Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Andai kau tahu perasaanku



“Beloved Mister”


Author by Natalie Ernison


Setelah melihat semua yang telah Heron lakukan, Jen benar-benar kecewa. Baru saja ia membuka hatinya pada Heron setelah sekian lama Heron mengejar. Akhirnya Jen harus merasakan rasa kecewa terdalam di dalam kisah cintanya.


~ ~ ~


Kini Jen hanya melakukan kegiatannya secara normal seperti biasanya. Semua kesedihannya ia lampiaskan pada semua pekerjaan maupun kesibukan lainnya.


Drrrttt… Rezo memanggil…


“Rezo! tidak biasanya menelponku” gumam Jen, lalu menjawab telepon dari Rezo.


Rezo: “Jen, aku merindukanmu..—“ kekeh Rezo dari balik panggilan suara keduanya.


Tsk… “Rezo kau tidak berubah sejak dulu..—“ kekeh Jen, tatkala mendengar apa yang Rezo ucakan dari balik panggilan suaranya. Sekian menit hingga jam, keduanya pun saling berbincang dan larut dalam percakapan.


Setiba jam pulang bekerja, Jen sudah berniat untuk pergi ke salah satu mini market terdekat.


***


Setelah berbelanja berbagai bahan makanan pokok, Jen pun hendak memanggil taksi untuk ia tumpangi menuju kediamannya.


Sedang berdiri di area loby, fokus Jen teralihkan oleh dua pasangan yang terlihat begitu mesranya. Raut wajah Jen seketika itu juga berubah menjadi masam. Si wanita yang sedang merangkul pasangan prianya, melirik ke  arah Jen dengan tatapan merendahkan.


Detik itu juga, taksi pun sudah terhenti tepat di hadapan Jen. Jen pun acuh lalu segera masuk ke dalam taksi. Si pria yang bersama si wanita pun menatap ke  arah Jen, sebelum Jen akhirnya masuk ke dalam taksi.


Pria itu ialah Heron bersama nona Carisya. Jen meremas kantong yang sedang ia genggam. Rasa sesak di dadanya kembali muncul. Sesak dan seakan sulit untuk ia tahan lagi.


***


“Kediaman Jannet”


“Mengapa tiba-tiba ingin pindah, nona Jen?” ujar seorang pemilik gedung kediaman Jen.


“aku hanya ingin mencari suasana baru, nyonya” ujar Jen dengan tersenyum sendu.


Sang pemilik gedung kontrakan pun menepuk bahu Jen. “Kapan pun waktunya, kau boleh kembali, jika kau berniat kembali” tukas si pemilik gedung.


“Baik nyonya, terima kasih atas segalanya.”


Jen pun mulai  berkemas, dan menyeret koper besar miliknya. Sebelum ia melangkah jauh, sejenak Jen menatap ke  arah gedung tempat yang ia telah tinggali.


Sepanjang perjalanan, Jen merasa begitu sesak. Drrttt… Paman Jim memanggil…


Jannet: “Hallo paman Jim”


Mr. Jim: “Jen, mengapa mendadak pergi? apakah aku sudah tidak nyaman?”


Jannet: “Iya paman. Aku ingin pergi ke temoat yang lebih baru dan suasana baru..—“ cukup lama Jen berbincang dengan Mr. Jim.


***


Jen pun tiba di sebuah rumah perumahan mini, dan itu adalah perumahan pemberian dari keluarga Aharon. Kini Jen memulai kehidupan barunya di tempat yang baru dan juga cukup jauh dari kota A.


Mulai menata rumah kecilnya, yang juga berbentuk memanjang dan bersambung dengan rumah lainnya.


“Ayah, ibu! apakah kalian tahu bagaimana kehidupanku kini?” lirih Jen. Tanpa sadar, air matanya mulai menetes pilu. Menjalani kehidupan sendiri tanpa kehadiran keluarga, sedih memang.


>>>


Tempat bekerja pun sudah tak semegah saat ia berada di kota A. Kini Jen bekerja di salah satu perusahaan swasta dan ia juga memulai untuk membuka kedai kopi.


“Jannet!” seru seseorang sembari menepuk bahunya.


Ahkk.. desah kaget Jen kala itu.”Rezo!” ujar Jen sembari memukul kecil lengan kokoh milik Rezo.


“Kau masih saja terlihat cantik” puji Rezo teman lama Jen.


“Kau pun tetap saja seorang play boy” kekeh Jen.


“Jannet! aku rela hanya menjadi milikmu seorang, yang penting..—“


“Rezo! kau keterlauan” rengek Jen. Keduanya pun berbincang-bincang dengan asyiknya.


***


“Selamat datang nona Jannet Mercya, semoga betah berada di sini” tukas seorang pria yang ialah atasan dari Jen.


Jen mulai bekerja dengan waktu normalnya. Perlahan-lahan kenangan pahitnya bersama Heron pun hanyut dalam padatnya pekerjaan.


Seusai bekerja, Jen menanti angkutan umum sebagai sarana transportasinya saat bepergian kemana pun.


“Jannet!” seru seseorang dari balik helm hitam, seorang pria yang mengendarai motor sport berwarna hitam.


“Rezo! mengapa kau kemari?” ujar Jen dengan tersenyum seperti biasanya.


“Tentu saja aku ingin menjemputmu, ayo naik!” tukas Rezo. Tanpa banyak bertanya lagi, Jen pun segera naik dan pergi bersama Rezo.


>>


Sepanjang perjalanan keduanya begitu asyik menikmati sejuknya angin senja. Berhenti di area keramaian, tepatnya area kuliner. Jen tak henti-hentinya tertawa saat bersama Rezo. Seakan tak ada lagi kesedihan di sana, walau sebenarnya luka hatinya selalu berusaha untuk Jen tutupi.



“Akhir pekan aku ingin mengajakmu menikmati senja, dan kita juga berolahraga” ujar Rezo sembari menyeruput minuman kaleng miliknya.


“Ide bagus, aku ikut saja” ujar Jen yang sedang menikmati camilannya.


“Jen, mengapa kau tiba-tiba pindah dari kediamanmu dan juga dari pekerjaan?” tanya Rezo disela perbincangan. Spontan membuat raut wajah Jen pun berubah seketika.


“Apakah itu sangat penting bagimu!” tukas Jen dengan wajah datar.


“Ahh, maaf..-“ tukas Rezo. Rezo sepertinya mulai memahami sesuatu hal yang belum ia tahu dari kehidupan Jen. Mungkin pertanyaan tersebut tidak tepat bagi Jen, sehingga Rezo tidak melanjutkan pertanyaannya lagi.


“Rezo, terima kasih untuk hari ini dan hari-hari sebelumnya” tukas Jen sembari memandang ke atas awan yang sudah mulai berubah gelap.


“Jannet, andai kau tahu! selama bertahun-tahun aku selalu menanti saat-saat seperti ini bersamamu” batin Rezo. Rezo merupakan pria yang cukup baik dalam pergaulannya.


Namun karena sikap ramahnya yang terkadang berlebihan, ia dianggap pria yang suka menggoda wanita. Bahkan dicap sebagai play boy. Namun tidak bagi Jen, karena Jen sangat mengenal siapa Rezo sebenarnya.


***


“Jannet! terima kasih atas kesediaanmu pergi bersamaku” tukas Rezo saat tiba di halaman kediaman Jen.


Jen tersenyum tulus, “ia Rezo, aku bahagia hari ini.” Ucap Jen ringan, namun bagi Rezo itu adalah hal yang luar


biasa. Hampir membuat detak jantungnya kian tak beraturan. Walau sebatas senyuman dan ucapan terima kasih.


Sepanjang perjalanan pulang, Rezo terus tersenyum tatkala mengingat kebersamaannya bersama Jen hari ini.


***


“Kediaman Rezo Alvhes Juano”


Baru saja tiba di kediamannya, Rezo harus mendengar pertengkaran antara kedua orang tuanya.


“Ibu!” seru Rezo, tatkala melihat bagian bahu ibunya bersimba darah.


“Kalian berdua sama-sama tidak berguna!” tukas seorang pria dengan bulu-bulu pada area tubuhnya.


“Ayah! apa yang telah ayah lakukan pada ibu!” teriak Rezo.


Bugh…


“Kau anak sialan! berani menantangku hah!” bentak sang ayahnya, dan menendangi bahu Rezo. Tendangan yang cukup keras, dan membuat Rezo terhempas ke dinding.


“Ayah hentikan! jangan sakiti anakku..” lirih sang ibunya sembari berlutut di kaki sang ayahnya.


Sang ayahnya pun terbahak. “Kau hanya wanita tak berguna, jadi jangan pernah campuri urusanku lagi!” tukas ayah Rezo, dan tiba-tiba melompat ke arah jendela, dan lenyap.


Rezo Alvhes Juano



 ****