Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Tak sanggup melihatmu terluka



“Beloved Mister”


Author by Natalie Ernison


Carisya berubah menjadi sosok wanita yang begitu kejam tak berperikemanusiaan lagi. Ia menyiksa Jannet dengan siksaaan yang tidak manusiawi pula. Jannet bahkan ingin segera mati, Jannet tidak sanggup lagi.


~ ~ ~


“Aku tidak akan membiarkanmu mati dengan mudah, kau harus merasakan siksaan yang lebih kejam lagi!” teriak Carisya dengan tertawa lepas, dan terlihat sangat puas.


“Cepat setubuhi wanita jal**g ini!” titah Carisya pada dua manusia serigala buas.


“Tidakkk… tidakkk…” isak Jen, ia berusaha bergerak, namun tenaganya sudah terkuras habis. Tubuhnya sangat sakit, dan kini ia bahkan sudah terlentang di lantai dalam keadaan yang sangat memprihatinkan.


“Cepat setubuhi jal**g ini! dia masih perawan dan sempit!” teriak Carisya dengan terbahak.


Kedua tangan Jen terkunci ke samping tubuhnya, Jen sudah tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi padanya kini.


Bughhh…. dua seriga muncul dari balik tembok yang runtuh secara mendadak.


“Siapa! siapa yang berani menggangguku!” rucau Carisya dengan mata membelalak.


Syashhh… cakaran tajam mengenai lengan Carisya, dan kedua mahkluk itu pun berubah wujud.


Ahkk…. pekik Carisya sembari menahan luka pada lengannya dan darah segar yang menetes. Kedua serigala buas itupun ternyata Heron dan Vestus. Namun Heron terlihat sangat lemah dengan luka pada tubuhnya yang sudah mulai pulih.


“Jannet!!!” teriak histeris Heron, tatkala melihat wanitanya tekapar tanpa busana dan hanya mengenakan bra dan celana dalam saja. Betapa hancurnya hati Heron saat itu, ia pun belum pernah berbuat sekeji ini pada Jannet.


“Kau wanita iblis!” teriak Heron penuh emosi. Heron meraih tubuh lemah Jen, sementara kedua serigala bejat tadi langsung meringuk ketakutan.


Vestus pun menghajar kedua serigala bejat tadi hingga keduanya memohon untuk segera mati.


“Baby.. kumohon sadarlah baby..” ucap Heron penuh lirih.


Jen terlihat begitu menderita, tubuhnya gemetar menahan rasa sakit cambukan Carisya. Terlebih lagi keadaannya yang hanya mengenakan pakaian dalam, sungguh menambah rasa sakit di hati Heron. Rasa tak sanggup menyaksikan penderitaan wanitanya.


“Tu-tuannn… maafkan.. ak-kuhh… akkuhhh salahh menilaiiimuuhhh hhh hhh…” ucap Jen dengan nada lirih dan gemetar.


“Aku tidak ingin kau seperti ini..baby….” Heron terlihat gemetar dan perlahan mulai berubah wujud menjadi seekor serigala buas.


“Paman! hentikan, kita harus pastikan keselamatan nona Jannet terlebih dahulu..” cegat Vestus, menahan langkah Heron yang ingin menyerang ke  arah Carisya.


“Wanita ****** ini pantas menerima hal ini! dia pantas mati..” teriak Carisya kala itu.


“Paman, kita urus dulu keselamatan bibi..” pinta Vestus, akhirnya Heron pun mendengarkan perkataan Vestus, dan mereka pun segera membawa Jen menuju sebuah kastil milik keluarga Vestus.


***


“Kastil kediaman keluarga Vestus Danish”



Tubuhnya Jen dibaringkan di atas kasur king size, di kastil milik keluarga Vestus di sebuah pulau nan jauh dari keramaian. Heron tidak sanggup melihat keadaan Jen kala itu. Beruntung ada beberapa pelayan kastil yang membantu Jen membersihkan diri, juga mengenakannya sebuah gaun tidur.


“Paman…” ujar Vestus menepuk bahu Heron.


Heron kala itu sedang menangis dalam kesendiriannya. Rasa hancur hatinya saat melihat betapa kejinya perbuatan keluarganya pada Jen. Disaat keadaannya pun sedang berjuang untuk memulihkan diri, namun justru harus menyaksikan kemalangan nasib dari wanita yang sangat ia cintai.


“Apakah aku masih pantas bersama Jannet, sedangkan aku saja tidak mampu melindunginya. Semua ini tidak akan pernah terjadi, jika bukan karena aku yang selalu mengusiknya!” sesal Heron.


“Paman, semua sudah menjadi takdir hidup kaum kita. Namun untuk bersatu dengan manusia, bukankah paman sudah tahu konsekuensinya. Kita akan cari solusi terbaiknya,” ujar Vestus mencoba menenangkan pikiran Heron.


Heron pun masih belum sepenuhnya pulih, namun Heron mencoba untuk menguatkan dirinya.


“Aku tidak mungkin tega menyantap janin calon anakku sendiri, Vestus. Sekali pun aku akan abadi seperti leluhur kita, itu sangat tidak mungkin. Aku sudah hidup seperti manusia pada umumnya, aku tidak mungkin sekeji itu…” lirih Heron.


>>>


Setelah beberapa hari kemudian…


Jen sudah mulai membaik, bahkan luka memar bekas cambukan sudah terlihat pulih. Semua berkat ramuan alam yang telah di racik oleh para pelayan kastil kediaman keluarga Vestus.


Duduk bersandar di kepala bagian kasur tempatnya berada, dengan ditemani minuman ramuan hangat. Pintu kamarnya pun terbuka setelah ada seseorang yang mengetuknya. Muncul Heron dari balik pintu, dengan keadaan tubuhnya yang penuh luka, memar.


“Kau sudah sehat?” tanya Heron yang baru saja tiba, lalu duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur Jen.



“Yah, aku sudah cukup baik” jawab Jen sendu. Ingin tersenyum namun ada rasa canggung diantara mereka.


“Maaf.. maafkan aku Jannet… jika bukan karena aku yang selalu menganggumu, mungkin semua ini tidak akan terjadi padamu..” sesal Heron.


Jen meletakkan gelas kayunya, dan tersenyum sendu pada Heron. “Semua bukan salah tuan, tapi semua sudah menjadi takdir hidup kita. Aku tidak ingin menyalahkan siapapun dalam hal ini, semua sudah terjadi..” ucap Jen dengan nada tenang.



“Baby… masih bisakah aku memperbaiki semuanya..” ucap Heron dengan penuh lirih, dan tersungkur di hadapan Jen.


“Tuan Heron jangan begini..” ucap Jen dengan mata yang sudah berkaca-kaca, menahan perih dihatinya.


“Baby… ijinkan aku memperbaiki semuanya, dan membuat mereka membayar semua ini..” isak Heron.


Kali ini Heron menunjukkan sisi lemahnya di hadapan Jen. Jen maraih wajah Heron dan mencoba untuk memeluk Heron.


“Aku sangat takut… aku takut jika kesalahpahamanku terus berlanjut, hingga berujung penyesalan..” isak Jen, saat berada dalam pelukan hangat Heron.


“Mereka akan membayar semua yang mereka perbuat padamu. Aku bersumpah, berkali lipat akan mereka rasakan..” ucap Heron disela tangisan pilunya.


>>>


Setelah saling terbuka dan menyelesaikan segala kesalahpahaman yang ada, Jen pun sudah mulai membaik. Namun Heron justru kerap kali muntah darah.


Ugh… Heron mulai memuntahkan darah dari mulutnya, dan ia terlihat sangat tersiksa.


“Tuan.. apa yang terjadi..” lirih Jen dengan rasa penuh kecemasan.


“Aku akan membaik, kau istrahatlah di dalam..” ujar Heron menenangkan hati Jen. Namun Jen kekeh tetap berada di samping Heron. Tak ingin jauh dari pria luar biasanya.


“Tidak.. aku tidak ingin pergi!” tukas Jen, dan terus membantu Heron untuk membersihkan bekas darah yang berserak di lantai kastil.


“Baby… kau harus perbanyak istrahat, aku akan baik-baik saja..” bujuk Heron, berharap Jen mendengarkannya.


“Benar bibi. Paman akan menerima perawatan khusus, bibi pun harus pikirkan kesehatan bibi..” tukas Vestus yang berusaha membantu sang pamannya untuk membujuk Jen.


‘Tapi, aku..—“


“Baby, ini adalah efek dari ramuan pemulihan yang telah kuminum selama ini. Ini adalah proses pemulihanku..” ujar Heron berusaha membujuk Jen. Jen akhirnya menyerah dan mendengarkan perkataan Heron.


Jen sangat cemas akan keadaan Heron kini, ia tidak ingin merasakan penyesalan untuk kedua kalinya. Tentang masa lalu Heron pun sudah ia anggap kisah lama dan tak perlu lagi untuk dibicarakan. Bahkan Heron pun rela mengorbankan diri dan menerima segala siksaan, hanya demi cintanya pada Jen.


>>


Hahh hhh hhh… Heron bertumpu pada tembok, sembari mencengkram area dadanya. Karena darah yang ia muntahkan tak henti-hentinya.


“Apakah aku akan berakhir dengan cara seperti ini..”gumam Heron dan akhirnya ia jatuh terhuyung.


****