
“Beloved Mister”
Author by Natalie Ernison
Jannet menjalani usahanya dengan tekun, namun kini ia hanya seorang diri, tanpa ada yang menemaninnya seperti saat bersama Rezo. Dalam beberapa waktu terakhir, Jannet kerap kali merasakan ada sesuatu yang mengusiknya. Entah siapakah sosok tersebut.
~ ~ ~
“Mungkin aku terlalu lelah..” gumam Jen, lalu segera menyelesaikan pekerjaannya, sehingga ia pun bisa beristirahat dengan tenang.
Seluruh pelanggan sudah mulai pulang dari kedai kopi milik Jen. Kini hanya sisa dirinya bersama satu orang rekan baristanya. “Ibu bos, istirahatlah! ini sudah cukup malam, biar aku saja yang menyelesaikan pekerjaan ini” ujar rekan baristanya.
“Aku akan segera menyelesaikannya, kau boleh pulang” tukas Jen acuh, dan masih saja berkutat dengan pekerjaannya.
“Tidak, aku akan mengantarkanmu pulang!” kekeh sang rekan baristanya.
“Apakah ini termasuk uang lembur tambahan!” kekeh Jen.
“Kau wanita yang sangat tekun, tapi tetap perhatikan kesehatanmu, oke!” tukas rekan baristanya sembari membantu Jen merapikan meja kerjanya.
“Terima kasih brother” ucap Jen sembari meraih tas selempangnya dan hendak bersiap untuk pulang.
>>
Keduanya pun bergegas untuk pulang, karena waktu sudah menunjukkan pukul. 22.06 malam.
“Jannet, apakah kau lapar?” ujar Epan, rekan baristanya.
“Ini sudah larut malam, aku ingin segera beristirahat” sela Jen.
“Oke baiklah ibu bos..” kekeh Epan. Epan pun menghantar Jen hingga tiba di kediamannya.
***
“Kediaman Jannet”
Rasa lelah memang tak terkatakan lagi, selain bekerja sebagai pegawai kantor, Jen juga harus selalu aktiv mengontrol keadaan usaha kedai kopi miliknya.
Merebahkan diri di atas kasur empuknya, dan berharap untuk segera terlelap.
Bugh…
Suara sesuatu terjatuh dengan cukup kuat, membuat Jen terkejut dan terbangun seketika. “Siapa di sana!” teriak Jen dengan napas terengah. Karena baru saja ingin berbuh di alam bawah sadarnya, tiba-tiba saja sesuuatu mengejutkannya.
Dengan terengah-engah, Jen pun memberanikan diri untuk melangkah menuju asal suara. Kakinya gemetar tak karuan, bahkan detak jantungnya pun terpacu lebih cepat dari biasanya.
Grepp…
Sesuatu mencengkramnya, dan ketika hendak berbalik.
Ahkk… jerit Jen penuh ketakutan, namuan karena terlalu takut, suaranya pun serak, kerongkongannya terasa sangat dahaga.
“Ka-kau..—“ ucap Jen dengan terbata, dengan keringat yang menyucur.
Sosok tersebut menyentuh wajah Jen dan menatap mata Jen dengan begitu lekat. Sorot mata yang tak asing bagi Jen, entah mengapa tatapan ini sangat familiar.
Whusstt…
Secara tiba-tiba, sosok tersebut pun melompat ke luar jendelanya, dan menghilang.
Hah hah hah… deru napas Jen masih terengah-engah, ini sangat mengejutkan, dan hampir saja membuatnya seakan serangan jantung.
“Apakah itu..—“
Drrttt… dering dan getaran ponsel Jen tiba-tiba saja berbunyi.
Masih dalam keadaan yang dilanda rasa takut, Jen berusaha untuk tetap menjawab panggilan. “Iya, hallo” ucap Jen dengan tangan gemetar.
“Suaramu terdengar sangat merdu, baby—“ tukas seseorang dari balik panggilan suara tersebut.
Hah.. Jen mendesah kaget, suara tersebut terdengar sangat tidak asing. “Tuan Heron!” ucapnya, dan segera mematikan ponselnya.
Jika seseorang yang meneleponnya ialah Heron, lalu siapa yang baru saja datang berkunjung tanpa permisi tadi? pertanyaan kelut kini memenuhi pikiran Jen.
Ahkk… “mengapa begini..—“ isaknya, dengan keadaan yang masih sangat ketakutan, kini pria yang sangat ia benci pun tiba-tiba saja menelpon dirinya.
Keesokkan harinya…
Jen terbangun saat waktu sudah menunjukkan pukul.11.00 siang. Ia baru bisa terlelah saat menjelng dini hari,
dan beruntung hari ini ialah hari libur kantor. Sehingga Jen tak perlu bangun terlalu pagi.
Baru saja beranjak dari tempat tidur, suara ketukan pintu membuat Jen sedikit kesal. Melangkah menuju pintu dan membukanya dengan keadaan berantakkan, rambut dicepol asal dan gaun tidur yang melorot hingga memperlihatkan bahu mulusnya.
“Rezo!” ucap Jen terkejut.
“Aku membawakanmu makanan, mandilah terlebih dahulu..” tukas Rezo dengan tersenyum biasa, seolah tak pernah terjadi hal apa pun.
>>
Setelah membersihkan diri, Jen pun duduk berhadapan dengan Rezo yang sudah menyajikan makanan bagi mereka berdua. “Ini masih hangat dan enak, cepatlah..—“ ujar Rezo, semmbari menyodorkan makanan kepada Jen.
“Terima kasih Rezo” tukas Jen.
“Apakah yang datang Rezo yang datang pada malam itu.. apakah aku harus bertanya atau hanya berpura-pura lupa” batin Jen.
“Selamat atas usaha barumu, aku akan berkunjung..” ujar Rezo sembari menyantap makanannya.
“Yah Rezo. Bagaimana dengan kabarmu akhir-akhir ini?”
“Aku sangat baik, sehingga aku menyempatkan untuk datang menemuimu. Aku merindukanmu.-“ kekeh Rezo seperti biasanya. Namun perasaan Jen masih saja tidak tenang jika harus menahan pertanyaan didalam pikirannya.
Jannet pun masih ragu dengan sosok yang telah membuatnya ketakutan bukan kepalang.
****