Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Surat terakhir



“Beloved Mister”


Author by Natalie Ernison


Setelah kepergian nenek Kiarah, Heron sangat terpukul. Terlebih lagi, ibunya, Mrs. Claw mengatakan bahwa sang nenek berpesan agar Heron segera menikah dengan anak dari keluarga Yeremi. Heron sangat marah dengan semua yang telah terjadi didalam hidupnya, ingin rasanya untuk menyerah saja. Namun rasa cintanya pada Jannet jauh lebih besar dari rasa lelah.


~ ~ ~


Kehadiran Jen didalam kehidupan Heron sungguh telah mengubahkan kekerasan hati Heron.Walaupun diawal pertemuan mereka bukanlah sesuatu yang baik. Karena semua diawali dari rasa penasaran, hingga akhirnya Jen pun jatuh cinta pada Heron, si dosen mesumnya.


Begitu banyak kenangan yang telah terlewati bersama Jen. Tentu saja sungguh sulit bagi Heron untuk melupakannya. Terlebih lagi, Jen adalah wanita satu-satunya bagi Heron saat ini, terlepas dari semua perangai mesumnya dimasa lalu.


***


“Kastil kediaman Rezo”


“Apakah kau sudah menemukan keberadaan Heron sekeluarga?” tanya sang nenek pada Rezo.


“Aku sudah mengetahuinya sejak awal,” balas Rezo pada sang nenek.


“Lalu apa tindakanmu setelah ini?” tukas sang nenek, dan ekspresi wajah Rezo tiba-tiba berubah saat sang nenek menanyakan perihal rencananya.


Rezo terlihat bingung akan jawaban yang harus ia katakan. Karena selama ini Rezo terlalu menikmati waktunya bersama dengan Jen. Sifat kasarnya pun perlahan-lahan kembali seperti dahulu. Menjadi sosok yang lebih lembut, dan Rezo hampir saja melupakan rencana balas dendamnya.


“Nenek tidak perlu cemas, aku tahu apa yang harus aku lakukan. “ Ujar Rezo, lalu menjauh dari sang neneknya.


“Sudah kuduga, hatimu akan segera luluh saat merasakan betapa baiknya sosok Jen.” Batin sang nenek.


Rezo pergi ke arah dapur kastil, dan melihat Jen yang sedang menyiapkan hidangan baginya.


“Apakah kau membutuhkan bantuan para pelayan?” ujar Rezo yang baru saja tiba, dan duduk di kursi berhadapan dengan Jen.


Jen hanya menggeleng tersenyum, dan melanjutkan kegiatannya. “Mulai hari ini, para pelayan akan membantumu. Tapi, semua masakan harus kau yang membuatkannya,” ujar Rezo, lalu pergi begitu saja.


”Ada apa dengan Rezo, mengatakan hal itu lalu pergi," batin Jen.


Dibalik tembok dapur, Rezo tersenyum sendiri setelah mengatakan hal itu pada Jen. batin Jen.



>>>


Arghk… ahkk… hhhh…


Rezo terus mengerang, dan wajahnya terlihat begitu pucat. “Rezo, apa yang terjadi padamu sayang?” ucap sang nenek dengan suara lirih. Tak sanggup melihat penderitaan Rezo kala itu.


Jen pun bergegas datang ke dalam kamar tempat Rezo sedang terbaring. “Mengapa Rezo seperti ini nek?” ujar Jen penuh rasa cemas. Karena, walau bagaimanapun juga Rezo adalah sahabat baiknya.


Setelah beberapa saat kemudian…


Rezo akhirnya kembali tenang, dan terlelap. Namun sudah berhari-hari lamanya, Rezo terus seperti ini.


“Jen, bisakah kau pergi ke kota B, untuk mencari beberapa ramuan tradisional?”


“Ramuan tradisional seperti apa nek?”


Sang nenek pun menunjukkan beberapa potongan kertas yang berisikan beberapa tulisan.


“Kau akan pergi bersama dengan satu pelayan kastil. Pelayan itu adalah keturunan serigala, dan bisa melindungimu. Kau pergilah bersamanya, nenek akan menunggu di kasti.” Pinta sang nenek pada Jen.


“Baiklah nek, aku akan berusaha mencari ramuan itu.” Jen langsung menyetujui permintaand ari sang neneknya.


Jen pun pergi bersama salah seorang pelayan, mereka pergi ke kota B untuk mencari ramuan bagi Rezo. Karena Rezo masih terbaring lemah tak berdaya.


***


Kota B


Jen bersama salah satu pelayan pun tiba di sebuah rumah minimalis di daerah tersebut.


“Nona Jen, untuk sementara kita akan berada disini. Semua kebutuhan sudah ada, karena nenek telah memberi kita sejumlah uang.” Ujar sang pelayan wanita pada Jen.


“Baiklah bi, mungkin untuk malam ini kita harus beristirahat terlebih dahulu.”


“Baiklah nona Jen.”


Karena merasa begitu kelelahan, Jen akhirnya beristirahat untuk memulihkan tenaganya.


Hari berikutnya, Jen mulai mencari beberapa ramuan lainnya. Sedangkan pelayan yang bersamanya juga sibuk mencari di daerah lainnya.


“Cuaca hari ini sangat panas sekali,” keluh Jen, lalu menyempatkan diri untuk bersantai di sebuah café terdekat.


“Mencari ramuan begini saja harus menghabiskan biaya yang cukup besar. Aku bahkan tidak mengerti apa kegunaannya. Namun, Rezo sangat membutuhkannya.” Ucap Jen sembari merapikan beberapa tanaman yang telah ia dapatkan tersebut.


Tanpa ada pikiran untuk lari dari tugas tersebut, Jen terlihat begitu tulus ingin membantu proses pemulihan Rezo. Sekalipun kesempatannya untuk kabur sangat banyak.


Terlalu lama berada di café, waktu pun sudah menunjukkan pukul. 20.00. Jen pun bergegas untuk pulang kembali ke kediamannya bersama sang pelayan.


***


“Bibi, maaf aku kelelahan dan bersantai di sebuah café.” Ujar Jen yang baru saja tiba.


Sang pelayan pun tersenyum lembut pada Jen. “Nona Jen sangat tulus dan baik hati. Seharusnya Nona sudah hidup bahagia.”


Jen turut tersenyum dalam kesesakannya. “Tidak bi. Sekarang, aku hanya ingin melihat orang-orang disekitarku merasa bahagia saat bersamaku. Karena, tidak ada lagi alasanku untuk berjuang mendapatkan sesuatu.”


“Mengapa Nona! Bukankah Nona Jen sangat baik hati, Nona sudah sepantasnya bahagia.”


Jen meraih tangan sang pelayan. “Aku tidak memiliki siapapun lagi, jadi aku ingin mendedikasikan hidupku untuk berbuat hal-hal baik.”


Sang pelayan pun memeluk Jen, seakan turut merasakan kepedihan hidup Jen selama ini.


Setelah seminggu lebih, akhirnya smeua ramuan pun terkumpul. Kini saatnya bagi Jen untuk kembali ke kastil kediaman keluarga Rezo. Menyerahkan seluruh ramuan tersebut pada sang nenek.


Sepanjang perjalanan kembali, Jen tak sabar untuk melihat Rezo kembali pulih seperti sedia kala.


“Tuan muda pasti akan sangat bahagia melihat kebaikan Nona yang begitu tulus.” Ucap sang pelayan, namun dari raut wajah si pelayan terlihat sedang menyimpan sesuatu yang belum Jen ketahui.


***


“Kastil kediaman Rezo”


Dengan rasa yang sangat tidak sabar, Jen berjalan setengah berlari untuk menemui sang nenek.


“Nenek! Nek! Lihat, aku sudah mendapatkan semuanya,” Ucap Jen penuh antusias, setelah hampir dua minggu pergi mencari ramuan bagi Rezo.


Namun, suasana kastil terlihat begitu sunyi tak seperti biasanya. Semua pelayan kastil pun terlihat diam menunduk.


“Pelayan! Apakah nenek sedang bersama Rezo?” ujar Jen sembari mendekap sebuah kotak yang berisi ramuan tradisional.


Setibanya di depan sebuah ruangan yang nampak sunyi, dan berhiaskan lilin-lilin berwarna merah. Jen terus melangkah, dan ia pun mendapati sebuah peti mati. Di sana sudah ada nenek dari Rezo, duduk di samping sebuah peti mati.



“Nek, aku sudah membawakan semua yang nenek minta,” ujar Jen mendekati sang nenek.


Sang nenek masih diam, namun sang nenek terlihat sedang menangis. Perlahan Jen mencoba mendekati peti mati tersebut, dan melihat siapa yang terbarng di sana. Setelah ia melihat, ternyata Rezo sudah tak lagi bernyawa.


“Rezo… Rezo!!” teriak Jen, dan melepaskan kotak besar yang sedang berada di dalam dekapannya.


“Maafkan nenek, Jen. Sebenarnya, ramuan itu adalah ramuan yang akan menjadi air juga bunga tabur di pemakaman Rezo.”


Mendengar hal itu, Jen semakin terisak. Tak percaya akan apa yang telah ia dengarkan.


Rezo diharuskan untuk menyantap janin sebagai penambah energi. Namun Rezo tidak ingin melakukannya, hingga akhirnya daya tahan tubuhnya pun semakin menurun. Selang beberapa hari kepergian Jen, keadaan Rezo juga semakin memburuk.


Tiga hari sebelum kembalinya Jen dari kota B, akhirna Rezo menghembuskan napasnya untuk yang terakhir. Sang nenek dari Rezo sudah mengetahui hal itu, namun tidak ingin membuat Jen cemas. Karena sang nenek tahu, bahwa Jen benar-benar melakukannya dengan penuh ketulusan juga kejujuran.


Sang nenek ingin diwaktu terakhir Rezo, Jen melakukan sesuatu yang sangat berharga dan tak akan terlupakan.


>>>


Setelah menyemayamkan jasad Rezo, sang nenek memberikan secarik surat yang dikhususkan bagi Jen. Jen membuka suarat yang telah terlipat rapi, dan berada dalam sebuah kotak kayu.


“Untuk sahabatku, Jannet. Terima kasih atas semua kebaikanmu. Aku tahu kau adalah wanita yang sangat jujur dan tulus. Mungkin, saat kau membaca surat ini aku sudah tidak ada lagi di dunia ini. Maafkan aku yang telah membuatmu menderita karena keegoisan dan ambisi balas dendamku. Sekarang aku benar-benar tahu, bahwa kau wanita yang sangat pantas bahagia. Terima kasih sudah membuatkan masakan daging panggang, juga roti panggang yang nikmat. Mulai saat ini, jadilah wanita yang lebih kuat dan selalu tersenyum. Hei.. hei… aku tidak ingin kau menangis saat membaca surat ini, tersenyumlah Jenku :).” Rezo.


Jen semakin terisak tak sanggup menerima kenyataan akan akhir hidup Rezo. Namun, Jen bersyukur dihari menjelang kepergian Rezo, hubungan keduanya sudah kembali pulih walau masih ada rasa canggung.



Mulai saat ini, Jen sudah tak lagi dapat melihat senyuman sahabat baiknya sejak dimasa kuliah. Kini Jen hanya harus melanjutkan kisah hidupnya dimasa depan.


***