Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Hilangnya kebahagiaan



”Beloved Mister”


Author by Natalie Ernison


Carisya akhirnya meninggal, dan yang membunuhnya adalah Rezo. Sungguh kejam tak terkatakan lagi sadis, tak berperikemanusiaan. Rezo membunuh Carisya dengan begitu kejamnya, padahal Carisya  wanita yang sangat Rezo cintai bahkan telah mengandung bayi hasil buah cinta mereka.


”Dasar wanita tidak tahu diri! Kalian semua wanita rendahan, seharusnya mati.” Racau Rezo kala itu.


Jen terus menangis ketakutan, Iya sangat berkeringat tubuhnya gemetar nafasnya terengah.


Jen tidak percaya akan apa yang ia saksikan malam ini. Mengapa Rezo begini kejam sangat kejam.


Rezo menarik paksa tangan Jen, mendorong Jen hingga terjatuh dan terperosok ke sisi tembok. Jen berteriak nyaring dan membuat kerongkongannya terasa begitu perih. Jen begitu kehausan namun tidak peduli, bahkan tak ada lagi belas kasihan.


~ ~ ~


”Apa yang terjadi padamu Rezo?” ucap Jen dengan bibir gemetar. Rezo yang saat ini berada dihadapannya, bukanlah Rezo yang ia kenal dahulu.


”Sudah cukun Jen. Aku tidak bisa lagi menahan diriku!" Tukas Rezo sembari mengunci kedua tangan Jen ke atas kepala Jen.


”Jangan Rezo! Jangan!” pekik Jen sembari meronta-ronta.


”Maafkan aku Jannet,” ucap Rezo, lalu mendorong Jen ke dalam sebuah kurungan besi.


Ahkk... ”Rezo!! Rezo!!!” jerit Jen, dibalik jeruji besi yang telah Rezo persiapkan baginya.


Disana, Jen terus menangis tanpa henti. Sungguh hal yang sangat menyakitkan, tatkala mengetahui pria yang selama baik padanya. Ternyata, hanya memanfaatkan dirinya sebagai alat balas dendam semata.


”Mengapa... Mengapa begini...” isaknya, sembari meringuk ke tepi.


>>>


”Rezo, hentikan! Lepaskan wanita itu,” ucap seorang wanita paruh baya.


”Nenek tidak akan mengerti rasanya menjadi diriku.” Tukas Rezo, lalu pergi dari hadapan wanita tersebut, yang ialah nenek dari Rezo.


Neneknya menggeleng prihatin akan apa yang kini terjadi pada Rezo. Sikap Rezo berubah drastis, tidak seperti dirinya dahulu.


Rezo berjalan menuju ruang bawah kastil, tempat Jen kini berada.


”Kau, makanlah!” titahnya, sembari meletakkan kasar sebuah nampan.


Jen tidak bergeming dan bahkan tidak ingin memyentuh makanan tersebut. Hingga Rezo kembali, makanan yang berada di dalam nampan masih terlihat utuh.


”Kau ingin segera mati! Tidak semudah itu Jennet!” peringat Rezo.


”Seumur hidupku, aku sangat membenci pria sepertimu Rezo! Aku menyesal telah mengenal pria yang sangat tidak tahu diri sepertimu!” teriak Jen.


”Diam!” bentak Rezo.


Bugh...


Meninju jeruji besi yang saat ini memenjarakan Jen.


”Sekalian bunuh aku Rezo, bunuh aku ********!” umpat Jen kesal.


Rezo berbalik badan, lalu mencoba untuk membuka gembok tersebut. Menarik paksa tangam Jen.


”Apa maumu Rezo!” pekik Jen dan terus mencoba melepaskan tangannya dari Rezo.


Ahk... Pekik Jen lagi. Rezo mendorong tubuhnya hingga jatuh tersungkur.


”Kau makan, atau aku akan memaksamu!” Ancamnya dengan tatapan penuh penekanan.


Jen mendongak ke arah Rezo. Tatapan yang penuh pelawanan.


Bruakkh...


Jen membanting nampan tersebut. ”Aku tidak akan menyantap daging mentah itu. Kau sangat keterlaluan Rezo!” Tukas Jen kesal.


Rezo dengan sengaja menyajikan daging mentah padanya. Tak tahu apa motif Rezo atas tindakan tersebut.


”Kau wanita yang cerdas rupanya, tidak sepertin Jennet bodoh dulu,” cela Rezo dengan tersenyum miring.


Jen sudah telanjut membenci tindakan kejam Rezo yang baru saja ia ketahui. Jen sangat menyayangi Rezo layaknya seorang sahabat. Namun kenyataannya, Rezo tidak sebaik yang Jen pikirkan.


”Jika aku bisa membunuh Heron, maka aku akan melepaskanmu.” Ucap Rezo pada Jen. Sungguh hal yang tidak masuk akap bagi Jen.


”Terserah padamu Rezo. Silakan bunuh saja siapa yang kau inginkan untuk mati. Tapi ingat, hal itu tidak akan memberimu kebahagiaan. Kau bahkan dendam pada seseorang yang tidak tahu letak kesalahannya padamu.”


”Aku hanya kasihan padamu Rezo. Kau terlalu ambisi dengan dendammu, yang bahkan tidak memberi manfaat padamu.”


”Diam kau Jen!” bentak Rezo.


Jen pun diam acuh, sembari menatap ke jendela yang sedikit terbuka. Karena kini, keduanya berada di ruang lantai dasar.


”Apa yang membuatmu bahagia?” Rezo secara tiba-tiba melontarkan sebuah pertanyaan pada Jen.


”Aku akan bahagia, jika saja aku bisa memberi kebahagiaan pada kedua mendiang ayah dan ibuku. Namun, pada kenyataannya... hidupku hanya menyusahkan orang lain. Aku bahkan tidak pernah merasakan kebahagiaan itu.” Ucap Jen dengan nada lirih, kedua mata yang berkaca-kaca.


Rezo menatap wajah Jen. Wajah yang penuh dengan kepedihan hidup.


”Sejak kapan kedua orang tuamu tiada?”


”Sejak aku berada di Negara ini.”


”Apakah kau tidak ingin kembali pada keluargamu?”


Hmm... Jen tersenyum miring, sembari menghela napas sejenak.


”Bahkan kehadiranku saja tidak pernah diinginkan keluargaku. Lalu, untuk apa aku kembali!” Tukas Jen dengan tubuh gemetar menahan rasa pedih kisah hidupnya.


”Apakah aku sudah salah memanfaatkan seseorang sebagai alat balas dendamku?” batin Rezo.


Rezo bangkit dari tempat duduknya, dan pergi dari hadapan Jen. ”Mulai sekarang, kau akan menempati kamar ini,” ujar Rezo sembari mengunci kembali pintu kamar yang kini Jen tempati.


Jen hanya terdiam. Jen sungguh merindukan kehidupan bebasnya dahulu.


”Mengapa aku harus mengalami hal ini?” ucap Jen lirih.


Semenjak pertemuan Jen dengan keluarga Heron, hidupnya menjadi penuh tekanan. Tak tahu harus berbuat apa lagi. Situasi ini cukup sulit bagi Jen.


>>>


”Lepaskan wanita itu, Rezo. Hentikam semua dendammu,” ujar neneknya sembari menepuk bahu milik Rezo.


”Nek, apakah aku akan terus diam saat semua hal milikku diambil!” tukas Rezo.


”Bukankah wanita itu adalah wanita berhargamu! Bukankah dia adalah sahabat baikmu, dulu?”


”Jangan bicarakan hal itu lagi nek,” pertahanan diri Rezo hampit saja goyah saat neneknya mengatakan hal tersebut.


”Nenek tidak bisa menjamin akan apa yang kau perbuat pada wanita itu.”


”Aku tahu apa yang harus aku lalukan nek.”


Nenek Rezo pergi menuju kamar kediaman Jen saat ini. Berharao dapat berbicara bersama Jen.


Suara ketukan pintu membangun Jen dari tidur setengah sadarnya. Betapa tidak, semenjak kejadian saat itu, Jen menjadi lebih terjaga.


Saat membuka pintu, Jen masih berusaha mengenal wajah wanita yang kini berdiri dihadapannya.


”Aku adalah nenek dari Rezo.”


”Ah, ia nek.”


”Apakah kau ingin keluar dari tempat ini?”


Hmm... ”Tentu saja nek,” jawab Jen penuh antusias.


”Bantu nenek untuk menyadarkan Rezo,” ucap sang nenek dengan nada setengah berbisik.


”Rezo sudah berubah jauh, nek” isak Jen.


Hmm... ”Nenek tahu itu. Rezo sudah terjebak dengam ambisi besarnya.”


”Apa yang harus kita lakukan nek?”


Sang nenek meraih tangan Jen. ”Buat Rezo mencintaimu.”


Ah.. ”Apa! Tidak mungkin nek,” Jen membalikkan tubuhnya. Sungguh hal yang sulit dipercaya. Jen hanya mencintai satu pria saja selama hidupnya, yaitu Heron seorang.


Sanggupkah Jen terus bertahan demi perubahan pada Rezo...


***