
“Beloved Mister”
Author by Natalie Ernison
Jannet melakukan tugasnya dengan sangat baik, yaitu mencari ramuan tradisional yang diminta oleh nenek dari Rezo. Namun, sebuah kenyataan tak terduga pun terjadi. Sepulang Jannet dari kota B, ternyata Rezo sudah tak lagi bernyawa. Lebih memilukan lagi ialah, ketika Jannet harus membaca surat terakhir dari Rezo.
Sedih sungguh sedih perasaan Jannet kala itu, namun semua sudah berakhir. Rezo adalah seorang pria yang sangat baik, setidaknya Jannet telah berhasil membuat Rezo perlahan melupakan rencana balas dendamnya. Hingga akhirnya, Rezo benar-benar pergi untuk selamanya.
~ ~ ~
“Kastil kediaman keluarga Rezo”
“Sekarang, kau boleh memilih untuk tetap bersama nenek, atau pergi melanjutkan hidupmu.” Ujar nenek Rezo pada Jen.
Jen meraih tangan sang nenek, dan menatap wajah sendu sang nenek. “Jika nenek berkenan, aku ingin menjadi cucu nenek.” Tukas Jen, membuat tetesan air mata keduanya tak henti membasahi pipi.
“Sungguh Jen, nenek sangat bahagia,” isak sang nenek sembari mendekap Jen.
Kini Jen telah memilih untuk tinggal bersama sang nenek, dan memulai bekerja seperti biasanya. Berharap, mulai saat ini Jen tidak lagi merasakan pahitnya hidup dimasa lalu.
***
Sang nenek mengajak Jen untuk pergi ke suatu tempat, dan Jen pun belum mengetahui arah perjalanan mereka.
“Kita sudah sampai,” ucap sang nenek, sembari menghentikan mobil milik mereka di area parkiran sebuah gedung tinggi.
“Apa yang akan kita lakukan nek?” tanya Jen penasaran. Sang nenek meraih tangan Jen, dan menuju sebuah ruangan.
“Selamat datang kembali nyonya Juano,” sapa para pegawa yang ada di sana.
Jen masih heran dengan tujuan dari sang nenek membawanya ke gedung yang terdapat ruangan kantor tersebut.
“Silakan masuk nyonya Juano,” ucap seorang pria bertubuh tinggi profosional.
“Tuan Tyson,” ucap Jen, kala melihat pria yang menyambut kedatangan mereka. Pria tersebut ialah rekan dari Rezo, dan pernah bertemu sekali dengannya.
“Yah, Nona Jannet Mercya,” balas pria yang bernama Tyson tersebut. Mereka pun duduk bersama di sebuah ruangan dan mulai membicarakan hal-hal penting.
“Tuan Tyson, Nona Jannet mulai saat ini akan menjadi pegawai disini. Mohon bimbingannya,” ucap sang nenek.
“Nenek…” ucap Jen pelan. Ada rasa bahagia juga terkejut dihatinya saat mendengar pernyataan dari sang nenek.
“Tentu saja nyonya Juano. Nyonya sudah seperti kerabat bagiku, dan aku turut berduka atas kepergian tuan muda Rezo.”
Mr. Tyson Rhepen
Sang nenek menghela napas pelan. “Yah, tuan Tyson. Nenek, titipkan Jen padamu. Karena kemungkinan, untuk beberapa waktu kedepan, nenek akan pergi ke luar negeri.”
“Apakah perlu aku datang ke mansion?” ujar Mr. Tyson menawarkan diri.
“Tentu saja, kau sudah seperti cucu nenek. Karena nenek tidak akan menempati kastil itu lagi.”
“Orang-orang ini begitu mudahnya memutuskan untuk tinggal dimanapun.” Batin Jen, saat mendengar perbincangan antara nenek Juano dan Mr. Tyson.
“Jen, nenek hari ini akan segera pergi, dan mulai malam ini kau akan menempati mansion keluarga Juano. Supir akan menjemputmu.”
“Baiklah nek, terima kasih banyak nek.” Ucap Jen penuh haru.
“Anggap saja itu rumahmu sendiri, jangan sungkan untuk meminta bantuan para pelayan jika kau membutuhkan sesuatu. Ujar sang nenek, lalu pergi dari ruangan kerja Mr. Tyson.
>>>
Selamat sore sore semuanya, perkenalkan ini adalah pegawai baru disini.” Ujar Mr. Tyson memperkenalkan Jen dihadapan para pegawai lainnya.
“Salam kenal semuanya, mohon bimbingannya.”
Semua terlihat menyambut kehadiran Jen dengan cukup baik, walau untuk kedepannya siapa yang tahu akan seperti apa.
Jen kini bekerja di suatu perusahaan yang bergerak di bagian industri. Jen menjabat sebagai seorang asisten manajer. Dari segi pengalaman, Jen cukup berpengalaman dalam hal berkomunikasi dan berbaur dengan orang-orang baru.
***
“Mansion kediaman Juano family”
“Selamat malam Nona Jannet. Kamar pribadi Nona ada di lantai dua.” Ujar salah seorang pelayan mansion mewah milik keluarga Juano.
Jen mulai berkeliling di area ruangan mansion, sebagai pengusir rasa bosannya. Kini Jen hanya ingin fokus dengan masa depannya. Jen juga menjalankan usaha kedai kopi milik Rezo terdahulu. Ia juga dibantu oleh seorang rekan kepercayaan dari Rezo, yaitu Mr. Tyson.
“Ayah, ibu, sekarang aku memiliki keluarga baru yang menyayangiku. Kuharap, kalian tersenyum disana…” ucap Jen dengan nada lirih. Rasa rindu akan kedua orang tuanya kini membuatnya snagat ingin menangis.
“Maafkan aku Rezo… aku harus menangis malam ini,” ucap Jen sembari terisak.
Jen meraih sebuah album foto, begitu banyak foto dirinya saat bersama Rezo. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Jen menutup kembali album foto tersebut.
“Tuan Heron, aku sangat merindukanmu…” isak Jen.
Sementara disisi lain…
***
“Mansion kediaman Heron Danish”
Prank….
Tiba-tiba saja gelas yang berada di atas meja, terjatuh hingga terpecah. “Jannet,” pekik Heron yang baru saja terbangun dari tidurnya.
Napasnya terengah, dan suara Jen yang memanggil namanya pun terdengar begitu jelas. “Jannet! dimana kau berada baby… baby..” ucap Heron lirih.
Heron terlihat begitu kacau, bahkan ia sudah cukup lama tidak bercukur. Sehingga bulu-bulu halus diwajahnya terlihat jelas.
“Baby… masih adakah harapan untuk kita berjumpa lagi,” ucap Heron dengan suara lirih. Baru kali ini bagi Heron tersiksa dengan begitu parahnya, hanya karena seorang wanita.
Ia hampir gila semenjak kepergian Jen secara tiba-tiba. Heron berada di kota A, sedangkan Jen kini berada di kota C.
Jarak antara kedua kota tersebutpun cukup jauh, jika ditempuh dengan perjalanan menggunakan alat transfortasi mobil.
Sanggupkah Heron lebih bersabar untuk dapat menemukan keberadaan Jen kembali…
***
Kota C
Vestus yang sengaja pergi ke kota C, dengan tujuan perjalanan bisnisnya. Kini Rezo menginap di apartemen yang jaraknya hanya sekitar lima belas menit dari mansion keluarga Juano yang sedang Jen tampati.
“Tuan muda, apakah tuan ingin berkeliling ke area kota ini?” tanya seorang asisten pribadinya.
“Kebetulan sekali, aku sedang merasa sangat bosan. Ayolah!” Ajak Vestus. Mereka pun pergi dengan berjalan kaki menyusuri area kota C.
>>>
Diwaktu yang bersamaan pula, Jen sedang pergi ke sebuah super market bersama salah seorang pelayan juga supir pribadinya. Mereka pergi untuk membeli beberapa item barang.
“Tuan muda, apakah tuan tidak ingin mencari seorang wanita untuk dijadikan pendamping?” tanya sang asisten.
Vestus hanya tersenyum tipis. “Bahkan jika wanita itu ada, belum tentu aku bisa memilikinya,” tukas Vestus sembari terus mneyusuri area jalan yang terasa sejuk karena hembusan angin malam.
“Apakah tuan sedang menunggu seorang wanita?”
“Aku tidak tahu..” ucap Vestus, dan tiba-tiba saja ia mengendus-endus, seolah-olah sedang mencium aroma yang sangat ia kenali.
“Mengapa aroma ini tidak asing bagiku…” ucap Vestus.
***