
”Beloved Mister”
Author by Natalie Ernison
Mr. Tyson secara diam-diam berniat untuk memisahkan Jannet dari Heron. Walaupun ia harus menerima beberapa pukulan dari Heron, hanya demi Jannet.
~ ~ ~
”Mansion kediaman Juano family”
”Tyson adalah pria yang baik, dan sangat dekat dengan Rezo. Nenek harap, kau mulai membuka hati tuk pria yang baik.” Ucap nenek Juan pada Jen.
”Aku belum memikirkan hal itu nek. Aku ingin, menemani nenek dan berusaha membuat nenek hidup bahagia.” Ucap Jen sembari mendekap nenek Juan.
”Nenek hanya ingin yang terbaik untukmu, dan kau tidak perlu memikirkan nenek. Nenek sudah tua, Jen,” ucap nenek Juan pada Jen.
Jen menyerngitkan keningnya sembari berkata, ”aku tidak ingin jauh dari nenek. Karena, hanya neneklah yang terbaik untukku...”
Jen sekarang lebih fokus dengan pekerjaannya, dan hanya ingin membuat nenek Juan bahagia bersamanya. Namun, nenek Juan justru menginginkan Jen agar segera bersama Mr. Tyson.
Duduk termenung menghadap jendela kamarnya, dan mendekap dirinya sendiri.
”Tuan Tyson...” ucap Jen, dan seketika tersenyum sendiri.
Drrttt... Mr. Tyson memanggil...
Tiba-tiba Mr. Tyson memanggil, tepat saat Jen teringat akan dirinya.
Jen: ”Hallo, tuan Tyson!” ucap Jen sembari merebahkan dirinya di atas kasur miliknya.
Mr. Tyson: ”Apa yang kau lakukan akhir pekan besok?” tanya Mr. Tyson.
Jen: ”Emm.. sepertinya tidak ada tuan, ada apa tuan Tyson?”
Mr. Tyson: ”Aku ingin mengajakmu ke acara ulang tahun kerabatku, sekaligus acara pertunangannya.”
Jen: ”Baiklah, aku akan segera menyelesaikan lemburku esok hari.”
Mr. Tyson: ”Baiklah, besok aku akan mengirimkan gaun untukmu.”
Jen: ”Tidak! Tidak! Aku masih memiliki gaun, tuan!”
Mr. Tyson: ”Ini adalah gaun pemberian mommy. Apakah kau masih ingin menolak?” Tukas Mr. Tyson dan cukup membuat Jen merasa berat untuk melakukan penolakkan.
Jen: ”Baiklah tuan Tyson. Terima kasih,” ucap Jen.
Setelah menerima panggilan dari Mr. Tyson, Jen masih saja tersenyum tersipu malu.
***
”Perusahaan Cabang S”
”Nona Jannet, besok kita akan ada rapat pertemuan dengan klien. Tolong kau urus semua persiapan.” Tukas Vestus pada Jen.
”Besok, akhir pekan tuan!” Balas Jen, karena besok ia akan pergi bersama Mr. Tyson.
”Yah, apakah kau akan ada kesibukkan?”
”Ah.. aku ada janji dengan rekan, tuan,” jawab Jen pelan.
”Bukankah kau tahu posisimu sebagai seorang sekretarisku. Jadi, kau harus selalu siap dengan segala risiko pekerjaanmu.” Tukas Vestus, lalu kembali ke ruang kerjanya.
Mendengar pernyataan dari Vestus, membuat Jen sempat berkecil hati. Namun, karena sudah terlanjur berjanji. Jen pun harus menyelesaikan segala urusannya terlebih dahulu.
Meraih ponsel miliknya, dan mencari nama Mr. Tyson di list nama kontak panggilan.
Jen: ”Hallo tuan Tyson. Sepertinya, besok aku akan menyelesaikan urusan pekerjaanku terlebih dahulu.”
Mr. Tyson: ”Baiklah. Uruslah pekerjaanmu terlebih dahulu. Setelah itu, aku akan menjemputmu dari tempat kau memgadakan pertemuan dengan klien.”
Jen: ”Terima kasih banyak tuan Tyson.”
Cukup lega setelah mendengarkan apa yang Mr. Tyson katakan. Sungguh pria yang pengertian dan tidak ingin mencampuri urusan pribadi dengan pekerjaan. Walaupun Mr. Tysonlah pemilik dari perusahaan yang kini tempat Jen bekerja. Sedangkan Vestus hanyalah ditugaskan sebagai direktur utama.
Mr. Tyson sungguh mengerti akan posisinya dan tidak harus keberatan dengan cara Vestus memimpin.
***
Sepanjang terlaksananya pertemuan bersama klien perusahaan lain, Jen begitu gelisah. Melihat arloji miliknya secara terus menerus, dan menatap layar ponsel miliknya.
Setelah seharian penuh hingga menjelang malam, akhirnya Jen menyelesaikan rapat tepat waktu.
”Tuan Vestus, maaf aku harus pulang terlebih dahulu.” Ucap Jen dengan wajah gelisah.
”Tapi kita akan mengadakan makan malam dengan klien, apakah kau ingin menjatuhkan penilaian klien?” jawab Vestus sinis.
”Bukankah aku hanya cukup mengikuti rapat! Aku pun punya urusan pribadi!” Tukas Jen kesal.
”Apakah hanya karena pertemuan yang tidak pasti, membuatmu tidak lagi kompeten dengan pekerjaan?”
”Aku hanya membutuhkan waktu pribadiku, tuan Vestus! Bahkan hari ini adalah akhir pekanku, aku tidak bisa membatalkan bahkan menunda begitu saja!” Tegas Jen.
”Siapa yang akan kau temui?” tanya Vestus dengan tatapan tajamnya.
Mendengar nama Mr. Tyson membuat Vestus tersadar, bahwa Jen sudah mulai ada ketertariakn dengan Mr. Tyson, walaupun itu hanya pemikirannya saja.
”Ohh... Hal itulah yang membuatmu berani menantangku?” ucap Vestus dengan wajah sendu.
”Maaf tuan, aku tidak bermaksud menantang anda. Aku hanya berusaha bekerja dengan profesional saja. Jika saja tuan tidak bertanya, maka aku tidak akan mengatakannya. Tuan Tyson sendiri pun mengerti akan posisi pekerjaanku.” Tegas Jen pada Vestus.
”Kau sudah sangat berubah,” ucap Vestus dengan wajah sendunya. Jen mendongak ke arah Vestus namun tanpa sepatah katapun.
Tittt....
Suara klakson mobil tepat di samping Jen kini berada. Dari seberang jalan Mr. Tyson sudah lama melihat semua yang terjadi antara Jen dan Vestus.
”Selamat malam Tuan Vestus. Maaf, aku harus membawa sekretaris anda pergi bersamaku," ucap Mr. Tyson sembari tersenyum dari balik kaca mobil miliknya.
”Tentu saja tidak masalah. Tuan Tyson adalah atasanku, jadi aku tidak berhak atas urusan pribadi kalian.” Tukas Vestus dengan pernyataan yang cukup menohok.
Keduanya saling berbalas tatapan tajam, namun masih berusaha tersenyum.
Keduanya pun pergi dari hadapan Vestus. Jen yang membersihkan diri terlebih dahulu di salah satu tempat kecantikan, lalu merias diri dengan begitu anggunnya.
***
”Tuan Tyson, terima kasih telah menungguku,” ucap Jen dengan raut wajah tak seceria biasanya. Semua karena pertengkaran antara dirinya bersama Vestus.
”Aku hanya ingin kau bekerja dengan profesional. Namun, aku sungguh minta maaf jika ajakanku malam ini menimbulkan permasalahan untukmu.” Sesal Mr. Tyson.
”Ah.. tidak tuan, semua baik-baik saja.” Balas Jen dengan raut wajahnya yang kembali ceria lagi.
Setelah beberapa menit kemudian...
Keduanya pun tiba di sebuah hotel xx tempat terlaksananya acara ulang tahun sekaligus pertunangan kerabat dari Mr. Tyson.
Aula acara
Mr. Tyson mengenakan pakaian serba hitam, semakin menambah aura memikatnya.
Sedangkan Jen mengenakan sebuah gaun panjang, dan memperlihatkan bagian bahu hingga punggungnya.
Gaun mewah tersebut merupakan pemberian dari Nyonya Rhepen, ibu dari Mr. Tyson. Namun Mr.Tysonlah yang memilihnya untuk Jen.
”Paman Tyson!” Seru seorang gadis cantik nan anggun, berjalan ke arah Mr. Tyson.
”Emelie, kau sudah sebesar ini!” Tukas Mr. Tyson pada seorang gadis cantik yang berlari ke arahnya.
”Aku semakin tumbuh besar, namun paman tetap saja belum menikah. Paman sangat pemilih!” Ejek seorang gadis yang berna Emelie.
Diam-diam, Jen teesenyum sendiri tatkala mendengar ejekan dari gadis kecil tersebut.
Ehemm... Mr. Tyson berdehem, sembari melirik ke arah Jen dan Emelie menyadari hal itu.
”Apakah bibi adalah calon istri pamanku ini?” Ucap Emelie dengan polosnya.
”Ahh.. aku..” balas Jen terbata.
”Yah. Nona Jannet adalah calon bibimu dimasa depan.” Tukas Nyonya Rhepen yang baru saja tiba.
”Bibi, selamat malam,” ucap Jen sembari memberi hormat.
Nyonya Rhepen tersenyum pada Jen sembarie menyentuh wajah Jen menggunakan telapak tangannya.
”Kau sangat anggun dengan gaun pilihan anakku, Tyson bodoh ini.” Tukas Nyonya Rhepen.
Nyonya Rhepen
”Pilihan tuan Tyson?” ucap Jen terkejut.
Mr. Tyson menahan senyumannya dan berusaja untuk menahan diri.
”Maafkan anakku, Nona Jannet. Dia memang tidak lihai dalam urusan wanita,” tukas Mr. Rhepen.
Mr. Rhepen
”Tyson memang tidak lihai dalam urusan wanita, namun Tyson tetap terbaik dihati nenek.” Ucap nenek Juan sembari membelai wajah Mr. Tyson.
Nenek Juan/ Nyonya Juano
Jen hanya tertawa saat mendengar ucapan kedua orang tua Mr. Tyson, suasana di Aula tersebutpun terasa begitu bersahabat. Keluarga besar Rhepen juga keluarga Juano turut serta hadir.
Semua terlihat sangat mendukung akan kelanjutan hubungan Jen bersama Mr. Tyson. Namun, hingga saat ini Jen masih menganggap semuanya sebatas gurauan.
***