Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Kenyataan pilu



”Beloved Mister”


Author by Natalie Ernison



Hari yang sangat ditunggu-tunggu, akhirnya tiba juga. Mr. Tyson dan Jen akhirnya melangsungkan pernikahan. Mr. Tyson pun langsung membawa Jen pergi ke mansion batu milik mereka.


~ ~ ~


Seusai melangsungkan pernikahan, Mr. Tyson dan Jen langsung berpindah ke mansion baru milik mereka.


”Nona, bolehkah aku jujur tentang suatu hal padamu?” ucap Mr. Tyson saat malam pertama usai pernikahan mereka.


”Tentu saja, apa itu tuanku?” balas Jen dengan senyuman tersipu.


”Sebenarnya, aku memiliki permasalahan dengan alat vitalku.” Ucap Mr. Tyson dengan raut wajah yang tidak biasa.


”Maaf, maksudmu apa tuanku?” Jen semakin tidak mengerti akan apa yang Mr. Tyson utarakan padanya.


”Aku tidak dapat berhubungan suami istri,” ucap Mr. Tyson pada Jen. Jen terbangun dari tempat tidurnya, dan sungguh tidak percaya dengan apa yang ia dengarkan saat ini.


Mr. Tyson memiliki permasalahan dengan alat vitalnya. Ia tidak dapat berhubungan, dikarenakan ia sudah tidak memiliki banyak gairah terhadap wanita. Kalaupun ia berusaha, maka durasi waktunya hanyalah satu sampai dua menit lamanya.


Hal ini ia sembunyikan sejak lama, dan merupakan hal yang sangat sensitif untuk dibicarakan.


”Lalu, apa yang harus aku lalukan untukmu, tuan?” ucap Jen yang masih sangat tidak percaya akan apa yang ia baru saja dengarkan.


”Aku harap, kau mau bersabar selama proses therapi dan tetap bertahan denganku.” Pinta Mr. Tyson.


”Jika harus melalui proses lama, maka tidak ada salahnya jika kita usahakan untuk kesembuhanmu.” Balas Jen dengan hati yang sangat sedih.


Karena hal ini baru saja ia ketahui, tidak pernah terlintas dibenaknya, jika inilah yang harus mereka hadapi.


”Hari ini kita sama-sama lelah, lebih baik kita segera beristirahat,” ucap Jen lalu menarik selimut tebalnya.


Keduanya bahkan segera berbaring, tanpa ada lagi komunikasi layaknya pasangan suami istri.


Sepanjang malam, Jen berusaha menahan kesedihannya. Jen tahu, suaminya pun tentu lebih menderita akan kenyataan ini.


Malam pertama yang seharusnya mereka nikmati dengan penuh cinta pun berakhir dengan kepiluan. Mr. Tyson benar-benar belum menjamah Jen layaknya pasangan pengantin baru pada umunya.


>>>


Beberapa hari bahkan minggu usai melangsungkan pernikahan, Jen masih dalam keadaan perawan. Mr. Tyson belum melakukan kemajuan dalam pernikahan mereka.


Hal tersebut pun Jen pendam sendiri, karena statusnya yang kini sebagai istri dari Mr. Tyson. Sudah seharusnya bagi Jen untuk menjaga kehormatan sang suami. Terlebih lagi, Mr. Tyson adalah seorang penerus keluarga Rhepen.


”Hari ini, aku akan pergi ke luar kota selama beberapa hari. Kemungkinan, aku akan berada di kota x selama sepekan.” Ucap Mr. Tyson sembari membereskan barang-barang miliknya.


”Berhati-hatilah dalam perjalanan, aku akan menunggu kepulanganmu,” ucap Jen sembari merapikan dasi milik sang suami.


”Aku mencintaimu,” ucap Mr. Tyson, lalu mengecup kening Jen sebelum kepergiannya.


Jen juga Mr. Tyson masih sangat berharap akan terjadinya keajaiban dalam kehidupan rumah tangga baru mereka.


***


”Nyonya, bukankah piyama bayi ini sangat lucu, bukan?” ucap sang pelayannya yang kala itu menemani Jen untuk berbelanja ke salah satu pusat perbelanjaan.


“Yah, sangat lucu,” balas Jen dengan wajah sendunya. Melihat semua pakaian bayi membuat hatinya kian bersedih. Mengingat kondisi dari Mr. Tyson yang hingga saat ini belum mampu melakukan kewajibannya sebagai seorang suami.


Jen terus berusaha mencari obat-obatan tradisional untuk penyembuhan Mr. Tyson. Berbagai alternative telah mereka coba, namun hasilnya masih saja nihil. Mr. Tyson sendiripun sering kali pergi ke luar kota, dan sangat sedikit waktu bagi Jen.


Hingga suatu saat, Jen pergi ke sebuah taman bermain anak-anak.


***


”Di sebuah taman bermain”


Duduk termenung, ditemani sebuah notebook yang berada di atas pangkuan Jen. Memandangi anak-anak kecil yang sedang terlihat asyik bermain.


”Bibi cantik!” Seru seorang anak gadis kecil, dan Jen sangat mengenal suara ini.


Jen seketika berjongkok menghadap gadis kecil tersebut.


”Aku belsama daddy, bi” ucapnya sembari menunjuk ke arah seorang pria yang saat itu duduk di sebuah kursi taman.


”Kami sedang berkunjung ke rluumah kak Vestus, bibi cantik” ucap Mercy kecil.


”Maaf, jika Mercy mengusikmu” ucap Heron melangkah ke arah Jen.


”Tidak daddy, aku hanya ingin belsama bibi cantik ini,” ucap Mercy kecil pada Heron.


”Kita pulang nak, ini sudah sore, oke.” Bujuk Heron, dan Mercy masih saja tak ingin jauh dari Jen.


”Maaf, sungguh maaf, Nyonya Jen.” Ucap Heron.


”Yah, tuan Heron. Tidak masalah,” balas Jen sembari menutup layar notebook miliknya.


”Apakah Tuan Tyson sangat sibuk, sehingga kau harus pergi seorang diri!” Ucap Heron sembari memandangi ke arah perut rata milik Jen.


”Ah, benar. Suamiku sangat sibuk,“ balas Jen dengan senyuman sendunya. Dari raut wajahnya seakan menunjukkan ketidakbahagiaan.


Heron mulai berpikir dan begitu banyak pertanyaan dibenaknya.


”Supirku sudah tiba, aku akan pergi. Sampai jumpa Tuan Heron dan Nona kecil,” ucap Jen lalu pergi dari hadapan Heron.


***


”Kediaman Vestus”


”Paman bertemu dengan seseorang?” Tanya Vestus ingin tahu.


”Yah, mungkin,” jawab Heron singkat.


”Mercy memberitahuku, bahwa kalian sore ini bertemu dengan bibi cantik. Bukankah itu bibi Jen?”


”Mungkin Mercy hanya bergurau denganmu,” tukas Heron dan bergegas pergi.


”Paman akan kemana?” tahan Vestus.


”Ke suatu tempat untuk sebuah keperluan,” ucap Heron dan bergegas pergi.


”Apakah terjadi sesuatu pada paman?” ucap Vestus yang masih penasaran akan apa yang sedang terjadi.


***


”Maaf tuan, jika aku merepotkan tuan,” ucap salah seorang asisten kepercayaan Heron.


”Sudahlah, sudah seharusnya kau memeriksa keadaan tubuhmu sendiri.” Tukas Heron yang kala itu sedang pergi ke salah seorang dokter di area kota C.


Setibanya di sebuah klinik dokter specialis.


Baru saja keduanya tiba, tanpa disengaja menubruk seorang wanita.


”Maaf tuan,” ucap sang wanita.


”Jannet!” ucap Heron. Namun, Jen justru bergegas pergi.


”Apa tujuannya kemari, bahkan seorang diri” batinnya.


Karena rasa penasaran tinggi, Heron pun mencoba untuk mencari tahu tujuan Jen pergi sendiri ke salah satu tempat dokter specialis.


”Bodoh, ada dengan diriku! Mengapa masih saja mencoba mengusik istri orang lain,” Heron mengutuki dirinya sendiri, akan apa yang ingin ia perbuat.


”Maaf tuan, kami tidak dapat membocorkan rahasia pasien pada siapapun,” ucap salah seorang dokter muda.


”Bahkan, jika itu menyangkut nyawa seseorang!” Tukas Heron dengan tatapan penuh penekanan.


Akhirnya, sang dokter tersebutpun terpaksa mengatakan kebenaran sesungguhnya. Bahwa Jen kerap kali datang berkonsultasi mengenai kehidupan intimnya yang tidak terpenuhi.


Mendengar hal itu, membuat Heron sangat terkejut.


“Bajingan! Terlihat gagah dari luar namun nyatanya lemah!” Gumam Heron. Entah mengapa, Heron sangat kesal atas apa yang ia dengarkan malam ini.


Mr. Tyson tak mampu memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami bahkan tidak dapat melakukannya.


***