Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Terlalu pahit



>>>Carisya mulai menaruh rasa curiga terhadap Jen, yang kini ia anggap sebagai pengganggu hubungannya bersama Tommy. Namun, ia tidak pernah mengetahui bahwa hubungan Jen bersama Heru lah yang telah ia rusak.


“Kediaman Jen”


Drrttt… panggilan baru..


“Siapa nih nomor baru??” gumam Jen saat menerima melihat layar ponselnya yang sedari tadi terus menyala dengan nomor panggilan baru.


“Iya hallo..


Kak Carisya..----“


Setelah menerima telepon tersebut, Jen pun bergegas mengenakan jaket boomber miliknya. Lalu pergi menuju sebuah Café terbuka.


“Café xxx”


Di Café tersebut telah duduk sepasanga pria dan wanita, yaitu Tommy dan Carisya.


Permisi.. sapa Jen yang baru saja tiba.


“Silakan duduk Janet..” tukas Carisya dengan tatapan sinisnya, sementara Tommy hanya terdiam menahan diri.


“Jeannetly Mercya.


Thank you sudah mau datang diundanganku ini, langsung aja yah Jen.


Aku sudah anggap kamu seperti saudara perempuanku sendiri, tapi aku paling benci curiga dengan orang-orang yang sudah aku percayai!” tukas Carisya dengan nada yang sudah mulai naik.


Iya kak Carisya, silakan langsung aja. Sahut Jen singkat dengan ekspresi datarnya.


“Jen, kamu jujur sama aku, apa hubunganmu dengan Tommy? apa kamu juga suka dengan Tommy??”


Sebelumnya aku minta maaf kak, tapi jujur aja dari dalam hatiku, aku hanya menganggap bang Tommy itu seperti kakak lelakiku. Aku gak ada rasa apa pun pada bang Tomm.


“Tapi kenapa Tommy perhatian banget sama kamu, sampai-sampai berani bohongin aku Jen..”


“Carisya, sudahlah ini masalah kita berdua.” Tukas Tommy disela pembicaraan tersebut.


Bang Tomm, lebih baik abang jujur secara langsung pada kak Carisya, aku gak suka jadi kambing hitam begini!!


“Stop… aku gak mau dengar apa-apa lagi, aku mau kalian jujur langsung sekarang!!” tukas Carisya dengan nada lirihnya.


“Jen maaf, sebenarnya Carisya cinta pertama abang. Maaf gak pernah jujur.” Tukas Tommy disela perbincangan.


Iya aku sudah tahu semua bang Tomm.


Aku sudah dengar semua pembicaraan kalian dengan oma Carla!!


Aku lelah jadi korban percintaan kalian, sudah cukup aku hancur karena kepergian pak Heru…


“Heru?? apa maksudmu Jen??” ujar Carisya terkejut saat mendengar nama Heru.


Kak Carisya, aku sudah lama berpacaran dengan pak Herruon Daniswara.


Tapi, karena perjodohan kalian! pak Heru meninggalkanku! Kakak tahu bagaimana hancurnya aku!! tukas Jen dengan nada lirihnya.


“Jen, jadi perempuan yang Heru perjuangkan itu kamu…” tukas Carisya dengan mata membelalak.


Iya kak, selama ini aku berusaha menahan sakit itu sendiri. Aku gak mau merusak hubungan baik dengan keluarga Edward, jadi biarlah aku yang mengalah. Tukas Jen dengan nada lirih dan air mata yang sudah membanjiri pipi polosnya.


“Jeannet, aku--- aku benar-benar minta maaf…


Aku yang sangat bersalah Jen..” Carisya meraih tangan Jen.


“Jen, aku minta maaf sama kamu Jen… aku yang udah menghancurkan hubunganmu sebenarnya,”


Sudahlah kak Carisya, aku lebih menghargai persahabat kita selama ini, kakak sudah baik banget sama aku. Aku dan bang Tomm, gak ada hubungan apa-apa, bang Tomm lelaki yang baik kak.


“Jen, aku minta maaf.” Carisya pun mendekap Jen dengan penuh pilu.


Semua sudah berlalu kak, aku sudah lama putus dengan pak Heru. Bahkan, aku gak tahu lagi dia dimana sekarang… Jen yang terus terisak, rasa sakit yang selama ini ia pendam.


“Carisya, sekarang kamu tahu siapa yang seharusnya disalahkan!!” tukas Tommy sembari menepuk kedua bahu wanita yang kini ada dihadapannya.


Sudahkan kak, aku mau pulang dulu.


“Jen, tunggu. Kita belum pesan makanan..” Carisya meraih tangan Jen.


Maaf, aku harus pulang… Jen pergi meninggalkan café tersebut dengan rasa luka yang kini terungkit kembali.


>>Perjumpaan yang membuat Jen harus mengingat kembali luka lamanya.


Rasa sakit yang sudah terlalu sakit, hanya bisa Jen tanggung seorang diri. Semua kisah masa lalunya berlalu bagai hembusan angin lewat, terasa sejuk namun hanya terasa sesaat saja.


“Kenapa harus aku yang terluka sendiri, kenapa seperti ini..” ucap Jen dalam sebuah kamar kontarakannya. Hujan yang kini turun seakan ikut mewakili pilu hati yang Jen alami.


Jen hanya terduduk lemas di sebuah kasur miliknya, sambil memandangi kenangan foto dirinya bersama Heru. Kemudian, perlahan merobek-robek lembaran foto tersebut.


Kenapa harus begini… rintih Jen di dalam kamar pribadi miliknya.


Setelah beberapa minggu kemudian…


Jen kembali menjadi dirinya yang hanya fokus dengan pekerjaan. Berangkat pagi, pulang senja dan terkadang malam. Pulang ke rumah lalu istrahat, kemudian keesokan harinya pun berlalu seperti itu secara terus menerus.


_____________*______________


“Kediaman Abyan”


“Iya ma, aku pasti bawakan deh calon menantu mama.


Iya, iya. Aku gak bisa janji deh..” Abyan yang sedang asyik berbinang-bincang bersama ibunya via telepon.


“Hmmp..


Mama, selalu aja khawatir…


Ohh iyaa (tiba-tiba teringat sesuatu).


>>Disisi lainnya…


“Iya hallo by..—


Oke deh, akhir pekan yah..”


“Abyan, kenapa tiba-tiba ngajak jalan-jalan dari jauh-jauh hari,,” gumam Jen setelah menrima telepon dari Abyan.


>>>


“sepertinya aku harus bergerak lebih cepat buat dapatin Jen..” gumam Abyan sembari memandangi foto Jen yang terapat dalam galery ponselnya.


Akhir pekan pun tiba, sungguh hari-hari yang sangat Abyan nantikan.


“Jen, thank you yah atas waktunya..”


Iya by, ayo kita jelajahi wahana ini..


Menghabiskan akhir pekan dengan berpetualang di taman hiburan, seharian penuh mareka habiskan bersama-sama.


“Hahh… lelah juga yah Jen.”


Iya by, udah lama banget aku gak main ke taman hiburan ini.


“Jen, nanti kita makan malam dulu yah,”


Oke, siap by…


Setelah menghabiskan akhir pekan bersama, kini Abyan mengajak Jen untuk makan malam bersama dengannya.


“Resto xxx”


Aby, kamu kok pesan ice cream banyak banget. Ujar Jen saat melihat beberapa pesanan yang baginya cukup banyak.


“Iya Jen, kan ini menu termantap setelah lelah seharian..”


Iya by, tapi aku juga kangen sih kumpul-kumpul bareng teman-teman kita.


“Jen, kamu setiap akhir pekan kosong yah??”


Iya by, aku hanya habiskan waktu di rumah aj, kalau gak yang aku video call sama bapak dan ibuku.


“Oh gitu yah… kapan ajak aku ketemu kedua orang tuamu Jen??”


Aby! apa-apaan sih..


Dalam setiap kebersamaan mereka, tak sekali pun Abyan membuat Jen bersedih, namun selalu berusaha menghibur dengan segala kekonyolan mereka.


>>>”Kediaman Aharon family”


“Aku gak tahu lagi om, aku udah buat Jen begini..” rintih Tommy dihadapan paman dan bibinya.


Sudahlah Tommy, tenang dulu. Semua pasti ada jalan terbaik.


“Iya tante, Jen yang jadi korban keegoisan aku. Seharusnya Jen gak perlu lagi ingat-ingat masa lalunya.” Tommy yang terlihat begitu menyesali ketidakjujuran terhadap Carisya.


“Lalu, apa rencanamu ke depannya bersama Carisya?” tukas Danil Aharon, sang paman.


“Entah om, karena terkadang aku masih belum bisa lupain Jen.”


“Tommy, om harap kamu bisa memantapkan hatimu..”


Tommy yang masih dilema atas perasaannya sendiri. Hal yang sangat sulit untuk Tommy pungkiri, yaitu hatinya yang sudah telanjur ia berikan untuk Jen. Namun, Carisya pun juga tak bisa ia lepaskan.


Setelah Carisya berkata jujur atas apa yang menjadi alasannya meminta putus dari Tommy. Mereka pun kembali menjalin hubungan, namun berbeda dengan Jen yang belum mampu menerima Heru. Hingga akhirnya Heru benar-benar pergi dari kehidupan Jen.