
>>Bab sebelumnya…
Abyan, yang baru saja datang untuk menemui Jen, si sahabat baiknya sejak kuliah.
“Jen, aku pengen banget ngobrol banyak sama kamu, apa kamu ada waktu??” ujar Abyan dengan senyuman sendunya, saat
memandangi wajah cantik si gadis kesayangannya sejak kuliah.
Tapi aku harus pulang mandi dan dandan yang cantik by, biar kamu gak malu. Tukas Jen dengan senyuman manisnya.
“Wokehh wokehh good girl…” ujar Abyan
sambil menepuk bahu Jen, lalu mereka pun berjalan menuju kontrakan Jen.
“Kontrakan kediaman Jen”
Aby, sorry banget…
Rumahku kecil buat kamu… ujar Jen sembari menyuguhkan beberapa air mineral dan juga camilan.
“Jen, santai aja kali! kita kan dimasa berjuang...” ujar Abyan sembari meneguk air, dan juga mencicip beberapa camilan yang telah tersedia di depannya.
By, kamu duduk aja dulu yah…
Aku mau mandi dan siap-siap…
“Ternyata aku gak salah pilih perempuan,
Jen kamu memang penuh dengan kejutan..” gumam Abyan sambil tersenyum tipis saat
memandangi dinding-dinding rumah Jen. Dinding yang dicar berwarna abu-abu soft,
dengan segala hiaan maupun gantungan foto-foto mereka saat semasa kuliah beberapa tahun silam.
Setelah beberapa saat kemudian…
Aby, sorry yah kamu harus duduk dilantai
hanya dengan karpet biasa. Ujar Jen sembari merapikan jaket denimnya.
“Kamu kenapa sih Jen, santai aja kali..
Dulu kita juga sudah terbiasa juga, aku pun pernah tinggal di kost, kalau kamu udah bisa ngontrak sekarang..”
Iya by, tapi kamu sekarangkan sudah
punya apartemen sendiri…
“Iya sih Jen, tapi yaudahlah gak sah bahas lagi.
Yuk kita pergi..”
Setelah selesai menyiapkan diri, mereka
pun berjalan menyusuri gang kecil area kontrakan kediaman Jen.
Sorry by, gang rumahku emang agak sempit. Jadinya mobilmu gak bisa masuk deh…
“Iya Jen, sudahlah ayo masuk..” Abyan
mempersilakan Jen untuk memasuki mobil Ayla berwarna merah marun miliknya.
Hmmpp…
Aku salut banget sama kamu by, usaha kerja kerasmu membuahkan hasil yang membangkan oang tuamu pastinya.
“Thank you Jen, tapi kamu tahulah semua
perjuangan kita semenjak kuliah itu gak mudah banget..”
Iya by, aku masih ingat banget kamu sering telat masuk kelas, gara-gara begadang dari kedai kopi. Terus juga sering banget kamu lupa ganti baju baristamu… tukas Jen dengan terkekeh.
“Iya Jen, kocak bet dah kalau ingat itu yah..—“ mereka pun sama-sama terkekeh, disaat mengingat masa-masa kuliah bersama.
Setelah berbincang-bincang sepanjang jalan, akhirnya mereka pun tiba di sebuah kedai kopi yang cukup terkenal.
“Kedai kopi Franklyn”
Wauu… nama kedainya diambil dari marga
ujung namamu yah by. Ujar Jen sembari
memandangi kedai kopi milik Abyan penuh dengan kekaguman.
“Selamat malam tuan Laksa…” sapa para
karyawannya yang juga beberapa merupakan teman dekat dari Abyan.
Mereka manggil kamu dengan nama tengah
by??
“Iya Jen, agak asing yah buat kamu??” tukas Abyan sembari mempersilakan Jen untuk duduk.
“Oke, aku akan membuat kopi special buat
tamu kita ini,” ujar Abyan sembari mempersiapkan diri untuk menyajikan kopi
special.
Beberapa menit kemudian…
“Silakan dinikmati nona,” Abyan yang baru saja selesai menyajikan ice coffee, menu recommended kedainya.
Wah… emmmppp…
Enak banget by… ujar Jen memuji, dengan
wajah yang terlihat begitu bahagia.
Sejak masa kuliah, Jen lebih suka memanggil Abyan dengan sebutan “By/ Aby” sebuah panggilan akrab bagi Abyan.
Abyan pun telah sekian tahun menyukai Jen, semenjak mereka berada di tingkat dua akhir, yaitu semester empat menuju semester lima. Namun, Abyan pun sebenarnya telah mengetahui hubungan Jen bersama dosen tampannya yaitu Herruon Daniswara. Abyan, hanya bisa terbungkam tak ingin membicarakan hal tersebut.
Seiring berjalannya waktu, Abyan pun mulai mengetahui bahwa Jen telah tak lagi bersama Heru si dosen tampan itu. Sejak itulah Abyan mulai berani mendekati Jen, dan saat acara reunian tersebutlah Abyan mengungkapkan isi hatinya.
Hasil yang Abyan dapatkan pun nihil, Jen
kecanggungan di antara mereka, Abyan pun memilih untuk tidak memaksakan kehendaknya. Pertemuan Jen bersama Heru di sebuah area perumahan untuk terakhir kali pun sebenarnya telah di ketahui oleh Abyan.
Abyan diam-diam mengamati Jen dari jarak
sekian meter, dan ia pun telah melihat semua yang telah terjadi, bagaimana hancurnya perasaan Abyan saat menyaksikan sahabat sekaligus gadis kesayangannya menangis sedu. Abyan hanya bisa memandangi dari jarak jauh, tak memiliki keberanian untuk mendekati karena tak ingin Jen bersikap canggung padanya.
Dia pun menyadari posisinya yang belum terlalu mapan bagi Jen, dan ia tahu pria-pria yang mendekati Jen bukan hanya dirinya,
terlebih lagi yang mendekati Jen ialah pria-pria mapan secara materi.
“Jen, inilah hasil kerja kerasku selama
ini. Nabung habis-habisan dan juga selama di Inggris aku kerja banting badan..” Abyan terkekeh.
Hmmp, iya nikmatilah by…
Aku bangga sama kamu. Ujar Jen tersenyum
manis, sambil menkmati ice coffee buatan Abyan.
“Ohh iya Jen, akhir pekan ini ke taman
hiburan yu..”
Kemana by??
“Safari!! gimana?”
Aku sih yes, tapi sama siapa aja by?
“Nanti aku cari teman-teman dulu yah
Jen..”
Selama menjelang akhir pekan, Abyan begitu bersemangat menanti saat-saat bersama Jen.
Beberapa hari kemudian…
Drrttt… Abyan memanggil..
“Haloo by, iya aku udah siap-siap nih.
Oke deh aku keluar sekarang yah..”
Setelah selesai bersiap-siap, Jen pun terburu-buru menemui Abyan yang kini sedang
menunggu Jen di area parkiran kediaman Jen.
“Jen,, sini!!” ujar Abyan dari dalam
mobil aplhard hitam.
“Hallo nona Jeannet…” sapa para rekan
dan juga teman-teman Abyan saat Jen masuk ke dalam mobil tersebut.
“Jen, hari ini kita pakai mobil temanku,
dan kita menjadi penumpang.
Bro, kalau capek, biar gua yang
nyetir..”
Oke siap Laksa, sialakan lu istrahat aja dulu. Tukas seorang rekan Abyan yang sedang menyetir.
Selama berada di taman hiburan, mereka
terlihat begitu menikmati setiap wahana-wahana yang tersedia. Selama seharian
penuh bermain wahana-wahana, akhirnya mereka pun kembali ke Jakarta dengan penuh rasa lelah.
“Gilaaaa… gokil abis deh hari ini..
Tapi kasian banget cewek lu Laks, malah
gak kuat naik wahana.. tukas salah seorang rekan Abyan.
“Iya bro, Jen emang fobia ketinggian..” tukas Abyan sembari melirik ke arah Jen
yang sedang kelelahan.
“Jen, kamu tidur aja, nanti kalau udah sampai Jakarta, aku bakalan bangunin kamu.”
Iya by, thank you…
Sepanjang perjalanan, Jen terus terlelah
dengan segala kelelahannya. Akhirnya mereka pun tiba di kota Jakarta.
“Jen, thank you banget udah mau join
bareng teman-temanku.”
Iya by, aku masuk dulu yah, besok aku
harus kerja..
“Oke Jen, oh iya ini makanan buat sarapan besok pagi yah.” Abyan menyodorkan sekantong roti beserta susu cair.
Thank you banget by… bye..
Sungguh perjalanan yang amat panjang
bagi Jen dan juga Abyan.
“Jen, entah gimana caranya supaya aku
bisa berani bilang suka denganmu lagi..” gumam Abyan sepanjang perjalanannya
menuju pulang.
Persahabatan yang membuat Abyan sulit untuk mengutarakan kembali perasaannya.