Beloved Mister 1-2

Beloved Mister 1-2
Jamuan makan & dia



“Jadi, pak Heru masih mencintaiku..” gumam Jen dengan wajah tersipu sendiri sembari mengerjakan semua pekerjaannya.


“Kediaman oma Carla”


“Jen, kamu sudah kenal dengan keluarga Edward??”


Maksud oma, keluarga dari Reza Edward teman kampusku dulu?


“Iya Jen, kamu tahu mereka itu keluarga yang sangat baik hati.” tukas oma Carla dengan mata berbinar-binar.


Sepertinya oma senang dengan keluarga itu? ujar Jen dengan wajah tersenyum


“Iya Jen, waktu oma sempat tinggal di Amrik beberapa tahun lalu, Carisya dengan penuh perhatian mau merawat oma..”


Ohh yah.. kak Carisya memang baik banget yah oma.


“Iya Jen, malam ini mereka akan datang ke rumah kita dan menghadiri pesta jamuan makan besar.


Jen tolong siapkan semua yang perlu disiapkan, tapi Jen koordinir aja yah nak..”


Oke baik oma…


“Ternyata kak Carisya memang perempuan yang lembut yah..” gumam Jen sembari mengerjakan apa yang telah oma Carla perintahkan padanya.


Disela pekerjaannya dalam mengkoordinir tim event mempersiapkan segala kebutuhan untuk jamuan makan malam antara keluarga besar Edward dan Aharon, Jen menatap dekorasi ruangan pesta dengan teliti.


Pesta jamuan makan malam tersebut diadakan di hotel xxx yang cukup mewah dan berkelas.


“Orang-orang kaya memang sangat royal dalam membuat acara begini, padahal hanya makan malam doing..” gumam Jen sembari menarik napas heran dan kagum dengan kemewahan persiapan pertemuan antar keluarga besar tersebut.


“Nona Jeannet, semua suah ready, dan mungkin catheringnya akan sampai pukul. 18.00 wib..” tukas seorang pemimpin event tersebut.


Oke mas, thank you atas bantuannya dan saya akan transfer sisanya setelah selesai acara yah!


“Oke, itu hal gampang kok, kalau begitu kami pamit undur diri dulu yah..”


“Huh…


Seharian ini begitu sibuk mempersiapkan acara pesta jamuan makan, aku butuh refreshing kayaknya..” gumam Jen yang terlihat kelelahan dan akan segera membersihkan diri untuk persiapan acara malam nanti.


“Di sebuah kamar hotel 002”


Jen yang sedang terbaring lelah di kasur dan mencoba untuk beranjak dari kasur dan segera mempersiapkan diri untuk acara selanjutnya.


Tok tok tok…


Iya sebentar.. ujar Jen yang berjalan ke  arah pintu kamar hotel.


“Permisi, dengan nona Jen??’ ujar salah seorang cleaning service.


Oh iya betul, saya Jeannetly.


“Maaf, mengganggu istrahat siangnya, ini ada titipan barang untuk nona Jeannetly Mercya.” Cleanig service itu pun menyodorkan hand bag pada Jen.


Oke, thank you mas…


“Paket, perasaan aku gak ada pesan barang online??” gumam Jen yang cukup heran.


Perlahan-lahan Jen mulai membuka isi dari paket kiriman tersebut, dan setelah di buka isinya ialah sebuah dress casual berwarna coklat.


“Semoga kamu suka, dan tetap tampil cantik di acara pesta malam  ini. By Tommy Aharon.”


“Hmmp, ternyata dari bang Tommy..” Jen sedikit menyeringai atas paket kiriman Tommy tersebut.


Setelah membersihkan diri dan mempersiapkan diri, kini saatnya Jen menghadiri acara jamuan makan yang berada di lantai lima hotel xxx.


Jen mengenakan dress casual berwarna coklat, dibalut dengan septau wedges berwarna hitam mengkilat, rambut yang tergerai panjang mencapai pinggangnya.


Mulai melangkah menuju area pesta, semua tamu-tamu undangan terlihat sibuk dengan perbincangan masing-masing, sementara Jen hanya merasa seorang diri.


“Aku merasa acara ini gak cocok banget buat aku, semua orang sangat sosialita banget..” gumam Jen sembari menyantap ice cream yang telah tersedia di  area jamuan makan malam tersebut, dan Jen pun berdiri di dekat countnya.


“Dorr…” ujar beberapa pria datang menghampirinya.


 Reza, Abyan… ujar Jen terkejut saat melihat kedua sahabat dekatnya yang baru saja tiba.


 “Kamu kok mengasingkan diri disini Jen..” ujar Abyan/ Aby.


Nggak apa-apa sih, aku cuma bosan aja dengan acaranya..


“Kalau bosan, mendingan kita jalan-jalan ke tempat lain aja..” ujar Reza memberikan ide.


Tapi aku harus mengurus acara ini sampai selesai dan mentransfer sisa budget ke anggota eventnya.


“Jadi, kamu yang sudah mengurus semua acara ini Jen..” tukas Aby dengan terkejut.


Iya By, sejak kemarin aku sibuk ngurus ini. Aku juga di suruh menginap sama oma supaya bisa langsung istrahat di hotel.


“Yasudah, kami temani kamu Jen..” ujar Aby dengan penuh semangat.


“Lah, emang cuma kami doang? kamu kan juga kerja, yaudah kita hadapi bersama Jen..” ujar Reza.


Gak usah Reza, Abyan..


Kalian pulang aja deh..


“Jen, tipis banget sih pergaulanmu sampai suruh kami pulang!” tukas Abyan dengan nada ketus.


Bukan begitu maksudku By, aku..—


“Jen, kita udah kenal berapa bulan atau tahun yah..”


“Betul Jen, masa sih Cuma buat sahabat sendiri hitung-hitungan banget..” tukas Abyan si mulut ketus.


Hehhe, kalian emang paling baik banget yah… ujar Jen dengan wajah dipenuhi senyuman.


“Halo hola… kalian pada ngumpul disini ternyata…”


“Eh, ada kak Carisya..” ujar Abyan dengan senyuman manisnya.


Iya Abyan, lama gak berjumpa kita yah.. tukas Carisya yang baru saja bergabung.


Sementara Jen hanya terdiam dengan senyuman tipisnya saat melihat kehadiran Carisya. Bagaimana pun juga, Jen masih merasa ada sesuatu yang mengganjal dihatinya ketika berhadapan dengan Carisya. Perasaan yang sulit untuk ia jelaskan, namun ia cukup tak nyaman.


Mengingat bagaimana kandasnya hubungannya bersama Heru, semua karena kehadiran Carisya. Namun, disisi lain Jen pun tak bisa menyimpan rasa ketidak nyamanannya terus menerus.


Sorry, aku harus urus pembayaran ke anggota event dulu yah.. ujar Jen disela perbincangan mereka.


“Jen, aku temani yah..” tukas Reza


Gak usah Reza, kamu disini aja..


“Jen, kamu yakin??” tanya Reza lagi.


Iya Reza.. bye semua..


“Sebenarnya aku cuma gak suka dengan kak


Carisya… entah kenapa hatiku sakit banget pas ketemu kak Carisya..” gumam Jen di dalam toilet wanita sembari memperbaiki penampilannya.


“Jeannet.. thank you yah atas bantuannya, om dan tante sangat berterimakasih..” tukas Danil Aharon, ayah dari Steven dan Stenly.


Iya om, sama-sama..


“Kalau begitu  kamu istrahat aja di hotel yah, besok berangkat kerja langsung aja dari hotel.”


Oke baik oma Danil, thank you om..


Jen, tante dan keluarga langsung pulang yah.. tukas tante Shintia Aharon, istri dari Danil Aharon.


>>


“Arghh… akhirnya bisa tidur deh malam  ini..” ujar Jen yang sedang merenggangkan otot-otot tubuhnya di atas kasur.


Drtt… nomor baru memanggil…


“Siapa nih..” Jen pun menjawab telepon tersebut.


Hallo… suara yang Jen dengar pun sangat familiar bahkan mampu mambuat Jen terbangun dari pembaringannya tersebut.


“Disisi lainnya….”


“Jen, aku mau bertemu denganmu, please beri aku kesempatan Jen..” ujar seorang pria yang pernah Jen cintai dengan sepenuh hati, Herruon Daniswara…


“aku gak bisa terus begini Jen, please aku mau bertemu kamu besok malam yah..” pinta Heru dengan penuh harap, namun Jen enggan mengiayakan permintaan Heru tersebut lalu mematikan ponselnya semalaman bahkan hingga keesokan harinya.


Jen menahan dirinya untuk tidak berbicara dengan Heru, mengingat apa yang telah terjadi dan rasa sakit yang telah Heru berikan padanya.


_____________________*__________________


“Bak asing xxx”


“Permisi nona Jen, ada orang yang ingin bertemu!” ujar seorang office boy.


Siapa yah pak? kenapa gak langsung telepon saya saja.


“Orangnya tinggi, ganteng non..” tukas sang office boy sambil tersenyum.


“Pacar non Jeannet yah..”


Ahh bapak ngaco aja deh.. thank you pak yah.


“Siapa sih yang mau ketemu aku..” gumam Jen sembari beranjak dari ruangan kerjanya dan berjalan menuju loby utama gedung tempat ia bekerja.


Saat Jen mulai memandangi sekelilingnya, Jen begitu terkejut melihat sosok pria yang saat itu sedang berdiri di samping sebuah mobil berwarna hitam…