa tangan Zharen.
Jen pun kembali bekerja, walau hatinya masih tidak tenang.
”Apakah kita harus pindah ke kota C, aku sangat kesepian di mansion itu,” rengek Zharen yang sedang bermanja pada Heron.
”Hentikan Zharen, kita sedang berada di kantor.” Tukas Heron sembari menahan tangan milik Zharen yang mulai menyentuh tubuhnya.
”Aku adalah istrimu yang sah. Jadi, tidak ada yang perlu dicemaskan. Aku sudah sangat rindu tidur bersamamu,” ucap Zharen manja.
”Aku tidak ingin menyakiti anak kita, jika kita harus berhubungan.”
”Tidak masalah, sayang! Aku sangat ingin, kumohon malam ini di hotel X, kita bercinta.” Zharen langsung menyambar bibir milik Heron dengan rakus.
Sementara itu Jen mendengar dan menyaksikan semua yang terjadi. Sebisa mungkin Jen berusaha untuk tetap fokus dengan pekerjaannya. Namun, tatapan mata Heron sedari tadi mengarah ke arah Jen. Sementara itu Heron masih melayani keinginan Zharen yang terus ingin dibuai.
Karen tidak tahan lagi, Jen akhirnya pergi ke toilet pribadinya. Di sana, Jen menahan rasa ingin menangis dan juga rasa sesak yang begitu menyiksanya.
Setelah beberapa saat kemudian...
Zharen pun duduk manis di sofa, tepatnya di ruangan milik Heron. Pintu utama untuk keluar hanya satu, yaitu dari depan meja kerja milik Heron.
Jen pun memberanikan diri untuk keluar, sekedar menyantap makan siang miliknya.
”Permisi, Tuan Heron, Nyonya Zharen.” Ucap Jen saat melalui ruangan milik Heron.
”Tidak perlu berlaga santun, gajimu tidak akan naik hanya karena sandiwara di depan suamiku.” Cela Zharen lagi. Jen pun tersenyum acuh, lalu bergegas keluar dengan membawa kotak bekal miliknya.
”Sayang, apakah kau tidak salah memilih sekretaris. Aku rasa dia tidak kompeten, jadi.. tidak perlu memberikannya bonus gaji.” Tukas Zharen lalu datang menghampiri Heron.
Heron hanya tersenyum miring, dan melanjutkan pekerjaannya.
”Aku sangat tahu suamiku, kau tidak mudah menyukai seseorang untuk dijadikan bawahanmu. Tapi, baiklah. Kali ini aku akan membiarkan sekretaris bodoh itu bekerja di sini.”
”Ini kantorku, dan kau tidak berhak mengurua urusan kantorku. Apalagi membuat keributan. Kuperingatkan sekali lagi, jangan membuat keributan di sini.” Peringat Heron.
”Aku hanya bosan, dan ingin membuat sesuatu yang beerbeda. Kebetulan sekali, sekretaris bodohmu itu berlagak dihadapanku. Jadiz aku hanya memberinya peringatan, bahwa aku tidak selevel dengan pegawai di sini.”
”Aku paling tidak suka dengan caramu mencampuri urusanku. Lebih baik kau rawat bayi itu.”
”Tentu saja, dan malam ini kutunggu di hotel.”
Zharen pun pergi dari hadapan Heron, setelah membuat sedikit masalah. Sementara Jen hanya berusaha untuk tidak peduli akan hal itu.
”Aku hanyalah selingkuhannya, dan Zharen adalah istri sahnya. Apa yang kuharapkan..” batin Jen, yang kala itu sedang termenung mengingat semua hal yang terjadi hari ini.
****