
“Beloved Mister”
Author by Natalie Ernison
Pertemuan diperusahaan milik keluarga Tyson, ternyata membawa hari baru bagi Jen dan Heron. Suatu hal yang tak terpikirkan kembali terjadi. Pengakuan cinta Heron membuat Jen kian sesak. Mengingat status Heron yang sudah menjadi suami Zharen, sangat tidak mungkin bagi Jen untuk kembali.
~ ~ ~
“Mengapa kau selalu tidak bisa menjawab pertanyaanku dengan tepat! Mengapa!” Tukas Heron dengan nada sedikit membentak.
“Kita tidak mungkin kembali!” Pekik Jen dan mendorong tubuh Heron darinya, hingga terjatuh ke lantai.
“Tuan Heron, aku sudah membawa beberapa salinan kontrak kerjasama kita,” ucap Mr. Tyson yang tiba-tiba datang.
Jen juga Heron kembali bersikap biasa, seolah tak terjadi satu hal pun diantara mereka. “Nona Jen, bisakah Nona mengantarkan Tuan Heron untuk berkeliling ke area perusahaan cabang milik perusahaan?”
“Yah, tentu saja tuan Tyson,” balas Jen. Keduanya pun beranjak dari ruangan kerja milik Mr, Tyson. Berjalan menuju parkiran mobil khusus atasan.
“Hari ini kita kan pergi dengan mobil milikku bersama seorang supir.” Ujar Heron pada Mr. Tyson juga Jen.
“Baiklah Tuan Heron. Semoga Tuan menyukai tempat yang akan menjadi tempat pertemuan rutin kita.” Ucap Mr. Tyson sembari menghantar kepergian Jen bersama Heron.
***
Mereka pun pergi dengan menumpangi mobil milik Heron. Heron duduk dikursi bagian belakang supir, sedangkan Jen duduk di samping dirinya.
Sepanjang perjalanan, Heron terus menggenggam paksa tangan milik Jen. Jen berusaha melepaskan genggaman itu, namun Heron tidak cukup untuk menjadi lawannya.
“Tuan, Nona, kita sudah tiba,” ucap sang supir sembari menghentikan mobil milik mereka, tepatnya didepan sebuah bangunan yang masih tahap pembangunan.
Bangunan tersebut akan menjadi perusahaan cabang tempat Jen kini bekerja. Sementara Heron akan menjadi pimpinan cabang tersebut. Sehingga Jen ditugaskan untuk memperlihatkan semua proses pembangunan pada Heron, yang ialah klien penting perusahaan.
“Ini akan menjadi ruangan kerja direktur utama. Untuk sementara masih proses dekorasi,” ucap Jen sembari menuntun Heron untuk terus memperhatikan setiap detail ruangan.
“Perusahaan ini akan segera terselesaikan, dan dapat digunakan..—“
Ahk… Pekik Jen, secara tiba-tiba Heron meraih tubuhnya hingga terpaut dengan tubuh tubuh Heron.
“Apakah kau sudah selesai memberi pengarahan padaku, bu manager?” tukas Heron sembari mendekati wajah Jen.
“Lepaskan aku tuan Heron. Anda jangan berbuat macam-macam disini!” Peringat Jen dengan tatapan sinis.
Heron tersenyum miring dan berbisik tepat didaun telinga milik Jen. “Kau bahkan jauh lebih menggemaskan setelah beberapa tahun terakhir,” bisik Heron.
“Jaa-jangan tuan… kumohon jangan lakukan hal lain.” Pinta Jen, namun Heron sudah tak peduli dengan peringatan Jen.
Heron mengungkung tubuh Jen didalam kendalinya. Pakaian milik Jen pun sudah mulai tak serapi saat ia mulai memasuki gedung tersebut.
Hah hah hah… Deru napasnya kian memburu, dan aliran darahnya seakan berdesir. “Apakah kau sungguh tidak tahu malu, tuan Heron! Kau sudah memiliki keluarga, mengapa kau begini!” Ucap Jen lirih.
“Aku tidak peduli dengan wanita ular itu. Karena aku tidak akan pernah melepaskanmu, dan kau hanya milikku!” Peringat Heron.
Memeluk tubuh Jen, membelai lembut puncak kepala Jen yang sudah mulai berkeringat, akibat ulah nakal Heron beberapa saat yang telah lalu.
“Aku tidak mungkin menjadi orang ketiga diantara kalian. Tidak mungkin!” Isak Jen saat berada dalam pelukan Heron.
“Jika tidak ingin menjadi orang ketiga, maka jadilah yang pertama dalam hidupku sekarang, besok dan seterusnya.”
Heron menghantarkan Jen kembali ke mansion kediaman keluarga Juano.
***
“Mansion kediaman keluarga Juano”
“Aku hanya ingin kau hidup nyaman. Bersabarlah, hingga anak kedua kami benar-benar terlahir selamat.”
“Apa maksudmu tuan Heron?”
“Terlalu panjang dan rumit untuk kuutarakan. Jadi, tunggu waktu yang tepat, aku akan kembali ke kota ini.” Tukas Heron, lalu mengecup kening lembut kening Jen.
“Tuan Heron!” Panggil Jen. Heron pun berbalik sejenak.
>>>
Sepanjang malam, Jen terus gelisah. Terus teringat akan setiap detail kegiatan panasnya saat bersama Heron di dalam gedung hari ini.
“Apakah aku sudah menjadi wanita perusak rumah tangga orang lain! Mengapa… mengapa aku bisa melakukan hal ini…” ucap Jen sembari menatap wajahnya di pantulan cermin.
Sementara disisi lain…
***
“Mansion kediaman Heron family”
Heron kembali ke kota A, dan kembali ke kehidupan rumah tangganya yang bak neraka.
“Mengapa baru kembali sekarang? Lebih baik tidak perlu kembali!” Bentak sang istri, Zharen.
Heron merenggangkan dasi miliknya, lalu duduk di sofa ruang utama. “Aku baru saja kembali, apakah kau tidak ingin menyambut kehadiran suamimu, walaupun itu hanya sebatas sandiwara?” ucap Heron sembari memijat pelan kepalanya.
Cih! “Jika bukan karena ayah, mungkin aku sudah membuang anak dalam kendungan ini!”
“Zharen! Kau jangan keterlaluan! Bukankah anak kedua ini sudah bisa lahir normal!” Tukas Heron yang sudah mulai emosi.
Zharen tertawa seakan memandang rendah Heron. “Aku menikahimu hanya karena kau adalah penerus generasi darah terbaik. Jika bukan karena aku, kau tidak akan bisa mencapai semua ini! Ingat itu baik-baik!” Peringat Zharen.
Zharen begitu arogan saat berada di lingkup keluarganya. Bahkan Heron suaminya saja tidak ada harga diri dimatanya.
“Kau bahkan tidak mencintaiku, bukan! Lalu mengapa kau bertahan dalam drama pernikahan ini hah!” Benta Zharen lagi.
“Zharen, tidak bisakah kau hormati aku sebagai suamimu sedikit saja?”
“Menghormati keturunanan gagal sepertimu! Kau pikir aku tidak tahu! Kau pernah gagal menikah dengan keturunan darah terbaik, karena…”
“Diam! Tutup mulutmu Zharen! Kau sungguh wanita berhati ular!” Tukas Heron yang terlihat geram.
“Kau harus sadar akan posisimu, akulah pemilik darah terbaik dan menikah denganmu untuk menyempurnakan keturunan generasi. Jadi, kau harus hati-hati dengan sikapmu, karena aku bisa saja bertindak lebih dari sekarang!” Peringat Zharen, lalu pergi dari hadapan Heron.
“Aku tahu pernikahan kita tidak didasari rasa cinta, dan hanya untuk bisnis keluarga serta kelangsungan generasi. Tapi setidaknya, tolong jaga bayi yang kini berada dalam kandunganmu.” Pinta Heron dengan memohon pada Zharen.
“Kau tidak perlu lagi berpura-pura Heron. Bukankah, tugas kita sudah selesai, dan janin pertamaku mati itu karena ulah ibumu, bukan! Jadi, kau tidak perlu bersikap seakan-akan kau peduli padaku.” Zharen membanting pintu utama dengan cukup keras.
Heron duduk kembali di sofa sembari bersandar. Para pekerja mansion yang menyaksikan pertengkaran mereka, hanya bisa diam.
>>
“Bukankah, nyonya Zharen itu sangat tidak hormat pada tuan Heron. Seharusnya, Nona Jannetlah menjadi nyonya kita, bukan wanita berperangai iblis itu!” Ucap salah seorang pelayan wanita.
Hus..”Hati-hati dengan ucapanmu! Nyonya Zharen sangat kejam, jadi kita harus berhati-hati dalam bersikap.” Peringat salah seorang pelayan lainnya.
Diam-diam Heron mendengar semua percakapan pelayannya, dan ia hanya bisa diam menahan amarahnya.
Pergi ke bagian lantai bawah tanah, Heron melampiaskan emosinya dengan mencakar tembok. Tentu saja ia berubah wujud menjadi seekor serigala buas.
“Ingin rasanya aku habisi wanita iblis itu, tapi aku tidak mungkin menyakiti ibu dari calon anakku,” gumam Heron yang terlihat kacau balau.
Zharen tak sebaik awal mereka berjumpa. Zharen mulai berubah saat mengetahui bahwa janin dari calon bayi pertamanya harus menjadi tumbal keluarga Danish. Ia sangat marah dan ingin berpisah dari keluarga Heron. Namun karena Zharen sangat mencintai Heron, ia pun memilih untuk bertahan.
Akan tetapi, Zharen tidak dapat lagi mengendalikan naluri buasnya. Akhirnya Zharen menyerang salah seorang pelayan setia mansion kediaman Heron. Heron sangat murka dengan perbuatan keji Zharen. Sejak saat itu kondisi rumah tangga mereka bak neraka.
Belum sampai setengah tahun, Zharen mengandung calon bayi kedua mereka, dan kini masih berusia beberapa bulan. Heron akhirnya menyetubuhi Zharen, tanpa didasari rasa cinta. Setiap ingin melakukan hubungan suami istri, Heron selalu mengonsumsi obat peransang, dan berusaha membayangkan Zharen sebagai sosok Jannet.
Berkali-kali Zharen hampir terbunuh, karena nafsu liar Heron. Heron menyetubuhinya dengan penuh amarah, dan Heron sangat membenci Zharen. Zharen pun menyadari bahwa Heron tidak pernah sedikitpun mencintainya. Semua kemesraan yang mereka perlihatkan, tak lebih dari sekedar sandiwara.
Selama pernikahan mereka, Heron hanya beberapa kali menyetubuhinya. Setiap persetubuhan mereka membuahkan hasil yang cukup baik, hingga membuat Zharen segera mengandung kembali.
****