Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Apakah aku menjijikan?



“Beloved Mister”


Author by Natalie Ernison


Semenjak kepergian Jannet dari kota A,dan berpindah ke daerah lain. Ia menjadi lebih banyak merenungi  semua yang telah ia lalui. Tentu saja rasa kecewanya akan cinta pun tak dapat disembunyikan lagi. Ada kalanya, ia merasa sesak di dada, jika terigat semua kenangan itu.


~ ~ ~


Menyewa sebuah rumah perumahan sederhana, namun semua ia tempapti secara gratis. Karena keluarga Aharon yang masih sangat mempedulikannya hingga kini.


“Kedai Coffee Juano”



Kring kring kring… bunyi lonceng yang terletak di depan pintu masuk.


“Selamat datang di kedai Coffee Juano” sapa para pelayan, maupun barista-barista tampan.


“Aku ingin bertemu dengan Rezo, apakah ada?” tanya Jen pada salah seorang barista yang bekerja di kedai tersebut.


Kedai coffee Juano, ialah kedai milik Rezo Juano. Jen sebagai pelanggan dan terkadang turut ambil bagian, karena Jen juga sebagai pengelola kedai tersebut.


“Rezo sudah cukup lama tidak datang” ujar salah seorang barista.


“Cukup lama..—“ Jen menatap sang barista dengan rasa ingin tahu lebih lagi.


“Benar nona Jannet. Rezo sepertinya cukup sibuk, atau nona ingin datang berkunjung ke kediamannya!”


“Ohh oke. Apakah kau tahu alamat kediaman Rezo?” sang barista pun memberikan secarik kertas yang menunjukkan alamat kediaman dari Rezo.


Tanpa menunggu lama, Jen pun bergegas menuju alamat yang telah diberikan padanya. Rezo yang merupakan sahabat dekatnya sejak berada di masa kuliah. Tentu saja Jen harus memperhatikan


sahabat baiknya tersebut.


***


Hari ini adalah hari bebasnya dari segala pekerjaan. Sehingga Jen berniat untuk berkunjung ke kedai usahanya bersama Rezo. Namun Rezo justru sekian lama tidak terlihat lagi.


"Kediaman Rezo Juano family"



Jen pun tiba di depan sebuah rumah yang cukup megah. “Tidak salah lagi, ini adalah rumah kediaman Rezo..” gumam Jen sembari memasukkan kembali secarik kertas yang bertuliskan alamat kediaman dari Rezo tersebut.


Mengetuk pintu, dan berdiri di sana selama beberapa manit lamanya. “Ada perlu apa nona?” tukas seseorang secara tiba-tiba berdiri di belakang Jen.


Ahk.. pekiknya terkejut. “Aku ingin bertemu dengan Rezo” ujar Jen sembari menunjukkan secari kertas tadi.


“Ada kepentingan apa bertemu dengan tuan Rezo?” tanya sang pria yang berekspresi datar tersebut.


“Aku adalah  sahabatnya dan juga rekan kerja di kedai coffee Juano!” tukas Jen ramah. Walau bagaimana pun, ia harus tetap bersikap ramah.


“Masuklah!” ajak sang pria yang berpakaian rapi, bak seorang pengawal pribadi yang terhormat.


>>


Jen pun ikut bersama seorang pria tersebut, masuk menuju rumah megah kediaman dari Rezo Juano.


Bugh…


Suara bantingan pintu, membuat Jen terkejut. “Tunggulah!” titah sang pria, sementara Jen duduk sendiri di sana. Suasana rumah megah tersebut cukup mencekam, sepi dan begitu banyak benda-benda classic nan mahal.


Setelah beberapa saat kemudian…


Tap tap tap…


Suara langkah kaki menuruni anak-anak tangga.


“Jannet!” panggil Rezo dari anak-anak tangga kediamannya.


“Rezo!” jawab Jen antusias. Wajah Jen berseri dan penuh dengan beribu pertanyaan pada Rezo.


Saat Jen hendak melangkah mendekati Rezo, seorang pria yang telah mempersilakannya masuk pun mencegat langkah Jen. “Mohon jaga tata karma nona! tuan muda tidak akan suka dengan wanita yang terlalu  agresif!” perinbat sang pria tersebut.


Tyson



“Tyson!” seru Rezo dengan tatapan tajamnya.


“Baik tuan muda—“ jawab pria yang bernama Tyson tersebut dengan wajah menunduk. Jen menatap ke  arah Tyson juga Rezo, di kepalanya sudah menumpuk pertanyaan.


“Mengapa kau tidak pernah memberiku kabar! dan mengapa para barista di kedai mengatakan kau sudah cukup lama tak terlihat!” pertanyaan beruntun Jen langsung terlontar begitu saja.


“Apakah aku harus menghilang untuk sementara, baru kau mencariku dan berkunjung kamari!” tukas Rezo tanpa bergerak dari anak tangga rumahnya.


“apa maksudmu Rezo?” tanya Jen bingung. Bingung dengan pernyataan yang Rezo lontarkan padanya.


“Jannet! sudah cukup lama aku tidak melihatmu mencemaskanku, aku senang kau datang dan mencemaskanku” tujar Rezo dengan suaranya berbeda.



“Rezo… apa yang..—“ Ahkk… jerit Jen saat melihat separuh wajah dari Rezo berubah.


“Rezo!” jerit Jen, dan mundur hingga terjatuh.


“Apakah aku sekarang sangat menjijikan Jen!  apakah kau jijik dengan rupaku?”


tukas Rezo sembari melangkah ke  arah Jen. Sementara Tyson pergi dari hadapan Jen dan Rezo saat itu.


“Rezo, apa yang terjadi padamu?” lirih Jen. Tanpa diduga, Jen mendekati Rezo bahkan menyentuh wajah Rezo.


“Apakah kau kesakitan” tanya Jen, Rezo bahkan sangat terkejut dengan respon dari Jen. Ia mengira Jen akan lari tatkala melihat tampangnya kini.


“Apakah kau tidak takut dan jijik padaku, Jen?”


Hmm… Jen menggeleng, bahkan meneteskan air matanya.


“Sorot mata Rezo penuh dengan kesediahan. Aku pun tak tahu mengapa aku bisa melakukan ini” batin Jen.


“Mengapa aku harus seperti itu! kau sahabat terbaikku, Rezo” tegas Jen, dan mendekap Rezo.


“Jannet! aku sangat menderita..—“ isak Rezo sembari terus mendekap tubuh Jen. Ia membawa tubuh Jen dalam dekapannya, menuju sebuah kamar pribadinya.


“Rezo..—“


Sehhhttt…“Aku hanya menginginkanmu malam  ini” bisik Rezo dan mulai mencumbu area leher Jen.


“Tidak! Rezo tidak boleh seperti ini” batin Jen.


“Rezo! hentikan!” jerit Jen dan menendang area ******** milik Rezo, hingga Rezo memekik nyeri.


“Kau tidak boleh seperti ini! kau harus mampu mengendalikan dirimu!” tegas Jen. Jen seakan mengerti apa yang kini Rezo alami.


“Jannet, maafkan aku! aku tidak mampu melawan hasratku—“ tukas Rezo. Napas Rezo terengah-engah dan seluruh tubuhnya berubah menjadi berbulu hitam, bahkan dari jari jemarinya tumbuh kuku-kuku tajam nan panjang.


“Rezo!!” jerit Jen, tatkala Rezo menindih tubuhnya hingga ia tak mampu lagi meronta.


“Rezo! Rezo!” jerit Jen. Tiba-tiba saja Rezo melepaskan cengkramannya pada kedua bahu Jen. Ia pun mengerang, seakan berusaha keras melawan hasrat dalam dirinya.


Rezo bahkan mencabik-cabik area kulit tubuhnya hingga mengeluarkan darah dan terkoyak tentunya.


“Rezo!!!!” teriak histeris Jen. “Jangan Rezo! hentikan! hentikan!” jeritan pilu Jen. Ia tentu tak mampu melihat Rezo menyiksa dirinya sendiri, demi menahan hasrat binatangnya untuk menyentuh Jen.


“Rezo! cukup!” jerit Jen, dan dengan berani mendekap tubuh berbulu Rezo.


Suara Rezo pun berubah parau dan bukan lagi suara layaknya manusia. Ia terlihat menangis dan sangat menderita.


“Lakukan, jika itu membuatmu lebih baik..—“ ujar Jen dengan  terisak.


Rezo menggeleng dan menjauhi Jen. Ia tak ingin menyakiti Jen dan juga melakukan perbuatan tak senonoh pada Jen.


Suara Rezo terdengar gemetar, ia terlihat menahan penderitaannya. Deru napasnya pun seperti suara seekor anak  anj*ng malang.


“Aku tidak ingin kau menyakiti dirimu sendiri, Rezo” isak Jen, dan mencoba meraih wajah Rezo.


Sretthh…


Kuku panjang nan tajam Rezo mengenai lengan Jen hingga mengeluarkan darah.



Ahkk… lenguh Jen. Ini sangat sakit, dan lebih sakit lagi karena sahabat baiknya yang melakukannya.


Rezo seketika itu juga berlari menjauhi Jen. “Rezo..—“ lirih Jen, ia terhuyung. Bekas cakaran dari Rezo sangat perih dan nyeri.


“Nona Jannet!” teriak Tyson yang tiba-tiba saja datang. Sementara Jen hanya duduk bersandar di sisi lemari, sembari mencengkram luka pada lengannya.


****