
Desahan napas yang masih sangat terasa hingga mengalir kesekujur tubuh, sungguh sebuah sensasi baru bagi Jen. Suhu tubuhnya yang berubah menjadi sedikit panas, debaran jantung yang semakin tak karuan lagi. Setelah kejadian itu, Jen terus teringat akan sosok Heru si duda tersayangnya.
“Non Jeanet, semalam oma Carla menelpon.
Katanya, non jangan pulang malam-malam lagi, karena cuaca sedang gak bersahabat.” Ujar seorang asisten rumah tangga di rumah kediaman oma Carla.
Baik bi ija, terimakasih yah. Aku pergi dulu bi, byee…
“Kampus X”
“Jen, sore ini kita akan ada pertemuan senat mahasiswa. Tolong kamu bantu bagian sekretarisnya yah,” ujar salah seorang rekan kampus Jen.
Oke baik, nanti aku akan siapkan notulen rapat yang akan kita selenggarakan.
Tiba saatnya rapat akan dimulai…
“Minggu depan kita akan mengadakan temu mahasiswa/ mahasiswi dengan kampus S. Jadi, tolong persiapakan acara-acara yang menarik.”
Seusai rapat, semua anggota senat pun membubarkan diri dan melanjutkan setiak kegiatan bahkan kesibukan mereka masing-masing. Sementara Jen, masih saja sibuk dengan tugas-tugas akhirnya yang sudah akan segera jatuh tempo waktu.
“Jeanetly, kenapa belum pulang juga,” ujar si rekan seangkatan Jen.
Iya nih by (Abyan, nama dari rekan sekelas Jen selama di kampus X).
“Yasudah, kerjakan aja pelan-pelan Jen. Aku temani ya,” Ujar Aby sambil menarik kursi lalu duduk di samping Jen.
Thank you Aby… tukas Jen dengan wajah tersenyum lalu melanjutkan kembali pekerjaannya.
“Jen, kamu itu ulet banget tahu!” ujar Aby sembari menatap Jen dengan senyuman manisnya.
Hmmp, mulai deh si tukang gombal ini
“Lah aku gak gombal Jen, semua teman-teman pun tahu kalau kamu itu orangnya tekun banget.”
Iya, thank you Aby atas pujiannya.
“Hehhe, iya Jen…
Emm, ngomong-ngomong kamu sudah punya pacar Jen,”
Pacar?
Ahaha, ada apa Aby, kenapa bertanya seperti itu?
“Enggak sih, aku cuma penasaran aja tipe seperti apa sih irang yang udah nyuri hati Jeanetly Mercya.”
Halahh Aby, kamu tuh yah…
“Adaw adaw, jangan cubit dong Jen, idihh sampai merah gini.
Gantian yah..”
Stop stop Aby, kamu tuh yah bener-bener deh…
“Hmmp, makanya jangan jahil Jen.
Yasudah ini sudah malam, mendingan kita balik aja sekarang Jen.” Ujar Aby sembari membereskan laptopnya.
Keduanya pun berjalan secara bersamaan menuju pintu keluar perpustakaan disalah satu kampus mereka.
“Jen, kamu pulang naik grabbike atau Tranzjakarta?”
Hmmp, aku pulang naik grab aja by.
“Aku antar kalau gitu yah…”
Gak usah By, aku bisa sendiri.
“no no… gak boleh nolak, kita kan best friends.”
Hmmp, yasudahlah aku mah nurut aja sama si raja gombal satu ini.
“Oke, duduk yang benar yah Jen,”
Abyan, yang biasa disapa Aby.
Mereka pun meluncur dengan mengendarai sebuah motor sport milik kepunyaan Aby tersebut. Namun, setibanya di kediaman oma Carla, ternyata Heru telah menunggu Jen sambil duduk di kursi tamu teras rumah.
“Jen, aku balik yah.
Bye bye..”
Kak Heru… ujar Jen terkejut dan tak lupa menorehkan senyuman manisnya kepada sang pujaan hatinya.
“Kenapa baru pulang? handphonemu juga gak aktiv.
Kamu pulang diantar sama laki-laki lagi, siapa itu?” ujar Heru dengan raut wajah yang terlihat tak senang.
Iya tadi aku ada rapat, terus aku lanjutin mengerjakan tugas-tugas akhirku.
“Lalu gimana dengan hanphonemu??” tukas Heru sembari berdiri di depan pintu.
Ohh iya aku lupa charger handphoneku kak, maaf yah…
“Hmmp, tetap saja kamu membuatku khawatir Jen,” ujar Heru dengan wajah sendunya.
Iya kak, kakak sudah lama datang?
“Enggak juga sih, aku datang cuma mau mengantarkan ini!” Heru menyodorkan sebuah kantong berwarna hitam pada Jen.
Apa ini kak?? ujar Jen sembari
memperhatikan isi dari pemberian Heru.
“Sudah, nanti aja kamu lihat pas dikamar.
Aku mau pulang dulu, bye sayang.” Heru mengecup kening Jen dengan lembut.
Bye bye kak Heru, hati-hati dijalan yah…
Setelah menerima pemberian dari Heru, Jen mulai membuka isi dari kantong berwarna gitam tersebut.
“Wahh inikan sepatu yang waktu itu aku pernah perhatikan di mall..” gumam jen dengan wajah tersenyum bahagia, lalu meraih ponselnya dan mencoba menekan nama “bawelku sayang”.
Hallo kak Heru, sudah sampai rumah?
Emm, thank you hadiahnya…---
Jen begitu bahagia dengan hubungannya bersama Heru si duda tampan tersebut. Namun, akankah hubungan mereka terus berjalan dengan mulus…
Setelah beberapa bulan kemudian, Jen pun akhirnya menyelesaikan kuliahnya dengan nilai yang sangat memuaskan.
Walau kali ini, Jen wisuda hanya disampingi oleh keluarga Aharon. Tentunya, Tommy turut serta hadir dalam acara wisuda Jen pada saat itu.
Pada wisuda tersebut, Jen terlihat kurang bahagia karena si duda tersayangnya tak ikut serta menghadiri acara penting tersebut.
“Jen, hari ini adalah harimu. Jadi, abang akan mengajarmu berkeliling…” ujar Tommy sembari meraih tangan Jen menuju parkiran mobilnya.
Bang Tom, tapi aku harus ganti baju dulu bang!“Oke, abang tunggu yah Jen…”
“Kenapa kak Heru gak ada kabar dari kemaren-kemaren..” gumam Jen dengan penuh kegundahan saat sedang menggantikan pakaiannya di dalam sebuah toilet wanita.
“Sudah Jen??” ujar Tommy yang sudah siap mengendarai mobil fortuner berwarna hitam miliknya.
Sudah bang… Jen pun duduk perlahan, dengan raut wajah yang tak bahagia.
“Jen, kamu mau apa? hari ini special hari untukmu kan..” ujar Tommy sembari menyetir.
Nggak usah bang, begini aja sudah cukup kok…
“Cukup?
Tapi abang pengen ngajak kamu jalan-jalan sampai malam yah..”
Sepanjang hari Jen menghabiskan waktunya bersama Tommy, Tommy yang sangat penuh perhatian tersebut, begitu lembutnya dalam memperlakukan Jen.
Bang Tom, terimakasih untuk hari ini…
“Iya Jen, masuklah sudah malam.”
Abang, gk mampir dulu?
"Nggak Jen, salam buat oma yah.
Abang harus pulang segera,” Tommy pun bergegas pergi meninggalkan kediaman oma Carla.
.
.
.
“Kenapa sudah seminggu lebih kak Heru gak ada kabar sama sekali??” gumam Jen yang sedang mencemaskan pria pujaan hatinya.
“sebenarnya apa yang sedang kak Heru lakukan sekarang??”
“Jen, tolong pergi super market dan beli ini..---“
Baik oma, Jen berangkat sekarang.
“Jen, bersama supir aja yah..”
Okedeh oma..
“Super market X”
“Sepertinya ini buah yang cukup segar deh..” ujar Jen sembari memilah beberapa buah-buahan.
Saat sedang asyiknya memilih, secara tiba-tiba seorang anak kecil tampan datang menghampirinya dengan menggenggam beberapa buah jeruk.
“Dion! kamu sudah makin besar aja yah sekarang..” ujar Jen sembari mengusap kepala anak kecil itu, yang merupakan anak dari Heru.
Namun…
“Dion, kamu jangan jauh-jauh dong sayang..” ujar seorang wanita dewasa yang datang menghampiri Jen dan Dion. Seorang wanita cantik dengan penampilan yang cukup mewah dan seksi.
“Maaf yah kalau anak saya mengganggumu..”
Anak! sontak pernyataan itu membuat Jen terkejut, karena yang ia tahu Heru ialah seorang pria duda.
“Dion, kenapa kamu suka lari-lari! papikan udah bilang jangan jauh-jauh.” Tukas seorang pria yang sangat Jen
kenal.
Sudahlah mas, yang penting Dion tadi bersama perempuan ini. Ujar si wanita sembari merangkul Heru dihadapan Jen.
“Apa-apaan pemandangan ini, apa yang sebenarnya sedang terjadi..” gumam Jen dalam benaknya, dengan rasa penuh kekesalan tak menentu.
Ohh, maaf. Saya pikir saya bertemu dengan seseorang yang saya kenal. Tukas Jen dengan tersenyum kecut.
"Ohh ia, tidak masalah." Ujar si wanitayang sednag bersama heru dan Dion.
Kalau begitu, saya pamit duluan. Jen pun membalikkan dirinya, sementara Heru hanya diam saja tanpa mengatakan sepatah katapun.
Jen terus melangkahkan kakinya dengan penuh pilu, dan terus berusaha menahan air matanya.
“Sudah non?” tanya sang supir pribadi oma Carla.
Iya sudah pakde, ayo kita pulang…
Sementara Jen menyandarkan dirinya dikursi mobil, ia melihat Heru bersama anak dan juga wanita itu berjalan menuju parkiran dengan penuh kebahagiaan. Hal itupun semakin membuat Jen bersedih.
Pak, tolong antar ke dapur. Aku mau istrahat dulu.
“Baik non..”
Jen berlari menuju kamarnya dan mengunci rapat pintu kamarnya. Didalam kamar pribadinya, Jen menangis dengan tersedu-sedu dan terus saja terisak selama beberapa menit bahkan jam.
“Kenapa kak Heru tega banget… kenapa gak ada niat mau jelasin semuanya tapi malah seakan gak kenal aku lagi..” gumam Jen dengan terus terisak.
Jen masih belum mengetahui status Heru dengan wanita itu, namun yang ia lihat dan dengar secara langsung. Wanita itu menyebutkan Dion adalah anaknya, hal itu sangat menyakitkan bagi Jen.
Setelah kejadian itu, Jen sama sekali tak kunjung menerima kabar dari Heru, bahkan pesan singkat pun tidak ada samasekali.
Hingga akhirnya Jen pun mulai bekerja di sebuah bank asing xxx. Mulai sejak itu pun Jen telah merubah penampilannya menjadi lebih anggun dan menarik,
Kehadiran Jen di bank tersebut cukup menarik perhatian para pria-pria mudah tampan.
Jen benar-benar menutup rapat kenangannya bersama Heru si duda kesayangannya. Walau terjadang saat ingin mengistirahatkan dirinya di kasur, Jen selalu terbayang-bayang wajah dan juga kenangannya bersama Heru.
Kenangan indah yang tak mungkin dapat Jen lupakan begitu saja, terlebih lagi pengalaman-pengalaman baru yang telah Heru ukir dalam hidupnya tak mungkin mudah dapat jen lupakan begitu saja.
Drrtt… kak Steven memanggil…
Hallo kak Stev! jemput Stenly? oke oke…
“Hmmp, kak Stev tahu aja kalau aku hari ini free.”
“Pakde, tolong antarkan aku ke sekolahnya!”
Oke non, sialakn siap-siap.
“Sekolah yayasan xxx”
Kak Jen… ujar seorang anak laki-laki berlari kecil ke arah Jen.
“Hallo Stenly… kamu sudah makin besar aja dek.” Tukas Jen sembari menerima pelukan hangat dari Stenly yang sudah ia anggap sebagai adik lelakinya sendiri.
Kak Jen, aku mau beli ice cream di café itu dong.. pinta Stenly dengan sedikit merengek manja pada kakak perempuannya.
“Oke siap bos kecil,” Jen menggenggam tangan Stenly lalu berjalan menuju sebuah café tak jauh dari lokasi sekolah Stenly.
Kak Jen, terimakasih yah udah jemput aku.. ujar Stenly sambil menikmati ice creamnya.
“iya adikku sayang, makan yang banyak! biar nanti kalau di rumah oma tinggal bobok aja.”
Sedang asyiknya mendengar cerita dari Stenly kecil, fokus Jen tiba-tiba teralihkan oleh sosok pasangan bersama satu orang anak lelaki tampan sedang berjalan munuju café tempat ia saat ini berada. Pasangan itu pun duduk tepat dihadapan arah duduk Jen, namun si wanita dan anak kecil itu membelakanginya.
“Pak Heru..” gumam Jen yang mendadak terdiam sendu, lalu menundukkan kepalanya.
Sangat jelas terlihat betapa sedihnya hati Jen melihat pemandangan tersebut.
“Dion, kenapa makan berantakkan begitu, sini tisuenya mana mas?” ujar si wanita sembari membalikkan diri untuk meminta kotak tissue dari atas meja makan Jen bersama Stenly.
“Loh, kamu yang waktu itu yah…”
Iya mbak… sahut Jen dengan sedikit tersenyum.
“Ini adikmu?’ tanya si wanita itu.
Iya, ini adikku. Sahut Jen dengan wajah
sendunya dan berusaha menghindari kontak mata dengan Heru.
“Omg, pasti nanti calon suamimu bahagia bersamamu yah..” puji si wanita.
Terimakasih pujiannya mbak…
“Iya, kenalkan aku Carisya.”
Saya Jeanetly, panggil saja Jen.
“Oke Jen, oh iya kenalkan ini calon suamiku dan juga anakku dimasa depan,” ujar si wanita dengan tersenyum ramah sambil menunjuk ke arah Heru dan juga Dion.
Kenalkan, saya Jen… Jen menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan Heru layaknya baru saja berkenalan.
“Iya, saya Heru dan ini anak saya Dion.” Ujar Heru dengan tatapan tajamnya, dan seketika membuat Jen manarik cepat tangannya.
Maaf mbak Carisya dan mas Heru, saya pamit duluan. Ujar Jen sembari merapikan barang-barang milik Stenly.
Kak Jen, tapi kakak bilang mau lama-lama juga boleh tadi… kenapa jadi cepat pulang kakak. Ujar Stenly kecil dengan begitu polosnya.
Maaf, kami pamit duluan..
“Baik, hati-hati Jeanetly.
Cantik banget perempuan itu mas, beruntung leaki-laki mendaptkannya,” ujar Carisya memuji Jen dihadapan Heru.
“Kediaman oma Carla”
Oma…
“Stenly, cucu oma sayang..” Stenly kecil berlari ke arah oma tercintanya sembari mendekap maja sang oma.
“Jen, malam ini akan ada jamuan makan dan pesta di hotel xxx.”
Malam pun tiba…
“Sudah siap semuanya, Stenly gak lari-larian yah di pesta.”
Oke oma, Stenly kan sudah besar oma…
“Iya sayang, oma tahu kok”
Setelah beberapa saat kemudian…
“Hotel berbintang xxx”
Suasana ramai yang penuh dnegan balutan kemewahan, dan juga para tamu undangan yang hadir.
“hai Jen…”
Loh Reza, kamu juga bagian dari tamu undangan? ujar Jen terheran melohat Reza, rekan kuliahnya yang turut serta hadir.
“Iya Jen, aku hadir karena diajak kakak sepupuku. Dia cangung hadir bersama calon suaminya,”
Oh iya! mana kakakmu reza?
“Itu dia,” sembari menunjukkan ke arah pojok kanan.
“Yuuk Jen, aku kenalkan..”
“Kak Carisya..” ujar Reza datang menghampiri, dan kakak yang ia maksud ialah Carisya.
Hallo Jeannet, luar biasa kita bertemu lagi. Ujar Carisya.
“Jen, kenalkan ini kakak sepupuku dan juga calon suaminya.”
Kakak udah kenal kali Reza..
“Oh baguslah, ayo Jen kita nikmati pestanya..” Reza pun meraih tangan Jen dan bergegas pergi menuju sebuah kolam yang juga dipenuhi beberapa jenis makanan mewah lainnya.
“jen, kamu harus nikmati semua makanan ini,” uajr Reza sambil menyuguhkan beberapa makanan special pesta tersebut.
Reza, aku boleh tanya sesuatu?
“Iya, silakan..”
***