
”Belobed Mister”
Author by Natalie Ernison
Jannet akhirnya dipertemukan kembali dengan Heron. Namun pertemuan mereka kali ini tidaklah seindah awal mereka berjumpa. Heron yang telah memiliki seorang istri, sedangkan Jannet masih setia dengam status singlenya.
Heron masih sangat mencintai Jannet dengan sepenuh hati, dan akhirnya mereka memiliki hubungan gelap.
~ ~ ~
”Mansion kediaman Juano family”
”Jen, bagaimana dengan pekerjaanmu belakangan ini?” tanya nenek Juano sembari asyik menyulam.
”Pekerjaanku baik-baik saja nek, dan usaha kedai kopi juga semuanya berjalan lancar.” Ucap Jen yang duduk menghampiri sang nenek.
Nenek Juano tersenyum lembut pada Jen. ”Nenek sangat senang mendengarnya Jen. Nenek berharap, kau segera memberikan nenek cicit.”
”Cicit” ucap Jen terkejut mendengar pernyataan sang nenek.
”Tentu saja kau harus segera menikah,” kekeh nenek Juano. Jen terdiam sendu, seakan ia sulit untuk merespon apa yang sang nenek katakan.
”Apakah Tyson tidak memberimu kode-kode cinta!” Tukas sang nenek menggoda Jen.
”Nenek... tidak mungkin! Tuan Tyson sudah seperti saudara bagiku.”
”Justru itu, akan membuat hubungan kalian jauu lebih mudah.” Goda sang nenek.
”Tidak nek, belum saatnya.”
”Lalu, sampai kapan? Atau... kau sudah memiliki pria impianmu sendiri,” tukas sang nenek mendekati wajah Jen.
Jen benar-benar bingung atas jawabannya. Karena pria yang saat ini bersamanya adalah Heron, yang sudah memiliki seorang istri.
”Belum nek, aku ingim fokus dengan pekerjaanku,” ucap Jen dengan wajah sendunya. Kali ini, Jen terpaksa berbohonh pada sang nenek.
Hubungannya bersama Heron tentu saja tidak akan pernah dibenarkan. Mengingat status Heron saat ini adalah suami dari wanita lain.
Drrrtttt.... Mr. Tyson memanggil...
Jen: ”Hallo, selamat malam tuan Tyson.”
Mr. Tyson: ”Nona Jen, tolong persiapkan penampilanmu yang paling menarik. Karena besok malam, kau akan menjadi MC Master of Ceremony di acara pembukaan perusahaan cabang S.”
Jen: ”What!!! Mengapa selalu mendadak seperti ini, tuan Tyson! Anda...--”
Mr. Tyson: ”Besok siang, designer terbaik akan mengirimkanmu pakaian yang sesuai selera pria-pria..” ucap Mr. Tyson dengan terkekeh, lalu mengakhiri panggilan.
Ahk... pekik Jen kesal. ”Orang ini benar-benar selalu bertindak sesuka hati!” Gumam Jen yang terlihat begitu kesal.
Drrrttt..... satu pesan baru
”Besok kau tidak perlu masuk bekerja, dan fokuslah dengan agenda malamnya. I love baby.” Mr. XX.
”Tuan Heron,” ucap Jen dengan wajah yang kian merona. Entah mengapa, saat membaca pesan tersebut, Jen kembali tersenyum.
Keesokan harinya...
”Nek, aku akan pergi,” ucap Jen, yang sudah terlihat rapi dengan pakaiannya.
”Ingatlah untuk pulang lebih awal,” ucap sang nenek, sembari mencium pipi Jen, sebel kepergian Jen bersama salah seorang supir pribadi keluarga Juano.
Jen pun pergi bersama sang supir menuju kantor tempat ia bekerja. Karena acara akan diadakan di aula utama perusahaan cabang S.
***
”Perusahaan cabang S”
Jen akhirnya tiba, tentu ada rasa gugup dihatinya. Karena ia hanya melakukan persiapan sejak malam, lalu pagi menjelang siang hari ini.
”Sudah kuduga, kau pasti selalu berpenampilan menarik, Nona Jen.” Puji Mr. Tyson menyambut kedatangan Jen.
”Urusan kita belum selesai Tuan Tyson. Anda membuatku hampir terjaga sepanjang malam.” Balas Jen dengan wajah kesalnya.
”Sudahlah, bonusmu akan segera datang ke rekening.” Goda Mr. Tyson untuk membuat Jen tersenyum kembali. Jen pun cukup geli dengan pernyataan dari Mr. Tyson.
Seperti biasanya, Jen memulai aksinya saat di panggung. Jen begitu piawai dalam berkata-kata, juga membawakan acara sehingga berjalan dengan cukup elegant nan asyik.
Seusai acara, Jen pun kembali ke belakang untuk meneguk segelas air. Karena, sepanjang acara berlangsung, Jen cukup lincah di atas panggung di hadapan para tamu undangan.
”Selamat malam semuanya!” sapa seorang wanita yang datang bersama Heron. Wanita itu ialah Mrs. Zharen. Zharen datang sembari merangkul Heron.
”Selamat datanh di perusahaan cabang S, Nyonya Danish,” ucap Mr. Tyson.
Wajah Jen seketika berubah menjadi sedikit canggung dan sendu. Tatkala melihat pria yang sangat ia cintai bersama wanita lain, dan wanita itu ialah Nyonya Danish yang sah.
”Nona Jannet, penampilanmu selalu memukau. Aku sangat iri padamu,” ucap Zharen dengan tersenyum ramah. Namun Jen tahu, itu hanyalah drama malam ini.
”Terima kasih atas pujiannya, Nyonya Danish.” Balas Jen, tepat dihadapan Heron.
Zharen seketika terkekeh. ”Panggil saja aku, Zharen, tidak perlu terlalu formal.” Ucap Zharen.
”Baiklah, Nyonya Zharen. Aku akan pergi ke ruang sebelah. Silakan, melanjutkan acara,” Ucap Jen, lalu segera bergegas pergi dari hadapan Zharen dan lainnya.
>>>
Tepat di halaman samping gedung perusahaan, Jen duduk sembari menikmati secangkir teh hangat. Rasanya sangat tidak nyaman, Jen cukup cemburu dengan pemandangan yang baru saja ia saksikan.
”Ternyata pergi kemari?” ucap seseorang yang cukup membuat Jen memekik terkejut.
”Tuan Heron,” pekik Jen.
Heron melangkah ke arahnya, dan mendekati Jen hingga terpojok ke sisi tembok.
”Temanilah istri anda di sana, mengapa datang kemari?” tukas Jen sinis.
”Kau cemburu pada Zharen?” ucap Heron sembari memeluk paksa tubuh Jen.
”Bukankah, Nyonya Zharen sangat baik dan sopan. Apa lagi yang kurang?” tukas Jen, sembari menolak ciuman dari Heron.
”Kau hanya belum tahu sosok asli dari wanita itu, dan satu lagi! Aku tidak pernah mencintainya.” Tukas Heron, lalu mulai mencumbu Jen.
”Hentikan, aku tidak berselera,” ucap Jen. Heron tersenyum pada Jen dan hendak melanjutkan kegiatan mereka, namun...
”Heron! Heron!” Panggil Zharen. Jen terkejut dan panik.
Heron segera bergegas menemui Zharen yang tengah mencarinya. Jen juga diam-diam mendengar semua percakapan Heron saat bersama Zharen.
”Pria bodoh! Seharusnya kau sudah menungguku di mobil. Aku sudah cukup lama menunggu!” Bentak Zharen pada Heron. Jen sangat tidak menyangka dan hampir tidak percaya akan apa yang ia dengar kini.
”Pelankan suaramu, apakah kau ingin orang lain tahu sifat aslimu!” Ucap Heron santai.
Hmh... ”Aku akan kembali bersama ayah, kau urus saja dirimu sendiri!” Tukas Zharen, lalu meninggalkan Heron seorang. Zharen pun pergi bersama sang ayahnya.
Sementara itu, Jen masih heran akan sikap Zharen sesungguhnya.
”Sudah selesai menguping?” ucap Heron yang secara tiba-tiba berada di samping Jen.
”Sejak kapan anda di sini?” pekik Jen.
Sehhhtt...
”Pikiranku sedang cukup kacau, aku akan mengantarmu pulang dan menemuimu melalui jendela kamar.”
”Akunakan segera pupang bersama supir, teelponlah aku terlebih dahulu. Karena nenek malam ini tidak di mansion.” Ucap Jen lalu bergegas pergi.
***
”Mansion kediaman Juano family”
Drrttt.... Mr. X memanggil....
”Aku sudah diluar jendela kamarmu,” ucap Heron dibalik panggipan suara.
Jen segera membuka jendela kamarnya, dan mendapati Heron yang sudah duduk di bawah jendela.
”Tuan,” ucap Jen pelan, lalu Heron pun segera masuk.
”Aku sangat merindukanmu,” ucap Heron dengan nada suaranya yang serak menahan hawa nafsunya, setiap kali berhadapan dengan Jen.
”Tuan, jangan gegabah...”
****