
“Beloved Mister”
Author by Natalie Ernison
Baru saja Heron ingin membuat cerita indah bersama wanita pujaannya, disaat bersamaan pula rasa sakit dadanya kembali muncul. Jannet pun dengan sigap ingin Heron lebih tenang saat berada dalam pelukan hangatnya.
~ ~ ~
“Paman ingin pergi kemana lagi?” cegat Vestus, kala Heron hendak bergegas pergi dari kastel keluarga Vestus.
“Ada banyak hal yang harus aku selesaikan, tolong jaga Jannet..” tukas Heron dingin, dan enggan untuk memberikan penjelasan.
“Tapi paman..—“
“Vestus, lakukan apa yang seharusnya kau perbuat!” tukas Heron, dan melompat dari depan kastel.
Hahh… Vestus menghela napasnya perlahan, dan mulai berpikir apa yang harus ia lakukan ke depannya kelak.
Ia pun pergi menuju ruangan pribadinya, dan melanjutkan segala jenis pekerjaannya.
“Nona Jannet, kau pasti sangat berharga bagi paman, sehingga paman rela melakukan banyak hal untukmu..” gumam Vestus sembari menggigiti ujung pena kayu miliknya.
Tak lama setelah itu, Vestus pun keluar untuk berjalan-jalan di area taman kastel kediamannya.
“Bibi Jannet” gumamnya, Jen yang terlihat sedang duduk termenung di pinggir sungai mengalir area kastel kediamannya.
Vestus berjalan ke arah Jen, hendak mendekati Jen. “Apakah tindakanku berlebihan, akankah paman akan percaya padaku..” batinnya.
Sementara itu langkahnya pun terhenti, dan Ell Jen seketika menoleh ke belakang.
Ahh.. “Hai bibi Jen!” sapa Vestus sembari melambaikan tangannya, Jen hanya tersenyum sendu.
Dengan penuh keberanian, Vestus pun mendekati Jen dan duduk di samping Jen.
“Udara di sini sangat sejuk, bukan?” ujar Vestus yang berusaha mencairkan suasana.
“Yah, itulah mengapa aku merasa nyaman berada di sini..” ucap Jen, dan menatap ke arah aliran air nan jernih.
“Apakah bibi merasa nyaman berada di sini?” tanya Vestus lagi.
“Tentu saja lebih nyaman berada di kediaman sendiri, namun inilah yang harus aku lalui..” tukas Jen sendu, wajah Jen terlihat letih nan pucat.
“Kuharap bibi nyaman berada di kastil ini, karena mungkin inilah tempat yang cukup aman bagi bibi.”
“Aku sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran tuan Heron, mengapa begitu banyak hal yang belum kuketahui..” tukas Jen dan melempar sebuah batu kecil ke arah sungai.
“Mungkin ada sesuatu yang masih paman berusaha untuk katakan pada bibi, dan aku pun tidak memiliki hak untuk berbicara lebih banyak perihal kehidupan paman. Namun, dari leluhur kami sudah terbiasa menyantap janin sebagai penambah kekuatan.”
“Janin! apakah kalian tidak berpikir itu adalah hal yang sangat keji!” Jen berbalik ke arah Vestus dengan wajah yang tidak percaya akan apa yang baru saja ia dengar.
“Mungkin bagi orang yang tidak mengerti akan bicara hal yang sama, tapi itulah kenyataannya bi..”
“Apakah calon anakku kelak akan mengalami hal mengerikan ini..—“
“Tidak bibi, hal itu hanya berlaku bagi kaum keturunan manusia serigala. Carisya adalah ras manusia serigala, jadi itulah yang membuat kedua orang tua paman sangat marah pada paman. Paman hampir mati, karena melanggar hal itu..”
“Aku sungguh tidak mengerti dengan kehidupan kalian, dan aku hanya ingin kebebasanku kembali..” tukas Jen dan terlihat sedikit emosional. Vestus menunduk dan terlihat bingung akan apa yang harus ia katakan pada Jen.
“Paman sangat mencintai bibi, apapun akan paman lakukann demi bibi. Jadi, bertahanlah dalam badai hidup kali ini.”
“Tuan Vestus, apakah cinta kami akan bersatu.. aku ragu, aku takut karena diriku, tuan Heron akan menerima siksaan keji..—“ lirih Jen. Jen sangat murung dan cemas akan keadaan Heron saat ini. Heron pergi tak berkata sepatah kata pun padanya.
Selama berminggu-minggu Jen sudah tak lagi bertemu bahkan saling berkomunikasi dengan Heron.
>>
Jen menghabiskan waktunya dengan memasak berbagai jenis kue, roti pangganh dan juga merangkai bunga-bunga yang ia petik dari taman di area kastil milik keluarga Vestus.
Vestus melangkah ke arah dapur kastil, terdengar suara tawa dari sana. Ia berjalan pelan dan mencoba untuk melihat sedikit. “Bukankah itu..” gumamnya dengan tatapan yang terpana.
Di sana Jen terlihat sedang tertawa lepas bersama para pelayan wanita maupun pria. Mereka mengolah adonan kue dan saling menaburi tepung adonan sebagai permainan. Vestus tersenyum tipis dan melipat kedua tangannya, lalu bersandar di tembok sisi pintu dapur.
“Tuan muda Vestus!” panggil salah seorang pelayan pria. Hal itu membuat Vestus terkejut, lalu terlihat sedikit salah tingkah.
“Maaf tuan muda, ini semua salinan berkas yang tuan minta..” tukas sang pelayan, Vestus pun menerimanya lalu kembaki ke ruang kerjanya. Sedangkan sang pelayan pria tersebut pun menoleh ke dalam dapur, dan sudah cukup memahami apa yang terjadi dengan tuan muda mereka kali ini.
Setelah beberapa jam kemudian…
Jen sudah menyelesaikan adonan kuenya, dan juga proses memanggang. Kini saatnya menyajikannya bagi Vestus, karena hanya Vestus yang menjadi tuan di kastil tersebut.
Mengetuk pintu, dan memanggilnya.
“Permisi tuan Vestus, apakah tuan sudah selesai bekerja?” seru Jen dari balik pintu. Masih dalam posisi, seperti orang yang sedang menguping.
Tiba-tiba pintu terbuka tanpa ada suara balasan, dan hampir membuat nampan di tangan Jen terjatuh karena efek kejut pintu.
“Maaf bibi, aku baru saja terbangun dari tidurku saat bekerja” ujar Vestus sembari menahan nampan yang sudah terdapat beberapa roti panggang di sana.
“Yah, aku hanya ingin memberikan ini pada tuan Vestus,”ujar Jen sembari menyodorkan nampan. Wangi aroma roti panggang sudah cukup membuat Vestus tergugah karenanya.
“Terima kasih bibi, aku akan menghabiskannya..” ujar Vestus dan menerimanya dengan senang hati.
Di sebuah ruang kerja pribadi Vestus.
Vestus mulai menyantap roti panggang buatan Jen, ia terlihat bahagia namun juga ada tangis di sana. Sembari mengunyah roti panggang buatan Jen, air matanya pun turut menetes. Sepertinya Vestus sedang mengingat kenangan lamanya.
---Kilas sejenak---
“Vestus kemarilah, dan bawalah roti adonan ini pada ibumu!” ujar seorang pria pada seorang anak kecil, yaitu Vestus kecil.
“Ayah, aku sangat menyukai roti adonan ayah dan ibu!” ujarnya girang dan berlari-lari ke arah sang ibunya.
“Hei! Vestus, pelanlah nak, kau akan menjatuhkan roti buatan ayah..” ujar seorang wanita yang terlihat sibuk meletakkan roti-roti panggang di beberapa wadah.
“Apakah ibu akan pergi untuk menjual roti lagi!” ujar Vestus kecil.
“Tentu saja, karena usaha ini harus kita kembangkan terus..” ujar sang ibunya sembari mengusap puncak kepala Vestus kecil.
“Ibu aku sangat bahagia dengan kehidupan kita, aku benci kastil itu bu.. aku benci kakek dan nenek bu…” ujarnya manja.
“Iya nak, mereka tidak akan menemukan kita..” ujar sang ibunya menenangkan.
Seperti biasanya, Vestus kecil mengantarkan beberapa roti panggang buatan ayah dan ibunya. Roti mereka selalu menjadi favorite di toko-toko roti di area tersebut.
Hingga suatu saat…
“Ibu dan ayah pasti sangat senang, jika mereka tahu hasil penjualan roti hari ini laku keras dan juga ada bonus buah-buahan..” ujar Vestus kecil sambil berlari-larian.
Ia pulang dengan mengendarai sepeda miliknya. Vestus berlari ke arah tempat ia menitipkan sepeda miliknya. Mengayuh dan terus mengayuh dengan penuh antusias, dan berharap ayah dan ibunya akan bangga padanya.
Setelah hampir tiga puluh menit, Vestus pun tiba di kediaman keluarganya. Mereka tinggal di sebuah rumah yang berada di pinggiran kota.
***
“Ayah ibu, aku..—“ serunya dengan penuh semangat. Namun sesampainya di depan pintu, Susana rumah terlihat cukup sepi. Barang-barang berserakkan di mana-mana.
Vestus meletakkan buah-buahan pemberian dari para pemilik toko roti. Melangkah dengan kakinya yang mulai terasa gemetar, ia takut jika ayahnya bertengkar dengan ibunya.
“Ibu!!! ayah!!” jeritnya histeris…
****