
“Beloved Mister”
Author by Natalie Ernison
Jen akhirnya mendapatkan pekerjaan, dan menjadi bawahan dari Mr. Tyson, rekan baik Rezo. Kini Jen pun tinggal di mansion mewah milik keluarga Juano. Saat itu Jen tinggal di kota C, disaat bersamaan Vestus pun berada disana.
Tanpa direncana Vestus mencium aroma tubuh seseorang yang sangat ia kenal melalui indra pnciumannya yang sangat tajam.
~ ~ ~
“Ada apa tuan muda?” ujar sang asisten, tatkala melihat Vestus yang mulai mengendus-endus.
“Aku merasakan aroma seseorang yang sangat aku kenali, namun aku tidak bisa memprediksi siapa orang itu.” Ujar Vestus, dan dalam sekejap, aroma itu semakin terasa kuat.
Vestus bergegas memasuki sebuah super market, tempat Jen kini berada. Vestus terus mencari, namun karena ramai, ia pun menjadi cukup kesulitan. Jen pun akhirnya kembali bersama salah seorang pelayan juga supir pribadi keluarga Juano.
Hah… Vestus menghela napas kasar, dan wajahnya terlihat gelisah. “Aku sangat yakin dengan aroma yang kurasakan!” Gumam Vestus kesal.
“Mungkinkah tuan mencium aroma dari Nona Jannet.” Tukas sang asisten, dan membuat Vestus seketika itu juga tersadar.
“Yah! Bibi Jannet!” Tukas Vestus, dan bergegas pergi.
“Tuan muda, aku akan menunggu di apartemen!” Seru sang asisten, dan Vestus hanya melambaikan tangannya.
Vestus terus berusaha untuk mencari keberadaan dan asal aroma itu. “Bibi Jen… kumohon, aku harus menemukanmu.” Ucap Vestus sembari terus melangkah.
Namun, Vestus akhirnya kehilangan jejak Jen.
Hingga akhirnya Vestus pun kembali ke apartemen tempatnya menginap bersama sang asisten.
Keesokan harinya, Vestus masih saja berusaha mencari keberadaan Jen, dan hasilnya sama saja nihil.
***
“Perusahaan S”
“Nona Jannet, ini adalah hasil yang sangat baik. Kuharap, Nona akan terus bekerja bersama kami.” Ujar Mr. Tyson pada Jen, yang kala itu sedang memberikan laporan pendapatan usaha kedai kopi yang kini ia kelola.
“Tentu saja tuan Tyson, dan terima kasih atas segala bantuan dari tuan.” Balas Jen sembari membereskan segala laporan miliknya.
“Nona Jen, apakah akhir pekan ada kegiatan?” tanya Mr. Tyson.
Hmm… “Sepertinya, tidak ada. Ada apa tuan?” Jen pun menghentikan sejenak kegiatannya.
“Aku ingin mengajakmu ke pertunangan seorang rekan di kota A. Disana, kita juga akan mengadakan rapat pertemuan.”
Jen pun mengangguk tanda setuju. “Baiklah tuan Tyson.” Balasnya, lalu kembali bekerja.
Menyelesaikan segala jenis pekerjaan yang seharunya terselesaikan. Karena akhir pekan aka nada agenda bersama sang atasan, juga acara pertunangan dari rekan Mr. Tyson. Tentu saja, Jen akan dengan sepenuh hati melakukan yang seharusnya ia lakukan.
***
“Mansion kediaman keluarga Juano”
“Nek, akhir pekan aku akan pergi ke kota A, bersama rekan-rekan kerja lainnya.”
Nenek Juano tersenyum pada Jen. “Baiklah sayang, berhati-hatilah di sana,” ucap sang nenek.
“Terima kasih nek, aku akan segera kembali,” balas Jen. Lalu segera menyiapkan segala barang kebutuhannya. Setelahnya, bergegas untuk segera pergi menuju kamar pribadinya.
Menyiapkan pakaian ganti, peralatan lainnya. Jen begitu bersemangat untuk menjalani agenda terbarunya bersama para rekan kerjanya.
Keesokan harinya…
“Apakah kau sudah menyiapkan semuanya?” tanya sang nenek sembari memperhatikan setiap detail barang-barang yang telah Jen persiapkan.
“Sudah nek, tenang saja.”
“Yah, baik-baiklah dan selamat bersenang-senang.” Ujar sang nenek yang terlihat begitu memperhatikan Jen.
Setelahnya, mereka pun pergi dengan mengendarai beberapa mobil untuk menuju kota A.
Semua begitu menikmati saat-saat bersama, begitu juga Jen yang begitu asyiknya menawarkan barang-barang miliknya.
“Apakah semua akan baik-baik saja disana?” batin Jen. Ia sedikit cemas, tatkala mengingat semua kenangan pahit selama berada di kota A. Kali ini Jen berharap untuk baik-baik saja.
Kota A
Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, mereka pun akhirnya tiba di sana.
Jen mulai memandangi area sekelilingnya, dan mencoba untuk tetap tegar. Begitu banyaknya kenangan yang pernah Jen lalui selama berada di kota A.
“Apartemen A”
Selama dua hari penuh, mereka akhirnya menyelesaikan segala agenda kegiatan. Sekarang, saatnya bagi mereka untuk menghadiri sebuah agenda terakhir. Sebuah acara pertunangan salah seorang rekan dari Mr. Tyson.
Tak ingin berpenampilan biasa-biasa saja, semua pun berdandan dengan begitu anggunnya. Begitu pula bagi Jen, Jen menampilkan penampilan yang cukup memukau.
“Nona Jen sangat cantik dan angun. Pasti para pria-pria kaya akan mendekatimu, Nona Jen,” ujar para rekan kerja Jen.
Jen hanya turut tertawa bersama rekan-rekannya.
“Apakah para wanita-wanita anggun sudah siap!” Seru Mr. Tyson yang sudah terlihat sangat rapi dengan penampilannya.
“Tentu saja tuan Tyson,” balas salah seorang rekan. Mereka pun bergegas untuk pergi menuju sebuah hotel yang akan menjadi tempat pesta pertunangan.
***
“Bukankah Nona Jen dulu kuliah di kota A?” tanya Mr. Tyson pada Jen.
“Yah, benar tuan. Dulu aku tinggal kota A.” Balas Jen sembari memandangi area sekitar yang mereka sedang lewati. Ada rasa yang tak menentu kini berkecamuk di pikiran dan perasaan Jen.
Setelah beberapa saat kemudian, mereka pun tiba disalah satu hotel mewah di area kota A.
“Kalian bersenang-senanglah, dan ingat pada waktu yang telah kutentukan, semua harus berkumpul di area loby utama.” Ujar Mr. Tyson sebelum memilih untuk betgabung dengan rekan-rekan lainnya.
“Aku akan pergi ke toilet, apakah kau ingin menunggu?” tanya Jen pada salah seorang rekannya.
“Baiklah Nona Jen, aku akan menunggu di sisi kanan ruangan pesta.” Tukasnya, lalu pergi meninggalkan Jen.
Jen pun kembali menuju ruang utama pesta. “Nona Jen, kemarilah!” Seru salah seorang rekan wanita yang bersama Jen. Jen bergegas menghampirinya.
“Coba lihat! Bukankah itu tuan Muda Heroun Danish. Putra pewaris keluarga Danish!” Tukas sang rekan. Mendengar nama tersebut, Jen bak disambar petir dimalam hari.
Dengan segera mencari asal nama tersebut, ternyata yang melaksanakan pertunangan adalah Heron.
Jen sangat terkejut bukan kepalang. Jen hanya terdiam tanpa sepatah katapun. Lututnya terasa lemas, dan ingin segera keluar dari tempat tersebut. Terlebih lagi keluarga Danish yang ia sudah tahu sangat kejam berada disana.
“Nona Jen! Kemana?” seru sang rekannya, namun Jen hanya mengatakan ingin pergi keluar.
Jen mempercepatkan langkahnya, dan akhirnya menubruk seseorang.
“Ma-mafkan aku tuan,” ucap Jen, lalu mendongak ke atas.
“Bibi Jen!” pekik seseorang yang kini menubruk Jen.
“Tuan Vestus!” pekik Jen yang sudah mulai berkaca-kaca.
“Bibi, kemana saja bibi selama ini?” Tukas Vestus sembari meraih tangan Jen. Jen melepaskan tangan Vestus darinya.
“Aku harus segera kembali!” Tukas Jen dan melangkah lebih cepat. Namun Vestus tetap saja mengikutinya.
“Jannet!” Panggil Vestus, tanpa ada sebutan bibi lagi.
Jen menghentikan langkahnya sejenak. Namun Jen merasa sangat sesak berada di aula tersebut.
>>>
“Jannet! Tungguh!” Seru Vestus yang terus mengikuti Jen.
“Lepaskan aku tuan Vestus! Aku harus segera kembali!” Pekik Jen berusaha melepaskan diri dari Vestus.
“Kemana kau selama ini? Aku.. ahh maksudku, paman sangat mencemaskanmu.”
Jen berbalik dengan tatapan penuh pilu.
“Mencemaskanku! Setelah apa yang aku lihat malam ini!” Tukas Jen yang terlihat emosi.
“Semua tidak seperti yang kau lihat, dengarkan aku terlebih dahulu!” Pinta Vestus yang berusaha ingin memberi penjelasan sebenarnya pada Jen.
“Semua bukan lagi urusanku tuan Vestus. Sudah sewajarnya, tuan Heron hidup bahagia, dan bukan bersamaku.”
“Nona Jen, saatnya kembali!” Seru Mr. Tyson, dan Jen pun bergegas pergi dari hadapan Vestus.
“Jannet! Terima kasih sudah muncul kembali.” Ucap Vestus, Jen berbalik sejenak.
“Terima kasih atas segalanya, tuan Vestus. Sampai jumpa,” balas Jen, lalu pergi menuju mobil milik Mr. Tyson.
***