
“Beloved Mister”
Author by Natalie Ernison
Akibat pelanggaran dalam tradisi keluarga kaum manusia serigala, Heron harus menerima hukuman terberat dalam hidupnya. Tak cukup kehilangan wanita yang sangat ia cintai, kini ia harus menerima hukuman keluarga.
~ ~ ~
“Paman!” jerit Vestus, setelah mendapati sang pamannya, Heron terlihat begitu menyedihkan.
Tiba-tiba, Heron membuka pelan kedua matanya dan mencoba untuk berbicara.
“Aku akan segera memulihkan dirikuhh… cepatthhh selamatkann bibimu…” ucap Heron dengan suara gemetar nan lirih.
***
“Kediaman Jannet”
Jen masih sangat bersedih dengan keputusannya, namun nasi sudah menjadi bubur. Jen hanya bisa merelakan semua yang terjadi di dalam hidupnya berlalu begitu saja.
Suara ketukan pintu, Jen pun beranjak dari tempat tidurnya dan berniat untuk membuka pintu.
Saat baru saja membuka pintu, terlihat seorang wanita yang masih tergolong muda untuk ukuran seorang ibu-ibu. Berdiri di depan pintu kamar kediaman Jen, dengan setelan pakaian yang serba gelap.
“Jannet!” ucap sang wanita tersebut.
Jen mengernyitkan dahinya, ia heran mengapa wanita ini langsung mengetahui namanya.
“Yah, ada apa nyonya, ada yang bisa dibantu?” ujar Jen dengan nada ramah.
“Apakah kau tidak mengenalku?” tanya sang wanita dengan tersenyum miring.
“Maaf nyonya, apakah kita sebelumnya sudah pernah bertemu?” balas Jen dengan ekspresi yang semakin bingung.
“Aku adalah ibu dari pria yang telah mengorbankan hidupnya untukmu!” tukas sang wanita yang ialah Mrs. Clawie Danish, ibu dari Heron.
“Apa maksud anda nyonya, mengorbankan hidupnya!”
Mrs. Claw tersenyum miring, menatap tajam Jen. “Hanya gara-gara dirimu, Heron mengorbankan hidupnya.. sungguh gadis kecil yang hebat!” cela Mrs. Claw.
“Aku tidak mengerti maksud dari perkataan nyonya.. aku..—“
Grepp…
“Kau hanya penghalang kemajuan keluarga kaum serigala! Heron harus menerima cambukan api, akibat dari pelanggarannya!” tukas Mrs. Claw sambil mencengkram leher Jen dan…
Bugh… tubuh Jen terlempar ke arah dinding.
Ahkk… Jen melenguh kesakitan. Mengapa hal ini harus terjadi pada Jen. Di saat Jen belum mengetahui hal apa pun dan ia harus menerima perlakuan seperti ini.
Ahkk hhh… desah kesakitan Jen, sambil mencengkram area pahanya yang mengenai sisi pintu kamar, akibat benturan tadi.
“Apa keunggulanmu, sehingga Heron berani menetang kami hh!” teriak Mrs. Claw.
Plak…
Sebuah tamparan keras, mengenai wajah cantik Jen. Untuk pertama dalam hidupnya, ia menerima perlakuan kasar seperti ini, bahkan hingga memukulinya dan membuatnya kesakitan.
“Kau akan menjadi santapan lezat serigala lapar!” tukas Mrs. Claw dengan tertawa lepas.
Arghkkk… Jen berteriak, saat tubuhnya di bawa melayang, dalam keadaan paksa, bahkan rambutnya pun di jambak kasar.
>>>
“Nona Jannet! nona!” seru Vestus yang baru saja tiba. Namun yang ia dapati hanyalah keadaan kamar yang cukup berantakan.
Vestus menggunakan insting binatangnya untuk melacak keberadaan Jen saat ini. Vestus mengendu-endus area kamar kediaman Jen. Ia pun mendapati helai bulu, yang tak lain dari bulu kaumnya, manusia serigala.
“Nyonya Claw… tidak, tidak mungkin..” ucap Vestus, dan tersungkur di lantai kamar kediaman Jen. Ia sangat tahu betapa kejamnya perbuatan Mrs. Claw.
***
Plak… satu tamparan lagi, dan telah membuat gusi Jen terluka karena kerasanya tamparan tersebut.
Darah pun menetes dari sudur bibir Jen, Jen hanya bisa menangis menerima perlakuan kejam ini.
“Kaukah yang menggagalkan rencana hebat kami! dasar j*l*ng!” bentak seorang wanita, wankita yang sangat Jen kenal, yaitu nona Carisya.
Plak… satu tamparan pun sebagai penyambut kedatangan Carisya malam itu.
Jen hanya tersungkur tak berdaya, ia bahkan tidak mengerti akan semua yang terjadi secara tiba-tiba.
“Nyonya Claw, apakah kita buat wanita ****** ini sadar akan posisinya!” cela Carisya. Malam ini Carisya sangat berbeda dan tidak seperti dirinya yang pernah Jen temui waktu itu.
“Hubunganku dengan Heron tak lebih dari sekedar melanjutkan kekuasaan. Demi kenyamanan dan ketenangan, aku rela membunuh bayiku! lalu kau hadir, apakah kau tahu apa yang harus aku lakukan padamu!” tukas Carisya, dan…
Bugh… tendangan keras dari Carisya menghantam paha Jen yang sudah sakit sejak ia berada di kediamannya beberapa saat lalu.
Ini sangat menyakitkan, siapa saja tolong Jen. Jen tidak akan sanggup menerima penyiksaan selanjutnya, Jen hanyalah manusia biasa.
Ahkk hh hh… napas Jen sudah terasa kian memberat, dan tubuhnya pun terasa bergetar menahan rasa sakit pada tubuhnya.
“Cepat memohonlah padaku! maka aku akan meringankan penderitaanmu! cepat!” bentak Carisya sambil menjambak rambut Jen. Mengangkat kepala Jen hingga mendongak ke arahnya.
“Kau sangat keji.. bahkan anakmu sendiri kau jadikan korban keserakahanmu… uhkk…” ucap Jen lirih, dengan suara yang bergetar.
“Aku memang keji! lalu apa urusanmu! sepertinya akan sangat hebat jika melihat seorang manusia perawan diprawani oleh beberapa serigala..” tukas Carisya dengan tertawa jahat.
Hmm… “Tidak… tidak..” Jen menggeleng ketakutan. Tidak mungkin ia berakhir dengan cara seperti ini, bahkan dengan penuh penghinaan seperti ini.
“Aku ingin melihat seberapa hebatnya dirimu saat berhubungan dengan seriga langsung!” tukas Carisya, lalu membiarkan Jen terkapar tak berdaya di lantai nan dingin.
>>>
“Jangan, lepaskan aku…” lirih Jen kala itu. Carisya menyeret tubuhnya secara paksa, dan mengoyakkan seluruh pakaian Jen.
Kini yang tertinggal hanyalah bra dan celana dalam Jen. Sungguh penghinaan terendah bagi wanita, terlebih lagi Jen masih seorang perawan.
Jen menangis meratapi penderitaannya malam ini. Kedua tangannya terikat ke atas, menggunakan tali tambang dan membuat pergelangan tangannya memerah.
Sementara Carisya tertawa terbahak-bahak, dan sangat puas dengan pemandangan malam ini. Carisya berjalan ke arah Jen.
“Kau tak lebih dari seorang wanita ****** rendahan.. bahkan semua kaum serigala melihat betapa rendahnya harga dirimu..” cela Carisya.
Keadaan Jen sungguh sangat memprihatinkan, ia di ikat bagaikan makhluk yang tak berarti lagi. Sungguh malang nasib Jen malam ini, Jen tak sanggup lagi menahan semua rasa sedih dan malunya.
Kini Carisya menggenggam sebuah cambukan, dan siap ia arahkan pada sekujur tubuh Jen.
“Sepertinya aku harus membungkam mulut jalangmu ini, sehingga kau sadar dan tahu diri!” bentak Carisya.
“Apa yang kau lakukan! kau bahkan telah berhasil menghancurkan hubunganku bersama tuan Heron, sekarang kau berbuat begini.. kau ibliss..” tukas Jen dengan terisak.
Splashh… cambukan dari Carisya menghantam paha putih Jen hingga terlihat memar.
Ahhkkk…. jeritan rasa sakit Jen memenuhi kerongkongannya, rasa tak sanggup lagi untuk menahan kekejaman ini.
“Aku iblis! yah, aku iblis! gara-gara kau, Heron menipuku, berpura-pura menerimaku hanya agar kau aman! kau tahu itu jal**g!” bentak Carisya, sembari mencengkram rahang Jen.
“Aphaa… tuan Heron…” ucap jen lirih. Ia sangat tidak menyangka akan kenyataan sebenarnya, tindakan Heron kala itu hanya untuk mengalihkan fokus Carisya, demi keamanan Jen.
Spalsshhh… satu cambukan lagi menghantam paha kanan Jen dan terlihat sangat memar.
Ahkkk… Jen menjerit parau, bahkan suara seakan terkuras habis.
“Cepat bunuh saja akuuhh… hhh hhh…” ucap Jen lirih. Siksaan ini sangat tidak menusiawi baginya. Bukan hanya merendahkan harga dirinya, tetapi juga membuatnya seakan begitu hina.
****