Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Kau terlalu berharga



”Beloved Mister”


Author by Natalie Ernison


Keluarga Rhepen, yaitu keluarga dari Mr. Tyson secara tiba-tiba mengundang Nyonya Juano/ nenek Juan juga Jannet untuk menghadiri acara jamuan makan bersama.


Tanpa diduga, Mr. Rhepen ayah dari Mr. Tyson mengatakan sesuatu yang sangat mengejutkan.


~ ~ ~


Usai makan malam bersama keluarga Rhepen, Mr. Tyson pergi berkeliling di area mansion bersama Jen tentunya.


”Maafkan daddy, jika ucapan daddy membuatmu tidak nyaman,” sesal Mr. Tyson.


Jen tersenyum dan terkekeh. ”Apakah tuan tampan dari keluarga Rhepen begitu tidak laku dikalangan wanita!” Ejek Jen.


”Hei! Apakah kau ingin bonusmu berkurang bulan depan?” ujar Mr. Tyson sembari melangkah mendekati Jen.


”Apakah tuan berani--” ahkk... pekik Jen, saat hendak menghindari Mr. Tyson, Jen justru hampir terjatuh ke dalam kolam milik keluarga Rhepen.


Tsk... Mr. Tyson terkekeh geli, tatkala melihat ekspresi Jen yang tiba-tiba memekik terkejut.


”Nona Jannet!” Pekik Mr. Tyson, saat Jen benar-benar akan terjatuh.


”Hei! Perhatikan langkahmu,” ucap Mr. Tyson sembari meraih pinggul milik Jen dan keduanya kini saling bertatapan.


Ah.. ”Maaf...---” ucap keduanya secara bersamaan.


Wajah Jen merona, sedangkan Mr. Tyson menghela napasnya perlahan. Ada rasa panas didadanya, saat bertatapan bahkan bersentuhan dengan Jen.


”Sepertinya, ini sudah cukup malam. Kau harus bekerja besok, maksudku... aku juga bekerja,” ucap Mr. Tyson dengan nada sedikit gugup.


Jen tersenyum merona. ”Ah benar, besok aku


harus mengurua laporan.” Ucap Jen, lalu pergi ke ruang tamu bersama dengan Mr. Tyson.


Malam ini, sepertinya Mr. Tyson merasakan hal yang berbeda.


>>>


Semenjak pertemuan keluarga pada malam itu, Mr. Rhepen dan juga Mrs. Rhepen kerap kali berkunjung ke kediaman keluarga Juano. Sepertinya, keluarga Rhepen mulai menyukai Jen untuk dijadikan menantu.


”Mansion kediaman keluarga Rhepen”


”Kapan kau akan melamar nona Jannet?” tanya sang ayah dari Mr. Tyson secara tiba-tiba.


”Dad, hentikan mempertanyakan sesuatu yang aneh.” Balas Mr. Tyso sembari menyantap sarapannya sebelum pergi ke tempat bekerja.


”Tyson! Nona Jannet adalah wanita yang sangat baik, dan daddy adalah rekan bisnis keluarga Aharon. Jadi, pikirkan baik-baik, sebelum Jen direbut pria beruntung diluar sana.” Ucap Mr. Rhepen pada Mr. Tyson.


Sepanjang hari Mr. Tyson tak henti-hentinya memikirkan Jen. Tidak seperti biasamya, dan semua bermula sejak ayah juga ibunya kerap kali membicarakan perihat Jen.


Saat sedang fokus bekerjapun Mr. Tyson tak hentinya memikirkan sosok Jen. Jika dipikir-pikir, hubungannya dengan Jen pun sudah cukup lama.


Menjelang senja, Mr. Tyson pun kembali dari tempat ia bekerja.


”Tyson! Kemarilah!” Seru nyonya Bianca, ibu dari Mr. Tyson


Mr. Tyson pun berjalan ke arah sang ibunya, dan betapa terkejutnya ia saat melihat Jen yanh sedang duduk manis di sana.


”Nona Jen!” Ucap Mr. Tyson canggung. Entah mengapa, Mr. Tyson seakan begitu canggung berhadapan dengan Jen.


”Hai, Tuan Tyson!” Sapa Jen dengan senyuman ramahnya.


”Sejak kapan kau berada disini?” tanya Mr. Tyson, dengan sengaja mengusap puncak kepala Jen.


”Dasar wanita jahil!” Ucap Mr. Tyson lagi.


”Mengapa tuan memanggilku dengan sebuatan seperti itu! Dasar bos tampan tidak laku!” Balas Jen dengan mencubit paha milik Mr. Tyson.


”Itu sakit, Nona Jen,” pekik Mr. Tyson sembari mencubit gemas hidung mancung milik kepunyaan Jen.


”Tuan Tyson! Bos tidak laku!” Ejek Jen, lalu berlari menjauh. Merasa tidak senang, Mr. Tyson spontan mengejar Jen.


Suara tapak kaki yang sedang berlari-larian di lantai dasar mansion. Suara tawa keduanya saat saling menjahili satu sama lain.


”Tuan! Tuan, hentikan!” Pekik Jem sembari tertawa geli. Mr. Tyson terus saja membuat Jen tertawa dan merasa begitu geli di bagiaj pinggang miliknya.


”Cucu Juano yang pantas menerima SP (Surat Peringatan) pada sekretaris yang bermulut tajam ini!” Ucap Mr. Tyson


Tanpa mereka sadari, keduanya kini saling menatap dan tertawa lepas. Tangan kekar berurat milik Mr. Tyson kini berada di area pinggang milik Jen.


”Apakah kalian sudah puas bermesraan didepan kami?” Seru Nyonya Bianca, membuat Mr. Tyson juga Jen tersadar.


”Mom! Dad!” Ucap Mr. Tyson yang sudah mulai merona, sementara Jen tak kalah meronanya.


”Kami akan pergi sebentar. Nona Jen bisakah kau tolong bibi untuk melanjutkan masakan di dapur!" Pinta Nyonya Bianca.


”Baik bibi,” jawab Jen.


”Kau Tyson! Bantulah Nona Jen memotong daging!” Tukas Mr. Rhepen, ayah dari Mr. Tyson.


”Baik daddy.” Jawabnya sembari menahan malu.


>>>


Selama kurang lebih satu jam, akhirnya persiapan untuk memasak dagingpun selesai.


”Jika ingin mengadakan makan malam, tidakkah daging-daging ini akan tidak cukup,” ucap Jen, sembari menyajikan beberapa menu makanan di atas meja makan.


Mr. Tyson meraih ponsel miliknya dan mencoba untuk menjawab panggilan.


Mr. Tyson: ”Hallo dad, kapan kalian kembali?”


Mr. Rhepen: ”Sepertinya, daddy akan ada pertemun hingga larut malam. Kau makanlah bersama Nona Jen!” Tukas ayahnya dari balik panggilan suara.


Mr. Tyson: ”Apakah kalian tidak ingin, jika kami menyimpan beberapa potong daging?”


Mr. Rhepen: ”Tidak. Daddy akan segera mengikuti acara lelang..--”


”Sepertinya mereka sengaja,” batin Mr. Tyson, tertoreh senyuman tipisnya tatkala menutup panggilan bersama ayahnya.


Keduanya pun makan malam bersama. Jen masih saja terlihat suka menjahili Mr. Tyson.


”Tuan! Apakah cara makan anda begitu berantakan?” ucap Jen heran.


”Sebagai wanita yang baik, bantulah pria yang tidak memiliki pasangan ini untuk membersihkannya!” Tukas Mr. Tyson.


Dengan wajah terus tersenyum dan tertawa sedari tadi. Jen menyentuh pinggir mulut milik Mr. Tyson dan menyapuh bekas saos yang tersisa disana.


”Pantas saja anda selalu makan menyendiri, ternyata... perilaku saat makan seperti ini.” Ucap Jen, lalu kembali menyantap daging miliknya.


Mr. Tyson terdiam sejenak, dan merasa semakin gelisah dengan perasaannya sendiri.


>>>


”Apakah tuan Rezo sangat memperhatikanmu?” tanya Mr. Tyson secara tiba-tiba.


”Yah.. Rezo adalah sahabat baikku sejak kuliah,” ucap Jen dengan wajah sendunya dan menatap ke awan-awan malam bertabur bintang.


Mr. Tyson menatap wajah wanita yang kini tersenyum disampingnya.


”Tuan Rezo sangat mencintai Nona Carisya, namun hubungan mereka berakhir begitu saja.” Mendengar ucapan Mr. Tyson, Jen menoleh ke arahnya.


”Apakah anda tahu tentang masa lalu dari Rezo?” Tukas Jen.


Hmm... Mr. Tyson tersenyum miring.


”Bahkan rasa sayangnya padamu saja aku sangat tahu. Tuan Rezo sangat menyayangimu, dan menganggapmu seperti saudarinya sendiri.”


”Apa yang anda ketahui lagi?” tanya Jen penuh rasa ingin tahu.


”Tentang hubungan terlarangmu bersama Tuan Heron,” balas Mr. Tyson dengan tatapan tajam ke arah Jen.


”Ahh-apa...” ucap Je seakan begitu terkejut.


”Aku sangat benci dengan pria yang egois dengan dirinya dan keinginannya. Sebisa mungkin, aku berusaha agar Tuan Heron keluar dari perusahaan S. Melihatmu yang hanya sebatas pelampiasannya, hal itu membuatku semakin marah.”


”Jadi, anda mengetahui semuanya?” ucap Jen dengan bibir yang bergetar.


”Yah, aku tahu. Tuan Rezo telah menitipkanmu denganku, sebelum ia menghembuskan napas terkahir kalinya.”


”Maafkan aku, tuan Tyson. Mungkin anda malu memiliki sekretaris murahan sepertiku, dan..--”


”Jika kau merasa bersalah, tolong jangan lakukan hal bodoh seperti itu lagi. Aku tidak peduli dengam urusan masa lalumu. Karena aku hanya peduli dengan masa sekarang dan mendatang.”


Jen menangis tersedu-sedu disamping Mr. Tyson. ”Aku adalah wanita yang sangat bodoh! Aku terjebak dalam kisah yang tidak seharusnya terjadi...” isak Jen.


”Wanita bodoh... Kau terlalu berharga untuk disakiti dan bersama pria yang salah.” Tukas Mr. Tyson sembari menyapuh air mata Jen.


”Mengapa anda bersikap seolah tidak tahu...” isak Jen.


”Aku hanya bisa melakukan hal yang mampu untuk kulakukan, walau aku harus menerima beberapa pukulan brutal dari tuan Heron.” Kekeh Mr. Tyson.


”Maksud anda tuan...” tanya Jen penasaran. Mr. Tyson mulai menceritakan kisah sebenarnya pada Jen.


----Kilas sejenak----


”Untuk terakhir kalinya, kumohon tinggalkan Nona Jen. Lepaskan dia, biarkan dia bahagia sejenak.” Ucap Mr. Tyson pada Heron.


”Kau tahu apa! Diamlah jika tidak tahu banyak!” Tukas Heron sinis.


”Nona Jen terlalu berharga untuk menjadi simpanan anda. Hentikan, dan berhentilah untuk membuatnya menangis!”


”Kau sangat berisik!”


Bugh bugh...


Dua pukulan brutal Heron berhasip membuat tulang pipi Mr. Tyson terlihat begitu lebam.


”Anda sangat tidak tahu malu, tuan Heron!” Bentak Mr. Tyson.


Bugh


Satu pukulan lagi menghantam rahang milik Mr. Tyson, dan akibat pukulan tersebut membuat gusinya mengeluarkan darah segar.


”Jika kau tidak tahu kebenarannya, jangan coba untuk ikut campur!” Peringat Heron.


”Aku hanya tidak suka melihat wanita sebaik Nona Jen menderita karena perbuatan bajin**n anda!”


Bugh


Satu pukulan menghantam rahang milik Heron. Pukulan yang cukup kuat hingga membuat rahangnya terasa nyilu.


”Secepatnya, tinggalkan nona Jen!” Tukas Mr. Tyson, lalu beranjak dari hadapan Heron.


****