Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Cemburu & candu



“Beloved Mister”


Author by Natalie Ernison


Heron akhirnya mengetahui, bagaimana perasaan Vestus pada Jannet sebenarnya. Sungguh sesuatu yang tak dapat ia duga, jika Vestus sudah mencintai Jannet wanita tercintanya.


~ ~ ~


“Aku sangat merindukan kehidupan bebasku dulu, tuan” ucap Jen sembari bersadar di dada kukuh milik Heron. Sementara Heron pun membelai lembut rambut Jen, sambil sesekali menghirup wanginya aroma tubuh Jen.


“Bersabarlah baby, aku akan mengusahakan yang terbaik untuk kita” tukas Heron menenangkan segala kegundahan hati Jen.


Ingin rasanya Heron membawa Jen keluar dari dalam kastil milik keluarga Vestus, setelah ia mengetahui bagaimana sesungguhnya perasaan Vestus pada Jen.


Akan tetapi, Heron tidak ingin menggunakan pemikiran egoisnya. Hanya karena merasa terusik lalu tanpa pikir panjang membawa Jen ke tempat yang jauh lebih berbahaya. Heron tak ingin membuat nyawa Jen terancam untuk yang kesekian kalinya.


Demi keamanan Jen, Heron rela mengesampingkan perasaan cemburunya pada Vestus. Karena pilihan untuk bernaung di kastil itu adalah idenya sendiri. Segala kemungkinan terjadi pun memang diluar perdiksi, dan Heron pun tidak semerta-merta menyalahkan keberadaan Vestus.


***


“Kastil Vestus family”


Vestus memandangi Jen yang sedang asyik dengan segala kesibukannya. Memandangi dari kaca jendela kastil kamar pribadinya, dan Jen terlihat jelas di sana bersama para pelayan kastil wanita.


Tersenyum dan tak bosan untuk terus memandangi wanita cantik milik sang pamannya. “Ada apa denganku..” gumam Vestus tersipu malu.


Tanpa sadar, Jen telah mendapati Vestus yang sedang memandanginya dari balik kaca jendela kamar. Jen melambaikan tangannya pada Vestus, Vestus sangat terkejut juga bercampur bahagia.


“Nona Jen, apakah sore ini kita akan membersihkan taman bunga di samping?” tanya salah seorang pelayan kastil.


“Tentu saja, aku ingin merawat tanaman sayuran sehingga kita tidak perlu lagi membeli ke kota,” ucap Jen riang. Karena letak kastil cukup jauh dari keramaian dan mereka berada di area pembangunnan zaman-zaman dahulu.


Tempat tersebut diyakini sebagai tempat aman bagi para kaum manusia serigala, dan akan selalu damai.


>>>


“Bibi Jen, apakah bibi ingin berkeliling di area desa ini?” tanya  Vestus, kala Jen sedang membereskan roti-roti panggang miliknya.


“Apakah tuan Vestus tidak sibuk?” jawab Jen sembari merapikan peralatan memasaknya.


Hmm.. Vestus menggeleng sambil tersenyum. “Karena jika bibi hanya berada di kastil ini, maka akan sangat membosankan, bukan?” bujuk Vestus.


Jen pun menyetujii ajakan dari Vestus tanpa ragu. Karena ia sangat yakin jika Vestus adalah pria yang baik dan sama seperti tuan Heron.


***


Jen terlihat bahagia saat pergi bersama Vestus, namun Jen tak akan pernah mengira jika semua perhatian Vestus adalah bentuk rasa sukanya.


“Bibi suka dengan makanan di daerah ini?” tanya Vestus sembari berjalan menyusuri area pedesaan yang sedang ramai.


“Yah, baru kali ini aku melihat suasana setenang ini, dan orang-orang di sini cukup bersahabat.”


“Bibi benar. Mereka adalah kaum manusia serigala yang seperuh hidupnya seperti manusia pada umumnya, dan hanya akan berubah jika terancam musuh.”


Ohh.. “Aku baru mengetahuinya tuan Vestus, dan tuan Vestus pun termasuk kaum yang seperti itu. Hanya akan berubah jika sedang terancam,” ujar Jen tersenyum lembut. Senyuman yang meluluhkan bagi Vestus.


“Bunga ini sangat cantik, akan sangat bagus jika ku tanam di samping kastil,” ujar Jen sembari memandangi bunga-bunga yang tertata.


“Silakan dipilih nona cantik, aka nada bonus bunga lainnya jika nona membeli bunga dengan jumlah lebih dari dua,” ujar seorang wanita paruh baya, si penjual bunga.


“Benarkah,” ujar Jen antusias. Melihat betapa bahagia raut wajah Jen, Vestus pun membeli beberpa jenis tanaman bunga.


“Bawa saja sekehendak hati bibi,” ujar Vestus dengan tersenyum manis. Jen pun mulai memilah bunga-bunga yang menurutnya menarik.


Setelah selesai memilah, mereka pun kembali pulang dengan mengendarai kuda milik Vestus. Hanya berdua dan ini adalah momen terindah bagi Vestus, meskipun Vestus sadar ia salah akan tindakannya. Namun, apa  boleh buat, perasaan cinta tak ada satupun yang sanggup menepikannya.


***


“Tuan muda Vestus, mengapa kita berhenti di sini?” tanya Jen heran, tatkala Vestus menghentikan kudanya di area sungai mengalir dipenuhi dengan tanaman indah juga pepohonan rindang.


“Sejak ibu dan ayah tiada, aku kerap kali kemari bersama paman Heron. Aku sangat menyukai tempat ini,” ujar Vestus sembari memandangi bintang-bintang di langit.


“Bisakah mulai sekarang untuk tidak memanggilku tuan muda lagi!”


“Mengapa tuan?” jawab Jen heran.


“Karena jarak usia kita tak terlalu jauh.”


“Lalu aku harus memanggil apa?”


“Panggil kak Vestus mungkin,” ujar Vestus malu. Jen seketika tertawa lepas.


“Apa yang kau tertawakan nona Jen?” Jen seketika terdiam sejenak, tatkala mendengar Vestus memangginya dengan sebutan nona Jen, tak seperti biasanya.


“Mengapa memanggilku nona Jen, bukankah biasanya bibi..” Jen cukup heran dengan sikap Vestus malam  ini.


“Maaf bibi Jen, aku hanya bercanda.”


“Tuan muda, ini sudah malam, lebih baik kita bergegas pulang!” Jen pun beranjak ke  arah kuda milik Vestus.


Vestus pun beranjak dari tempat duduknya, sangat ingin rasanya menyentuh Jen. Didukung oleh suasana hanya berdua dibawah cahaya rembulan.


Tapi, Jen adalah wanita pamannya Heron. Tidak mungkin bagi Vestus untuk berharap terlalu banyak. Keduanya pun bergegas untuk pulang


***


“Kastil Vestus family”


“Kalian dari mana saja?” ujar seseorang dari balik gerbang besi kastil, membuat Jen terkejut setelah mendengar suara tersebut.


“Paman Heron, aku baru saja membawa bibi Jen untuk berkeliling dan membeli beberapa jenis tanaman.”


Heron menatap ke  arah Jen dengan tatapan yang tidak suka dengan kedekatan antara Vestus dan Jen. “Kau seharusnya beristirahat, jika memang ingin bepergian, beritahu aku!” tukas Heron yang terlihat tidak senang.


“Kami hanya berkeliling, tuan..” jawab Jen dan berjalan ke  arah Vestus.


“Berkeliling hingga malam begini! apakah kau tidak peduli dengan keamanan di luar sana!” Heron terlihat marah.


“Paman, ini salahku. Akulah yang membawa bibi keluar,” sela Vestus.


“Aku pun terlalu lama memilih bunga-bunga itu tuan,” tukas Jen lagi.


“Kalian tidak perlu saling membela, aku sudah cukup tahu. Lalu mau berkilah seperti apa lagi,” Heron terlihat semakin marah.


“Vestus! jawab!” bentak Heron. Jen terkejut dengan nada bicara Heron yang tak biasa.


“Tuan hentikan, jangan seperti ini… mari kita bicarakan baik-baik, ini hanya salah paham!” bujuk Jen.


“Diam Jannet!” bentak Heron. Heron terlihat begitu marah, dan itu adalah bentuk rasa cemburunya. Karena Heron sudah mengetahui bagaimana perasaan Vestus terhadapan Jen.


“Apakah tuan sedang tidak enak badan,” Jen meraih pelan tangan Heron, menyentuh pipi Heron dengan sentuhan lembut. Heron mulai mereda tatkala sentuhan dan perkataan Jen yang begitu lembut padanya.


“Baby, aku hanya cemas padamu, aku tidak ingin kau diganggu oleh sekelompok serigala jahat.”


“Terima kasih sudah mencemaskanku, aku tidak akan mengulangi hal yang membuat tuanku cemas,” ujar Jen dengan anda lembut dan mampu meluluh lantahkan amarah Heron.


Heron pun meraih tangan Jen menuju dalam kastil teratas.


Vestus yang masih bersama kuda miliknya, hanya bisa terdiam. Mengepalkan tangan kanannya, dan ia pun tak berhak untuk protes akan hal itu. Sudah sewajarnya memang jika Heron merasa cemas pada Jen.


>>>


“Bagian atas kastil”


“Tuan Heron, mengapa begi-nih…” lirih Jen. Karena Heron mempermainkannya dengan cara yang tak biasa.


******************


Rasa cemburu dan candu Heron sudah memuncak tak tertahankan lagi. Jen pun menyukai hal itu, jadi tak ada yang perlu Jen keluhkan.


***