Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Seluruh nafas ini untukmu



“Beloved Mister”


Author by Natalie Ernison


Sudah cukup lama Jannet berada di kastil milik keluarga Vestus. Akhirnya Heron pun membawanya untuk menghadiri acara pesta dansa terbuka, dengan mengajak Vestus juga. Namun, dalam suasana bahagia Jannet bersama Heron justru ada hati yang cemburu.


~ ~ ~


Vestus bersandar di mobil milik Heron, sembari memainkan permainan di ponselnya sebagai pengusir gundah.


Drrttt… Mr. Clawie memanggil…


Vestus terkejut melihat nama pemanggil yang tertera di layar ponsel miliknya. “Apa yang nyonya Clawie inginkan” gumamnya dan dengan terpaksa menerima panggilan tersebut.


Mrs. Clawie: “Mengapa begitu lama Vestus, apakah kau sudah sangat sibuk sekarang?” tukas Mrs. Clawie dari balik panggilan selular tersebut.


Vestus: “Maaf nyonya, aku ada sedikit urusan,” ujar Vestus mencari-cari alasan.


Mrs. Clawie: Terdengar suara tawanya, “apakah gadis manusia itu telah membuat hatimu gundah..--!”


Vestus terdiam sejenak, dan mencoba mencerna maksud dari pernyataan Mrs. Clawie.


“Apa maksud anda nyonya..—“ tukas Vestus, namun panggilan pun secara tiba-tiba berakhir.


“Vestus!” seru seseorang yang ialah Heron bersama Jen.


“Paman..” pekiknya terkejut, lalu memasukan kembali ponsel miliknya.


“Sudah cukup malam, dan Jen harus beristirahat..” ujar Heron


.


“Baik paman,” Vestus pun segera memasuki mobil.


Vestus duduk di depan, di samping pengemudi. Sedangkan Heron duduk di kursi belakang bersama Jen. Sesekali Vestus memandangi suasana di kursi bagian belakang melalui kaca mobil. Tiba-tiba saja Jen menyadari hal itu, dan membalas pandangan mata Vestus.


Tak kuasa menerima tatapan indah mata Jen walau hanya melalui kaca mobil, akhirnya Vestus menyerah dan mencoba mereungi perasaannya. Perasaannya kini begitu gundah gulana, dan sebisa mungkin ia coba untuk mengabaikan perasaan aneh ini, namun ini begitu sulit baginya.


***


“Kastil kediaman Vestus family”


“Saat paman masih berdansa dengan bibi, nyonya meneleponku, paman!” ujar Vestus pada Heron.


“Maksudmu, ibuku!” jawab Heron seketika memalingkan wajahnya pad Vestus.


“Yah paman. Sepertinya, nyonya Clawie telah mengetahui keberadaan bibi.”


“Apa sebenarnya yang mereka inginkan. Mengapa begitu sulit kisahku bersama Jannet!” keluh Heron, dan…


Bugh… Heron meninju dinding kamarnya dan hampir saja retak karena kuatnya tinjuan tangan itu.


“Mengapa mereka selalu begini..” erang Heron, ia tersungkur dengan napas tersengal.


“Paman,” Vestus menahan tangan Heron yang hendak melukai dirinya sendiri.


“Jangan paman. Ingatlah bibi, bibi akan sangat bersedih jika paman tidak bersamanya,” tukas Vestus dengan wajah sendu.


“Sejak kapan kau begitu peduli dengan bibi mudamu,” ujar Heron penuh selidik.


Ahkk.. “tentu saja aku peduli, karena bibi adalah wanita yang tepat bagi paman.”


Vestus pun terbangun dari tempat duduknya. Melangkah dari hadapan Heron, hanya sekedar mencari udara segar. Karena dadanya tiba-tiba terasa sedikit sesak, tatkala membicarakan perihal Jen, si bibi mudanya.


“Vestus! apa kau menyukai bibimu!” tukas Henokh secara tiba-tiba. Vestus terdiam, langkahnya terhenti seketika. Seluruh tubuhnya melemas dan hanya mampu membisu.


“Vestus!” panggil Heron lagi, lalu melangkah ke arah Vestus. Heron menepuk bahu Vestus, dan membuat Vestus berpaling ke arahnya.


“Mengapa paman bertanya hal yang paman sendiri tidak suka!” tukas Vestus dingin.


“Aku hanya bercanda Vestus, lagipula tidak mungkin kau berniat merebut calon bibimu sendiri,” kekeh Heron.


>>>


Sepanjang malam Heron merenung apa yang telah ia lalui bersama Jen.


“Apakah aku yang terlalu sibuk dengan urusanku, sehingga Jannet terlalu bersama dengan Vestus. Hingga akhirnya Vestus pun mulai menyukai Jannet..” batin Heron.



Heron terlihat begitu gelisah, dan sebenarnya Heron telah curiga dengan segala bentuk perhatian Vestus pada Jen. Vestus menyukai Jen itu hal yang wajar, karena bagaimana pun juga Vestus kehilangan sosok ibu di hidupnya.


Vestus masih sangat membutuhkan kasih sayang, sedangkan Jen merupakan wanita yang begitu jujur dan tulus. Hal itulah yang membuat Heron tergila-gila pada Jen. Tak hanya cantik, tapi juga cerdas ramah, sopan.


Di sebuah dapur kastil.


Jen terlihat sibuk dengan adonan rotinya, dan di sana sudah ada Vestus yang hadir sebagai teman bicaranya. Diam-diam Heron sudah memperhatikan mereka dari balik tembok. Di sana vestus terlihat tertawa lepas saat bicara bersama Jen, rasanya Heron sangat tak percaya akan hal ini.


“Mungkinkah Vestus benar-benar menyukai Jen..” batin Heron kala itu.


“Tuan Heron!” seru Jen pada Heron. Vestus terlihat membeku saat melihat Heron yang baru saja tiba di sana.


“Tuan ingin mencoba roti panggangku..” ujar Jen, lalu menyuapi Heron dengan cubitan kecil roti panggang miliknya.


“Sangat nikmat, baby..” ujar Heron tersenyum dan mengecup puncak kepala Jen, tepat di hadapan Vestus. Vestus hanya tersenyum sendu dan merasa canggung. Tak seperti biasanya, Vestus merasa dirinya bukanlah bagian dari Heron dan Jen.


“Tuan muda Vestus juga ingin mencoba, kemarilah..” ujar Jen polos lalu menyuapi Vestus. Vestus menerima suapan tangan Jen dan dadanya kembali berdebar. Sementara Heron berpura-pura tidak mengetahui sesuatu, Heron masih berbicara sebagai pencair suasana.



Akhirnya Vestus pum pergi dari hadapan keduanya.


“Apakah kau tidak merindukan suasana bekerja di kantor?” ujar heron pada Jen sembari duduk di hadapan meja adonan roti Jen.


“Terkadang aku merindukannya, namun hal ini pun juga cukup menyenangkan tuan..” Jen tersenyum dan menyuapi cubitan roti panggang pada Heron. Tak tahan melihat suasana menyesakan ini, Vestus pun undur diri dari hadapan Heron juga Jen.


***


Heron kini mengajak Jen untuk pergi kancan ke sebuah resto cepat saji, di area kota A.



“Maaf, jika aku tidak banyak waktu denganmu, aku terlalu sibuk dengan urusan pekerjaanku.”


“Mengapa bicara seperti itu tuan, aku sangat mengerti kesibukanmu,” balas Jen sembari membelai wajah Heron.


Heron menahan sentuhan tangan Jen pada wajahnya, mengecup telapak tangan Jen. “Aku mencintaimu, tidak peduli siapapun yang berusaha mengganggu hubungan kita, aku akan selesaikan.”



“Terima kasih telah mencintaiku dan selalu berusaha melindungku,” Jen membelai wajah Heron lembut.


“Yah, aku akan selalu melindungimu, tak peduli! walau nyawaku akan menjadi taruhannya. “ Tegas Heron, dengan tatapan mata nan begitu tajam, seakan menembus ke hati Jen langsung.


“Tuan, bisakah aku kembali ke kediamanku?”


“Baby, itu sangat berbahaya. Siapa yang akan menjamin, jika keluargaku tidak akan mengusikmu!”


“Aku sudah sangat merepotkanmu tuan, aku..—“


“Baby, sudah sepatutnya calon suamimu ini mengusahakan yang terbaik untukmu.”


“Kau terlalu baik tuan.” ucap Jen lirih, haru bahagia.


“Aku tidak akan memaafkan diriku sendiri, jika kau harus mengalami kejadian keji itu lagi..” tegas Heron lagi. Heron sangat cemas akan keamanan Jen, mengingat betapa kejam keluarganya pada Jen.


“Terima kasih tuan Heron..” ucap Jen dengan senyuman bahagianya. Bersama Heron, Jen merasa dirinya jauh lebih tenang dari biasanya Karena ia tahu betapa besar perlindungan Heron terhadap dirinya.


****